Jumat, 22 Januari 2016

Back to Me

Back to Me
Yanuari Purnawan



Seperti katamu, malam tak harus tentang gelap. Bisa juga tentang taburan bintang atau remangnya cahaya bulan. Aku selalu mengingat kalimat itu. Sederhana, namun mengkristal di dalam hati. Percaya atau tidak, kita pasti sedang memandang langit yang sama. Terlentang di rumput yang hijau sambil menghitung bintang. Itukan caramu untuk menghapus sepi dan sedih.
“Lihatlah langit itu?” suruhmu sambil terlentang melihat langit malam. Taman komplek jam sepuluh sangat sepi. Entah, apa yang menggiringku untuk ikut denganmu Menikmati dinginnya malam atau melihat bintang jatuh.
“Biasa saja. Bintangnya juga sedikit, mungkin mendung!” Kamu menatapku heran lalu bangkit dan duduk di sampingku.
“Dasar … kamu tuh emang tidak peka!” protesmu sambil mencubit pipiku yang cubby. Seperti ada desiran halus menyusup ke dalam dada lalu turun ke hati. Senyum itu yang membuatku kuat menahan dingin malam. Walau esoknya aku harus merasakan perut yang melilit karena masuk angin.
”Ih … sakit tau!” tepisku. Kamu hanya tersenyum manis lalu kembali menatap langit.
“Kenapa sih kamu suka sekali langit malam? Bagiku sama saja dan tidak ada yang spesial,” cerocosku yang membuatmu kembali mencubit pipiku gemas.
“Kamu tuh nanya apa lagi introgasi?” Aku tersenyum menanggapinya.
Beberapa menit keadaan mulai membisu. Angin malam seakan menusuk tulang. Suasana menjadi sunyi, hingga kamu mulai bercerita.
“Semua tentang ini?” jelasmu sambil menunjuk dada. Aku diam tak mengerti.
“Kamu memang nggak peka!”
“Lha tunjuk dada, emang sakitnya tuh di sini!” protesku yang berkali-kali dibilang tidak peka.
Kamu lalu mengatur napas, seperti ada beban yang sedang disimpan. Tapi, aku tak berani untuk bertanya lebih lanjut.
“Ini tentang perasaan. Saat kita jauh hanya langitlah yang dekat dan sama. Dan mengapa langit malam, karena di balik gelapnya tetap indah dengan taburan bintang dan cahaya bulan. “
Aku mendengarkannya dengan serius. Mata tak mampu berkedip, kamu sungguh terlihat berbeda. Dewasa.
“Kamu lagi ada masalah?”
Kamu hanya tersenyum lalu mengajakku untuk pulang. Sungguh, ini terlalu ganjil. Mengapa kamu tak ingin bercerita? Apakah kamu mengira aku terlalu tak peka akan masalahmu? Jahat.
***
Tuhan pasti punya rencana terbaik buat hamba-Nya. Ini bukan tentang aku atau kamu, namun tentang kita. Kita yang mudah sekali menilai dan berandai-andai.
“Kutunggu di taman.”
Sms itu kembali memenuhi inbox di ponsel. Sudah berapa kali kamu mengirimkannya. Sungguh jika tugas kuliah tak sedang bajibun, aku pasti menemanimu memandang langit malam.
“Maaf aku tak bisa. Tugas kuliah sedang menumpuk,” balasku. Mungkin kamu kecewa dengan sikapku yang lebih mementingkan tugas kuliah. Namun, kuharap kamu juga mengerti. Karena ini adalah tanggung jawab dan masa depanku.
Aku tak fokus mengerjakan tugas kuliah. Pikiranku melayang kepadamu. Jujur, aku tak ingin kamu kecewa. Sepertinya setan telah menghasutku untuk menemuimu. Sial, kamu berhasil merobohkan pertahananku. Kuambil jaket lalu melangkah menuju taman komplek. Sesampainya di taman, tak kutemukan sosokmu yang sedang terlentang memandang langit. Mungkinkah kamu marah dan kecewa kepadaku? Tuhan, kuharap semua hanya pikiran bawah sadarku. Jika, memang benar, sungguh aku menyesal.
Air mataku pun terjatuh sambil kebingungan mencari keberadaanmu. Aku lelah, tak kutemukan batang hidungmu. Di kursi taman, kutumpuhkan segala kebodohanku.
“Dasar cengeng!”
Kupandarkan pandangan, sosok itu tersenyum tipis sambil menyodorkan sapu tangan berwarna biru ke arahku.
“Udah tidak peka, cengeng lagi!”
Aku hanya diam sambil membersihkan air mata dengan sapu tanganmu. Apa yang terjadi kepadaku. Ini di luar nalar. Tapi, tak kuasa aku menahannya. Iya! Aku kini memelukmu yang membuat dirimu kebingungan. Dan aku pun terisak di dadamu.
”Apa-apaan nih? Emang kamu kira aku sudah meninggal di gigit anjing liar malam-malam!” bentakmu hingga pelukan terhadapmu harus kulepas. Kuseka air mata lalu memandang dalam.
“Aku takut kalau kamu diculik Alien!”
Kamu tertawa sambil menjitak kepalaku. Walau sakit, entah mengapa aku suka.
“Dasar! Ayo pulang.”
“Karena, kamu membuatku menangis malam ini. Kamu harus menggendongku sampai depan rumah.”
Kamu melotot hingga aku merasa takut dan menyesal berbicara begitu. Namun, apa yang terjadi. Wajahmu kembali terlihat manis dengan senyum itu. Kamu pun jongkok dan mengerti maksudku. Kamu memenuhi permintaanku. Tuhan, jika ini mimpi aku tak ingin terbangun.
***
Aku tak mengerti
Dan tak akan mengerti
Akan sosokmu
Tingkahmu
Pikiranmu
Namun, aku mengerti sayap-sayap cinta itu
Menerbangkan angan bersamamu selamanya

