Selasa, 30 Agustus 2016

Ini Budi

Ini Budi
Oleh : Yanuari Purnawan


Seribu, dua ribu, tiga ribu, alhamdulilah uang lima belas ribu terkumpul hari ini. Di masukannya ke dalam kaleng bekas susu formula. Uang lecek itu, dia kumpulkan demi menyambung hidup dan mewujudkan mimpi. Bocah ingusan itu harus menikmati masa anak-anaknya dengan berjuang di jalanan ibukota yang terkenal kejam.

Panggil dia, Budi Akbar. Nama yang begitu mengagumkan untuk anak yang tinggal di bantaran sungai Ciliwung itu. Bercita-cita menjadi sarjana adalah impiannya. Terpendam di lubuk hatinya, mungkin ini hanya mimpi semata. Mengulik kehidupannya, masih jauh dari kata cukup. Untuk makan sehari-hari saja begitu sulit, apalagi harus sekolah tinggi.

Murid sekolah dasar, lebih tepatnya sekolah darurat ini selalu berusaha keras untuk mewujudkan mimpinya. Setiap hari sepulang sekolah dia membantu bapak angkatnya untuk bekerja menjadi pedagang asongan. Tubuh mungilnya kerap kali menjadi santapan kekejaman ibukota. Kejar-kejaran dengan Satpol PP mungkin sudah tak asing baginya.

Bocah sebelas tahun ini harus menerima kenyataan pahit akan jalan hidupnya. Sejak lahir tak pernah kenal siapa orang tua kandungnya. Karena dia, bayi yang dibuang orang tuanya di pinggiran sungai. Lantas pak Amir, pria tua yang di tinggal mati istri dan anaknya, menemukan bayi malang tersebut. Dengan hati ikhlas dan rasa sayang, pak Amir mengangkat bayi itu sebagai anak angkat.

Nama Budi Akbar, diberikan pak Amir agar kelak bayi itu bisa menjadi orang besar dan berbudi luhur. Tetapi, apalah arti sebuah nama, jika kenyataannya berbanding terbalik. Bapak tua ini yang setiap hari bekerja menjadi pemulung dan pedagang asongan, tak mungkin bisa membiayai sekolah anak angkatnya tersebut.

“Sudahlah, Nak. Berhenti untuk sekolah lagi. Biaya sekolah itu mahal, yang penting Budi sudah bisa membaca dan menulis sudah cukup,” ucap pak Amir menasehati Budi yang bersikeras mau melanjutkan sekolah SMP.

“Tetapi, Pak. Budi ingin jadi sarjana. Kata Bu Guru, jika ingin menjadi sarjana harus Sekolah SMP dulu,” jawab Budi sambil membaca buku usang pemberian donatur sekolah darurat dan di temani temaram lampu petromak, hingga kadang membuat lubang hidungnya hitam.

Langkah kecil itu tak pernah berhenti untuk bisa melanjutkan sekolah SMP. Dia begitu semangat mengejar mimpinya. Walau kerap kali banyak teman sebayanya meremehkan dan menertawakan mimpi tersebut. Sudah jamak, anak bantaran sungai Ciliwung hanya lulusan sekolah darurat. Mereka lebih memilih menjadi pengamen atau pemulung. Karena faktor ekonomi, mereka menyerah dan tak mau bermimpi terlalu tinggi.

Ini Budi, bocah yang beda dengan lainnya. Memiliki semangat dan tekad yang kuat untuk mewujudkan mimpinya. Setiap pulang sekolah berjualan keliling dan malam hari belajar dengan tekun. Tak jarang air matanya menetes, melihat anak-anak berseragam biru putih keluar dari gedung bernama SMP itu. Ada sebersit doa di dalam hatinya bahwa dia pasti bisa sekolah di gedung itu.

Dengan rasa ikhlas, Budi mengambil uang hasil kerja kerasnya selama ini di dalam kaleng bekas susu formula. Ini saatnya dia harus menitih langkah baru untuk mewujudkan mimpinya. Terkumpul uang tiga ratus empat puluh lima ribu, uang itu dia gunakan untuk daftar masuk SMP.

Dialah satu-satunya anak bantaran sungai Ciliwung yang mendaftar SMP. Semua mata tertuju kepada Budi. Penampilannya begitu lusuh dengan seragam merah putih yang kusam ditambah lagi sepatu butut yang bolong hingga terlihat ibu jari yang berbalut kaos kaki dekil. Tetapi semua itu tak di hiraukannya. Bagi dia mimpinya begitu besar dibanding dengan harus menanggapi pandangan sinis orang lain.

Serangkaian tes dia ikuti, dari tes tulis hingga wawancara. Alhamdulilah di lalui dengan baik tanpa hambatan berarti. Walau anak miskin, masalah kepintaran Budi bisa di adu dengan anak orang kaya yang beruntung nasibnya.

Hasil penerimaan siswa baru akan diumumkan. Dengan harap-harap cemas, Budi menunggu sambil berdoa, berharap dia lolos seleksi. Jantungnya berdetak cepat, tak ada nama Budi Akbar terpampang di papan pengumuman. Matanya basah, dia merasa gagal dan mimpinya tak akan pernah terwujud lagi.

Seluruh peserta siswa baru, disuruh berkumpul di lapangan. Bapak kepala sekolah akan memberi pengumuman penting. Dengan bangga dan tegas, Bapak kepala sekolah menyampaikan bahwa Budi Akbar sebagai peserta siswa baru dengan nilai tertinggi dan berhak mendapatkan beasiswa. Mendengar pengumuman tersebut, Budi sujud syukur, menangis haru dan bangga. Sebersit doa dia ucap “Alhamdulilah … ya Allah atas segala nikmat yang telah Engkau beri. Hamba percaya Engkau tak pernah tidur untuk melihat hamba-Mu yang senantiasa bermunajat.”

