Kamis, 03 Agustus 2017

Restu Bumi

Restu Bumi adalah cerpen yang sempat mengalami Save-Delete berulang kali. Dan akhirnya dengan napas lega selesai juga. Maaf jika cerpen kali ini atau memang semua cerpenku tidak memuaskan hati para reader (Ceileh … emang punya pembaca ge er amat^^). Intinya jangan lupa kasih kritik dan sarannya. Selamat membaca!

Restu Bumi
Yanuari Purnawan


Pemuda tujuh belas tahun itu mengadu kesakitan. Di ruang bangsal rumah sakit tersebut dia menahan untuk tidak meneteskan air mata. Tangan lembut seorang wanita paruh baya dengan penuh kasih sayang mengelus-elus wajah pemuda yang sedang menahan sakit itu. Sang wanita paruh bayu itupun berusaha untuk tetap tegar di depan anak semata wayangnya.
“Bu … sakit …!” teriak sang anak sambil menggenggam erat tangan ibunya. Sang ibu berusaha menenangkan anaknya.
“Sabar ya, sayang! Bentar lagi dokternya datang.” Air mata sang ibu pun terjatuh membasahi pipinya yang keriput di makan usia. Bagaimanapun hati ibu mana yang tidak sedih kalau melihat darah dagingnya menangis kesakitan.
Hingga beberapa menit kemudian, seorang dokter pria muda menghampiri bangsal tempat pemuda yang kesakitan tersebut.
“Dengan keluarga Bu Nurhayati?” tanya sang dokter yang diikuti dengan seorang suster. Sang ibu mengangguk menjawab pertanyaan sang dokter tanpa melepas jemarinya yang digenggam sang anak.
“Saya  Dokter Restu Pradipta ahli bedah tulang,” ucap Dokter Restu memperkenalkan diri sebelum memeriksa sang pemuda. Mata Dokter Restu memandang sang pemuda itu dengan rasa iba dan kagum. Iba karena tampak begitu kesakitan dan kagum dengan wajahnya yang begitu manis.
“Mana yang sakit, Dek?” tanya Dokter Restu, entah mengapa tiba-tiba dia memanggil pasiennya dengan sebutan ‘Adek’. Mungkin bagi Dokter Restu karena usia sang pasien lebih muda darinya. Sang pemuda yang kesakitan tersebut menunjuk pergelanggan kakinya. Spontan Dokter Restu memeriksa pergelangan kaki sang pemuda. Dia sempat tertegun melihat kaki sang pemuda, mulus seperti kaki anak perempuan.
“Suster, minta foto sito ekstremitas bawah lalu bawah foto basahnya pada saya,” ucap Dokter Restu kepada sang suster yang begitu cekatan menulis perintahnya.
“Bagaimana, Dok, kaki anak saya?” tanya Bu Nurhayati dengan nada penuh kekhawatiran.
“Dari hasil foto nanti kita bisa lihat lebih jelas,” ucap Dokter Restu lalu pergi meninggalkan ruang bangsal tersebut. Ada setitik rasa entah itu apa yang begitu halus menyergap Dokter Restu tatkala matanya memandang sang pemuda tersebut. Mungkin hanya takdir yang mampu menerjemahkan semua rasa itu.
*
Dokter Restu begidik melihat hasil foto sang pemuda tersebut. Dokter muda itu terlihat kalut dengan apa yang dia lihat ini. Kasihan pemuda seusianya harus berjuang melawan penyakit yang begitu berbahaya.
“Kemungkinan besar osteosarkoma,” ucap Dokter Restu lirih.
Osteosarkoma adalah kanker ganas yang menyerang tulang. Kemudian Dokter Restu menghubungi suster untuk segera melakukan CT scan.
“Lakukan CT scan untuk pasien Bumi Syailendra!”
Nama yang begitu indah, seindah paras sang pemilik nama tersebut. Bagaimanapun dia adalah pasienmu, ingat itu Restu. Pikiran Dokter Restu tidak hanya terfokus pada penyakit sang pemuda itu, tetapi juga kepada diri sang pemuda tersebut.
Setelah melihat hasil CT scan, memang menyokong diagnosis Dokter Restu.
“Segera lakukan biopsi agar kita bisa menentukan tingkat keganasan kanker secara histologis,” perintah Dokter Restu. “Panggil pasiennya,” lanjutnya datar.
*
“Masih sakit?” Pemuda yang usianya kira-kira tujuh belas tahun itu mengerjap menatap sang pemilik suara. Matanya lekat memandang dokter muda di depannya. Dokter ganteng nan menawan pikirnya kemudian. Bumi menggeleng tanpa berkata apapun. Dokter Restu memandangnya dengan rasa gemas, ingin baginya mengacak-acak rambut sang pasien itu. Namun, segera niat itu pupus karena dia tahu kalau dia adalah dokter dan harus menjaga etika serta profesional kerja.
“Dokter … apa penyakitku ini parah?” tanya Bumi dengan tatapan sendu. Sekali lagi Dokter Restu memandang Bumi dengan rasa iba dan entah rasa apa lagi itu yang sulit dia jabarkan sendiri. Sejak tadi dia menahan untuk tidak bertindak jauh, tetapi jemari-jemarinya berhasil mengacak-acak rambut Bumi.
“Kami akan melakukan yang terbaik. Jadi, tugas Bumi harus tetap optimis untuk sembuh!” Senyum mengembang dari keduanya. Senyum penuh ketulusan dan pengharapan akan sebuah takdir yang tertulis tentang mereka.
*
“Amputasi, Dok!” Bu Nurhayati merasa tak percaya mendengar penjelasan Dokter Restu bahwa anak semata wayangnya harus mengidap penyakit kanker ganas yang mengharuskan anaknya kehilangan kaki kirinya.
“Apa tidak ada pilihan lagi, Dok?”
Dokter Restu menggeleng, “ini adalah cara satu-satunya agar sel kanker tidak menyebar ke organ lainnya.”
Mendengar kenyataan itu terasa begitu pahit dan memiluhkan bukan hanya bagi Bu Nurhayati, tetapi terlebih bagaimana beliau mampu menjelaskan semua kepada sang anak, Bumi.