Lambat laun putik itu tumbuh menjadi bunga yang memesona. Seperti perasaan ini kepadamu. Tak pernah mati, namun selalu tumbuh bermekaran di dalam hati. Aku mengerti tak seharusnya rasa ini hadir. Tapi, siapa yang mampu memncegahnya. Sosokmu terlalu istimewa bagiku. Kalau ini salah, mungkin ini adalah kesalahan yang terindah dalam hidupku.
“Apa kamu pernah jatuh cinta?” Pertanyaanmu malam ini sungguh membuatku salah tingkah. Sekuat tenaga aku mengendalikan diri dan berusaha tenang. Walau jantungku berdegup lebih kencang.
“Kok tanya gitu? Jangan-jangan kamu sedang jatuh cinta ya!” godaku yang berhasil membuat pipimu merona merah.
“Hayo ngaku, sama siapa?”
“Bodoh! Emangnya kamu ketua RT dan aku harus laporan kepadamu.”
Sifat jutekmu itu sepertinya sudah mendarah daging. Terlalu gengsi untuk mengakui. Namun, kini tatapan itu menusuk hingga dadaku. Sesak. Apa yang mau kamu lakukan. Tidak mungkin! Jangan-jangan ….
“Kamu benar. Kini aku sedang jatuh cinta.”
Hampir saja tawaku meledak. Sekuat tenaga aku menahan diri untuk bersikap biasa.
“Aku jatuh cinta kepada Bella,” lanjutmu sambil melihat langit malam. Kalimat barusan berhasil menghancurkan puzzle perasaan yang sudah kususun indah. Tuhan, mungkin kini aku salah dengar atau sedang mimpi. Ini tidak nyata, bukan? Aku harus kuat dan tak menangis.
“Bella?”
“Dia adalah perempuan yang aku sukai sejak di bangku SMA.”
Penjelasan itu membuat dadaku semakin sesak. Aku berharap air mata tak tumpah di hadapanmu. Apa yang harus kulakukan? Tuhan, bantu aku untuk mengatasi semua perasaan ini.
“Kamu kenapa?”
Ingin rasanya aku berteriak sekarang dan bilang aku sakit dan cemburu.
“Eh … malah diam!”
Sambil menghirup udara yang seperti debu, aku beranikan memandangmu tajam, “Apa aku harus lompat-lompat dan mengucapkan turut bahagia, begitu?”
Aku pun berlari meninggalkanmu yang mematung kaget akan sikap kekanak-kanakkanku.
***
Bila mencintai itu sesakit ini, aku tak akan pernah mengenal cinta. Jika mengenalmu membuat hatiku hancur, ingin kuputar waktu untuk tak menyapamu. Semua sudah terjawab, aku dan kamu hanya mimpi indah yang kupoles untuk nyata. Keadaan sudah berbeda, Bella-lah yang memenangkan hatimu. Tuhan pun merestui kalian. Walau kalian tak tahu, kini aku tersakiti.
“Aku akan menikah,” jelasmu begitu antusias. Udara malam seperti membekukan semua perasaan ini. Tak ada rasa senang atau sedih. Datar. Itulah yang kini kurasa.
“Secepat itukah?”
“Itulah istimewahnya Bella. Perempuan berjilbab yang tak mau pacaran dan baginya ta’aruf lalu menikah.” Matamu berkilau saat menjelaskan siapa Bella. Mungkin, cinta telah mengakar di hatimu. Namun, melayukan rasaku kepadamu.
“Terus Bella mau denganmu?”
Kamu hanya mengangguk lalu menunduk, “Mungkin aku bukanlah laki-laki yang sholeh. Namun, kita sepakat untuk sama-sama belajar. Kita sudah dewasa dan menikah adalah satu-satunya benteng untuk terhindar dari zina.”
Bella pun berhasil mengubah kepribadianmu. Kamu kini lebih religius dan dewasa.
“Semoga kalian berjodoh,” ucapku lirih.
***
Seharusnya ini menjadi hari bahagia. Sahabat baikku kini akan melepas masa lajangnya bersama wanita pujaannya. Namun, air mata ini tak mampu kubendung. Kamu yang selama ini ada dalam setiap imaji indahku harus pergi selamanya. Apa yang harus kulakukan? Ini terlalu sakit, Tuhan.
Kamu begitu gagah dengan jas putih bersanding dengan Bella yang begitu cantik dengan gaun putihnya. Raut wajah penuh kebahagian, duduk berdua di pelaminan. Ikhlaskan dia … ikhlaskan dia, itulah berkecamuk di dalam hatiku kini.
Aku memelukmu sambil mengucapkan selamat. Entah keberanian dari mana kata-kata itu mampu keluar dari mulutku.
“Aku menyayangimu,” ucapku sambil mempererat pelukan seperti berharap tak akan berpisah. Namun, kamu begitu dewasa dan mengucapkan kalimat yang hingga kini masih mengedap dalam hati dan pikiran.