Ini Budi, anak bantaran sungai Ciliwung yang bermimpi menjadi sarjana. Berat memang untuk mewujudkannya. Tetapi, tidak ada yang tidak mungkin, selalu ada jalan jika kita mau berusaha dan berdoa.

Selesai

Rabu, 24 Agustus 2016

Izinkan Aku Membencimu

Izinkan Aku Membencimu
Oleh : Yanuari Purnawan

Aku tak akan pernah mengerti jalan pikirannya. Semua yang terlintas hanya semu tanpa ada pembenaran nyata. Sulit bagiku harus menuangkan apa yang sebenarnya ada di dalam hati lelaki tua tersebut. Haruskah aku membencinya? Mungkin saja, karena setiap laku dan sifatnya membuatku menangis. Inikah bentuk cintanya? Ternyata, terlalu rumit dijelaskan dengan kata-kata.

“Ayah … mau apa?” tanyaku sambil menatap wajahnya yang mulai keriput termakan usia. Beliau hanya menggeleng lalu mengarahkan padangan ke kaca jendela.

Setetes, dua tetes lalu meganak sungai air mata membasahi wajahku. Sungguh ujian apalagi ini, Rabb. Sebenarnya aku sudah berusaha tegar, tetapi melihatnya dengan kondisi seperti ini membuatku rapuh.

“Kok melamun! Memang ada apa di balik kaca jendela tersebut, Yah?” tanyaku lagi sembari mencari bola matanya yang masih fokus ke arah luar.
“Entahlah … Ayah sendiri tak mengerti,” jawabnya singkat. Mata itu terlihat basah seolah menyimpan berjuta tanya di dalamnya.
“Mungkin Ayah sedang rindu!” jelasku berusaha menyimpulkan apa yang ayah sedang rasakan saat ini. Beliau lalu menatapku dalam dan tersenyum.
“Rindu! Bisakah orang yang sudah tua rentah begini merasakannya.”
“Kenapa, tidak!” kejarku berusaha menyakinkannya. Begitulah ayah tidak pernah mau terlihat rapuh walau di dalam hatinya sedang remuk redam.
“Hapus air matamu. Anak laki-laki tak boleh cengeng, biar urusan ini ayah yang mencari jawabannya.” Kuseka air mata dan menatap sekujur tubuhnya yang sudah ringkih di usia senja tersebut.

Sudah tiga hari aku dan ayah menghabiskan waktu di kamar rumah sakit. Semua gara-gara ayah yang tidak pernah mau jujur akan penyakitnya. Seolah beliau adalah superhero yang kuat dan bisa mengatasi masalah sendiri. Beberapa hari lalu, akhirnya ayah harus terkapar di ruang tamu, karena kram otot kaki. Melihatnya kesakitan, langsung saja kubawa ke puskesmas.

Memang, ayah selalu keras kepala dan tidak mau dikasihani. Hingga dokter puskesmas tidak sanggup menangani, karena ayah mengalami hipertensi dan gula darahnya naik. Dokter tersebut menyarankan untuk dirujuk ke rumah sakit. Tanpa menunggu persetujuan ayah, aku menyetujui saran dokter tersebut.

Menginjakkan kaki di rumah sakit, seolah membuka luka lama. Kami harus merasakan lagi aroma kematian yang begitu tajam menyengat pancaindera. Kulirik ayah yang sedang di gerek menuju kamar inap sedang terpejam. Tetapi, yang membuatku heran bibirnya masih berkomat-kamit, samar terdengar beliau sedang berdzikir.

Hingga kini, aku masih setia menunggui ayah. Aku tidak mau harus menyesal dan mengecewakannya. Alhamdulillah, kondisi ayah mengalami kemajuan, hanya tinggal menunggu kadar gulanya turun. Di rumah sakit, membuat hubunganku bersama beliau semakin dekat. Dulu, berbicara dan bercanda hanya seperlunya atau mungkin tak pernah sama sekali. Maklum aku lebih dekat dengan ibu.

Semenjak ibu telah berpulang ke sisi-Nya, hubungan kami mulai merapat. Ayah sekarang harus menjadi imam sekaligus ibu bagi aku dan adik. Sungguh berat beban yang harus beliau terima. Tetapi, sedikit pun tidak pernah ada keluhan terucap dari bibirnya. Aku sempat berpikir terbuat dari apakah hati ayah tersebut.

“Ayah …!” tegurku kala beliau terbangun dari istirahat siangnya. Kuambil segelas air putih, agar tubuh ayah sedikit segar. Setelah minum beberapa teguk, beliau menyandarkan tubuhnya di atas kasur.
“Nak … sudah makan! Bagaimana kabar adikmu?” tanya ayah sedikit parau.
“Sudah, Ayah! Tidak usah pikirkan kami, yang penting ayah sehat sekarang,” jawabku sambil memeriksa selang infusnya.
“Syukurlah …!”
“Berapa biaya rumah sakitnya, Nak?” Pertanyaan tersebut menyentak hati dan dadaku yang seakan sesak.
“Ayah … jangan pikirkan masalah biaya, yang terpenting ayah sembuh dan sehat dulu,” terangku menahan bening hangat untuk tidak menetes dari kelopak mata.
“Tapi …!”
“Sudahlah, Ayah! Sekarang minum obat lalu istirahat,” potongku agar ayah tidak khawatir akan masalah biaya rumah sakit.