“Begitu parahkah, Dok, penyakitku ini sampai-sampai aku harus diamputasi?” tanya Bumi ke Dokter Restu yang sedang siaga mengecek kondisi Bumi sebelum melakukan amputasi. Dokter muda itu hanya memberikan senyum terbaik kepada pasiennya tersebut.
“Dokter … apakah di dunia ada orang buntung yang menjadi dokter?”
“Maksudnya?” Dokter Restu mengalihkan pekerjaaanya sebentar untuk menatap Bumi yang memiliki mata malaikat itu, bening dan penuh ketulusan.
“Dulu aku bercita-cita menjadi dokter, tetapi setelah kenyataan bahwa aku akan jadi buntung mungkin cita-citaku akan pupus begitu saja!”
Air mata telah membasahi pipi cubby Bumi. Dokter Restu yang melihatnya menjadi tersentuh dan seketika memeluk Bumi penuh kehangatan.
“Semuanya ada takdirnya masing-masing!” Dokter Restu berusaha menyemangati Bumi dengan mengelus-elus punggung pemuda yang begitu menarik perhatiannya.
“Iya, Dok. Kalau tidak jadi dokter mungkin aku bisa jadi suster ngesot,” ucap Bumi sambil melepas pelukan Dokter Restu. Mereka pun tertawa bersama di dalam kesedihan. Rasa yang entah bagaimana datangnya menghangat di hati Restu dan Bumi.
*
Ada rasa takut menjalar ketika Bumi harus masuk ke ruang operasi. Namun, dia masih bersyukur karena ada Dokter Restu yang siaga di sampingnya. Sejak mau masuk ruang operasi jemari Bumi dengan erat menggenggam jemari Dokter Restu. Baginya dengan menggenggam jemari dokter idolanya tersebut ada secercah energi baru yang masuk ke dalam tubuhnya. Dokter Restu hanya diam dan fokus walau ada rasa hangat di hatinya. Diam-diam dia berdoa agar Bumi kuat dan tenang saat operasi nanti.
“Dok, aku takut?” ucap Bumi lirih.
“Tenang ya … nanti adek dibius. Jadi, tidak akan merasakan apa-apa!” jelas Dokter Restu dengan nada begetar. Di sampingnya sudah ada dua dokter lainnya yang membantu operasi beserta dua perawat.
“Sebelum dibius aku mau bilang semoga aku bisa mendengar suara Dokter Restu lagi!” Dokter Restu tersenyum tegar dan perlahan mata bening yang memancarkan ketulusan itu terpejam.
Empat jam lebih operasi itu berlangsung dan berjalan lancar. Dokter Restu masih setia menjaga Bumi di ruang pemulihan pasca operasi. Matanya tak lepas memandang sesosok pemuda yang masih tertidur akibat obat bius. Tangannya perlahan membelai wajah yang begitu teduh dan manis itu. Tanpa sadar air mata menggenang di pelupuk mata Dokter Restu hingga perlahan membasahi wajah tampannya.
“Dek, kamu harus kuat!” ucap Dokter Restu sambil menggenggam jemari putih pucat milik Bumi. Dikecupnya jemari tersebut lalu dia pun mengecup kening Bumi penuh kasih sayang.
*
Matanya masih sembab, dia berusaha tegar untuk tidak meratapi nasibnya. Namun, apa daya dia terlalu muda menerima kenyataan bahwa dia harus kehilangan kaki kirinya. Tuhan tak adil pikir Bumi. Ibunya pun berusaha membesarkan hati putranya tersebut.
“Percayalah, Nak, akan ada pelangi setelah badai,” ucap Bu Nurhayati lembut sambil memegang tangan anaknya. Beliau paham dengan apa yang dirasakan Bumi, persis seperti lima tahun lalu ketika Bu Nurhayati kehilangan suaminya akibat kecelakaan. Raut wajah Bumi pun sama ketika dia kehilangan sang ayah untuk selamanya dan kini dia pun harus mendapati kalau kakinya tak sempurna lagi.
“Permisi … adek sudah baikkan?” sapa Dokter Restu tanpa digubris Bumi, tatapannya masih fokus pada perban di kaki kirinya.
“Kalau diam berarti sudah baik nih!” Bumi menatap dokter idolanya tersebut dengan tatapan sendu tanpa binar semangat seperti biasanya.
“Mendapati aku sekarang buntung, apa aku harus teriak kegirangan!” ucap Bumi sinis kembali matanya menahan bendungan agar tidak jatuh. Dokter Restu diam, lidahnya kelu dan entah ada rasa iba serta sayang di hatinya.
Sebelum meninggalkan ruangan tersebut Dokter Restu tersenyum ke arah Bumi lalu berkata, “Dek, minggu ini kamu sudah pulang. Bolehkah dokter mengajakmu jalan-jalan?” Mata Bumi lekat memandang bola mata yang indah di depannya tersebut tanpa mampu berkata apa-apa.
“Karena diam, maka dokter rasa adek setuju. Oke, sampai ketemu minggu depan!” Dokter Restu pun menghilang dari pandangan Bumi yang berhasil menyisahkan rasa penasaran di hati Bumi sekarang.
*
“Setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing.”
Suara itu berhasil memecah kebisuan di antara mereka berdua. Bumi masih fokus melihat apa yang ada di depan matanya kini. Hatinya tersentuh dan menyesal pernah berpikir bahwa Tuhan tak adil akan hidupnya. Sekarang dengan mata kepalanya sendiri dia melihat bagaimana anak-anak dengan tidak kesempurnaannya begitu luar biasa semangat untuk melanjutkan hidup.
“Ini buat Dokter Restu dan ini buat Kak Bumi,” ucap gadis mungil itu sambil menyodorkan gelang dari manik-manik warna cokelat muda kepada Dokter Restu dan Bumi. Bumi menerima gelang tersebut dengan hati bergerimis.
“Terima kasih, Tasya manis!” Gadis bernama Tasya itu pun berlalu yang sebelumnya tersenyum ke arah mereka berdua. Bumi melihat Tasya berjalan dengan menggerakkan tangan dan tubuhnya. Tasya tidak punya kaki.
“Tasya kecelakaan satu tahun lalu yang mengharuskan dua kakinya di amputasi,” terang Dokter Restu yang menangkap rasa penasaran di wajah Bumi.
“Dok … apa rasa syukur itu sebenarnya?” Mata Bumi mengerjap tanpa memandang Dokter Restu. Sang dokter idola itu menarik lengan Bumi hingga tubuh Bumi berhimpit dengannya. Bumi bisa merasakan detak jantung dan bau parfum Dokter Restu.
“Rumah Pelangi ini kami dirikan karena adanya rasa syukur itu. Bersyukur kala nikmat dan bersabar kala ujian menerpa. Kamu tahu dimana rasa syukur itu?” Kembali Mata Dokter Restu memandang wajah manis di sampingnya tersebut. Bumi pun melakukan hal yang sama dengan Dokter Restu. Mata mereka beradu, desiran halus itupun menyusup ke dalam hati mereka yang mulai menghangat karena adanya rasa, rasa memiliki dan menyayangi.
“Rasa syukur itu terletak di hati kita masing-masing. Ketika hati ini peka akan segala nikmat-Nya percaya sebesar apapun ujian dari-Nya, semua akan terasa ringan karena kita akan menyadari bahwa nikmat-nya jauh lebih besar dari segala ujian yang menimpa. Dek, ibarat besi semakin ditimpah beban berat, besi tidak mengeluh tetapi mampu menjelma menjadi pedang yang tajam.”
Kecupan di pipi Dokter Restu itu begitu cepat. Bumi hanya tertunduk sambil tersipu malu, sedangkan Dokter Restu tertegun mendapat kecupan mendadak tersebut.
“Maaf, Dok! Aku tidak bisa menahannya!”
Dokter Restu masih tak percaya dengan apa yang terjadi barusan. Bumi mengecup pipi kanannya, ada rasa hangat yang menyelingkupi hatinya.
Dalam perjalanan pulang pun Dokter Restu tak banyak bicara dan fokus mengemudi mobil. Sedangkan Bumi yang duduk di sebelahnya pun diam dengan memandang ke arah luar jendela. Hening. Hujan pun turun begitu deras memecah kesunyian diantara mereka.
“Terima kasih atas hari ini, Dok!” ucap Bumi tatkala mereka sudah sampai di depan rumah Bumi. Dokter Restu mengambil payung mengeluarkan krek dari bagasi lalu menuju beranda rumah. Melihat hal tersebut Bumi bertanya-tanya mengapa kreknya di taruh di beranda. Dokter Restu mengetuk kaca mobil, seketika Bumi membukanya. Belum hilang rasa penasarannya, Dokter Restu sudah membungkuk.
“Buruan sebelum hujannya tambah deras. Ayo naik!”
“Tapi, Dok!” Bumi ragu untuk naik ke atas punggung Dokter Restu.
“Apa perlu aku paksa kamu untuk mau digendong?” Bumi tersenyum mendengar ucapan Dokter Restu, hatinya menghangat ketika dia berada dalam gendongan dokter idolanya tersebut.
*