Kutulis jejak rindu tentangmu
Yang mampu menembus gravitasi
Membuatku bebas untuk menghantarkan
Dahaga tentangmu
Iya. Karena, ini semua tentangmu
Yang mampu mencuri mimpi indahku
Kini
Aku menuntutmu untuk kembali
Kembali kepadaku
Menceritakan langit malam

Sudah berapa lama aku terlentang di rumput taman komplek. Setengah jam, satu jam, mungkin lebih. Kupandangi langit malam yang begitu agung. Bertabur bintang dan remangnya cahaya bulan. Namun, ini sudah malam ke sembilan puluh Sembilan aku sendiri memandang langit malam. Aku selalu menyakini, bahwa kita pasti sedang melihat langit yang sama. Dan itu seperti katamu saat kita bersama menghabiskan malam yang dingin serta membuat perutku melilit esok paginya.
Jujur aku berharap kamu kembali. Bercerita tentang langit malam, menghina aku tak peka, mengolok-olok aku cengeng, mencubit pipi cubby-ku dan menjitak kepalaku yang tak serius. Namun, rasa itu berhasil kutepis walau pedih. Seperti kata-kata yang kamu ucapkan saat pesta pernikahan itu. Kata-kata itulah yang selalu melekat dan sedikit mengobati rasa ini. Bagai mantra-mantra yang menyihirku untuk sadar, bahwa kamu tak akan pernah kembali kepadaku.
“Aku juga menyayangimu. Bahkan, lebih dari itu kamu adalah sahabat terbaik yang pernah aku kenal. Dan aku akan selalu berdoa semoga kamu mendapatkan jodoh terbaik dari-Nya. Wanita yang cantik nan soleha.”[]

Selesai

Jumat, 15 Januari 2016

Untuk Kayla

 Untuk Kayla



Gelap. Satu kata yang bisa menggambarkan perasaannya kini. Cewek berambut sebahu tersebut berusaha berimaji bagaimana semua itu bisa bermula. Cowok dengan rambut acak-acakan itu seolah menjadi magnet. Merapat dalam ketidaksamaan dan menjauh dalam kesamaan.
"Key ...!"
Panggilan itu mengingatkannya pada kejadian satu tahun lalu. Cowok bermata biru tersebut berusaha berkenalan dengan Kayla dengan ramah. Bukannya senyum hangat yang diterima, namun sikap tak acuh Kayla berhasil membuat cowok pindahan itu harus menelan ludah. Mood Kayla hari itu memang tidak baik, ditambah lagi cowok itu salah menyebut namanya. Bagi Kayla cowok pindahan yang duduk di bangku sampingnya pasti akan membuat harinya semakin kalut.
***
"Nattan!" ucap cowok indo itu sambil menjulurkan tangan ke arah Kayla. Dengan malas Kayla menjawab tanpa mengindahkan uluran tangannya.
"Kayla!"
"Key ... lah!" Nattan berusaha mengeja nama Kayla, namun terasa sulit dan asing bagi cowok yang besar di Sidney tersebut.
Di balik kacamatanya, Kayla menatap Nattan dengan sinis.
"Kay!" balas Kayla dengan kesal.
"Key ...!" Nattan menatap Kayla sambil tersenyum polos.
***
Tak terasa waktu cepat bergulir, dia seperti matahari yang cepat terbit lalu cepat pula tenggelam. Dia yang dulu masih kuncup kecil, kini telah mekar sempurna dan indah.*
Kenangan masa kecilnya membuat air mata begitu mudah mengalir. Di taman belakang sekolah merupakan tempat yang nyaman untuk melampiaskan dahaga rindunya.
Rindu belaian orang tua, dekap hangat sang ibu dan tangan kekar sang ayah saat menggendongnya. Lamunan Kayla tiba-tiba terusik dengan suara bass seorang cowok.
"Key ...!" Mata Kayla yang sembab beradu pandang dengan mata biru cowok yang menjadi idola baru cewek satu sekolah itu.
"Ngapain kamu di sini?" Kayla berusaha menetralisir perasaannya lalu mengusap sisa air mata di pipinya.
"You look ugly if weep!" canda Nattan sambil mendekat ke arah Kayla.
Kayla hanya menunduk lalu menatap bunga-bunga yang tertata rapi. Namun, latar bunga-bunga tersebut tak membuat hatinya ikut berbunga juga. Apalagi kehadiran Nattan, membuatnya semakin bad mood. Nattan pun hanya diam sambil menatap wajah sendu Kayla. Pikirannya pun berusaha mencari alasan, mengapa cewek berkacamata ini menangis di taman belakang sekolah.
***
Akhir-akhir ini, Pikiran Nattan selalu fokus pada Kayla. Cewek pendiam, pintar dan sering menangis di taman belakang sekolah itu. Dia berusaha untuk lebih dekat dengannya. Namun, Kayla masih setia dengan sifat juteknya.
Bel pulang sekolah berbunyi, Nattan masih setia duduk di bangku kelas. Bangku yang terletak di samping kanan bangku Kayla. Mata birunya fokus dengan jemari lentik Kayla. Kayla sepertinya masih asyik dengan kegiatan coret-coret di buku berwarna biru mudanya.
"Key ... kamu tidak pulang?" tanya Nattan sambil tersenyum ke arahnya. Walaupun gaya bicara Nattan masih sama. Selalu salah menyebut nama Kayla. Cewek berambut sebahu itupun membalas dengan senyuman juga.
Bagi Nattan ini awal yang baik untuk mengenalnya lebih dekat.
"Kamu terlihat lebih manis jika tersenyum begitu!" puji Nattan tulus. Wajah Kayla bersipu merah, seperti ada rasa baru dan pertama kali yang dia rasa.
Entah karena itu pujian dari cowok idola baru sekolah. Atau kalimat Nattan mengingatkan kepada seseorang yang dulu pernah ada di hati dan hidupnya.
"Natttan ...?" lirih Kayla menyebut nama Nattan. Mata Nattan kembali fokus ke arah Kayla. Kayla pun membalas tatapan Nattan. Bibir Nattan kembali menyunggingkan senyum manis yang bisa membuat luluh para gadis yang menjadi penggemarnya.
"Ada apa?" Tatapan Nattan semakin tajam ke arah Kayla hingga membuatnya kembali menunduk.
Suasana kelas menjadi hening. Bisu sesaat. Dengan mengambil nafas panjang Nattan pun membuka suara.
"Oke kalau tidak ada yang ditanyakan, aku pamit duluan. See you again!" Bibir Kayla bergetar, namun dia tak mampu berucap atau hanya sekedar membalas ucapan Nattan.
"Key ... percayalah masih ada payung yang siap melindungi kita dari rintik hujan maupun teriknya sinar matahari."
"Maksudmu?" Kayla tak mengerti apa yang sedang Nattan ucapkan. Perkataan tersebut terlalu filosofis baginya yang masih berseragam putih abu-abu tersebut.
Nattan kembali tersenyum tanpa menjawab pertanyaan atau lebih rasa penasaran Kayla tersebut. Dia pun menghilang di balik pintu kelas.
***
Hujan masih setia mengguyur bumi. Seakan mendung dan bau tanah mengerti perasaan Kayla kini. Di balik kacamatanya, dia fokus memandang bangku taman belakang. Basah. Cat abu-abunya pun mulai memudar. Cowok itu kembali mengusik ruang bawah sadar.
"Key ...!" sapa cowok berambut acak-acakan sambil mengatur nafasnya.
"Habis lari marathon ya?" tanya Kayla kesal.
Bukan maksud hati dia harus bersikap jutek. Namun, surat yang terselip di buku biologinya menghantarkan untuk menunggu sang pengirim surat di bangku taman belakang sekolah.
"Sorry ... tadi aku masih dipanggil untuk ke ruang TU!" Perkataan Nattan hanya disambut senyum kecut dari bibir Kayla.
"Key ... maaf atas kelakuanku selama ini kepadamu. Membuatmu marah, kesal dan tak tenang." ucap Nattan yang mulai mencairkan suasana. Kayla yang mendengarnya masih tak bergeming menatap bunga-bunga taman.
Tangan Nattan berusaha meraih tangan Kayla.
"Key ...!" Sebuah kotak berbungkus biru dia serahkan kepada Kayla,
Mata Kayla basah sambil memegang kalung berbandul kunci. Kenangan satu tahun lalu menyisahkan aroma pedih di hatinya.
"Apaan ini?" tanya Kayla terkejut dengan nada juteknya. Nattan hanya tersenyum sambil mengisyaratkan Kayla untuk membukanya.
Sebuah kalung berbandul kunci. Cantik. Mata Kayla berbinar sebentar.
"Key atau kunci. Ah ... sampai kini pun namamu susah kuucap dengan benar. Key ... coba bukalah hatimu, terimalah setiap ujian hidup ini dengan syukur. Aku yakin kamu akan menjadi orang hebat. Bahkan bisa sekelas Chairil Anwar." Nattan tersenyum sambil menyerahkan sebuah buku yang berisi coretan puisi Kayla. Nattan mengumpulkan setiap coretan tersebut di bawah bangku Kayla. Menurut Kayla kertas itu telah menjadi sampah dan dibuang oleh pembersih sekolah. Namun ...,
Bening hangat itupun luruh juga. Kelas mulai sepi. Jam pulang sekolah tak membuatnya bergeming dari bangkunya. Nattan telah pergi, entah dia masih ingat kepada Kayla apa tidak?
"Pindah?" Kayla masih tak percaya. Bu Nur selaku TU sekolah itu pun menjelaskan mengapa Nattan sudah lima hari tak masuk sekolah. Hal tersebutlah yang membawa Kayla bertanya kepada Bu Nur.
London. Jauh. Bahkan sangat jauh bagi Kayla yang yatim piatu tersebut.
"Kay ... ayo ditunggu teman-teman nih buat menjuriin lomba tulis puisi!" teriak Melodi teman sekelas Kayla.
Mendadak lamunan itupun buyar. Sambil tersenyum, Kayla menatap sahabatnya tersebut.
"Terima kasih, Nattan!" ucap Kayla lirih dan untuk terakhir kalinya dia menatap bangku belakang taman sekolah.
Selesai.
*( Diambil dari Novel "Hatiku Berhenti di Kamu" karya Eka Y. Saleem Hal.37)


