Kamis, 30 Juni 2016

Tak Seharum Mawar

Tak Seharum Mawar
Oleh : Yanuari Purnawan


Semudah itukah mereka terhasut. Ini tidak bisa dibiarkan, semua gara-gara siswi baru itu. Kehadirannya membuat kehidupan sekolahku tak tenang. Bukan karena dia cantik dan modis. Tetapi, gadis kampugan tersebut perlahan telah mengambil posisiku. Aku harus berbuat sesuatu sebelum semua terlambat.

Risma dan Santi, dua sahabatku telah menjadi korbannya. Mereka biasanya selalu bersamaku ke mana-mana, sekarang mendadak menjadi tertutup dan sulit diajak jalan-jalan. Aku tidak mengerti jalan pikiran mereka, mengapa begitu mudah percaya dengan cewek yang baru dikenal, daripada sahabat yang hampir tiga tahun bersama.

Alifa, dialah biang keladi dari semua masalah ini. Cepat atau lambat virus tersebut akan menyebar ke seanterio sekolah. Bahkan Zaky, cowok yang aku taksir perlahan mulai mendekatinya. Sebelum semua menjadi kacau, aku harus berbuat sesuatu untuk mencegah virus tersebut agar tidak semakin menyebar.

Kulihat alifa sedang duduk di bangku taman dekat pintu gerbang sekolah. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang. Tiba-tiba sebuah mobil berwarna silver berhenti tepat di depan gerbang. Seorang pria berusia dua puluh lima tahunan, membuka pintu mobil dan menyungging senyum kepada Alifa. Sejurus kemudian Alifa menghampiri pria tersebut lalu masuk ke dalam mobil.
Seingatku , Alifa itu anak tunggal dan tidak punya kakak atau saudara dekat. Semua kuketahui dari Risma yang sering cerita tentang kehidupan Alifa. Sesuatu yang janggal, bisa-bisanya Alifa yang berjilbab tersebut jalan berduaan dengan seorang pria. Aku harus selidiki dan mungkin kejadian ini bisa menguntungkan untuk menghentikan virus tersebut.

“Alifa …!” teriakku kepada Alifa yang sedang duduk sambil membaca di taman sekolah. Dia menoleh lalu tersenyum.
“Ada apa Dian?” tanyanya dengan senyum yang masih mengembang diwajahnya.
“Tidak ada apa-apa! Emm … enak nih kemarin dijemput pria pakai mobil,” sindirku sambil duduk di sampingnya. Wajah Alifa mendadak pucat, seperti menyimpan sesuatu. Sekilas kulihat dia menutup buku yang sedang dibaca tersebut.
“Dian … tahu dari mana?” tanyanya sedikit gemetaran.

Kutatap wajahnya yang terlihat bingung. Jilbab putih panjangnya sesekali tertiup angin. Sesaat suasana taman menjadi hening. Aku tersenyum sinis, seolah berhasil menembak mati sang buruan. Alifa juga masih diam, menunggu jawabanku.
“Tidak penting aku tahu dari mana, karena aku melihatnya sendiri. Alifa, tak perlu menjadi munafik dengan pakai jilbab, ikut rohis dan sok alim,” terangku sinis.
“Maksudmu?” Seperti ada rasa penasaran dari ucapannya. Aku hanya tersenyum lalu menatapnya kembali.
“Jangan pura-pura bodoh. Kamu pacaran ‘kan dengan pria tersebut!” kejarku mencari penjelasan dari bibir Alifa. Dia hanya diam dan menunduk, air matanya menetes.
“Maaf … Dian, mungkin kamu salah paham. Dia bukan pacarku, tetapi pria tersebut adalah sepupuku. Namanya Farhan,” jelasnya sambil terisak. Aku belum mengerti mengapa dia menangis.
“Lalu mengapa kamu menangis?”
“Dian, syukur kamu yang melihatnya. Jika itu orang lain, pasti akan menjadi gosip yang menjatuhkanku.” Seketika dia memelukku. Aku hanya diam.

Keterangan dari Alifa membuat dadaku sesak. Maksudku ingin memojokkannya tetapi, justru aku yang terpojok. Terbuat dari apa hatinya hingga dia berpikir aku adalah sahabat yang baik.

Sejak kejadian di taman sekolah tersebut, diam-diam aku mengamati gerak-gerak Alifa. Hingga tanpa sadar, keinginanku menjatuhkan terkikis dengan sifat dan kepribadiannya yang santun. Dia sekarang menjadi ketua rohis sekolah. Jilbab panjang dan adab bergaulnya sangat diperhatikan. Sangat beda dengan kebanyakkan remaja puteri seusianya. Perlahan rasa iri itu mulai merasuk ke dalam hati.

“Alifa, mengapa kita harus pakai jilbab?” tanyaku penasaran tatkala kami sedang duduk santai di pelataran mushala sekolah.
“Karena itu wajib, perintah dari Allah,” jawabnya singkat. Jilbab putih panjangnya menghiasi wajah bersahaja tersebut.
“Kalau pakai jilbab kita ‘kan tidak bisa gaul dan terkesan kampungan.”
“Jilbab itu prisai, pelindung para muslimah dari pandangan pria yang tidak baik dan lebih mendekatkan diri kepada-Nya.” Aku hanya diam dan mengangguk mendengar penjelasannya.
“Biarlah kita tak seharum mawar. Tetapi, kita mahal bagai mutiara yang tersimpan. Percuma cantik di mata manusia, kalau tidak cantik di mata Allah,” lanjut Alifa menjelaskan. Kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya benar-benar menohok hatiku.

Percakapan di pelataran mushala sekolah, mengantarkanku pada perenungan panjang. Tanpa terasa bening hangat keluar dari kelopak mata lalu menganak sungai. Teringat betapa jahiliyah diri ini. Pacaran, hura-hura dan lupa akan kuwajiban sebagai muslimah. Seharusnya, sebagai remaja mampu memberi contoh yang baik seperti Alifa. Bersyukur untuk sahabatku yang sudah terkena virus kebaikannya.


Rabb, maafkan hamba yang pura-pura lupa akan perintah-Mu. Kutatap wajah di depan cermin. Kuseka air mata yang membasahi pipi. Bismillah, mulai hari ini Dian Mayangsari berjilbab karena mencintai perintah-Mu. Walau sekarang tak lagi seharum mawar, aku percaya bahwa muslimah dengan jilbabnya akan tampak mahal bagai mutiara di mata-Nya.[]

Rabu, 29 Juni 2016

Bukan Roman Picisan

By: Yanuari Purnawan

Ibu jahat! Apa salahnya jika aku ingin menikahi gadis itu. Gadis yang ku kenal tiga bulan yang lalu saat acara pelatihan rohis untuk anak SMA. Gadis yang menginspirasi, dengan kekurangannya mampu melafalkan ayat-ayat suci Al-qur’an dengan indah dan merdu. Aku tersihir akan pesona dan kesejukan akhlaknya.