Tiga minggu pasca operasi, Bumi menjalani rawat jalan. Dan Dokter Restu yang bertugas di poliklinik bedah. Dengan ceketan dia kembali memeriksa foto tulang dan hasil biopsinya. Dia berharap kalau anak sebar kankernya tidak sampai ke paru-paru, walaupun dalam pemeriksaan sebelum operasi tidak ditemukan metastasis jauh ke organ lain. Namun, setelah melakukan punksi percobaan untuk mengeluarkan cairan dari paru-paru Bumi. Dokter muda itu melihat cairan yang keluar dari paru-paru itu memerah seperti cucian air daging. Dokter restu mencoba menahan untuk tidak menangis. Ternyata amputasi kaki untuk Bumi sia-sia belaka. Anak sebarnya telah sampai ke paru-paru, hampir tidak ada harapan lagi.
Dilihatnya Bumi yang sedang asyik membaca di ruang rawat inap. Setelah mengetahui tingkat anak sebarnya, Dokter Restu menyarankan untuk rawat inap.
“Dek, bagaimana keadaanmu?” ucap Dokter Restu lesuh. Melihat ekspresi Dokter Restu, Bumi menangkap ada sesuatu yang terjadi dalam dirinya walaupun dia pun sudah merasakannya.
“Seperti yang dokter lihat aku baik-baik saja. Malah dua minggu yang lalu aku belajar melukis!” Binar di mata Bumi membuat Dokter Restu ingin memeluk pasien favoritnya yang tegar dan penuh semangat tersebut.
“Apa dokter bisa melihat hasil lukisannya?”
“Semoga saja ya, Dok, sebelum Bumi pulang!”
Dokter Restu mengacak-acak rambut Bumi penuh sayang dan sedih. Karena, dia harus mendapati Bumi yang masih muda tersebut tak akan lama menapaki hidup.
“Dokter … terima kasih atas semua kenangan indahnya selama ini!”
Air mata menganak sungai di mata Dokter Restu, sekuat tenaga dia menahannya agar terlihat tegar dihadapan Bumi. Jemari mereka saling bertautan, perlahan Bumi melepaskannya sambil menatap haru Dokter Restu.

Bu Nurhayati dengan setia berada di samping anaknya. Matanya bengkak dan terlihat putus asa. Beliau mengetahui bahwa penyakit Bumi sudah berada dalam stadium akhir. Tangannya mengusap lembut wajah lalu membelai punggung tangan anak semata wayangnya yang sedang tertidur pulas. Air matanya tak mampu terbendung lagi, beliau terisak dan berdoa jika memang telah tiba saatnya semoga Bumi berada di tempat yang mulia di sisi-Nya.
Tiba-tiba Bumi bangun dengan keadaan sesak napas. Bu Nurhayati panik bergegas memanggil dokter. Dokter Restu yang siaga lalu berhambur ke ruangan Bumi bersama para perawat. Dokter Restu memimpin tindakan resusitasi terhadap pasiennya.
“Ayo … Bumi … bertahanlah!” Dalam kepanikan Dokter Restu masih berharap Bumi mampu bertahan lebih lama lagi. Dia masih ingin melihat senyum dan binar ketulusan dari mata Bumi.
Namun setelah berjuang selama satu jam akhirnya mereka menyerah juga. Bumi mengembuskan napas terakhirnya, tanpa sempat mengucapkan sepata kata terakhir kepada ibunya dan Dokter Restu. Kepedihan menyelimuti hati Bu Nurhayati yang mendapati harus ditinggalkan oleh suami dan anaknya. Di sudut lain, seorang dokter muda berusaha untuk tegar dan tidak menangis. Dokter Restu menulis surat laporan kematian Bumi dengan hati yang ditabah-tabahkan, sebenarnya saat ini dia ingin berteriak dan menangis sekeras-kerasnya. Walaupun dia sering menangani pasien meninggal dunia, entah mengapa pada Bumi, Dokter Restu merasakan benar-benar terpukul dan kehilangan. Di dalam mobil saat hendak pulang, Dokter Restu tak bisa lagi menahan untuk tidak menangis. Dia menangis dalam sepi dan hening, bayangan Bumi berkelabat di otaknya.
*

Gundukkan tanah itu basah dengan taburan bunga yang masih segar, tertulis di batu nisan ‘Bumi Syailendra’ 28 Januari 1999-20 April 2016. Beberapa orang sudah meninggalkan pemakaman. Tak terkecuali Bu Nurhayati yang harus dipapah para kerabat saat meninggalkan pemakaman, beliau begitu terpukul dan sempat pingsan.
Hanya ada satu orang yang masih setia berada di pemakaman. Dokter Restu menatap batu nisan di depannya, diusapnya perlahan. Dia menangis dalam diam tanpa air mata, hatinya bergerimis. Dia menahan semua rasa itu sendiri kini, rasa untuk selalu bersama dan memiliki utuh pasien muda berparas manis. Bumi. Hampir air matanya tumpah ketika melihat tubuh orang yang dekat dengannya harus tertimbun tanah dan tak akan pernah kembali lagi untuk selamanya. Setelah puas memandang pusara Bumi, Dokter Restu beranjak pergi yang sebelumnya dia mengecup batu nisan baru tersebut.
“Selamat jalan …!”