Sabtu, 19 Desember 2015

Once Upon A Time

Once Upon A Time
Yanuari purnawan


Aku terdiam tertunduk, bulir air mata menetes perlahan. Di kamar yang sunyi, aku berusaha menjernihkan pikiran. Tetapi, masih saja kepedihan itu masih bercongkol di hati.
Kuseka airmata dan mengambil nafas panjang, kutatap wajah di depan cermin. Sungguh menyedihkan, wajah pria yang awut-awutan tanpa gairah.

Tetiba, suara ponsel membuyarkan segala pikiran di otak.

“Kamu jangan gila, pikirkan lagi.” Sebuah pesan singkat dari sahabatku. Pesan itu seolah membuka mata hatiku untuk berpikir waras.

“Bisa ketemu?” balasku.

Sejurus kemudian ada pesan balasan darinya.

“Oke, di tempat biasa kita nongkrong, ya!”

Kupacu sepeda motor dengan perlahan. Aku ingin menikmati udara sore yang begitu segar dan menenangkan. Ternyata, aku lebih dulu datang, setelah beberapa menit menunggu akhirnya dia datang juga. Riski, pria berusia dua puluh lima tahun yang sudah kuanggap saudara kandung sendiri, datang dengan pakaian resmi kerjanya. Maklum dia adalah PNS.

“Sudah lama menunggu?” tanyanya sembari mengambil tempat duduk di sampingku.
Aku hanya mengangguk.

“Apa kamu sudah memikirkannya?” tanyanya lagi.

“Bang, aku sudah lelah menanti. Dan ini saat yang tepat untukku bertemu dengannya,” jawabku-Aku biasa memanggil Riski dengan panggilan abang.