“Hanna.” Saat kami berkenalan, selesai acara tersebut.

“Robi,” jawabku malu-malu. Entah mengapa ada getaran halus bergelayut di hati.

Hanna, seorang guru di TPQ yang bersahaja dengan hijab panjangnya itu, telah berhasil menjajah hatiku.

Ya … Rabb, aku tidak mampu menahan gejolak ini, semoga Engkau tuntun hamba menuju jalan yang Engkau ridhoi.
***
Airmataku tidak bisa terbendung lagi. Ibu tidak setuju dengan keputusanku menikahi Hanna. Baginya, Hanna hanya gadis kampungan, sampah yang di bungkus kantong hitam lalu di buang ke selokan. Dan satu hal yang membuat hatiku teriris, ibu tidak suka dengannya karena akan menjadi benalu bagiku ke depan.

“Ibu, aku mohon,” pintaku.

“Sudah Ibu katakan, Ibu tidak akan pernah setuju kamu menikahi Hanna,” jawab ibu dengan emosi.

“Apa karena dia tidak sama dengan gadis lainnya?”

Dengan menghela nafas panjang dan mencoba mengatur emosinya, ibu berkata.

“Dengar ibu, kamu harus berpikir jernih jangan hanya nafsu semata. Ini ibu lakukan demi masa depanmu kelak.”

Kulihat airmata ibu menetes, aku tidak sanggup untuk memaksanya lagi, aku yakin pasti ada jalan terbaik untuk hubunganku dengan Hanna.
***
“Hanna, mau tidak menikah dengan Mas,” tanyaku kepada Hanna di sebuah rumah makan sederhana dekat dia mengajar.

“Asal orangtua Mas setuju, Hanna mau,” jawabnya sambil menunduk.

“Apa Mas yakin ingin menikahiku? Mas pasti mengerti aku beda dengan gadis lainnya,” tanyanya sambil memandang ke arahku.

“Mas yakin, tetapi Ibu belum bisa menerimanya,” jawabku dengan menahan untuk tidak menangis.

“Aku mengerti itu Mas, berat untuk menerima gadis sepertiku dan aku tidak mau menikah hanya karena belas kasihan orang lain.” Kulihat airmata membasahi pipinya.

Dengan bantuan tongkat sebagai penuntun langkahnya, dia pergi meninggalkanku. Kupandang punggungnya dan lirih berkata, “Hanna aku mencintaimu.”

Dari kaca rumah makan, kulihat mobil berkecepatan tinggi menabrak seorang gadis.

“Hanna?!” teriakku.

Wajah itu pucat dan darah keluar membasahi jilbab hitamnya. Tubuh terbujur tidak berdaya, bagai mimpi. Aku hanya diam, terpaku melihatnya.
Airmata mengiringi kepergian dia untuk selamanya. Hanna, aku masih ingat apa yang kau ucapkan terakhir kali itu.

“Hanna memang buta Mas, tetapi hati ini tidak pernah buta. Mungkin bagi banyak orang hidup kami gelap, tetapi dengan menghafal kalam-Nya kami punya cahaya yang menuntun langkah ini. Sesungguhnya kebutaan yang sejati, jika dia di beri nikmat melihat tetapi tidak digunakan untuk mengagumi dan mensyukuri keagungan-Nya dan lebih parah lagi, mata hatinya juga ikut buta karena nafsu duniawi semata.”


Minggu, 19 Juni 2016

Kau yang ada dalam Doaku

Kau yang ada dalam Doaku
Oleh : Yanuari Purnawan



Mencintaimu bagai semburat fajar yang melukis indahnya pagi. Entah berapa banyak kalimat puitis tersebut memenuhi setiap inci otak ini. Benar kata para Sufi, cinta itu memabukkan, walau tanpa alkohol. Aduh! Mengapa virus ini harus menjangkit diri tatkala iman masih secuil. Namun, siapa yang tak bergeming? Jika pesonanya mampu memecahkan dinding terdalam hati. Humairah-ku, apakah kau juga merasakan hal yang sama denganku?

“Kak, bagaimana acara bakti sosial minggu ini?” tanya gadis bermata indah di depanku yang membuatku sedikit gelagapan.
“Emm … emm … insyaAllah fix dan sudah sembilan puluh persen rampung proposalnya,” jawabku yang masih salah tingkah. Gadis berjilbab putih itu hanya tersenyum melihat tingkahku. Dasar bodoh dan memalukan. Aku hanya mampu menunduk dan sibuk dengan pikiran sendiri.

Hanna, dialah gadis berjilbab dan bermata indah tersebut. Semua tentangnya kini menjadi fokus utama dalam hidupku. Ya … Allah salahkah ini? Namun aku hanya hamba-Mu yang lemah. Tuntun cinta yang mulai tumbuh dan bersemi ini dalam cinta karena-Mu. Sebaris doa selalu kupanjatkan untuk menguatkan diri. Bahwa aku tak ingin binasa bak Laela dan Maj’nun ataupun Romeo dan Juliet.

Sebagai ketua Lingkar Dakwah Kampus mengantarkanku untuk lebih dekat dengan Hanna. Dia juga menjabat sebagai salah satu seksi dalam kegiatan kampus tersebut. Aku yang di amanahi tugas ini, seharusnya tidak terjebak dalam lingkaran cinta yang belum halal. Sudahi dan akhiri. Itulah keputusan yang harus segera kutempuh.

***
“Bi … apakah Faiz sudah layak untuk menikah?” tanyaku sedikit gemetar kepada Abi tatkala kami sedang berbincang santai di beranda rumah. Pria berkumis dan berjenggot rapi itu menatapku tajam. Wajah bersahajanya, menyiratkan keteduhan kasih sayang seorang bapak.
“Faiz … dengarkan abi. Menikah itu bukan masalah layak atau tidaknya. Tapi, menikah itu berdasarkan dari kesiapan hatimu. Jika kamu sudah siap, maka menikahlah. Jika kamu ragu terus berdoa, minta kepada-Nya. Abi selalu mendukungmu, Nak.” Perkataan abi benar-benar mampu membiusku untuk menjadi insan yang lebih baik. Terima kasih, abi.

