Sabtu, 18 Juli 2015

Cewek Bla Bla Bla

Cewek Bla Bla Bla
Oleh : Yanuari Purnawan


Sebuah kalimat yang selalu gue inget dalam hati hingga relung jiwa. “Percayalah jodoh itu sudah ada di tangan Tuhan.” Kalimat tersebut membuat gue semakin percaya hingga kini. Karena, sampai saat ini jodoh gue masih ada di tangan Tuhan. Hal ini mebuat dada sesak dan tisu rumah cepat habis. Ya, iyalah! Gue harus menangis semalaman. Semua gara-gara, pangeran berkuda putih, tak jua datang melamar.

Hal yang paling gue benci di dunia ini adalah disuruh belanja ke Kang Maman. Bukan, karena Kang Maman yang merupakan pedagang sayur keliling dan sudah punya istri dua itu. Apalagi Kang Maman ingin jadiin gue istri yang ketiga. Melainkan, ngomongan pedas, sepedas harga bawang merah ibu-ibu kepo. Para ibu kepo yang merupakan aliansi ibu rumpi se-RT tersebut, membuat gendang telinga jadi bengkak kayak telinga gajah.

“Nis, kapan nih menikah?” tanya Bu Ninis yang merupakan istri Pak RT itu sambil membetulkan kacamatanya lalu tersenyum ke arah gue.
“Iya nih! Non Nisa masak kalah sama Kang Maman yang sudah nikah ampe dua kali,” tambah Kang Maman sambil nyengir kuda, membuat gue infill saja melihat gigi depannya yang tidak tumbuh-tumbuh tersebut.
“Doain saja!” jawab gue singkat sambil memilih sayuran yang akan gue masak hari ini.
“Nunggu apalagi sih, Nis? Umur sudah matang, udah jadi guru Paud lagi,” jelas Bu Leha yang berdaster cokelat dan kedodoran tersebut. Membuat gue ingin pukul tuh perutnya yang udah kayak tanjidor. Dan lagi-lagi gue hanya diam sambil tersenyum ke arah manusia kepo akhir zaman tersebut.
“Apa nunggu Kang Maman jadiin istri ketiga!” Mendengar perkataan Kang Maman tadi, gue ingin ambil golok aja. Bukan buat bunuh tuh aki-aki labil tersebut. Tapi, biar dia sadar gue tuh masih punya otak tajam alias masih waras. Emang gue cewek apaan, dijadiin yang ketiga. Yang pertama saja belum datang melamar.

Seharusnya seseorang yang habis belanja itu senang. Namun, sebaliknya gue hanya bisa menekuk wajah, tak bersemangat. Untung saja gue jadi guru Paud, jadi hampir setiap hari melihat wajah anak-anak yang masih polos. Bebas dari polusi ibu-ibu kepo. Walaupun, samar terlihat gozila kepo tersebut sering ngerumpi sambil menunggu anak-anaknya pulang. Jujur, gue bukan orang yang suka menutup diri. Apalagi mengenai urusan asmara. Sejak duduk di bangku SMA, gue sudah terkena yang namanya virus merah jambu tersebut.

Saat duduk di bangku kelas sebelas SMA, gue sempat menjabat sebagai sekretaris Osis. Dari situlah, gue mulai berkenalan dengan cowok-cowok kece sekolah. Salah satunya Niko atau Nizam Khoirudin. Ya! Karena, dia merupakan punggawa basket sekolah. Jadi, namanya dikeren-kerenin. Keren kagak, aneh iya! Dari Nizam jadi Niko. Cowok inilah yang pertama dekat, lebih tepatnya mendekati gue.