“Dengar Abang. Jangan gila dan bodoh, masih ada hal yang lebih penting dari hal itu. Usiamu masih dua puluh tahun, jadi jangan kau sia-siakan,” ucap Riski tajam menatapku.

“Aku capek Bang. Aku juga ingin bertemu dengan Ibu, sudah delapan belas tahun aku tak pernah menatap langsung wajahnya!”

“Kamu tahu sekarang di mana Ibumu? Malaysia! Apa kamu pernah ke sana? Malaysia itu luas, apalagi kamu belum tahu alamat pastinya,” terang Riski sedikit emosi karena kelakuanku yang dikiranya bodoh.

Aku terdiam dan airmata membasahi pipi. Aku terlalu rindu dengan ibu. Kata orang aku masih punya ibu yang bekerja sebagai TKI di Malaysia. Sudah cukup dewasa, aku bisa memahami keadaan ini. Tetapi, aku bosan dan iri jika melihat seorang anak bisa bermanja ria dengan ibunya.

“Abang mengerti kamu sangat merindukannya. Tetapi, jangan gila seperti ini dengan mau menyusul ke Malaysia,” ucap Riski menenangkanku.

“Menurut Abang, Ibu macam apa yang tega meninggalkan anaknya selama berpuluh tahun dan menitipkannya di panti asuhan!”

“Pada suatu saat kamu pasti akan mengerti, mengapa dia pergi meninggalkanmu di panti asuhan. Jangan bertanya begitu, biarkan waktu yang menjawab semuanya. Sudahlah … kita makan dulu yuk!”

Sebelum berpisah Riski mengatakan, “Kadang sebuah penantian itu hanya berujung dengan penyesalan. Menantilah dengan hati yang ikhlas. Ingat, pada suatu saat kamu akan mengerti makna hidup ini.”

***

Pada suatu hari, di mana musim telah berganti. Aku mengetahui, ibu bekerja menjadi TKI di Malaysia dan meninggalkanku di panti asuhan gegara ayah tak mau bertanggung jawab dan selingkuh dengan wanita lain. Dan ibu telah meninggal tatkala usiaku masih lima tahun, akibat di siksa majikannya. Kutahu semua dari ibu panti yang sudah tak tega melihatku menanti ibu untuk menjemputku dari panti asuhan.


Selesai

Rabu, 16 Desember 2015

Catatan tanpa Jejak

Catatan tanpa Jejak
Oleh : Yanuari Purnawan


Tanpa terasa langkah terlalu lelah, keriput menghiasi wajah dan usia semakin senja. Entah, sampai kapan semua bertahan atau malah berakhir. Musim begitu cepat berganti, tanpa ada kompromi bumi berotasi begitu cepat. Sebuah kata sederhana, ‘Sudah’ kemudian senyum atau tangis yang mengikuti hingga bulan tak purnama lagi.

Tahun berganti, dari angka ganjil menuju genap. Bukan seberapa lama, tetapi sebanyak apa. Seberapa lama kita hidup di dunia, bukan itu masalahnya. Tetapi, sebanyak apa manfaat yang kita tebar untuk sesama. Mungkin esok masih abu-abu, tetapi hari ini adalah kenyataan yang harus dihadapi. Sekalipun langkah lelah dan letih, jatuh dan bangkit adalah warna indah siap menyambut hari.

Sesungguhnya jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka celakalah, jika hari ini sama dengan hari kemarin maka merugilah dan jika hari ini jauh lebih baik dari kemarin maka beruntunglah. Sebuah paparan yang begitu mengulik bahwa setiap waktu adalah harta yang tak tergadaikan. Sudahkah diri ini menjadi orang yang beruntung? Atau malah golongan orang merugi bahkan celaka? Tanyakan pada mata hati, karena hati tak pernah berdusta.

Sahabat, mengkaji lebih dalam makna tahun baru. Seharusnya merupakan momentum yang tepat bagi kita untuk memuhasabah diri. Mengintropeksi diri selama satu tahun ke belakang. Apa resolusi kita sudah tercapai dan apa saja yang belum, hingga menjadi pembelajaran diri untuk melangkah lebih baik di tahun ke depan. Karena, semua orang menginginkan menjadi insan yang beruntung. Maka, solusi yang tepat hari ini harus jadi lebih baik dari kemarin.

Bukankah hidup adalah kumpulan hari, jam, menit dan detik. Apakah cukup dengan hanya tiupan terompet lalu menyalakan kembang api yang disertai pesta hura-hura? Sempit sekali, jika hidup hanya di tanggal 1 Januari saja. Karena semua yang kita perbuat setiap detiknya, akan menjadi bahan pertanggung jawaban di hari akhir kelak. Jadi, keputusan melangkah bukan aku atau mereka yang menyuruh. Tetapi, dirimu sendiri yang memutuskan mana yang terbaik untuk masa depanmu.

Ketika semua berlomba-lomba merayakannya. Gengsi jika tak berpartisipasi di dalamnya. Bercermin dengan mata hati, apakah mereka nanti yang akan menentukan hari esok kita? Semua ada ditangan diri sendiri. Mau ke arah mana melangkah. Hanya indah sesaat seperti kembang api. Ataukah mewangi menebar manfaat bagi sesama yang menjadi investasi amal kelak. Sebelum waktu memanggil, tinta telah habis hingga semua sia-sia menjadi catatan tanpa jejak.[]






Senin, 19 Oktober 2015

Jodoh (Tak) Sempurna

Jodoh (Tak) Sempurna
Yanuari Purnawan


Ketika malaikat cinta menancapkan panahnya
Menghindar tak mungkin
Berlari, menjauh hanya akan terjatuh
Karena, sejatinya cintalah yang menang
Tak perlu menghindar
Memunafikkan rasa
Hingga waktu yang menjawab
Dialah yang tak sempurna
Untuk kesempurnaan cinta