Setelah ayah mau istirahat, aku pamit untuk ke kamar mandi. Aku berlari menuju masjid rumah sakit. Aku tidak kuat untuk menahan lagi. Air mata pun terus mengalir. Kuambil wudhu lalu shalat. Inilah caraku menenangkan hati yang sedang gelisah. Menuju rumah-Nya membuatku tenang dan damai.

Ya … Rabb, kuatkan dan sembuhkan ayah, karena beliau adalah harta paling berharga dalam hidupku. Sebait doa kupanjatkan, terlintas dalam pikiran bayangan ayah. Di balik sifat keras dan cueknya, tersimpan cinta yang begitu besar kepada kami. Walau aku sadar tidak pernah mengerti jalan pikirannya. Ayah begitu misterius dan tertutup. Aku mengerti ayah pasti juga sedang tertekan batin, apalagi beliau harus kehilangan wanita yang paling dicintainya.

Kutatap wajah yang tenang dan bersahaja tertidur pulas. Kupegang tangan yang kekar berotot tersebut dan mengelusnya lembut. Bulir hangat tidak bisa lagi tertahan lalu tumpah dari mataku. Wajah yang begitu tegar, bibir yang mengulum senyum, tangan yang siaga merangkul dan melindungi kami. Semua telah menyatu dalam raga yang tidak pernah lelah dan mengeluh untuk menafkahi kami.

Terima kasih atas semua kebohongan ayah kepada kami. Bohong jika tegar, cuek dan seolah mampu mengurusi dirinya sendiri.  Tetapi sekarang aku mengerti, semua hanya sandiwara agar kami tidak khawatir. Atas kebohongan itu, “Izinkan aku membencimu, Ayah.”