“Sibuk amat! Nih, minum dulu,” sapa Niko alias Nizam sambil menyodorkan botol air mineral. Tersirat senyum manis dengan lesung pipi menghiasi wajahnya.
“Entar aja, Nanggung!” tanggap gue sedikit acuh. Air muka Niko mendadak kecut dan manyun bak Tukul Arwana. Gue pun memalingkan muka dan fokus mengerjakan proposal untuk acara meeting class. Dan kebetulan banget gue berkoordinasi dengan seksi olahraga, yang tak lain dan tak bukan adalah Niko. Suasana mendadak hening, hanya terdengan bunyi tut keyboard komputer. Entah mengapa bulu kuduk tiba-tiba merinding. Bukan karena ada dedemit lagi naksir gue. Tapi, ini bapaknya dedemit berwujud cowok yang sedang mengamati gue.
“Ngapain lo lihatin gue …!” tanya gue sedikit kikuk sambil menatap wajahnya yang mulai salah tingkah. Sambil tersenyum dan memaerkan giginya, dia pun  mulai berbicara.
“Lo itu cewek yang langkah!”
“Maksud lo gue itu cewek purba. Langkah gitu! Udah deh gue sibuk jangan bercanda.” Gue berusaha mengelak walaupun hati ini sedang menari-nari. Bunga-bunga bak Syahrini.
“Lha … itu langkahnya lo! Judes banget sama gue. Jujur ya, semua cewek satu sekolah pada naksir gue. Eh, lo yang beruntung bisa dekat sama gue, malah cuek.” Mata Niko menyiratkan kejujuran yang teramat dalam. Membuat gue sedikit mau terbang.
“Makasih pujiannya. Tapi gue nggak punya recehan!”
“Tapi, jujur gue paling nggak suka sama cowok yang keganjenan sama cewek-cewek,” lanjut gue tegas tanpa mengindahkan wajah Niko.
“Maksud lo itu, gue?” tanyanya ragu. Gue pun menghentikan jari-jari yang lentik untuk mengetik. Dan beralih memandang cowok paling playboy dan nggak lebih ganteng dari Vino G Bastian itu.
“Terutama lo!” jelas gue dengan mimik wajah yang serius.
Semenjak itu, jarak antara gue dan Niko tak lagi dekat. Entahlah! Mungkin kita memang tak ditakdirkan bersama. Dan yang tak pernah berubah dari Niko adalah senyum yang berhias lesung pipinya serta playboy akutnya tersebut. Gue bersyukur, walau hanya sebentar dekat dengannya. Namun, gue pernah dipuji cewek langkah.

Menginjak kelas dua belas, gue pun berkenalan dengan cowok yang menjadi tutor di tempat les. Namanya, Faris Dwi Purnomo. Biasa kami memanggilnya Kak Faris. Cowok ganteng dengan hidung mancung, mata yang kecoklatan serta memiliki otak yang encer khususnya dalam bidang matematika. Hingga, kalau gue perhatikan wajahnya sudah mirip integral bahkan jenggot tipisnya meyerupai Phytagoras. Namun, gue … Ah! Gue jatuh hati sama nih cowok yang berstatus mahasiswa di universitas negeri di kota Surabaya tersebut.

“Nisa …!” Teriakkan tersebut membuyarkan lamunan gue. Dengan masih kaget, gue mendongakkan kepala. Dan … ternyata pangeran gue yang berteriak tadi.
“Kamu melamun!” lanjutnya tegas menyiratkan dia adalah pemuda yang berkarakter.
“Nggak kok, Kak! Tapi, gue sedang membayangkan wajah Phytagoras waktu masih muda,” jelas gue sedikit gugup serta diikuti tawa membahana seisi kelas les yang berjumlah sepuluh orang tersebut.
“Ada-ada saja kamu ini! Sudah cuci muka sana,” ucap Kak Faris yang volume suaranya sedikit melemah dari yang tadi. Gue pun segera bergegas menuju kamar mandi, sebelum Phytagoras tersebut berubah menjadi Hulk.

Hari-hari gue saat itu bagai taman bunga di dalam hati. Semua tentang Kak Faris menjadi hal terindah yang harus gue ketahui. Begitupun ketika selesai ujian nasional, Kak Faris semakin dekat dengan kami yang merupakan anak didiknya. Kami pun diundang ke acara ulang tahunnya yang ke-23. Dalam kesempatan ini gue harus memberikan sesuatu yang spesial untuk dia yang spesial dalam hidup gue.

Mendekati hari H, akhirnya gue mendapatkan kado yang pas buat Kak Faris. Kemeja warna hitam menjadi pilihan gue. Semoga, kado tersebut cocok untuknya. Bersama teman satu les, gue berangkat ke lokasi acara. Gue mengenakan baju yang simple berwarna biru tua dan tak ketinggalan jilbab yang senada dengan warna baju. Setelah tiga jam di depan cermin, gue pun siap untuk menemui sang pangeran gue.

“Selamat ulang tahun … ini kado buat kakak!” ucap gue sambil menyodorkan kotak yang bebalut kertas warna biru kepada Kak Faris. Dia pun menerimanya sambil tersenyum ramah ke arah gue. Berasa gue nggak nginjak tanah melihat senyum tersebut.