Aku masih belum mengerti apa yang sedang terjadi pada diri ini. Mengapa aku bisa menyukai laki-laki seperti ini modelnya. Ia sedang asyik makan bekal yang khusus kusiapkan buatnya. Rambutnya acak-acakan terkesan maskulin, kaos oblong dan celana jeans yang bolong di kedua lututnya seolah menjadi fashion yang nyaman. Mungkin bagi yang pertama kali melihatnya, mereka kira ia adalah preman pasar. Namun, entah mengapa aku tak punya alasan untuk menjauhinya.
“Kak!” ucapku lirih sambil memandangnya yang tengah asyik melahap tempe di sampingku. Ia pun sekilas menoleh lalu nyengir sambil melanjutkan makan siangnya, bukan makan siang tapi sore kali. Matahari sudah seperempat untuk menghilang menuju peraduannya.
“Kak Akbar …!” lanjutku lebih kencang dari yang tadi. Ia pun berhenti mengunyah makanan yang hampir habis di kotak makan warna biru itu.
“Adek lapar juga?” jawabnya polos sambil menatapku. Sekilas terlihat begitu tenangnya tatapannya. Apa ia tak merasakan apa yang sedang kurasakan kini. Sungguh, ingin sekali aku marah kepadanya, namun upaya itu hanya meninggalkan kesia-siaan. Matanya benar-benar membuatku terhipnotis lalu luluh.
Aku menggelang lalu memendarkan pandangan ke arah matahari yang sebentar lagi tenggelam. Senja memang begitu agung dan mendamaikan. Aku menghembuskan napas dalam, bagai bukan udara yang keluar tapi duri-duri.
“Masih mikirin soal itu?” tanyanya sambil merapikan kotak makan. Ternyata, ia sudah selesai makan. Harusnya ia tak bertanya itu kepadaku, namun ia lah yang harus menjawabnya, masihkah hubungan ini harus berlanjut?
“Aku tak mengerti mengapa kakak tak pernah serius akan hubungan ini. Capek, Kak!”
“Yaudah, nanti kakak boncengin deh!” jawabnya asal, membuat gigiku gemelatuk menahan amarah. Bisakah ia serius akan hal sepenting ini. Sekali saja.
Kak Akbar berdiri setelah memasukkan kotak makannya ke dalam tas kecilku. Matanya fokus ke arah langit yang mulai berwarna jingga. Mungkinkah ia berpikir untuk kelanjutan hubungan ini.
“Sudah sore, yuk kita pulang!” Ia berbalik lalu melangkah hendak meninggalkan bangunan tua lantai tiga ini. Entah keberanian dari mana, bibir dengan mudah mengucap kalimat itu.
“Ayah meminta kakak segera menemuinya sebagai laki-laki dewasa!”
Ia berbalik lalu memandangku lekat. Tetap sama. Tajam, namun meneduhkan. Perasaanku tak enak. Respon apa yang akan Kak Akbar berikan. Tapi, dugaanku salah. Ia hanya tersenyum sambil melangkah menjauh dari lantai atas bangunan tua ini. Ingin rasanya aku berteriak dan menangis sejadi-jadinya. Serumit inikah cintaku dengannya?
***
Pikiranku melayang entah kemana. Buku yang kubaca dari tadi tak satupun kalimatnya yang menempel di otak. Mungkin, perpustakaan kampus hanya menjadi tempat untuk merefresh pikiran. Iya, pikiran akan ia yang tak pernah mengerti dan serius akan kelanjutan  ini.
“Hai, Non. Melamun aja!” sapa gadis berjilbab putih sambil menepuk pundakku agak keras. Mataku melotot memandangnya.
“Bisa dikecilin nggak volumenya. Ini perpus bukan pasar ikan.”
Amel, sahabat satu fakultasku itu hanya nyengir tanpa dosa. Akupun kembali membaca atau lebih tepatnya melamun.
“Lagi ada masalah? Sama preman pasar itu?” tanya Amel beruntun. Mendengar ia menyebut ‘Preman Pasar’ aku langsung melotot ke arahnya.
Sorry! Maksudku Akbar.”
Aku menghembuskan napas panjang. Tak perlu beralasan apapun, karena Amel pasti bisa menebak apa yang sedang bergelayut dalam pikiran. Akupun mengangguk.
“Ada apa lagi, Ra? Bukankah kamu bilang ia adalah sayap pelindung yang siap siaga melindungimu dari apa pun.”
Amel kembali mengungkit kalimat itu. Kalimat yang pernah aku utarakan kepadanya tentang Kak Akbar. Bagaimana proses perkenalan kami yang begitu unik. Mungkin, bagi sebagian orang itu adalah hal biasa. Namun, bagiku itu luar biasa. Suatu hari tatkala aku sedang naik bus pulang dari kampus, aku mengalami insiden kecopetan. Menyadari hal itu akupun berteriak yang membuat gaduh seluruh penumpang bus. Namun, cowok yang berpenampilan berantakan berhasil meringkus sang pencopet yang hendak turun dari bus. Ia tersenyum lalu mengembalikan dompet itu kepadaku. Sejak itulah kita semakin akrab, karena ia pun menggunakan bus yang sama denganku saat pulang kampus.
“Melamun aja!” Teguran Amel membuatku gelagapan sendiri.
By the way, ngapain kamu nyusul ke sini? Biasanya paling anti masuk perpustakaan,” sindirku membuat pipi sahabatku tersebut merona malu.
“Oh ya, besok jadikan ikut kajian islam kampus?” Aku mengangguk. “Tahu nggak, pengisi acara kajian itu Kak Faris loh!” Muka Amel terlihat girang saat menyebut nama ‘Kak Faris’. Siapa juga yang tak suka dengan cowok alim, santun dan cerdas tersebut.
“Kak Salman Al Farisi, anak teknik itu?” Mata Amel melotot menampilkan wajahnya yang lucu dengan pipinya yang cubby.
“Rania Azzahra, siapa lagi kalau bukan malaikat satu itu. Emang ada cowok satu kampus ini yang pesonanya ngalahin Kak Faris.” Aku hanya tersenyum, tanpa terasa beban akan masalahku dengan Kak Akbar sedikit terobati.
***
Seandainnya aku mampu
Ingin kubekukan waktu
Agar aku tak lagi tertarik, terikat
Hingga sulit terlepas
Sakit. Namun inilah jalannya
Walau salah sekalipun