Di dalam mobil Dokter Restu melepas kacamatanya yang tadi sempat menyembunyikan bola matanya yang merah. Dia menatap kotak warna cokelat yang berada di sampingnya. Sebenarnya dia ingin membukanya sewaktu dia tahu siapa pengirim kado tersebut. Namun, dia urungkan karena sibuk dengan pasien lain dan proses pemakaman Bumi. Perlahan dibukanya kotak itu, ternyata berisi kertas kecil dan kertas besar yang digulung. Dibacanya isi tulisan di kertas kecil tersebut.

For, Dokter Restu Pradipta

Ketika angin membawa harapan
Terhempas ke dalam cawan
Beisi secercah kehidupan
Pada takdir tertawan
Terikat restu bumi keabadian

From, Bumi Syailendra

Diambilnya kertas yang digulung itu lalu dibuka, air mata membasahi pipi Dokter Restu. Wajah dalam lukisan itu begitu teduh dengan binar mata penuh ketulusan.
“Terima kasih, Dek!” Didekapnya lukisan itu bersama luka kenangan yang tak akan terhapus oleh hujan dan waktu.

_Selesai_




Selasa, 27 Desember 2016

Cahaya Hijrah

Cahaya Hijrah
Yanuari Purnawan


Kota Pasuruan diguyur hujan yang tak begitu lebat, namun mampu membuat orang-orang berhamburan mencari tempat berteduh. Begitupun dengan diriku yang berlari menuju emperan toko yang sedang tutup. Aku menggerutu dan mengutuk diri karena cuaca yang tak bersahabat hingga membuat sebagian kemeja dan celana basah. Andai tadi aku menerima tawaran Andi untuk pulang bareng, pasti tidak akan seperti ini jadinya.

Mataku menelusur ke arah jalan raya, berharap masih ada angkutan umum di jam seperti ini. Iya, biasanya angkutan umum akan lama pas jam mau maghrib. Entah mengapa Pak Sopir akan beroperasi setelah maghrib. Lagi-lagi aku harus mengasihani diri, karena harus terlambat pulang ke rumah. Ketika hendak menerobos hujan, ada sebuah mobil berhenti di depanku lalu seseorang membuka kaca mobilnya.
“Ari, ya?” sapanya sambil tersenyum ke arahku. Aku hanya diam sambil menunjuk diri sendiri.
“Yuk, masuk! Angkot jam segini biasanya lama, daripada lama menunggu, mending bareng. Kita kan se arah.”
Aku menatapnya lalu masuk ke dalam mobil avanza warna silvernya. Aku masih saja diam saat dia menyalakan mobilnya. Kenapa dia baik banget kepadaku? Tapi, sepertinya aku pernah melihatnya, entah kapan dan dimana. Aku berusaha memutar otak, namun dia sepertinya tahu rasa penasaran yang sedang aku rasakan sekarang.
“Ya Allah … ternyata kamu lupa sama aku! Ini aku, Saipul Hadi, mantan anak SMA 1 juga. Inget nggak?” Aku hanya menggeleng dan menyesali diri ini yang pelupa.
“Kalau yang pernah malak kamu di kamar mandi cowok pas SMA, inget kan?”
Keterangan dia barusan membuat diriku tersentak. Siapa yang tidak ingat kejadian naas yang menimpaku waktu itu. Segerombolan anak cowok kelas sebelas sedang nongkrong di toilet dekat kantin. Saat itu aku buru-buru mau ganti baju olahraga, tanpa permisi aku menerobos segerombolan kakak kelas tadi. Malang tidak bisa dielak, mereka malah menarikku masuk ke dalam toilet dan memalakku. Alhasil, uang jajanku yang tak seberapa itu diambil kakak kelas. Dan salah satu kakak kelas itu adalah yang sedang mengemudikan mobil ini.

Sebenarnya aku ingin bertanya kepadanya, namun harus tertahan karena suara azan maghrib berhasil memecah kesunyian sore yang basah ini. Saipul menepikan mobilnya tatkala kita sudah berada di depan pelataran masjid. Aku merasa ragu dan tak percaya, apakah mantan preman sekolah ini akan shalat atau mau mencuri kotak amal masjid?
“Yuk, kita shalat dulu! Bukankah shalat di awal waktu itu lebih utama pahalanya.”
Aku menelan ludah, apa yang terjadi kepadanya sekarang. Bicaranya santun dan terkesan jauh dari dirinya delapan tahun yang lalu. Aku menduga dia pernah gagar otak atau kepalanya pernah membentur tiang listrik.