Semenjak percakapanku dengan abi tempo hari. Membuatku semakin yakin, siap dan mantap untuk melanjutkan hubunganku dengan Hanna. Apapun nanti hasilnya, asal niat ini baik, insyaAllah pasti ada jalan.
“Hanna … apakah kamu sibuk nanti malam?” tanyaku sedikit gugup di tengah kegiatan bakti sosial. Hanna yang bergamis ungu senada dengan jilbabnya tersebut sekilas memandangku lalu menunduk kembali.
Afwan , Kak. Alhamdulilllah Hanna nggak sibuk. Memangnya ada apa, ya?” tanyanya balik. Aku hanya tersenyum malu lalu pergi meninggalkannya yang masih penasaran.

***
“Kabarnya Hanna akan di khitbah seseorang!” terang Doni tatkala kami sedang berkemas setelah acara bakti sosial.
“Maksudmu?” selidikku yang tak percaya. Benarkah ini? Hanna akan di khitbah seseorang. Kabar dari Doni sedikit memupuskan harapanku untuk meminang Hanna.
“Benar Faiz! Aku dapat kabar tersebut dari sahabat dekatnya, Putri,” jelas Doni dengan mimik serius. Aku hanya diam dan merasakan sesak di dalam dada.

Di dalam kamar, aku masih ragu dan bimbang untuk pergi ke rumah Hanna. Namun, di satu sisi aku sudah berjanji kepadanya. Apa yang harus kulakukan? Penolakkan sudah tergambar jelas di depan mata. Apakah aku harus nekat meminangnya juga. Dalam posisi ini, kupasrahkan semua kepada-Nya. Dengan wajah yang masih galau, akupun mantap pergi ke rumah Hanna.

Rumah bergaya minimalis dengan ruang tamu yang sederhana, namun membuat siapapun betah untuk bertamu.
“Ini Nak Faiz, ya? Tadi Hanna bilang sama bapak kalau temannya mau datang,” sapa Bapak berkoko putih dan berkopyah hitam tersebut ramah.
“Benar, Pak!” jawabku gemetar.
“Ada keperluan apa Nak Faiz berkunjung ke sini?” Mata teduh itu menatapku. Aliran darah seakan berhenti dan jantung berdegup lebih cepat. Lidahku keluh. Dengan beristighfar dan membaca basmallah. Kuberanikan diri untuk berbicara.
“Saya datang ke sini untuk meminang putri bapak bernama Hanna Safitri,” ucapku mantap. Pak Harun nama bapak Hanna tersebut, tersenyum memandangku.
“Bapak hanya sebagai perantara. Jadi, bapak tidak bisa mengambil keputusan. Semua kuserahkan kepada Hanna. Karena dia sudah dewasa,” terang Pak Harun diplomatis. Beliau pun memanggil putri semata wayangnya.
Gadis berbusana biru serasi dengan warna jilbabnya, keluar dari belakang sambil menunduk.
Nduk, kamu pasti sudah mendengar percakapan kami dari dapur. Sekarang, kamu yang memberi keputusan atas perihal pinangan ini.” Pak Harun mempersilahkan putrinya mengambil keputusan. Hal tersebut membuatku yang duduk panas-dingin.
“Terima kasih, atas keberanian Kak Faiz untuk meminangku. Dengan mengucap bismillah aku terima pinangan dari Kak Faiz.” Jawaban dari Hanna membuatku tak percaya. Ragu masih menjalar. Dengan sedikit keberanian, aku pun berbicara.
“Tapi … dengan gosip Hanna dikhitbah seseorang itu, bagaimana?” Wajah bersahaja dan anggun tersebut tersenyum menatapku lalu menunduk malu.
“Kak Faiz, kaulah seseorang yang ada dalam setiap doaku. Sedang gosip itu hanya rumor biasa, tapi yang pasti Kak Faiz lah jawaban atas semua itu,” terang Hanna penuh keyakinan.

Ya … Allah inikah jawaban atas doa-doa yang kupanjatkan selama ini. Ternyata, cinta karena-Mu menuntunku pada satu kepastian. Bahwa, Hanna, kaulah humairah-ku, yang ada dalam setiap bait-bait doaku juga.

Selesai

Rabu, 15 Juni 2016

Cinta dalam Ikhlas

Cinta dalam Ikhlas
Oleh : Yanuari Purnawan



Mata masih membulat menatapnya. Getaran halus perlahan menyusup ke dalam hati. Sosoknya membuat degup jantung tak menentu. Hingga lambat laun menjadi tak terkendali lagi. Paras yang bersahaja, senyum yang ramah dan sikap yang santun tersebut. Membuat seonggok daging bernama hati itu, menjelma menjadi merah jambu.

“Jangan gugup! Santai saja,” ucap Andi sahabat satu kampus sambil menepuk pundakku.
“Aku yakin kalian adalah pasangan yang serasi, Han.” Andi berusaha menenangkanku. Sahabat satuku ini selalu saja mengerti apa yang sedang kurasakan. Lewat dia pula, aku bisa mengenal lebih dekat Dilla. Gadis yang membuat hariku berwarna dan penuh bunga-bunga cinta.
“Di … apa aku tidak terlihat berantakan?” tanyaku sedikit gugup untuk menghadapi momen yang sangat bersejarah dalam hidupku.
“Tidak kok, cuma kayak udang rebus saja,” jawabnya sambil tertawa. Aku hanya bisa cemberut.

Kupandangi sekitar ruang tamu yang bercat putih dan bergaya minimalis tersebut. Ruang ini akan menjadi saksi bisu perjalanan cintaku. Hingga suara pria membuyarkan segala lamunanku.
Assalamualaikum, maaf sudah menunggu lama,” sapa pria berkoko dan berkopyah putih tersebut.
Waalaikumsalam,” jawabku bersamaan dengan Andi.

Mendengar suara pria tersebut, membuat tangan terasa basah dan lutut seakan lemas. Bulir keringat dingin mulai membasahi dahi. Sorot mata pria yang tak lain ayah dari Dilla, membuatku semakin grogi dan salah tingkah. Biasanya aku selalu percaya diri, baik saat diskusi di kampus maupun di luar kampus. Tetapi, entah mengapa kepercayaan diri tersebut lenyap seketika.