Aku masih setia menunggunya di depan gerbang kampus. Dua menit, tiga menit. Tanpa terasa sudah setengah jam aku berada di tempat ini. Pasti alasan yang sama mogok atau macet. Sudah tahu begitu, masih saja diulangi lagi.
“Maaf ya! Pasti lama nunggu pangeran motor bututnya. Maklum motor tua jadi sering mogok,” ucapnya sambil tersenyum tanpa dosa. Alasan klasik.
“Aku ingin bicara serius!”
“Aku ingin makan soto,” timpalnya. Sekuat tenaga aku menahan amarah.
“Nggak lucu!”
“Maaf, aku kan bukan Sule.” Amarahku pun meledak.
“Bisa nggak kamu serius sedikit?” bentakku. Tak ada lagi panggilan ‘Kak’ untuknya. Ia memandangku tajam lalu tertawa terbahak. Memang ada yang salah dengan ucapanku barusan.
“Lagi lapar?” candanya lagi. aku hanya diam sambil menunduk. Gigiku bergemelatuk. Napasku tersenggal-senggal.
“Kan lapar bisa merubah seseorang. Ayo kita makan!”
“Kamu itu tak peka atau bodoh sih?” Kak Akbar terbelalak dan hampir oleng dari motor yang didudukinya.
“Aku capek dengan semuanya. Aku ingin kita jalan masing-masing.”
“Maksudnya?” Ia pun turun dari motornya berusaha mendekat ke arahku.
“Aku ingin kita putus!”
Suasana mendadak hening. Sepi. Hanya angin sore yang berhembus mengibarkan jilbab ungu panjangku.
“Dek …!” lirih Kak Akbar memanggilku. Tapi, kita tak bergeming dengan keadaan masing-masing. Tak ada sentuhan, pelukan atau hal yang tak sepantasnya.
“Maaf jika ini menyakitkan. Tapi, mungkin inilah jalan yang terbaik untuk saat ini. Lupakan mimpi-mimpi kita. Dan sekarang cukup serahkan semuanya kepada-Nya,” terangku sambil terisak.
Kak Akbar diam. Kulirik sekilas wajahnya. Matanya berkaca-kaca.
“Maafkan kakak, Dek. Maaf, masih menjadi laki-laki pengecut!” Ia berbalik lalu naik motor bututnya. Asap menggumpul dari knalpot. Menyesakkan. Seperti halnya hatiku kini. Kupandangi punggung gagahnya yang semakin lama semakin jauh.
“Sampai jumpa, Kak!”
***
Sudah sepekan tak ada lagi Kak Akbar dalam hidupku. Walau seperti ada ruang kosong di dalam hati. Hampa. Namun, aku harus segera move on. Hari-hariku kini hanya diisi ngampus dan kajian. Iya, aku dan Amel memang sering mengikuti kajian untuk menambah wawasan terutama tentang islam. Bukan hanya itu, Amel yang tahu aku putus dengan Kak Akbar sekarang gencar-gencarnya menjodohkan aku dengan Kak Faris.
“Kak Faris itu cakep, cerdas dan shalih. Wah, beruntung banget cewek yang jadi istrinya nanti!” Amel masih menggebu bercerita tentang Kak Faris. Aku hanya diam sambil menikmati soto di kantin kampus.
“Ra …!” Melihat aku yang tak memperhatikannya, ia langsung mencubit pipi kananku.
“Ada apa sih, Amelia Putri?”
“Gimana dengan Kak Faris?” Ia mengedip-ngedipkan matanya. Aku hanya tersenyum.
“Kalau kamu suka ya bilang saja. Gitu aja kok repot!”
“Rania … ini bukan masalah tentangku, tapi kamu. Tahu nggak tadi aku bilang Kak Faris bahwa kamu mau jadi koordinator untuk kajian minggu depan.” Aku langsung tersedak mendengar ucapan Amel. Buru-buru aku minum es teh hingga tinggal setengah.
“Kamu gila apa? Aku tidak bisa.”
“Jangan begitu, Rania. Bukankah kita diwajibkan tolong-menolong dalam kebaikan. Makanya, sekarang kamu harus membantu Kak Faris.” Aku hanya menelan ludah entah mengapa tenggorakanku jadi kering.
“Rania … aku mengerti tak mudah melupakannya. Namun, jangan berlarut-larut. Sekarang giliranmu untuk move on.” Mataku memandang tajam ke arah Amel. Benar apa yang ia katakan. Sudah saatnya aku melupakan bayangan tentang Kak Akbar.
***
Selama seminggu penuh aku menjadi koordinator untuk kajian islam kampus. Aku semakin dekat dan mengenal kepribadian Kak Faris. Namun, tak bisa kucegah sosoknya seolah menjadi pembanding jika aku berada dekat dengan Kak Faris. Tuhan, mengapa begitu sulit untuk menghapus semua kenangan tentangnya.
“Bagaimana kelanjutannya?” tanya Amel di saat kami sedang asyik ngopi di kafe dekat kampus.
“Entahlah, sepertinya melupakannya terlalu sulit.” Mataku mulai berkaca-kaca. Dengan lembut tangan Amel memegang erat jemariku seakan memberiku kekuatan.
“Ceritakan?”
“Kamu tahu saat aku bersama Kak Faris yang ada dalam pikiranku justru Kak Akbar. Ia seperti hantu bagiku kini. Mungkin, Kak Faris memiliki semuanya. Tampan, pintar dan shalih. Namun, ia memiliki sesuatu entah apa yang justru lebih dari Kak Faris.” Aku terisak. Dengan lembut Amel mengusap air mata dengan tissue.