Selesai

Senin, 22 Agustus 2016

Jalan Masih Panjang

Jalan Masih Panjang
Yanuari Purnawan

Sebenarnya aku tak pandai berdekatan dengan seoarang perempuan. Jujur lidahku selalu kaku jika berbicara dengan lawan jenis, mungkin itulah yang menjadi alasan bagiku untuk menghindar dari mereka. Namun, tidak kepada perempuan bernama Wulan. Dia adalah perempuan yang duduk di depan bangkuku. Anaknya baik dan murah senyum, itulah kesan pertama saat kita berkenalan.
“Kenalin Wulan!” ucapnya antusias sambil membalikkan badan ke arah tempat dudukku. Aku hanya tersenyum kikuk.
“Arya!”
Senyum mengembang di wajahnya seakan menghipnotisku dan dunia berputar melambat. Entah perasaan apa yang sedang terjadi kepadaku.
“Semoga kita bisa menjadi teman sekelas yang baik,” jelasnya yang lagi-lagi disertai senyum begitu memesona. Aku pun hanya mengangguk sambil membalas senyumnya.
Wulan begitu ramah dan menyenangkan sehingga mudah baginya berteman dengan siapa saja, lain denganku yang sulit bersosialisasi dan pendiam. Jadi, selama beberapa hari temanku hanya buku dan perempuan yang duduk di depan bangku. Iya, hanya Wulan sajalah yang mau mengobrol denganku di sekolah baru ini.
“Sekali-kali jangan menutup diri dan mulai bersosialisasi dengan lainnya!”
Aku hanya diam sambil mengerjakan soal-soal matematika. Merasa tak dihiraukan Wulan yang duduk menghadapku langsung menekankan bolpoin ke jariku.
“Sakit tau!” rancauku sambil memegang jariku yang di tusuk bolpoin.
“Makanya kalau ada orang ngomong dengerin! Emang soal matematika lebih menarik dari aku.”
Aku tak bisa menahan tawa yang membuat Wulan semakin kesal lalu berpaling dari menghadapku.
***
Waktu berjalan begitu cepat tak terasa kedekatanku dengan Wulan semakin intens, apalagi kita sering tugas kelompok bersama. Mungkin orang lain yang melihat hubungan kita sering menganggap kalau kita adalah pasangan kekasih. Termasuk di dalam kelas pun rumor kalau aku pacaran dengan Wulan semakin menjadi saja. Namun, bagiku dan Wulan hubungan kita hanya sebatas teman sekelas yang dekat, tak lebih dari itu. Walau dalam hatiku ada rasa lebih kepadanya, tapi aku sadar diri dan tak mau merusak hubungan pertemanan kita.
“Mbem … apa kamu merasakan ada sesuatu yang aneh dalam hubungan kita ini?”
Tembem adalah panggilan akrab Wulan kepadaku, sedangkan aku memanggilnya dengan sebutan Bawel. Pasti tahu mengapa aku memanggilnya begitu, karena kalau dia bicara tak pernah ada istilah lowbat.
“Aneh gimana sih, Bawel!” balasku sambil mengotak-atik rumus fisika. Kita sedang mengerjakan tugas kelompok fisika di perpustakaan.
“Iya aneh … kayak orang … orang pacaran …,” gumamnya ragu-ragu walaupun begitu masih jelas ditangkap gendang telingaku.
Aku hanya mampu tersenyum dan sedikit gugup akan perkataannya yang begitu vulgar dan jujur. Mungkin itulah yang aku sukai dari dia, gaya bicaranya yang ceplas-ceplos.
“Emangnya kamu mau punya pacar seperti aku?”
Sepertinya aku ingin menelan kembali perkataan tersebut, namun semua terlambat. Wulan menatapku tajam. Apakah dia marah kepadaku?
“Sudahlah … Mbem, nggak perlu dibahas!” jawabnya gugup dan terkesan salah tingkah. Apakah dia juga merasakan hal yang sama denganku? Hanya Allah di atas Arsh yang tahu isi hatinya.
***
Ada yang berubah dari Wulan, kini aku tak menemukan Wulan yang selalu ceplas-ceplos dan suka jailin aku. Dia lebih pendiam dan tertutup, ironisnya dia tak lagi intens mengobral denganku. Apakah aku pernah berbuat salah kepadanya? Sungguh inilah hal terberat dari hidupku harus berjauhan dengan sesosok perempuan yang kusukai secara diam-diam.
Wulan benar-benar berubah, dia bahkan tak lagi heboh berbicara denganku atau saling bertukar sms lucu setiap hari. Dia lebih memilih bergaul dengan teman-teman perempuannya. Sepertinya dia membuat jarak untuk berdekatan denganku. Situasi ini yang membuat pikiranku tersita hingga akhir-akhir ini nilai pelajaranku menurun.
“Jangan sia-siakan waktumu hanya untuk kesenangan semu!”
Seharusnya aku merasa senang mendapat sms dari seseorang yang aku tunggu kabar darinya. Namun entah mengapa sms darinya kini berasa ada anak panah yang menembus hatiku. Apakah sebenarnya Wulan tahu akan perasaanku kepadanya? Aku hanya mampu memandang layar ponsel dan bingung harus menekan tombol replay. Kegalauan ini benar-benar keterlaluan, mungkin inikah yang dinamakan cinta bersemi lalu mati itu. Secepatnya aku harus bicara dengan Wulan.
Saat pulang sekolah aku menunggunya di depan perpustakaan. Kemarin malam aku sudah sms dia jika ingin berbicara serius kepadanya. Mungkin terdengar konyol masih berseragam putih abu-abu sudah berani bicara serius, namun jika sudah urusan hati siapa yang mampu mengontrol. Kulihat Wulan datang tidak sendiri tapi dengan salah satu teman perempuannya.
“Assalamualaikum, maaf buat kamu menunggu!” ucapnya begitu lembut dan santun. Wulan tampak anggun dengan jilbab putihnya atau itu karena aku tak pernah melihatnya pakai jilbab sebelumnya.
“Wa … alaikumsalam!” jawabku gugup sambil meremas jari-jariku. Entah apa yang terjadi, lidahku terasa keluh dan tenggorokan seakan menelan duri.
“Apa yang ingin Arya bicarakan? Maaf aku tak ada waktu banyak, soalnya aku dan Rina harus pergi liqo’!” jelasnya Wulan sambil melihat jam tangannya. Sungguh begitu manis melingkar di tangannya. Stop! Aku harus fokus dengan tujuanku ada di sini.
“Emm … aku hanya ingin tanya, maksud sms kamu kemarin malam itu apa? Yang isinya jangan sia-siakan waktumu hanya untuk kesenangan semu.”
Wulan terdiam sejenak sambil mengingat-ingat sms yang dikirimnya tempo hari. Wajahnya kembali cerah, secerah langit sore hari ini.
“Oh … sms itu! Kukira kamu sudah mengerti. Baiklah jika kamu ingin penjelasan dariku, maka akan aku jelaskan. Intinya, jangan membuang waktu kita hanya untuk kesenangan yang tak pasti semisal melibatkan hati kepada lawan jenis.”
“Maksudmu hubungan kita selama ini?” potongku yang penasaran. Wulan hanya tersenyum sambil menunduk lalu melanjutkan penjelasannya.
“Arya, aku mengerti selama ini kita telah salah jalan. Semenjak aku gabung dengan rohis sekolah ternyata, banyak yang keliru dari hubungan kita. Agama kita sudah mengatur bagaimana cara bergaul dengan lawan jenis yang sesuai syaria. Jujur aku juga melibatkan hati saat berhubungan denganmu dan itu salah.”
“Salah?”
Dia hanya mengangguk lalu pergi bersama temannya meninggalkanku sendiri yang membisu. Penjelasan dari Wulan barusan seakan membuka mataku bahwa dia benar-benar berubah. Sekuat tenaga aku menahan untuk tegar dan tak menjatuhkan air mata, namun dalam diam mata dan hatiku pun menangis.
***
Cinta yang bertepuk sebelah tangan itu memang menyakitkan, namun yang lebih menyakitkan kalau kita tetap bertahan kepada cinta tersebut. Aku berpikir kalau Wulan adalah jodohku kelak, tapi siapa yang bisa mendekte takdir.
“Jalan masih panjang, Bro!” ucap Hasan salah satu teman terdekatku kini di Rohis sekolah. Semenjak pertemuanku dengan wulan di perpustakaan dulu, membuatku berpikir mengapa aku juga tak bergabung dengan Rohis sekolah, siapa tahu aku bisa menemukan jawaban akan kegundahan hatiku.
“Bicara cinta memang tak ada habisnya. Obat orang jatuh cinta itu hanya satu yakni menikah. Kita kan masih SMA jadi belum pantes untuk bicara cinta, bukan?” lanjut Hasan yang gaya bicara seperti ustadz beken di televisi saja.
Aku terdiam sambil membaca buku Kutinggalkan dia Karena Dia karya Dunia Jilbab yang membuat hatiku tertohok oleh salah satu kalimat di dalam buku tersebut.
“Jodoh tak serta merta dekat karena kita pacaran. Dan tak pula menjauh karena kita jomblo.”
Aku jadi tersenyum sendiri mendengar ucapan Hasan barusan. Jalan masih panjang untuk kita yang masih belum siap untuk berkomitmen. Daripada sibuk melibatkan hati dan pacaran, lebih baik dari sekarang memantaskan diri untuk kelak menjadi calon imam idaman. Hingga Allah mempertemukan kita dengan pasangan halal yang juga memantaskan dirinya. Jalanku masih panjang, hijrah menuju kebaikan memang tak mudah, namun pasti ada jalan terbaik yang disiapkan-Nya.
“Sudah azan zuhur, Bro. Yuk ke mushalla!”
Aku menutup buku yang sedang kubaca lalu berangkulan menuju rumah Allah. Dari ujung mataku sesosok perempuan yang pernah duduk di depan bangku pun berjalan memenuhi panggilan-Nya untuk salat zuhur. Aku segera menepis perasaan itu dan menata hati lalu berujar, “Jalan masih panjang.”