“Kalian satu kuliah dengan Dilla?” tanya Pak Syamsul. Ayah Dilla membuka pembicaraan yang seolah mengetahui kegugupan kami, terutama aku selaku tokoh utama dalam pertemuan ini. Kami hanya mengangguk membenarkan pertanyaan tersebut.
“Saya mengerti dari Dilla, ada yang mau mengkhitbahnya. Apakah itu benar?” Ucapan dari bibir Pak Syamsul membuatku panas dingin. Ternyata, Dilla sudah memberitahu ayahnya. Andi yang duduk di sebelahku menendang pelan kakiku untuk segera angkat suara.
“Ma … af, Pak. Saya Farhan, yang mau mengkhitbah putri bapak bernama Adilla Safitri,” jelasku dengan terbata. Aku tidak mengerti bagaimana raut wajahku kini.
“Terima kasih atas keberanian Nak Farhan. Tetapi, saya tidak bisa memutuskan dan yang berhak menjawab adalah Dilla.” Ayah Dilla begitu demokratis. Lalu beliau memanggil Dilla untuk memberi keputusan. Dengan jilbab putihnya, Dilla terlihat anggun dan bersahaja.
“Nak, kamu pasti sudah mendengar percakapan kami. Sekarang giliran Dilla yang mengambil keputusan,” terang ayah Dilla lembut sambil menatap putrinya.
“Terima kasih, Ayah dan semuanya atas kesempatan ini. Jujur aku sangat menghargai keberanian mas Farhan sebagai lelaki sejati. Berani mengkhitbah mendatangi orangtuaku.” Keterangan dari bibir Dilla membuat sedikit embun pengharapan menetes lembut ke dalam hati. Aku yakin dia pasti menerima khitbah ini.
“Tetapi, sebelum mas Farhan datang untuk mengkhitbah. Aku lebih dulu mencintai seseorang,” lanjutnya.
“Maksudnya?” aku belum mengerti, tetapi keterangan Dilla membuat hatiku remuk redam.
“Maaf mas Farhan, hatiku sudah terpaut dengan pria lain.”
“Kalau boleh tahu, siapakah pria itu?” tanyaku sekuat tenaga berusaha untuk tegar dan tabah.
“Andi Maulana,” jawab Dilla dengan nada suara sedikit bergetar.

Mendengar siapa pria yang disebut Dilla, membuatku tak percaya. Suasana mendadak hening. Tetapi, tidak dengan perasaanku. Seolah ada petir menyambar hati lalu menghancurkannya. Lidahku keluh untuk berucap lagi. Andi yang duduk di sampingku diam, seperti mencari pembenaran diri.
“Maaf, apa aku tidak salah dengar? Andi Maulana, sahabatku ini!” tanyaku sambil melirik Andi. Bukan marah ataupun cemburu, tetapi aku butuh penjelasan yang lebih. Dilla hanya mengangguk lalu berkata.
“Aku mulai mencintai mas Andi saat pertama kali masuk kampus. Sifat dewasa, sopan dan santunnya membuat hatiku luluh. Apalagi saat dia bersedia menjadi mak comblang mas Farhan. Entah mengapa hatiku lebih terpaut untuknya.”
“Farhan jujur bukan maksudku untuk menusukmu dari belakang. Ini di luar perkiraanku. Aku juga baru mengerti hari ini, tentang perasaan Dilla. Maafkan aku!” ucap Andi gugup, takut aku salah paham. Kutatap mata Andi dan tersenyum.
“Andi, Dilla dan Pak Syamsul, sebenarnya hatiku hancur. Tetapi, sebagai pria aku harus ikhlas melepaskan cinta ini untuk sahabatku. Bukankah cinta tak harus dipaksakan. Andi … kutitipkan Dilla untukmu. Aku ikhlas karena dia mendapatkan pria yang jauh lebih baik dariku.” Tanpa terasa air mata menetes. Andi langsung memelukku dengan terisak.
Alhamdulillah,” ucap Pak Syamsul sambil tersenyum haru.

Peristiwa kali ini menyadarkanku, bahwa cinta sejati tak harus memiliki. Tetapi, cinta sejati itu harus berani mengikhlaskan yang dicintainya untuk bahagia bersama dengan yang lain. Bukankah jodoh, maut, rezeki sudah ada yang mengatur dan tercatat rapi di lauh mahfuz-Nya. Jadi, mengapa harus risau kehilangan yang kita cintai. Aku harus ikhlas, mungkin Dilla bukan cinta sejatiku. Tetapi, aku percaya Allah pasti telah menyiapkan bidadari lainnya untuk menjadi cinta sejatiku.[]