“Kamu tahu apa yang Kak Akbar pernah ucap akan motor bututnya. Dengan motor seperti ini kita akan terlatih akan bersabar dan menghargai waktu. Ia selalu bilang jangan pernah memunafikan diri karena penampilan. Mungkin ia seperti preman pasar, namun yang mesti kita tahu ia tak pernah ninggalin shalat bahkan yang lebih miris ….” Aku diam sejenak mengumpulkan udara untuk menahan pedih di hati.
“Saat Kak Faris yang aktivis bilang jangan pernah memberi pengemis karena nanti jadi kebiasaan. Namun, apa yang ia katakan kepadaku. Kalau kita punya ya berilah, kalau nggak ya cukup tersenyum. Tak perlu mencari alasan untuk memberi.”
“Aku begitu bodoh!” Aku semakin terisak. Amel diam sambil menyeka air mataku. Kulihat ia pun berkaca-kaca.
“Rania … dengar ini, jangan takut mengakui cinta. Karena, cinta itu tumbuh secara alami dan fitrah. Jika, memang kamu cinta dan yakin Kak Akbar jodohmu pasti Allah akan menyatukan kalian. Dan sekarang hapus air matamu, katakan kepadanya bahwa kamu masih mencintainya.”
Aku menggeleng.
“Kita tak pernah tahu ada berapa kesempatan yang mungkin terjadi dalam hidup kita. Lakukan kini atau menyesal nanti.”
Kalimat Amel berhasil menohok hatiku. Kuseka air mata dengan ujung jilbab lalu mengambil napas panjang sambil tersenyum menatap sahabat terbaikku tersebut.
***
Sudah tiga hari ini aku menunggunya di lantai atas bangunan tua. Namun, sosoknya tak pernah terlihat. Mungkinkah ia marah kepadaku? Pasti, bahkan ia kecewa berat akan keputusanku tersebut.
“Rania …!”
Suara itu. Iya, suara yang selama ini aku rindukan. Kuputar balik tubuhku. Masih sama. Ia yang berambut acak-acakan dan mirip preman pasar. Suasana mendadak hening. Matahari tinggal seperempat lagi tenggelam menuju peraduannya. Senja selalu menawarkan kedamaian. Lidahku keluh. Aku hanya menunduk sambil memainkan ujung jilbab.
“Kamu baik-baik saja?” tanyanya sedikit kaku. Aku memandangnya sekilas. Sekuat tenaga aku menahan kristal hangat untuk tidak luruh.
“Aku baik-baik saja. Sekarang tak ada lagi bunyi bising motor butut, tak ada asap yang mengganggu pernapasan, tak ada bekal makanan, tak ada senja bersama. Aku baik kok, Kak. Bahkan saat ini aku baik, beberapa hari tak melihat sosok preman pasar seperti dulu.” Air mataku pecah.
“Maaf!”
Apa? Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Jeda. Tak ada lagi suara yang keluar dari mulut kita masing-masing. Hatiku hampa.
“Semenjak ayah meninggal tujuh tahun lalu, dunia ini seakan gelap. Tulang punggung kami pergi untuk selamanya.” Ia mendesah sambil memandang senja.
“Ibu sering sakit-sakitan, dua adik masih sekolah dasar sedang aku sudah masuk SMA. Beban biaya hidup semakin tinggi. Maka, aku putuskan untuk berhenti sekolah dan memilih membantu ibu bekerja. Awalnya ibu melarang, namun beliau yang bekerja sebagai buruh cuci mana cukup untuk membiayai sekolahku.” Matanya berkaca-kaca.
“Aku bekerja sebagai buruh panggul di pasar. Berat. Namun, selagi halal apapun pekerjaannya akan aku lakukan.”
Perih mendengar kisah hidupnya. Mengapa aku baru mengerti sekarang.
“Makanya, aku belum bisa datang untuk melamarmu. Bukan karena aku tak mampu, tapi aku ingin memberikan sesuatu yang lebih berarti untuk perempuan yang aku cintai. Aku ingin memuliakannya, menghormatinya dan melindunginya.”
“Kak Akbar!” teriakku. Seandainya aku mampu ingin kupeluk tubuhnya.
“Tapi, kita sudah putus.” Ia mendesah lalu berpaling hendak meninggalkan tempat kenangan ini. Bodoh. Bodohnya aku mengapa tak peka akan keseriusannya selama ini.
“Kak …!” Lututku terasa lemas. Aku pun tersungkur sambil terisak.
“Kenapa kamu masih menangis di situ?” Aku memandang ke arahnya, ia pun memandang ke arahku. Masih sama, tajam namun meneduhkan.
“Sudah sekah air matamu. Masak calon pengantin Muhammad Akbar Syailendra kucel, cenggeng dan jelek begitu.”
Aku mencoba berdiri sambil menyeka air mataku.
“Jahat!” ucapku sambil tersenyum. Ia pun membalas dengan senyum yang begitu hangat. Sehangat senja kali ini.
Mungkin dia tidaklah sempurna, namun kini bersamanya aku merasakan kalau dialah jodoh yang sempurna dari Sang Maha Sempurna.[]
Selesai