Selesai

Jumat, 05 Agustus 2016

Matahari untuk Bintang

Matahari untuk Bintang
Oleh : Yanuari Purnawan


Aku masih setia menunggunya. Semenit, dua menit hingga berubah menjadi jam. Tetapi, batang hidungnya saja tak terlihat. Apa dia lupa akan janji tersebut? Atau mungkin dia benar-benar tak ingin bertemu denganku. Suasana taman kampus mulai sepi, langit mulai mendung, rasa di dalam dada seolah berkecamuk. Resah, kecewa dan sedih. Berkali-kali kuhubungi nomor ponselnya juga tidak aktif. Sungguh, menunggu adalah hal paling menyebalkan dalam hidup ini.

“Maaf ya, Kak! Aku terlambat,” ucapnya dengan tersenggal-senggal seperti habis lari marathon. Sebelum kupersilahkan dia duduk, terlebih dulu, dia mengenalkan sahabat perempuan yang menemaninya.
“Tidak apa-apa kok! Sebentar lagi kakak sudah jamuran,” candaku sambil tersenyum ke arah kedua gadis berjilbab di depanku. Mereka hanya tersenyum mendengar candaanku tersebut.
“Memangnya ada apa, Kak Irfan menyuruhku ke sini?” tanyanya dengan air muka yang penuh penasaran. Tiba-tiba lidah menjadi keluh, keringat dingin mulai membasahi pelipis dan sedikit gugup.
“Emm … Nay … jujur  aku suka sama Nayla,” jelasku dengan terbata-bata. Mata beningnya membelalak mendengar penjelaskanku tersebut. Lalu beralih memandang sahabatnya yang tak kalah kaget dengannya.
“Maksudnya?” kejar Nayla yang masih belum paham.
“Sejak pertama kali kenal sama Nayla, entah mengapa hatiku selalu berdesir dan ada getaran halus. Hingga puncaknya, aku tidak bisa tidur karena bayangan Nayla selalu ada dalam pikiranku. Aku bukanlah pria yang soleh, tetapi aku sudah belajar agama. Pasti Nayla tahu itu,” terangku, jujur.
“Lalu?”
“Maukah Nayla jadi pacarku?” ucapku spontan. Nayla yang sedari tadi menunduk lalu menatapku dalam.
“Aku sangat salut dengan keberanian Kak Irfan. Tetapi, di dalam islam tidak ada yang namanya pacaran. Hanya menikahlah jalan satu-satunya.”
“Lalu?” potongku yang mulai penasaran dengan jawabannya.
“Kalau Kak Irfan suka sama Nayla … maka nikahilah aku!” tantang Nayla tegas. Membuatku kaget, seolah ada petir yang menyambar diri ini. Tak pernah terpikir sedikitpun tentang rencana menikah sebelumnya. Dan sekarang kata itu meluncur dari bibir perempuan yang aku sukai.

Setelah perbincangan kurang lebih setengah jam di taman kampus. Nayla dan sahabatnya undur diri untuk pulang karena hari sudah sore. Aku sedikit bernafas lega, karena diberi waktu satu minggu untuk menjawab tantangan Nayla. Secepat mungkin, aku harus sampai kos-kosan dan segera bicara dengan sahabatku, Rio, akan masalah ini.

“Cari cewek lain saja. Kalau kamu belum siap menikah, jangan dipaksakan. Nanti kamu bisa menyesal,” jelas Rio menasihatku yang sedang curhat akan dilema yang sedang kuhadapi.

Pikiranku kacau antara iya atau tidak. Disatu sisi aku masih kuliah dan di sisi lain aku juga menyukai Nayla. Haruskah aku menikah? Ataukah ikhlas merelakan cinta untuk Nayla. Dalam kekalutan ini, tanpa disuruh aku langsung mengambil air wudhu. Ini pertama kalinya, aku benar-benar khusyuk ketika shalat malam. Rabb, tunjukanlah jalan yang terbaik atas masalahku ini. Sebersit doa kupanjatkan dengan tulus dan penuh kepasrahan.

Dalam kegamangan segera kuhubungi kedua orangtua di desa. Sebagai seorang anak, restu dan pendapat orangtualah yang paling utama. Kuceritakan masalah yang sedang kuhadapi. Dari perkenalanku dengan gadis soleha bernama Nayla, hingga tantangan untuk menikahinya. Bapak dan ibu memasrahkan keputusan akan masalah ini kepadaku. Mereka akan menyetujui apapun jalan yang akan aku ambil. Bahkan jika harus menikah muda sekalipun. Bagi mereka, menikah muda bukanlah masalah besar asal gadis tersebut soleha sudah cukup.

 Tanpa terasa satu minggu berjalan begitu cepat. Kini, tibalah hari di mana keputusan terbesar dalam hidup akan aku ambil. Dengan langkah gontai serta penampilan apa adanya, aku menuju taman kampus. Tak seperti pertemuan terdahulu, malah aku yang datang terlambat. Kulihat Nayla dan sahabatnya sudah sampai duluan. Setelah minta maaf, mereka mempersilahkan aku duduk.