“Sepertinya ada yang ingin kamu tanyakan dari tadi?” tanyanya sambil meletakkan teh manisnya yang diminumnya sedikit. Tadi, habis salat dia mengajakku untuk makan dulu sebelum pulang. Sebenarnya aku mau menolak, namun cacing di perutku sepertinya tidak bisa diajak kompromi.
“Aku hanya heran dan tak percaya, mantan preman sekolah mendadak alim begini!” Raut wajahnya seketika tampak sedih, “maaf jika ucapanku barusan menyinggung perasaanmu.”
“Bukankah setiap orang berhak untuk berubah! Dan inilah diriku sekarang yang berhijrah dari zaman jahiliyahku dulu. Serta ingin terus belajar untuk menjadi kekasih terbaik-Nya.” Dia menatapku sambil tersenyum, gurat kesedihan yang tadi sempat terlihat di wajahnya hilang. Aku mengangguk, menyetujui apa yang barusan dia ucapkan.
“Terus bagaimana ceritanya kamu bisa berhijrah seperti sekarang dan belajar menjadi kekasih terbaik-Nya?”
Lagi-lagi senyum menghiasi wajah teduhnya, berbeda sekali dengan dia pas zaman SMA yang begitu menyebalkan dan arogan.
“Semua berawal ketika ayah dan ibu memutuskan bercerai, waktu itu aku menginjak bangku SMA. Sungguh, saat itu aku benar-benar tertekan dan melampiaskan dengan menjadi preman sekolah. Dengan membuat onar di sekolah otomatis membuat diriku mendapatkan perhatian, walau kuakui itu salah.” Dia mengambil jeda dengan menarik napas seperti hendak mengumpulkan energi untuk mengenang masa lalunya.
“Semasa SMA itulah aku selalu dicap sebagai anak nakal dan bandel. Ternyata selapas lulus, kehidupanku jauh lebih buruk lagi. Ayah menyuruhku masuk kepolisian, sedang ibu menginginkanku kuliah keguruan. Saat itu aku muak dengan mereka berdua, yang mereka pikirkan hanya reputasi dan nama baik mereka saja. Tanpa mau mendengar apa yang aku mau. Akhirnya aku memutuskan untuk kuliah keguruan, namun itu hanya bertahan satu tahun.” Matanya berkaca-kaca. Sepertinya beban hidup di masa lalunya begitu berat. Jujur, aku tak pernah menyangka jika si preman sekolah punya cerita hidup yang begitu berliku.
“Bertahan satu tahun! Apa kamu di D.O?”
Aku masih penasaran dengan ceritanya. Dia meminum teh manisnya yang tinggal setengah itu lalu menatapku dan mengangguk.
“Kenapa kamu di D.O? Jangan bilang kamu jadi preman kampus!” Dia kembali tersenyum sambil menggeleng.
“Aku D.O karena aku kecanduan narkoba dan hampir mati gara-gara over dosis!”
Aku yang mendengar pengangkuannya hanya geleng-geleng tak percaya. Lalu dia menunjukan lengan tangan kirinya, ada bekas sayatan pisau di situ.
“Saat hampir mati itulah cahaya-Nya seolah menyentuh mata batinku,” lanjutnya yang kini mulai ceria lagi.
“Maksudmu, hijrah?” Dia mengangguk lalu mengambil ponselnya dan menunjukan foto seorang nenek-nenek bersamanya.
“Lewat tangan neneklah aku berjalan tertatih untuk menuju jalan-Nya. Sedang orang tuaku hanya mengirimkan biaya pengobatan, tanpa sedikitpun berempati menjengukku kala itu. Tapi, nenek dengan kasih sayang dan kesebarannyalah yang terus merawat dan menemaniku.”
Obrolan kita pun harus berhenti, tatkala makanan pesanan kita diantar oleh pelayan. Aku menikmati nasi goreng, sedang dia memilih nasi dengan lauk ayam goreng. Di sela-sela makan, rasa penasaranku mengusik untuk bertanya lebih lanjut kepadanya.
“Lalu setelah keluar dari rumah sakit itu kamu langsung berubah jadi baik?”
“Kurasa tidak ada yang instan untuk mencapai sesuatu di dunia ini. Bukankah mie instan saja untuk dimakan masih perlu direbus dulu,” jawabnya penuh filosofis.
“Jadi, kamu kembali ke obat-obatan terlarang itu?” Seperti wartawan saja diriku ini, dari tadi tanya ini itu kepadanya. Namun, aku tak ingin menyia-yiakan samudera ilmu yang ada di depan mata. Bukankah pengalaman orang lain adalah sebagian dari ilmu.
“Saat di rumah nenek, aku kembali sakaw dan ingin bunuh diri. Namun, lagi-lagi Allah menyelamatkanku dan masih memberi kesempatan untuk hidup. Nenek begitu terpukul dengan kelakuan yang tak kunjung berubah. Atas saran teman nenek, aku disuruh di masukan ke pesantren saja.”
Kita pun menghabiskan makanan yang tersaji di meja, sebelum dia melanjutkan cerita hijrahnya.
“Percaya atau tidak, jadi anak pesantren bukanlah impianku. Namun, ditempat itulah cahaya hijrah seorang Saipul Hadi bermula. Berkali-kali aku meminta nenek, untuk mengeluarkan aku dari pesantren itu. Namun, nenek dengan sabar bilang bahwa pesantren adalah rumahku dan menyuruhku untuk merenung dengan apa yang terjadi dalam kehidupanku.”
“Nenekmu begitu luar biasa, ya!” banggaku tulus kepada neneknya, dia pun tersenyum menatapku.
“Tapi, sayang beliau meninggal satu tahun yang lalu karena sakit.” Air mukanya kembali tampak sedih, “Namun berkat kesabaran nenek, kini aku sadar bahwa hidup itu adalah amanah. Jadi, mau digunakan seperti apa hidup ini, mau dikoridor-Nya atau tersesat menuju kegelapan. Jujur aku pernah tersesat, namun aku bersyukur karena cahaya-Nya telah menuntunku untuk kembali dan beusaha menjadi kekasih terbaik-Nya.”

Mobilnya berhenti di depan gang rumahku. Aku terdiam dan tidak langsung turun.
“Kurasa kamu masih punya utang kepadaku, uang yang dipalak kamu itu!” Dia tampak terkejut lalu merogoh dompetnya.
“Bercanda!” jawabku, “aku ikhlas kok dengan kejadian itu dan sudah maafin kamu!” Aku pun turun dari mobilnya. Sebelum menutup pintu mobilnya, dia tersenyum ke arahku.
“Terima kasih sudah mau maafin aku dan menjadi pendengar yang baik.”
“Aku juga berterima kasih. Karena saat mendengar cerita hidupmu, aku jadi semangat lagi untuk terus belajar menjadi kekasih terbaik-Nya.”
Mobil itu pun berlalu dari hadapanku, menyisakan diriku yang masih mematung di depan gang. Aku berusaha mencerna apa yang terjadi dalam kehidupan Saipul Hadi. Bahwa setiap orang punya masa lalunya masing-masing, namun hanya sedikit orang yang beuntung bisa berdamai dengan masa lalunya. Mengambil keputusan untuk mengejar cahaya-Nya dengan cara berhijrah. Ya Allah, tuntun dan kumpulkan hamba dengan orang-orang yang terus belajar untuk menjadi kekasih terbaik-Mu.


Selesai

Kamis, 10 November 2016

Jodohku Maunya Kamu [1]

Jodohku Maunya Kamu
Yanuari Purnawan


Kau adalah bagian dari mimpi-mimpiku yang tak pernah bisa kuraih.

Apa mungkin diri ini sudah gila. Mencintai seseorang hingga tak ingin satupun bisa memilikinya, kecuali aku. Egois memang, tapi inilah cinta. Cinta yang akan aku perjuangkan sampai kapanpun.
Laki-laki tampan dan saleh itu bernama Aditya Putra Angkasa. Entah apa yang terjadi kepadaku, seperti ada medan magnet yang menarikku untuk selalu mendekat kepadanya. Dia adalah lelaki pertama yang mampu menguasai seluruh hati ini. Ketampanannya itu pasti menjadi daya pikatnya, namun bukan itu saja yang membuat dia begitu sempurna di mata kaum hawa. Sikapnya yang begitu sopan dan berwibawa, ilmu agama mempuni serta calon dokter muda. Bagaimana? Paket komplit sebagai calon pengeran surga.