Konsep pesta ulang tahun Kak Faris bergaya minimalis. Undangan pun tak banyak, mungkin hanya teman-teman dekatnya saja yang diundang. Menginjak acara inti, yaitu pemotongan kue. Semua undangan disuruh berkumpul di satu titik di mana kue tersebut diletakkan.
“Ini potongan kue pertama buat yang paling spesial dalam hidup saya saat ini,” ucap Kak Faris sambil membawa potongan kue pertamanya. Entah mengapa jantung gue berdetak lebih kencang. Bagai tanjidor yang dipukul keliling komplek saat takbiran. Ya, Tuhan … semoga kue tersebut untuk gue. Sebaris doa gue lantunkan dalam hati. Namun, bak makan durian sama kulitnya. Ternyata kue tersebut bukan untuk gue. Melainkan untuk seorang cewek berambut sebahu dan berbadan ramping serta bebalut gaun hitam yang bernama Sintia.
“Ini buat pacar baru saya, Sintia!” Terlihat Sintia begitu bahagia menerima potongan kue pertama dari Kak Faris. Membuat darah gue mendidih. Cemburu! Mungkin saja. Tapi ada hal yang paling membuat gue menyesal. Menyesal karena gue harus merogoh tabungan untuk membeli kado buat Kak Faris. Kalau tahu gini, gue nggak perlu bersusah payah memilih kado. Patungan dengan teman satu les kan bisa dan lebih irit lagi.

Setelah acara ulang tahun yang berakhir drama tersebut. Gue pun tak lagi berhubungan dengan Kak Faris. Bukan karena dia sudah punya pacar, tapi gue sudah lulus SMA dan tak lagi ikut les. Kini, gue mengajar Paud atau Pendidikan Usia Dini sekaligus kuliah dengan jurusan yang sama. Jadi, gue lebih sering bersua bersama anak-anak yang masih polos dan lucu. Terus bagaimana dengan urusan asmara? Jangan ditanya lagi, gue nggak pernah mengenal istilah kapok. Mati satu tumbuh sejuta. Itulah prinsip gue yang selalu membuka diri untuk berkenalan dengan namanya kaum adam.

Gue pun mulai aktif dalam kegiatan halaqah atau pengajian. Di mana ada tempat menimbah ilmu agama, di situ gue datangi. Walaupun harus berkumpul dengan ibu-ibu majelis taklim. Bagi gue tak masalah, karena dengan begitu gue bisa belajar menjadi ibu rumah tangga yang baik kelak. Bukan sekedar istri yang hanya bisa masak dan mencuci. Tetapi, harus menjadi istri yang memiliki wawasan yang luas. Dan masalahnya kini, siapa yang mau jadi imam gue.
Karena kesendirian gue yang sudah menginjak usia dua puluh tiga. Rani, sahabat gue sekaligus guru Paud juga, selalu membantu gue untuk menemukan jodoh yang dikirim Tuhan buat gue. Pernah, suatu hari dia mengenalkan gue dengan seorang cowok yang begitu dewasa dan berkarakter. Dari perkenalan pertama, kesan gue kepadanya sangat baik. Dan merupakan tipe gue sekali. Wajah ganteng, kebapakan, dewasa dan sudah mapan. Benih-benih berwarna merah jambu pun mulai tumbuh.

Semua itu hanya berlangsung selama seminggu. Karena, Andre nama cowok tersebut, ternyata sudah punya istri. Hal itu kami ketahui setelah proses investigasi ke rumah saudaranya. Jujur, mulai saat itu gue harus lebih berhati-hati dengan namanya kucing garong. Rani pun masih tak putus asa untuk menjodohkan gue. Kebahagian dia saat ini hanya bisa melihat gue bisa duduk di pelaminan. Bukan foto di kondangan pernikahan orang, tapi pernikahan gue sendiri.

Dari pada pusing kepala gue, mending mulai saat ini gue perbanyak belajar agama. Bukankah memperbaiki diri, berarti juga memperbaiki jodoh kita. Gue pun harus bangkit dan bergerak menjadi cewek yang jauh lebih baik. Dan buat semua cewek yang sedang dilanda galau karena jodoh tak kunjung datang. Jangan takut atau nangis sambil nempelin kepala di kaca jendela melihat hujan turun serta diiringi lagu galau. Sudah itu bukan zamannya lagi. Jodoh memang urusan-Nya. Bukan berarti kita tak menyiapkannya.