“Nayla … apa sudah siap menerima jawabanku?” tanyaku memecah kebisuan beberapa detik. Nayla yang tampak anggun dengan jilbab putih panjangnya itu, hanya mengangguk.
“Aku bukanlah bintang yang mampu bersinar terang tanpa matahari. Bagiku, Nayla adalah matahari yang mampu menerangi setiap sendi kehidupanku. Dengan ketulusan hati dan cinta karena-Nya, aku ingin menikahi Nayla,” jelasku, tulus dari hati. Kulihat Nayla hanya tertunduk dan diam tanpa kata.
“Aku mengerti berat menerima pria sepertiku. Aku bukanlah pria yang baik dan soleh yang pantas untuk gadis soleha seperti Nayla. Aku bisa terima kok, jika Nayla memang tidak bisa menerimanya,” lanjutku penuh keikhlasan. Mata bening itu menatapku tajam. Lalu dengan bibir bergetar Nayla berkata.

Bismillah … aku mau menjadi matahari untuk bintang.”[]


Selesai

Jumat, 08 Juli 2016

2 Hati 1 Rasa

2 Hati, 1 Rasa
Oleh : Yanuari Purnawan

Sayup terdengar suara merdu para santri melafalkan ayat suci Al-Qur’an. Sudah menjadi agenda rutin pondok pesantren, setiap ba’da magrib untuk tadarus. Semua santri diwajibkan untuk mengikuti setiap jadwal yang sudah ditentukan. Tetapi, sekali lagi mata Ustad Imron harus melotot, mencari dua sekawan yang belum terlihat batang hidungnya.

“Ke mana Rizal dan Yusuf?” tanya Ustad Imron kepada santri yang sedang tadarus tersebut. Seketika mereka menghentikan bacaanya. Para santri saling beradu pandang, karena takut.
“Mengapa kalian diam!” Suara Ustad muda tersebut semakin meninggi lalu dipandangnya satu per satu para santri.
“Kalian takut kepada mereka berdua. Sekalipun yang tanya Ustad kalian sendiri! Hasan, ke mana mereka?” Hasan yang ditanyai gemetaran. Santri asal Madura itu hanya menunduk lalu berkata.
“Mereka pergi ke warnet ….” Wajah Ustad Imron menjadi geram. Dalam hati dia berkata, “Awas jika kalian pulang nanti.”
***
“Aman … aman!” teriak Rizal kepada Yusuf, tatkala sedang mengendap masuk pondok melalui pagar. Perlahan Yusuf naik pagar, ketika hendak turun.
“Bruuk!” Yusuf terjatuh menindih Rizal. Suara gaduh tersebut mengusik tidur para santri.
“Dasar santri bengal!” Suara Ustad Imron memecah heningnya malam. Wajah sangarnya membuat kedua santri itu menelan ludah dan pucat.

Rizal dan Yusuf harus merasakan jeweran lalu digiring ke kantor keamanan santri oleh Ustad Imron.
“Kalian ini sudah berapa kali diperingatkan masih saja melanggar aturan!” terang Ustad Imron sambil menahan emosi.
Istighfar, Ustad!” ucap Rizal dan Yusuf bersamaan.
“Dasar kalian ini!” Amarah Ustad Imron tak bisa terkendali lagi. Kedua santri tersebut diseret menuju gubuk tempat para santri belajar bertani.
“Kalian sekarang tidur di sini!” bentak Ustad yang sekaligus ketua dewan keamanan santri tersebut.

Ini bukan kali pertama mereka dihukum, sebelumnya pernah digunduli, bersihin kamar mandi santri hingga puncaknya mereka harus tidur malam di gubuk tengah ladang.
“Suf … kamu kapok, tidak?” tanya Rizal yang sedang tiduran di gubuk beralas tikar.
“Kapok sih! Tetapi asyik,” jawab Yusuf sambil tersenyum memandang sahabatnya. Mereka bersahabat sejak pertama kali mondok di pesantren Darussalam tersebut.
“Maafkan aku, Suf. Membuatmu ikut merasakan semua ini.” Rizal bangun lalu duduk sambil memandang langit.

Suasana malam itu begitu hening, bintang-bintang mengintip malu dan bulan sabit tersenyum bercahaya. Terbayang persahabatan yang terjalin begitu lama bahkan menjelma menjadi saudara. Bagi Rizal, Yusuf adalah sahabat terbaik untuk mengadukan segala yang dia rasakan. Sedangkan bagi Yusuf, Rizal adalah sahabat sekaligus saudara yang setia ada disisinya.

Walaupun berbeda status sosial, Yusuf yang merupakan anak orang kaya sedangkan Rizal hanya anak tukang becak. Tetapi, perbedaan tersebut tidak menghalangi persahabatan mereka. Sampai saat ini tak pernah ada perselisihan yang berarti diantara keduanya.

“Mengapa harus minta maaf, ‘kan tidak ada yang salah!” jawab Yusuf yang juga menikmati indahnya malam penuh bintang-bintang. Mereka lalu tersenyum bersama.
“Kamu ingat, Zal! Saat pertama aku masuk pesantren.” Yusuf mencoba mengatur nafas untuk melanjutkan ucapannya.
“Tidak ada yang peduli sama aku. Setiap hari menangis ingin pulang. Tetapi, ada tangan malaikat yang memegang pundakku. Lalu dia berkata ….” Yusuf mengalihkan pandangannya kepada Rizal.
“Jangan sedih, kamu tidak sendiri. Aku akan setia bersamamu. Dua hati, satu rasa,” ucap mereka bersamaan.
***

Suasana haru, menyelimuti acara wisuda para santri. Walaupun pernah dibilang santri Bengal, Rizal dan Yusuf menunjukan kalau mereka mampu berprestasi. Mereka keluar menjadi lulusan terbaik. Bening hangat mengalir dari kelopak mata Rizal dan Yusuf, dua sahabat yang dari pertama hingga lulus dari pesantren kini harus berpisah.