Rabu, 27 April 2016

PHP

PHP (Penantian Hingga Pelaminan)
Yanuari Purnawan



Jika kita punya masa lalu yang kelam bukan berarti kita mempunyai masa depan yang kelam juga. Tak ada yang mengerti apa yang akan terjadi esok, jadi bersabar dan lakukanlah yang terbaik untuk hari ini.
*
Aku sedang duduk di halte bus, lima menit lagi perjalanan baru siap di mulai. Tak ada lagi air mata atau penyesalan akan takdir-Nya. Percaya bahwa semua adalah bentuk takdir terindah yangd diberikan Allah. Aku mendesah panjang lalu mengambil ransel, bus jurusan Pasuruan-Jember sudah ada di depanku. Aku lebih memilih duduk di tengah samping jendela, entah mengapa tanpa sadar bayangan itu kembali memenuhi otak. Kupejamkan mata lalu menerawang jauh seiring bus yang perlahan meninggalkan terminal lama-Pasuruan.
“Apa aku boleh duduk di sini?”
Mataku mengerjap sambil melepas earphone yang setia menemaniku menunggu bus untuk berangkat. Perempuan muda berjilbab putih kini ada depanku sambil tersenyum yang memperlihatkan lesung pipinya. Aku hanya mengangguk dan mempersilakan. Kurang lebih sepuluh menit setelah bus meninggalkan terminal Jember, aku dan perempuan muda yang ada di sampingku tak ada komunikasi kita memilih diam dan terpasung oleh pemikiran masing-masing.
“Mas, mau ke mana?”
Aku menoleh ke arahnya sembari memberikan senyum terbaik yang kupunya.
“Biasa pulang kampung!” Dia hanya terkekeh, “Aldi Septian Putra …,” lanjutku sedikit kikuk memperkenal diri kepadanya, sungguh konyol dan memalukan. Lagi-lagi dia hanya tersenyum manis yang memperlihatkan pahatan sumur kecil dikedua pipinya.
“Almira!” jawabnya singkat tanpa membalass uluran tanganku yang ingin berjabat tangan. Kembali untuk beberapa saat kita bergelut dengan keheningan hanya deruh mesin bus serta degup jantungku yang mulai terdengar.
“Kalau boleh tahu kampungnya di mana?” Sekilas mata kita beradu yang menimbulkan sedikit getaran halus di dada.
“Pasuruan!”
“Heh! Sejak kapan ya Pasuruan sudah menjadi kampung?” Mira−panggilan untuknya−terkekeh sambil menutup mulutnya, “Maaf!”
“Sejak aku duduk di bus ini dan bertemu kamu,” candaku sambil tersenyum puas mengerjai dia yang tak berkutik dengan jawabaanku.
“Konyol!” ucapnya sambil meninju lenganku pelan.
Bus sudah sampai terminal Probolinggo, sejam lagi aku akan sampai di Pasuruan. Sejak dua jam perjalanan aku dan Mira saling bertukar informasi tentang aktivitas yang sedang kita jalani. Ternyata Mira adalah mahasiswa tingkat akhir jurusan keperawatan Universitas Jember dan kini dia pulang karena liburan. Beda denganku yang merantau ke Jember untuk mengais rezeki dan kini aku pulang karena adik perempuanku akan menikah.
Bus sudah berhenti di terminal lama-Pasuruan lima menit yang lalu, entah mengapa sebagian hati merasa tak ikhlas bus terlalu cepat menurunkan penumpang di sini. Mira tersenyum lalu mendekat kearahku.
“Senang berkenalan dengan mas Aldi!”
Terlihat rona merah memenuhi kedua pipinya. Kita sama-sama kikuk tak tahu kalimat perpisahan apa yang terlihat berkesan.
“Jika jodoh pasti kita dipertemukan kembali!”
Jantungku seakan berhenti berdetak, ‘jodoh’ dia bilang kalau berjodoh akan bertemu? Aku hanya mengamiininya di dalam hati.
“Sama-sama! Ohnya pulang ke rumahnya sama siapa?” tanyaku basa-basi hanya untuk mengulur waktu agar kita tak terlalu cepat berpisah.
“Sudah ada jemputan! Ya sudah kalau begitu aku pamit duluan dan sampai jumpa.”
Mira melambaikan tangan dan tersenyum, momen tersebut kepergunakan untuk merekam sesosok perempuan berjilbab putih dan memiliki lesung pipi yang menambah manis ketika dia tersenyum. Kini aku terdiam lalu mengumpat di dalam hati, mengapa aku tidak meminta nomor ponselnya atau alamat sosial medianya. Dasar bodoh! Kalimat Mira jika jodoh kita akan dipertemukan kembali membuat sedikit harapan memenuhi isi hatiku. Semoga saja Allah yang Maha Baik memberikan skenario terindah untuk hamba-Nya nanti.
*
“Kakak capek, Dek!”
Tapi rengekkan adikku masih setia memenuhi gendang telinga. Sudah dua hari ini aku ada di rumah dan kini adikku satu-satunya tersebut merajuk untuk diantar ke Taman Kota.
“Sama Mas Hadi kan bisa, Dek!”
Mas Hadi adalah calon suaminya atau lebih tepatnya empat hari lagi sudah sah menjadi imam untuk adik perempuanku.
“Alya kan maunya sama Kak Aldi!” Matanya berkaca-kaca, “Sebentar lagi Alya akan menjadi istri, mungkin jatah kebersamaan kita pun akan berkurang. Aku ingin sebelum menikah kita bisa membuat momen kebersamaan yang indah. Dan kakak minggu depan juga akan kembali ke Jember.”
“Kayaknya kakak takut Taman Kota Pasuruan pindah ke Paris jika tidak kita kunjungi!” Alya pun memelukku dan aku tak kuasa untuk menolak akan permintaannya yang begitu tulus.
Taman Kota sore ini tak terlalu ramai, mungkin karena bukan malam minggu yang biasa dibuat muda-mudi untuk berpacaran. Beberapa kali kamera ponsel menangkap bayangan aku dan Alya. Alya ingin mengabadikan momen bersamaku di Taman Kota sebelum dia menyandang status istri dari Hadi Purnomo. Mataku terbelalak dan kembali jantung berdegup tak normal, iya! Aku tak mungkin salah, perempuan muda berjilbab ungu sambil membawa kamera DSLR tersebut adalah Almira. Senyum dan lesung pipi itu masih membekas di alam bawah sadarku.
“Almira!” teriakku sembari mendekat ke arahnya, Alya tertegun sambil mengikuti langkahku.
“Mas Aldi!” Dia kaget dan merasa tak percaya kini kita dipertemukan kembali. Namun, bola mata Mira sekarang menatap penuh tanda tanya ke arah Alya.
“Ohnya, kenalin ini adikku, Alya!”
Mereka saling berjabat tangan dan berkenalan satu sama lain. Aku sedikit canggung ketika Alya menatapku sedikit menyelidik tentang aku dan Mira. Namun, itu tak berlangsung lama karena Mira terlebih dulu menjelaskan bagaimana kita bisa saling kenal. Alya hanya mengangguk sambil sesekali tertawa dengan melihatku. Sekitar lima belas menit, kami bertiga mengitari Taman Kota dan tak jarang Alya minta difotoin dengan berbagai gaya.
“Kayaknya sudah mau maghrib nih, Mira harus pamit duluan!” ucap Mira sambil melihat jam tangannya.
“Gimana kalau kita antar?” celetuk Alya tanpa disaring terlebih dulu. Mukaku kini merona dan tertunduk menunggu jawaban Mira.