Aku hanya membolak-balik buku yang aku ambil di rak buku tanpa membacanya. Suasana perpustakaan begitu mendukung dengan apa yang kurasa kini. Sunyi. Aku merasa duniaku sudah tak berwarna lagi dan tak ada semangat untuk melanjutkan hidup. Semua rasa kecewa ini hadir karena sosok yang menjadi idola satu kampus, yakni Kak Adit.
“Kasihan tuh buku kalau cuma dibolak-balik saja!” sapa seseorang yang begitu familiar suaranya di gendang telingaku. Kutatap dengan rasa malas siapa yang menyapa, Rahmi, sahabatku sedang tersenyum dimanis-manisin dihadapanku.
“Buku itu buat dibaca, bukan jadi bahan amarah, Neng. Kalau begitu terus kapan pinternya!” lanjut Rahmi lalu mengambil buku di depanku. Aku hanya mendesah sambil menunduk tanpa melihatnya.
“Kayaknya ada yang lebih serius dari sekedar buku?”
Aku tak menggubris perkataan Rahmi yang datang hanya ingin merecoki. Sungguh, aku tak mood untuk berbicara dengan siapapun kini. Masalah Kak Adit, atau tepatnya masalahku sendiri yang begitu besar mencintainya. Rahmi bangkit dari tempat duduknya hendak meninggalkan perpustakaan. Mungkin, dia jengkel karena sedari tadi ucapannya tak mendapat respon baik dariku. Biarlah aku juga ingin sendiri.
“Bella … seberat apapun masalahnya, aku masih Rahmi sahabatmu yang siap mendengarkan semua keluh kesahmu!”
Rahmi siap pergi, namun aku lebih cepat membuatnya tetap berdiri di tempatnya.
“Kurasa kafe dekat kampus nyaman buat ngobrol!”
Sepertinya ucapanku barusan berisi tawaran. Iya. Rahmi benar aku sekarang butuh teman untuk membagi beban yang sedang kurasakan.
“Ba’da zuhur!” Rahmi tersenyum ke arahku sebelum tubuh mungilnya menghilang di balik pintu. Aku membalas dengan senyum yang sedikit kupaksa.
*
Kita tak bisa menawar hati untuk berpaling dari cinta. Cintalah yang menentukan kemana akan berlabuh.

Aku masih mengaduk jus orange yang kupesan dua menit lalu. Rahmi belum datang ke kafe tempat kita janjian tadi. Mungkin dia masih shalat zuhur. Bagiku Rahmi bukan sekedar sahabat, tapi sudah seperti kakak yang setia menasihatiku ketika sedang ada masalah. Dari persahabatan ini, mungkin aku yang lebih diuntungkan oleh sifatnya.
“Maaf ya, sudah lama menunggu?” sapanya dengan nada penyesalan. Aku tersenyum lalu dia duduk di kursi di depanku. Rahmi pun memanggil pelayan dan memesan minuman yang sama denganku.
“Kurasa telingaku sudah siap buat dengerin keluh kesah sang penanti cinta!” goda Rahmi sambil mengedipkan mata ke arahku.
Aku mendesah panjang berusaha mengeluarkan apa yang terpendam di dalam hati dan pikiran. Aku memang tak mampu menyimpannya sendiri.
“Kak Adit akan mengkhitbah Kak hana,” ucapku lirih seperti tak kuat menerima kenyataan ini. Rahmi tersenyum memandangku, mata itu tulus memancarkan kasih.
“Jika itu masalahnya, aku tak bisa berbuat apa-apa. Karena, kamu sedang berurusan dengan dirimu, hatimu.”
Benar apa yang dikatakan Rahmi, yang mampu mengakhiri semua ini hanya ada pada diriku. Tapi, cinta yang sudah tersimpan di hati atas nama Kak Adit sulit untuk dihapus begitu saja. Bagaimana aku bisa move on, jika mendengar namanya saja hati ini sudah berdesir halus.
“Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus mengiba kepada Kak Hana untuk menolak pinangan dari Kak Adit? Atau aku merelakan mereka bahagia di atas deritaku,” terangku sambil menahan agar bening hangat tak jatuh dari kelopak mata. Namun sia-sia, pipiku sudah basa oleh air mata. Rahmi berusaha menguatkanku sambil memegang erat jemariku.
“Apa aku salah terlalu mencintai seseorang yang sebentar lagi mengkhitbah orang lain? Salahkah rasa cinta ini jika menginginkan dia jadi milikku saja?”
Aku menyeka air mataku dan beusaha tenang, tatkala pesanan Rahmi diantar pelayan. Rahmi tersenyum lalu mengucapkan terima kasih. Pelayan itu pun membalas senyum Rahmi lalu bergegas meninggalkan meja kita. Aku meminum jus orange yang dari tadi hanya aku aduk-aduk.
“Aku tahu bersaing dengan Kak Hana hanya akan menyisakan kecewa. Jika, wanita itu bukan Kak Hana mungkin aku bisa mengambil hati Kak Adit dengan mudah. Ya Allah, kenapa harus Kak Hana?” ucapku lirih sambil menutupi wajah dengan telapak tanganku. Rahmi menggapai tanganku lalu meremas erat jemariku. Kita saling berpandangan.
“Bella, aku mengerti perasaanmu kini. Namun, lebih elok lagi jika rasa cintamu itu mampu menjadi taman-taman surga untuk dirimu dan orang lain!” Senyum mengembang dari bibir Rahmi, parasnya begitu menenangkan bagi siapa yang memandangnya. Rahmi memang tak secantik wanita kebanyakan, dia memiliki tubuh mungil dan cubby. Tetapi, dia memiliki kecantikan seorang muslimah yang jarang dimiliki wanita lain.
“Lalu aku harus bagaimana? Sulit bagiku mengikhlaskan rasa cinta ini. Aku selalu percaya bahwa Kak Adit adalah jodohku kelak yang sudah digariskan oleh-Nya.”
“Isabella Putri, lihatlah dirimu secara utuh? Di luar sana banyak pangeran surga yang siap menjemputmu dan akan senantiasa menghapus luka-lukamu, hingga tak ada lagi rasa sakit karena cinta. Tapi, cinta yang menumbuhkan harapan baru di hatimu.”
“Bagiku tak ada cinta lain selain cintaku kepada Kak Adit!”
Rahmi mendesah, mungkin dia jengkel dengan sifat keras kepalaku.
“Itulah masalahnya, kamu sudah membunuh terlalu dini cinta yang lain bahkan sebelum cinta itu tumbuh! Bella … aku tak ingin melihatmu seperti ini, karena senangmu adalah senangku juga, begitu juga dukamu adalah dukaku juga.”
Ada semacam desir halus menyusup ke hati saat Rahmi mengatakan kalimat itu. Beruntungnya aku punya sahabat yang begitu luar biasa menyayangiku. Ya Allah, terima kasih Engkau kirim seorang sahabat seperti Rahmi Assauqila Latief ke dalam kehidupanku. Mungkin, jika dunia berpaling membenciku, pasti tangan yang penuh kasih sayang Rahmi siap terulur menuntunku ke arah-Nya. Kini, haruskah aku menolak saran dari sahabat terbaikku. Mungkin berat menghapus cinta yang begitu dalam kepada Kak Adit, namun pasti jalan terbaik yang disiapkan oleh-Nya atas cintaku nanti.
Balik kini aku yang memegang erat jemari Rahmi, seperti menyalurkan energi untuk saling menguatkan, “Baik, akan aku coba!”
*
Dari kejauhan tanpa sepengetahuan Bella dan Rahmi, ada sesosok pria duduk di meja seberang yang sedari tadi mengamati pembicaraan meraka. Pria itu terburu-buru menghabiskan sisa minumannya lalu bergegas meninggalkan kafe tersebut. Namun sebelum pergi kembali ke kampus, ia mengambil almamater yang bertulis Fakultas Kedokteran yang tadi ia lepas dan di taruh di kursi disampingnya. Ia pun pergi meninggalkan kedua sahabat yang berusaha saling menguatkan, tapi dilain sisi ada sekerat rasa sakit dihati seorang pria yang kini sudah menghilang dari kafe yang menguak rahasia baru dalam hidupnya.