“Suf, jangan lupakan aku! Kita tetap sahabatkan,” ucap Rizal sambil memeluk sahabatnya tersebut.
“InsyaAllah, aku tidak akan melupakan sahabat terbaik sepertimu.”  Mereka saling berpelukan dengan derai air mata.
“Dua hati, satu rasa,” ucap mereka dangan terisak lalu tersenyum bersama.

Dua hati antara Rizal dan Yusuf melebur dalam satu rasa bernama sahabat. Tidak ada kata benci, iri dan saling menjatuhkan. Bagi mereka walau kadang hati mereka berbeda pendapat. Tetapi, tetap satu rasa dalam menjalaninya. Karena semua terbalut indah dalam nama persahabatan.[]

 Selesai

Kamis, 30 Juni 2016

Tak Seharum Mawar

Tak Seharum Mawar
Oleh : Yanuari Purnawan


Semudah itukah mereka terhasut. Ini tidak bisa dibiarkan, semua gara-gara siswi baru itu. Kehadirannya membuat kehidupan sekolahku tak tenang. Bukan karena dia cantik dan modis. Tetapi, gadis kampugan tersebut perlahan telah mengambil posisiku. Aku harus berbuat sesuatu sebelum semua terlambat.

Risma dan Santi, dua sahabatku telah menjadi korbannya. Mereka biasanya selalu bersamaku ke mana-mana, sekarang mendadak menjadi tertutup dan sulit diajak jalan-jalan. Aku tidak mengerti jalan pikiran mereka, mengapa begitu mudah percaya dengan cewek yang baru dikenal, daripada sahabat yang hampir tiga tahun bersama.

Alifa, dialah biang keladi dari semua masalah ini. Cepat atau lambat virus tersebut akan menyebar ke seanterio sekolah. Bahkan Zaky, cowok yang aku taksir perlahan mulai mendekatinya. Sebelum semua menjadi kacau, aku harus berbuat sesuatu untuk mencegah virus tersebut agar tidak semakin menyebar.

Kulihat alifa sedang duduk di bangku taman dekat pintu gerbang sekolah. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang. Tiba-tiba sebuah mobil berwarna silver berhenti tepat di depan gerbang. Seorang pria berusia dua puluh lima tahunan, membuka pintu mobil dan menyungging senyum kepada Alifa. Sejurus kemudian Alifa menghampiri pria tersebut lalu masuk ke dalam mobil.
Seingatku , Alifa itu anak tunggal dan tidak punya kakak atau saudara dekat. Semua kuketahui dari Risma yang sering cerita tentang kehidupan Alifa. Sesuatu yang janggal, bisa-bisanya Alifa yang berjilbab tersebut jalan berduaan dengan seorang pria. Aku harus selidiki dan mungkin kejadian ini bisa menguntungkan untuk menghentikan virus tersebut.

“Alifa …!” teriakku kepada Alifa yang sedang duduk sambil membaca di taman sekolah. Dia menoleh lalu tersenyum.
“Ada apa Dian?” tanyanya dengan senyum yang masih mengembang diwajahnya.
“Tidak ada apa-apa! Emm … enak nih kemarin dijemput pria pakai mobil,” sindirku sambil duduk di sampingnya. Wajah Alifa mendadak pucat, seperti menyimpan sesuatu. Sekilas kulihat dia menutup buku yang sedang dibaca tersebut.
“Dian … tahu dari mana?” tanyanya sedikit gemetaran.

Kutatap wajahnya yang terlihat bingung. Jilbab putih panjangnya sesekali tertiup angin. Sesaat suasana taman menjadi hening. Aku tersenyum sinis, seolah berhasil menembak mati sang buruan. Alifa juga masih diam, menunggu jawabanku.
“Tidak penting aku tahu dari mana, karena aku melihatnya sendiri. Alifa, tak perlu menjadi munafik dengan pakai jilbab, ikut rohis dan sok alim,” terangku sinis.
“Maksudmu?” Seperti ada rasa penasaran dari ucapannya. Aku hanya tersenyum lalu menatapnya kembali.
“Jangan pura-pura bodoh. Kamu pacaran ‘kan dengan pria tersebut!” kejarku mencari penjelasan dari bibir Alifa. Dia hanya diam dan menunduk, air matanya menetes.
“Maaf … Dian, mungkin kamu salah paham. Dia bukan pacarku, tetapi pria tersebut adalah sepupuku. Namanya Farhan,” jelasnya sambil terisak. Aku belum mengerti mengapa dia menangis.
“Lalu mengapa kamu menangis?”
“Dian, syukur kamu yang melihatnya. Jika itu orang lain, pasti akan menjadi gosip yang menjatuhkanku.” Seketika dia memelukku. Aku hanya diam.

Keterangan dari Alifa membuat dadaku sesak. Maksudku ingin memojokkannya tetapi, justru aku yang terpojok. Terbuat dari apa hatinya hingga dia berpikir aku adalah sahabat yang baik.

Sejak kejadian di taman sekolah tersebut, diam-diam aku mengamati gerak-gerak Alifa. Hingga tanpa sadar, keinginanku menjatuhkan terkikis dengan sifat dan kepribadiannya yang santun. Dia sekarang menjadi ketua rohis sekolah. Jilbab panjang dan adab bergaulnya sangat diperhatikan. Sangat beda dengan kebanyakkan remaja puteri seusianya. Perlahan rasa iri itu mulai merasuk ke dalam hati.