“Maaf, Dek! Bukannya kakak tidak mau, tapi kakak sudah ada yang jemput.”
Ada sebersit kecewa yang hinggap di dalam hati mendengar jawaban perempuan muda berjilbab ungu di depanku tersebut.
“Ya sudah aku duluannya!”
“Kak Mira … punya nomor ponsel kan? Siapa tahu kita bisa jadi sahabat dekat?” Lagi-lagi aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan adik perempuanku satu ini. Sembari menyebutkan nomor ponselnya, gendang telingaku fokus merekamnya. Nomor ponsel dan orangnya sama-sama cantik.
*
Sayang sekali Almira tak bisa menghadiri acara pernikahan Alya. Tadi malam dia bilang melalui sambungan telepon kalau dia minta maaf tak bisa hadir karena ada acara keluarga. Aku tak mungkin memaksanya untuk hadir, apalagi nanti akan kukenalkan dengan keluargaku. Sungguh kenyataan tak seindah angan-angan. Namun, aku tetap bersyukur karena kini aku lebih dekat dengannya, tiga hari belakangan tak ada hari yang terlewat untuk berkomunikasi dengan perempuan muda berjilbab tersebut lewat SMS atau telepon.
“Kapan kakak nyusul?” goda Alya sambil menggandeng suaminya, Hadi. Aku tersenyum kecut lalu menatap mereka berdua yang kini menjadi pasangan suami-istri.
“Doakan saja kakakmu ini. Jika ada calon yang cocok buat kakak segera kenalin!” balasku sambil mengedipkan mata.
“Bagaimana kalau Kak Mira!”
Deg! Dunia seakan membeku dan waktu tak berputar, kenapa dengan nama Mira? Apakah Alya merasakan apa yang kini sedang kurasakan kepada perempuan yang berkenalan dengannya di Taman Kota tersebut.
“Kalau diam berarti iya!” Kembali Alya menggodaku yang kini berhasil membuat wajahku seperti udang rebus.
“Sudah! Kasihan Kak Aldi jadi salah tingkah begitu. Intinya siapapun jodohnya pasti itu yang terbaik buat Kak Aldi, bukankah pria baik hanya untuk perempuan baik dan begitupun sabaliknya,” timpal Hadi begitu bijak, membuat aku dan Alya terdiam sejenak.
“Tuh … dengerin suamimu!” ucapku sambil mengelus kepala adik perempuanku satu-satunya yang dengan tega mendahului kakaknya menikah. Lebih tepatnya bukan tega tapi lebih pantas menyempurnakan separuh agamanya duluan.
*
Hari ini adalah hari terakhirku di Pasuruan, besok aku harus kembali ke Jember untuk mencari rezeki lagi. Sungguh lima hari yang sangat berkesan bagiku, berkenalan, dekat dan mungkin saat inilah aku harus menjemput jodohku. Aku janjian dengannya untuk bertemu di Taman Kota sekitar pukul tiga sore. Sekarang atau tidak sama sekali karena kita tak akan pernah tahu jika tidak mencobanya.
“Maaf aku … terlambat!” sapa Mira sambil sedikit terbata-bata. Aku hanya tersenyum lalu mempersilahkannya duduk sekitar dua meter dari bangku yang aku duduki. Dia masih mengatur napasnya yang sempat tesenggal-senggal.
“Ada apa Mas Aldi mengajak ketemuan, kayaknya ada yang serius?”
Pertanyaan barusan menyadarkanku yang sempat melamun memikirkan apa yang akan aku katakan kepadanya. Almira tampak anggun dengan jilbab putihnya.
“Mas Aldi … mau tanya sesuatu … apakah Dek Mira mau menjadi bagian dalam hidup mas?” Matanya membulat dan udara sekitar seakan lenyap untuk mengisi paru-paruku.
“Maksudnya?”
“Maukah Dek Almira jadi kekasih halalku?” Tenggorakkanku kering mendadak dan sulit untuk mengatakan kalimat yang lebih baik dari kalimat barusan.
Mira tersenyum lalu memandang lurus ke depan melihat anak-anak kecil yang sedang main perosotan.
“Memiliki cinta di hati itu adalah anugerah, mencintai seseorang itu adalah fitrah. Namun ada kalanya penantian akan cinta yang menjadi anugerah dan mencintai menjadi fitrah berbanding terbalik dengan takdir-Nya.” Kini dia menunduk terlihat dari ujung matanya luruh kristal hangat.
“Maaf jika perkataan Mas menyakiti adek!” Dia menggeleng, jilbab putihnya berkibaran tertiup angin sore.
“Sungguh aku menghargai keseriusan Mas Aldi, tapi ….” Ada jeda beberapa detik, Mira seperti mengumpulkan energi untuk melanjutkan ucapannya. “Tapi Mas Aldi harus mengerti penantian hingga menuju pelaminan adalah hal yang sakral. Banyak ujian dan godaan, ya mungkin seperti ini ujian dan godaan yang menerpaku.”
“Maksudnya Dek Mira!”
“Aku sudah dikhitbah seseorang yang insyaaAllah menjadi imamku kelak,” jelas Almira tegas tanpa keraguan sedikitpun dari perkataannya. Kini hatiku remuk-redam mendengar pengakuan dari perempuan muda berjilbab putih yang aku kenal di dalam bus. Sungguh skenario Allah begitu luar biasa atas jalan cintaku.
“Maafkan aku Mas, jujur banyak wanita di luar sana yang masih menanti calon imam seperti Mas Aldi.” Aku tersenyum mendengar ucapannya barusan dan dia pun buru-buru untuk segera pulang. Mira pun menjelaskan bahwa penantian hingga pelaminan bukanlah hal mudah, namun jika kita masih berada di koridor jalan-Nya insyaaAllah kita akan selamat dari ujian dan godaan, semisal pacaran atau kakak-adik temu gede. Itulah sindiran halus darinya kepadaku yang lupa akan syariat dan adab dalam pergaulan antara laki-laki dengan perempuan yang bukan muhrim.
“Kuharap kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warrahmah.”
Lesung pipinya menambah manis jika dia tersenyum, perlahan perempuan muda tersebut menghilang bersama senja yang segera berganti malam.
*
Kalian tahu bagaimana rasanya patah hati, mungkin seperti luka yang terkena siraman air jeruk. Perih. Namun, ada satu hal yang aku syukuri kini adalah hijrah atau berbenah kearah yang lebih baik lagi. Belajar memantaskan diri menjadi laki-laki yang baik hingga kelak dipertemukan dengan perempuan yang juga memantaskan dirinya. Aku percaya di luar sana banyak pula seseorang yang menanti jodohnya dan salah satunya adalah jodohku yang tercatat rapi di lauh mahfuz-Nya.
Bus semakin jauh meninggalkan Kota Pasuruan, begitupun dengan kenangan indah yang kini aku tinggal untuk pembelajaran di masa yang akan datang. Aku mendesah panjang sambil menatap jendela bus. Rumah, sawah dan tiang listrik seolah bergerak bak roll film yang tak pernah putus seperti episode kehidupan ini. Sekarang aku duduk manis sambil tersenyum menanti apa yang akan terjadi esok di hari yang baru, kota yang baru, udara yang baru dan juga cinta yang baru.[]