_To be continue_

Rabu, 21 September 2016

Aku Bukan Aku

Aku Bukan Aku
Oleh : Yanuari Purnawan



“Saya terima nikah dan kawinnya, Aisyah binti Imron dengan mas kawin tersebut tunai,” ucapku sekali tarikan nafas. Kulihat seorang wanita bergaun pengantin putih dan bercadar datang mendekatiku.

“Aisyah …,” ucapku terbata. Dia hanya mengangguk dan terlihat matanya begitu sejuk di balik cadar.
“Apa aku boleh membuka cadarmu.” Tanpa kata dia hanya mengangguk lagi.
Bismillah ….,” jawabku lirih. Dengan tangan gemetar, pelan, cadar itu pun sedikit terbuka dan wajah itu bercahaya lalu ….

Kringgg … kringgg ….

Aku terjatuh dari tempat tidur, astaga cuma mimpi sambil mengucek mata. Kulirik jam beker yang telah menghancurkan mimpi indah. Jam menunjukan angka tujuh pagi, waduh aku bisa terlambat kuliah, apalagi sekarang mata kuliahnya Pak Anton yang terkenal killer. Dengan tergesa-gesa aku menuju kamar mandi, cuci muka saja lalu ganti baju dan berangkat.

Sial …!!! Ternyata aku terlambat dan tidak boleh ikut mata kuliah Pak Anton. Dari pada kesal, aku menuju kantin. Siapakah gadis itu? Gadis yang baru kutahu namanya Aisyah, anak fakultas ekonomi semester tiga. Menurutku dia hanya mahasiswi yang biasa saja, dibanding Serly yang merupakan primadona kampus. Tetapi yang membuatnya beda terletak pada jilbab yang super panjang itu, sama sekali tidak modis dan kampungan.

Entah mengapa akhir-akhir ini aku jadi sering memikirkan gadis tersebut. Hingga puncaknya sampai terbawa mimpi, astaga apakah aku jatuh cinta kepadanya?

“Hei, Mas Bro. Tumben terlambat, lagi mimpi ketemu bidadari ya!” ledek Bayu teman satu kelas sambil menyerobot teh pesananku.
“Maksudmu? Jangan sok tahu deh …! Jawabku gugup. Temanku satu ini sudah kurus, suka iseng apalagi jika urusan perempuan.
“Kok grogi, pasti benar dugaanku.”
“kamu kenal tidak, dengan junior kita bernama Aisyah?”
“Aisyah anak yang aneh dengan jilbab panjangnya itu, jadi kamu suka dengan dia,” cerocos Bayu, kubungkam mulutnya dengan tangan.
“Jangan keras-keras malu di dengar orang.”
“Sudahlah lupakan dia, pria seperti kamu bukanlah tipenya. Kamu tidak pantas dengan gadis berjilbab itu.”

Perkataan Bayu seakan memupuskan harapanku untuk kenal dekat dengan Aisyah. Tetapi, tidak salah juga perkataan tersebut, mana mungkin gadis seperti dia mau dengan pria yang hampir D.O, tidak lulus-lulus dan tidak mengerti agama. Pasti pria yang dicari dia minimal yang bisa mengaji.

Hari telah berganti tetapi rasa cintaku kepada Aisyah bukannya berkurang tetapi tumbuh subur di hati hingga sulit untuk melupakannya. Setiap kuliah pagi aku sempatkan untuk shalat dzuhur berjamaah di masjid kampus. Wajah yang bersahaja itu tidak membuatku jenuh apalagi malas untuk datang ke masjid.

Aisyah telah mengubah setiap sendi kehidupanku. Aku jadi lebih alim, rajin shalat dan beberapa kali ikut pengajian yang terkadang membuatku tertidur di pojok masjid. Bayu sangat kaget dengan perubahan drastisku. Berkali-kali dia mengingatkanku bahwa aku tidaklah pantas mencintai Aisyah. Menurutnya aku bukan aku yang sebenarnya.

Cinta telah mengubah segalanya, pesonanya begitu halus dan indah menyergap hatiku. Terlalu lama, aku memendam perasaan kepadanya. Kini, saatnya aku harus mengungkapkan perasaanku kepadanya.

“Aisyah …!!!” teriakku kepada Aisyah tatkala setelah selesai pengajian di masjid kampus. Dia menoleh, tersenyum lalu menunduk.
“Apa saya bisa bicara sebentar denganmu?” tanyaku. Dia melihatku sekilas, mungkin merasa aneh dengan penampilanku yang memakai gamis dan celana bahan.
Akhy, mau bicara apa?” tanyanya balik membuatku gugup.
Aku masih grogi, gugup dan lidah keluh, keringat dingin pun keluar membasahi pipi.
“Maaf akhy, aku sedang sibuk. Jika tidak ada yang penting untuk dibicarakan. Saya pamit dulu, assalamu’alaikum.”
Lirih ku membalas salamnya, “Wa’alaikumsalam.”

Aku mengutuk diriku sendiri mengapa aku tidak berani dan pengecut. Tetapi, entah mengapa lidahku keluh saat menatap wajahnya. Aku benar-benar gila mencintainya. Tetiba pikiran itu datang lagi, apakah aku pantas mencintai Aisyah, gadis shaliha tersebut?

Hari ini ada pengajian mingguan di masjid kampus. Tausiyah ustadz tersebut sangat indah dan menohok hatiku.
“Hadirin, sudah benarkah niat kita menjalankan perintah-Nya? Apa karena ingin di bilang alim kita shalat? Jangan biarkan sifat riya’ itu membuat amalan kita ibarat debu yang menempel di batu lalu tertiup angin.”

Mendengar kalimat tersebut tanpa terasa air mataku menetes. Aku memang tidak pantas untuk Aisyah, aku berubah alim bukan karena cinta kepada-Nya tetapi hanya ingin mendapat cinta dari makhluknya. Aisyah, maafkan aku yang masih lemah iman. Semoga kelak aku pantas menjadi imam yang shalih untuk membimbingmu.