“Alifa, mengapa kita harus pakai jilbab?” tanyaku penasaran tatkala kami sedang duduk santai di pelataran mushala sekolah.
“Karena itu wajib, perintah dari Allah,” jawabnya singkat. Jilbab putih panjangnya menghiasi wajah bersahaja tersebut.
“Kalau pakai jilbab kita ‘kan tidak bisa gaul dan terkesan kampungan.”
“Jilbab itu prisai, pelindung para muslimah dari pandangan pria yang tidak baik dan lebih mendekatkan diri kepada-Nya.” Aku hanya diam dan mengangguk mendengar penjelasannya.
“Biarlah kita tak seharum mawar. Tetapi, kita mahal bagai mutiara yang tersimpan. Percuma cantik di mata manusia, kalau tidak cantik di mata Allah,” lanjut Alifa menjelaskan. Kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya benar-benar menohok hatiku.

Percakapan di pelataran mushala sekolah, mengantarkanku pada perenungan panjang. Tanpa terasa bening hangat keluar dari kelopak mata lalu menganak sungai. Teringat betapa jahiliyah diri ini. Pacaran, hura-hura dan lupa akan kuwajiban sebagai muslimah. Seharusnya, sebagai remaja mampu memberi contoh yang baik seperti Alifa. Bersyukur untuk sahabatku yang sudah terkena virus kebaikannya.


Rabb, maafkan hamba yang pura-pura lupa akan perintah-Mu. Kutatap wajah di depan cermin. Kuseka air mata yang membasahi pipi. Bismillah, mulai hari ini Dian Mayangsari berjilbab karena mencintai perintah-Mu. Walau sekarang tak lagi seharum mawar, aku percaya bahwa muslimah dengan jilbabnya akan tampak mahal bagai mutiara di mata-Nya.[]

Rabu, 29 Juni 2016

Bukan Roman Picisan

By: Yanuari Purnawan

Ibu jahat! Apa salahnya jika aku ingin menikahi gadis itu. Gadis yang ku kenal tiga bulan yang lalu saat acara pelatihan rohis untuk anak SMA. Gadis yang menginspirasi, dengan kekurangannya mampu melafalkan ayat-ayat suci Al-qur’an dengan indah dan merdu. Aku tersihir akan pesona dan kesejukan akhlaknya.

“Hanna.” Saat kami berkenalan, selesai acara tersebut.

“Robi,” jawabku malu-malu. Entah mengapa ada getaran halus bergelayut di hati.

Hanna, seorang guru di TPQ yang bersahaja dengan hijab panjangnya itu, telah berhasil menjajah hatiku.

Ya … Rabb, aku tidak mampu menahan gejolak ini, semoga Engkau tuntun hamba menuju jalan yang Engkau ridhoi.
***
Airmataku tidak bisa terbendung lagi. Ibu tidak setuju dengan keputusanku menikahi Hanna. Baginya, Hanna hanya gadis kampungan, sampah yang di bungkus kantong hitam lalu di buang ke selokan. Dan satu hal yang membuat hatiku teriris, ibu tidak suka dengannya karena akan menjadi benalu bagiku ke depan.

“Ibu, aku mohon,” pintaku.

“Sudah Ibu katakan, Ibu tidak akan pernah setuju kamu menikahi Hanna,” jawab ibu dengan emosi.

“Apa karena dia tidak sama dengan gadis lainnya?”

Dengan menghela nafas panjang dan mencoba mengatur emosinya, ibu berkata.

“Dengar ibu, kamu harus berpikir jernih jangan hanya nafsu semata. Ini ibu lakukan demi masa depanmu kelak.”

Kulihat airmata ibu menetes, aku tidak sanggup untuk memaksanya lagi, aku yakin pasti ada jalan terbaik untuk hubunganku dengan Hanna.
***
“Hanna, mau tidak menikah dengan Mas,” tanyaku kepada Hanna di sebuah rumah makan sederhana dekat dia mengajar.

“Asal orangtua Mas setuju, Hanna mau,” jawabnya sambil menunduk.

“Apa Mas yakin ingin menikahiku? Mas pasti mengerti aku beda dengan gadis lainnya,” tanyanya sambil memandang ke arahku.

“Mas yakin, tetapi Ibu belum bisa menerimanya,” jawabku dengan menahan untuk tidak menangis.

“Aku mengerti itu Mas, berat untuk menerima gadis sepertiku dan aku tidak mau menikah hanya karena belas kasihan orang lain.” Kulihat airmata membasahi pipinya.

Dengan bantuan tongkat sebagai penuntun langkahnya, dia pergi meninggalkanku. Kupandang punggungnya dan lirih berkata, “Hanna aku mencintaimu.”

Dari kaca rumah makan, kulihat mobil berkecepatan tinggi menabrak seorang gadis.

“Hanna?!” teriakku.

Wajah itu pucat dan darah keluar membasahi jilbab hitamnya. Tubuh terbujur tidak berdaya, bagai mimpi. Aku hanya diam, terpaku melihatnya.
Airmata mengiringi kepergian dia untuk selamanya. Hanna, aku masih ingat apa yang kau ucapkan terakhir kali itu.

“Hanna memang buta Mas, tetapi hati ini tidak pernah buta. Mungkin bagi banyak orang hidup kami gelap, tetapi dengan menghafal kalam-Nya kami punya cahaya yang menuntun langkah ini. Sesungguhnya kebutaan yang sejati, jika dia di beri nikmat melihat tetapi tidak digunakan untuk mengagumi dan mensyukuri keagungan-Nya dan lebih parah lagi, mata hatinya juga ikut buta karena nafsu duniawi semata.”