Kamis, 17 Maret 2016

Maafkan Aku, Karin!

Maafkan Aku, Karin!
Yanuari Purnawan



Saat kau mencintai sesuatu pasti ada rasa ingin dan terus berada di dekatnya. Seperti halnya pepatah jawa ‘Tresno jalaran soko kulino’ yang artinya cinta hadir karena terbiasa bertemu. Begitupun yang sedang terjadi kepadaku. Gara-gara sering belajar bersama, bahkan satu tim untuk mewakili sekolah dalam olimpiade fisika. Membuat diri ini dalam dilema akan pesona gadis bermata bening dengan senyum manisnya. Karina Devi Mayangsari, gadis itulah yang kini berhasil mencuri mimpi-mimpi dalam tidurku.
“Kak …!” Mata itu tepat menatapku yang duduk di depannya. “Hayo, melamunin apa?” candanya sambil tersenyum manis. Hampir saja aku hilang fokus dan salah tingkah. Gadis yang sedang kupikirkan, kini tepat berada di depanku.
“Nggak melamun kok! Kakak cuma lagi mengingat-ingat rumus untuk soal ini,” elakku sambil membuka soal-soal latihan untuk olimpiade fisika. Karin memajukan bibirnya membentuk huruf ‘O’ seolah tak percaya dengan ucapanku barusan. Aku pun kembali tertunduk dan fokus kepada soal-soal. Mendadak suasana menjadi hening dan canggung.
Entah apa yang mendorongku untuk curi-curi pandang ke arahnya. Hingga seperkian detik mata kita beradu. Ces … seperti ada desiran halus menyusup ke dalam hati. Karin tersipu dan sekilas pipinya merona merah. Aku pun merasakan hal yang sama, gugup dan tak tahu apa yang harus dilakukan. Untuk memecah kecanggungan diantara kita, akhirnya spontan Karin bertanya soal yang entah dia tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti.
“Kak, apa sih maksud soal ini?” tanyanya sambil menyodorkan kertas berisi soal fisika. Kubaca dengan seksama walau masih ada rasa tak menentu di hati.
“Ini tentang tumbukan. Jadi, benda yang mengalami tumbukan dengan massa yang sama akan memantul dengan gaya yang sama pula seperti benda yang menumbuknya. Atau bisa disebut dengan momentum.”
Karin manggut-manggut mendengar penjelasanku barusan. Secara refleks mata kita pun beradu kembali. Kucoba menetralisir perasaan dan mencoba membuka pembicaraan yang lebih serius dengannya.
“Apa kamu pernah merasakan momentum itu?”
Mata beningnya mengerjap memandangku lekat, “Maksud kakak?”
Lidahku mendadak keluh dan tenggorokan terasa menelan duri. Sekuat tenaga kukumpulkan keberanian untuk menjelaskan perasaan ini.
“Apakah Karin merasakan seperti ada tumbukan di hati saat bersama kakak?”
Benar-benar pertanyaan konyol. Sungguh jika aku mampu, aku ingin segera berlari dan meninggalkan tempat ini sejauh-jauhnya. Namun, aku masih kaku untuk menunggu respon dari gadis berjilbab putih di depanku. Aku menunduk sambil menelan ludah. Berkali-kali pikiranku membodohi diri ini. Mana mungkin seorang Karina Devi Mayangsari memiliki rasa yang sama kepada laki-laki yang bukan siapa-siapa.
“Kurasa massa yang menumbuk hati ini sama, hingga menimbulkan gaya yang sama pula!” Senyum merekah dari bibir mungilnya, “Kita jalani saja, kan kita tidak tahu apa yang terjadi kedepannya.”
Kaki ini seakan tak berpijak, burung-burung bercicit merdu dan musim semi menumbuhkan bunga-bunga yang bermekaran. Aku tak pernah menyangka jika perasaanku berbalas indah dari gadis yang selama ini mencuri mimpi-mimpiku. Karin, kaulah yang pertama mengisi hati ini dan kuharap menjadi yang selamanya.
***
Seperti hujan yang dirindu kemarau, begitupun perasaanku kepada Karin. Semakin hari semakin subur dengan lebih intensnya hubungan kita. Dari obrolan mengenai persiapan lomba hingga obrolan tak penting, semisal tanya kabar atau sudah makan apa belum. Sungguh luar biasa virus merah jambu menyerang dua insan yang masih berseragam putih abu-abu ini.
Persiapan untuk lomba semakin intensif karena tinggal lima hari lagi. Namun, hal itu tak membuatku jenuh atau stress, sebab aku semakin dekat dengan Karin. Saat bimbingan, kita sering curi-curi pandang bahkan saling diskusi jika ada soal yang salah satu dari kita tidak mengerti. Bagiku ini sudah cukup berarti, walau dalam hati ini menolak. Ada rasa bersalah setelah itu, namun berkali-kali aku menepis bahwa kita tidak pacaran dan melakukan hal-hal yang dilarang agama.
Kedekatanku dengan Karin tercium juga oleh seniorku Kak Rahmad yang merupakan ketua Remus atau Remaja Mushalla sekolah. Memang semenjak kelas satu aku sudah ikut ekstrakulikuler dibidang keagamaan tersebut. Karena sebagai anak desa yang harus sekolah di kota, aku merasa belum cukup kuat iman ini menahan godaan-godaan yang lebih besar dibanding di tanah kelahiranku.  Maka dari itu aku membutuhkan teman-teman yang setia mengingatkanku ketika salah dalam melangkah. Salah satunya menjadi anggota Remus.
Setelah salat zuhur berjamaah, Kak Rahmad ingin bicara empat mata denganku. Mungkinkah Kak Rahmad mengetahui kedekatanku dengan Karin. Tidak mungkin, karena aku dengan Karin tak pernah macam-macam selama ini. Kita hanya dekat karena satu tim untuk mewakili sekolah dalam olimpiade fisika. Walau tidak munafik ada perasaan khusus yang menyelinap halus di dalam hati ini.
“Gimana kabar, antum?” tanya Kak Rahmad yang duduk di depanku sambil bersila. Mimik wajahnya terlihat serius namun bersahaja. Hembusan angin terasa sejuk menerpa wajah. Serambi mushalla selalu menyejukkan, mungkin karena merupakan rumah Allah.
Alhamdulillah, ana baik.”
“Ada hal penting yang ingin ana tanyakan kepada antum. Tapi, ana harap antum mau menjawabnya dengan jujur.”
Seperti ada gemuruh di dalam dada. Sorot mata tajam Kak Rahmad seolah mengintimidasiku. Aku hanya menelan ludah sambil mengangguk.