Hingga aku lulus kuliah, perasaan ini masih terpendam dalam di hati. Biarlah waktu yang menjawabnya, jika Aisyah adalah jodohku pasti bertemu juga. Dan sekarang aku tidak ingin berpura-pura menjadi orang lain untuk mencintainya. Bayu menyambutku dengan senyum khasnya. Bahwa, aku alim bukan karena orang lain tetapi karena hati sendiri.

Pada musim hujan diawal tahun baru, aku bertemu Aisyah. Ternyata dia sudah menikah dengan ustadz asal Kudus. Aisyah … aku memang tidak pernah pantas untuk mencintaimu.


Selesai

Kamis, 15 September 2016

Patah Hati Terindah

Patah Hati Terindah
Yanuari Purnawan



“Dia menolakku!”
Matanya berkaca-kaca dan raut wajahnya tampak begitu mendung. Suasana kafe pagi ini sepertinya mendukung akan apa yang dia rasakan. Sepi. Mungkin karena masih jam kerja.
“Aku tidak mengerti alasan dia menolakku. Dia bilang aku terlalu baik dan sempurna untuknya. Apa itu alasan yang tidak buat-buat?”
Dia tampak geram, namun yang lebih tepatnya depresi. Penolakkan itu berasa sangat menyakitkan baginya, bagaimana tidak, dia mencintai gadis pujaannya secara diam-diam selama dua tahun ke belakang. Dan pada momen yang tepat dia menyatakan perasaannya, malah kenyataan pahit yang harus diterimanya. Killa, sang gadis pujaan tersebut menolaknya dengan alasan yang bagi Putra itu alasan yang mengada-ada.
“Mungkin aku harus menjadi laki-laki brengsek dulu untuk dicintainya!” lanjutnya yang semakin tampak frustasi. Aku tak mampu berkata apa-apa dan memilih menjadi pendengar setia. Boleh jadi Putra tak perlu argument dariku untuk beberapa saat ini. Seperti halnya tadi saat dia menelponku untuk bicara sesuatu yang sangat penting katanya. Awalnya ku menolak, namun dari nada suaranya ada sesuatu yang tidak beres dalam dirinya hari ini. Dan ternyata, sahabat baikku dari SMA tersebut sedang patah hati.
“Apa yang harus aku lakukan kini, aku benar-benar patah hati?” kesalnya sambil mengacak-acak rambutnya. Putra sekarang memang tampak awut-awutan tak seperti biasanya yang rapi dan bersih. Mungkin kini saatnya aku bicara kepadanya, sebelumnya aku menyodorkan sebuah undangan merah jambu dihadapannya. Matanya langsung membulat membaca undangan tersebut.
“Rania Anjani dengan Ahmad Fathur!” kagetnya sambil menatapku, “Gila, apa ini beneran?” tanyanya yang masih tak percaya dengan kenyataan di depannya. Aku hanya mengangguk sambil minum jus jeruk yang aku pesan tadi.
“Skenario Allah begitu luar biasa! Jawabku yang balik menatap sahabatku tersebut.
“Kenapa kamu tidak pernah cerita kepadaku, jika Rania akan menikah atau lebih tepatnya menikah dengan orang lain?”
Aku hanya diam sambil mengingat kejadian lima hari lalu dimana aku bilang kepada Putra bahwa Rania akan menikah. Spontan dia memeluk dan mengucapkan selamat karena penantianku selama ini berbuah manis. Kembali aku hanya bisa diam ketika dia mengira bahwa aku lelaki beruntung tersebut.
“Maaf … jika aku belum bisa menjadi sahabat yang baik untukmu!”
Raut wajahnya frustasi itu berubah menjadi ekspresi penuh penyesalan. Aku tersenyum dan mengangguk kepadanya.
“Apa kamu tidak patah hati ditinggal nikah oleh Rania?” tanyanya yang mungkin dari tadi dia pendam dan tak berani untuk ditanyakan.
“Iya!”
“Lalu? Hanya itu saja ketika menerima kenyataan orang yang kita cintai akan menikah dengan orang lain?”
Aku hanya tersenyum yang membuatnya semakin penasaran dan bertanya-tanya.
“Setiap orang pasti pernah merasakan yang namanya patah hati atau penolakan. Namun, yang terpenting dari semua itu bukanlah tentang patah hati, tapi bagaimana kita ke depannya bisa mengelola hati.”
Kembali aku meminum jus jeruk yang sudah tinggal setengah. Putra yang duduk di depanku sepertinya tak sabar untuk mendengar penjelasanku.
“Ayolah kawan segera jelaskan bagaimana kita bisa mengelola hati ketika patah hati!
Aku tersenyum mendengarnya, sahabatku ini benar-benar aneh baru saja patah hati dan frustasi sekarang dia malah kepo dengan patah hati orang lain.
“Ikhlaskan semuanya dan serahkan kepada-Nya. Berat memang! Tapi, ketika kita bisa melangkah setapak melewati rasa patah hati itu, insyaaAllah Dia sang punya cinta akan memberi cinta yang lebih dan lebih indah.”
“Maksudmu, kita harus mencari cinta yang baru begitu?”
“Great, kawan! Karena, obat dari patah hati adalah cinta yang lain. Namun, sebelum cinta yang lain itu tumbuh, tumbuhkan cinta itu kepada Sang Pemilik Cinta.”
“Jadikan patah hati itu seperti patah hati terindah yang kamu rasakan, bukan membuat terpuruk namun menjadikanmu lebih keren dan lebih baik. Buat yang menolakmu karena kamu terlalu baik menjadi benar begitu faktanya!”
Putra tersenyum dan binar semangat kembali mengisi raut wajahnya yang tadi sempat mendung.
“Kawan, bolehlah kita patah hati dan galau, namun sekedarnya. Karena, masa depan kita masih utuh dan sayang sekali jika harus diratapi dengan kegalauan,” lanjutku sebelum pergi untuk kembali ke tempat kerja.
“Oke, sekarang aku harus pamit untuk menyambung hidup.”
Aku berdiri dan bergegas meninggalkannya yang masih terdiam di tempat duduknya.
“Kurasa ini adalah patah hati terindahku yang membuatku semakin kece dan keren dari kamu!” ucap Putra sambil tersenyum menatapku.
Pagi yang cerah untuk dua sahabat yang sedang patah hati atau kini lebih tepatnya pernah patah hati. Langit masih biru dan mentari masih bersinar terik, dua jomblo pun masih berlanjut untuk menemukan cinta yang baru, walau kini cinta itu sudah ada yakni cinta kepada Sang Pemilik Cinta.[]

Kalipucang, 16 September 2016
_Jumat yang selalu penuh berkah dan cinta_