“Ada hubungan apa antum dengan Karin?”
Pertanyaan tersebut seolah bumerang  yang tepat menembus jantung. Aku bingung untuk menjawab apa. Jujur selama ini aku memang tak ada hubungan apa-apa dengan Karin. Namun, disatu sisi hubungan kita sudah seperti orang yang pacaran walau tanpa predikat kekasih.
“Kita hanya partner untuk mewakili sekolah dalam olimpiade fisika. Tak lebih dari itu!” jelasku sedikit lesu sambil menunduk. Kak Rahmad menepuk pundakku lalu mendesah panjang.
“Syukur kalau begitu. Jadi, rumor kalau antum ada hubungan khusus dengan Karin hanya fitnah belaka.”
Aku menghela napas panjang, dadaku terasa sesak karena merasa membohongi karib yang bahkan sudah kuanggap kakak sendiri tersebut. Namun, aku tak punya keberanian untuk mengakui kedekatanku dengan Karin.
Ana hanya mau mengingatkan antum bahwa sehebat-hebat fitnah dunia adalah perempuan.” Kak Rahmad diam sebentar mengambil jeda untuk menasihatiku, “Hubungan yang diridhoi Allah hanya melalui pernikahan, selain itu dosa dan mendekati zina semisal pacaran.”
Aku mengangguk dan menyetujui apa yang dijelaskan Kak Rahmad. Tanpa terasa bening hangat meluncur membasahi pipi. Sekali lagi laki-laki yang kuanggap kakak ini menepuk pundakku sebelum pergi meninggalkanku yang merasa bersalah.
“Percayalah jodoh sudah ada yang mengaturnya. Jika, memang kelak ditakdirkan bersama pasti bersatu jua. Namun, ketika usia belum mampu menghalalkannya, maka memantaskan diri menjadi lebih baik itu jauh lebih bermanfaat untuk menjemput jodoh tebaik dari-Nya kelak.”
Air mata semakin menganak sungai mendengar nasihat Kak Rahmad tersebut. Aku tak mampu menatapnya dan terdiam sambil menunduk. Ucapan salam dari Kak Rahmad pun hanya kujawab dalam hati. Aku menyesali semuanya lalu tersungkur sendiri di serambi mushalla yang sudah sepi.
***
Bersyukurlah untuk insan yang sedang jatuh cinta. Jatuh cinta kepada sang pemilik cinta tersebut, yakni Allah SWT. Sejatinya cinta itu suci, bahkan sangat sakral. Jadi, masihkah diri ini terjebak dengan kepalsuan yang mengatasnamakan cinta. Cinta dijemput dengan cara yang halal melalui pernikahan, bukan pacaran yang mengumbar hawa nafsu semata.
Aku tersungkur dan menangis dalam doa di sepertiga malam. Entah berapa lama aku lalai mengingat-Nya. Bahkan semakin jauh dari-Nya ketika rasa itu tumbuh dan mengakar begitu kuat. Secepatnya aku harus menyelesaikan masalah hati ini walau terasa sulit. Namun, aku ataupun Karin tak bisa berlarut-larut dalam cinta yang semu ini.
Hari ini adalah hari terakhir bimbingan untuk persiapan lomba. Selepas bimbangan aku mengajak Karin berbicara empat mata di perpustakaan yang sekaligus tempat bimbangan selama ini. Senyum manis terlukis dari wajahnya. Aku segera menunduk untuk menepis segala pesonanya.
“Ada apa kakak kok ingin bicara empat mata, kayaknya serius banget?” tanyanya selepas bimbingan usai. Matanya memandangku lekat. Aku mengumpulkan keberanian untuk berbicara langsung kepadanya.
“Masih ingat dengan soal momentum?”
Karin mengangguk lalu menjelaskannya, “Jika dua benda yang memiliki massa sama lalu mengalami tumbukan maka benda yang memantul memiliki gaya yang sama pula.”
“Kamu benar. Namun, aku lupa menjelaskan ada momentum tumbukan yang namanya lenting sempurna dan lenting tak sempurna.”
“Maksudnya?” Dahi Karin mengeryit penuh penasaran yang langsung memotong ucapanku.
“Maafkan aku, Karin!” Aku mengambil napas seolah udara di sekitarku membeku. Karin masih serius menunggu penjelasanku. “Seperti hubungan kita ini. Mampu tumbukan lenting sempurna melalui pernikahan. Namun, jika tak mampu sebaiknya kita saling memantaskan diri dengan belajar menjadi orang yang lebih baik lagi seperti halnya tumbukan tak lenting sempurna.”
Seperti ada kristal hangat yang tak mampu dia bendung dari kelopak matanya. Air mata itupun tumpah membasahi kedua pipinya. Aku tak mampu menatapnya lebih lanjut lagi. Hatiku bergejolak antara iba dan harus mengikhlaskan semua hanya kepada-Nya. Semoga perkataanku barusan tak menyakiti hati gadis cantik di depanku tersebut.
“Maafkan aku, Karin!”
Hanya kalimat itu yang kini keluar dari mulutku. Sungguh ingin rasanya aku tak mengenal Karina Devi Mayangsari jika waktu mampu berputar kembali ke masa lalu.
“Untuk apa kakak minta maaf?” Karin mengusap air matanya dengan ujung jilbab lalu menghela napas, “Justru aku berterima kasih kepada kakak yang telah mengingatkanku. Aku juga minta maaf atas kelakukanku selama ini.” Lalu dia merapikan buku-bukunya dan pergi meninggalkanku yang masih terdiam sambil tertunduk di bangku perpustakaan yang sebentar lagi tutup.
Setelah perlombaan, aku jarang sekali berkomunikasi dengan Karin. Aku hanya sesekali melihatnya bersama teman-temannya salat zuhur berjamaah. Lambat laun perasaanku kepadanya mulai terkikis dengan banyaknya tugas sekolah. Aku bersyukur tim kita tidak lolos ke babak selanjutnya dalam olimpiade fisika. Karena ada hikmah dari kegagalan tersebut yakni aku tak lagi intens bertemu dan bertegur sapa dengan Karin. Walau kadang ada rasa rindu yang tiba-tiba mengusik. Namun, segera kutepis dengan berkumpul dengan karib-karibku di Remus.
Dalam perjalanan cinta ini hanya ada dua pilihan, sudahi atau halalkan. Namun jika belum mampu menghalalkan, maka memperbaiki diri menjadi lebih baik jauh lebih bermanfaat daripada menjalin hubungan yang tak diridhoi-Nya yakni pacaran. Tetap fokus belajar dan istiqomah dalam kebaikan hingga kelak disatukan dalam cinta yang penuh berkah atas izin-Nya.[]

Selesai