Gue selalu ingat dalam ayat Al-qur’an bahwa laki-laki yang baik hanya untuk perempuan yang baik. Begitu pun sebaliknya laki-laki yang tidak baik hanya untuk perempuan yang tidak baik pula. Jadi, untuk para single jangan pernah bersedih. Ingat hidup itu bukan hanya masalah kapan menikah, tapi jauh ada yang lebih berharga lagi. Yaitu, jadilah orang yang paling baik dengan menjadi orang yang paling banyak manfaatnya. Tetap sabar dalam penantian, tetap belajar memperbaiki diri dan buka diri untuk bersilaturahmi seluas-luasnya. Semoga, sebentar lagi jodoh impian datang menjemput kita. Bukan karena cintanya, namun semua karena cinta-Nya. Percayalah pasti akan ada pangeran berkuda putih yang siap melamar kita. Dalam waktu, tempat dan skenario yang telah ditetapkan-Nya.

Selesai
_Based True Story From My Friend_
















Sabtu, 27 Juni 2015

[Review] Jomblo Ahli Fatwa

Bicara masalah jomblo, mungkin tak akan pernah habis untuk dibahas. Ayo ... siapa nih yang masih jomblo? Tuh, jangan saling tunjuk. Lha, diri sendiri juga masih jomblo. Sudah deh sesama jomblo dilarang saling menggoda.^^

Dari pada saling tuduh-menuduh, mending baca buku kumpulan kisah hikmah para jomblo karya Joko Ade Nursyono ini. Buku ini berisi kisah tiga orang jomblo yang mencari makna kehidupan yang kaya akan nilai moral dan sedikit berbau politik. Dengan setting perdesaan membuat pembaca akan merasakan kearifan lokal yang begitu berbeda. Jika begitu banyak novel mengambil setting luar negeri. Mas Joko dengan kesederhanaannya membuat sesuatu yang beda dan manis.

Walaupun buku ini adalah fiksi, pembaca akan dibuat seolah merasakan sendiri bagaimana para pemuda ndeso berjuang mencari jati diri. Kejombloan diusia yang relatif sudah waktunya menikah menjadi topik yang lucu dan menggemaskan.

Terlepas dari kelucuan dan karakteristik penulis, buku ini masih perlu untuk pengembangan karakter lebih dalam agar lebih hidup lagi.

Jujur, buku ini sangat layak untuk para jomblo atau saudara serta sahabat yang masih sendiri. Dan berjuang memantaskan diri untuk menjemput jodoh pilihannya. Jadi, tunggu apalagi segera miliki buku "Jomblo Ahli Fatwa" yang kece ini.

Sinopsis

Man iku utawi sopo wong, Nusia iku kang dilale’ake sopo man.” Gurem memaknai dua kata itu sambil mata tertutup.
“Jadi, Man itu siapa orang, Nusia yang dijadikan lupa siapa orang. Jelas! Orang itu sudah sedari awal dijadikan oleh Allah Azza wa Jalla sebagai mahluk yang pelupa. Coba sampeyan amati, kemarin kan ada pemilihan kepala desa. Langsung di sana-sini janji-janji bertebaran, sampai aku ndak bisa tidur.”
Lho … kenapa, Rem?” tanya Peking penasaran.
“Pagi-pagi aku diberi uang gratis, tapi yo … aku terima wong gratis.” Gurem menjawab sambil terkekeh.
Sek toh, ini letak lupanya neng ndi?” Demung bertanya sambil angkat jari.
Gurem dengan lantang melanjutkan kalimat-kalimat penjelasannya. Ia menyatakan bahwa ia merasa lupa, karena saat mendapatkan uang, ia ndak ingat Allah Azza wa Jalla. Yang lebih menyedihkan lagi adalah meskipun ia diberi uang gratis oleh salah satu yang diyakini sebagai kandidat kepala desa, eh malah ndak ia pilih orangnya.

Manusia, Man dan Nusia


Sekelumit kisah tentang trio jomblo ndeso dalam memaknai kehidupan. Dan masih banyak lagi kisah hikmah berbalut kekonyolan antara Gurem, Peking serta Demung. Semua tersaji lengkap dalam buku yang penuh nilai ispiratif ini.


Selasa, 23 Juni 2015

Merayu Tuhan

Merayu Tuhan

Gesekan senar biola terdengar merdu
Mengalun hingga pusara kalbu
Bagai nyanyian kelabu
Memekik memecah syahdu

Merayu Tuhan dalam malam
Bercinta dalam setiap kelam
Hingga jari-Nya menari dalam temaram
Untuk durjana semesta alam

Tuhan mencumbui
Mendekap perlahan: Mati
Mata terpejam pasti
Hingga duri menusuk hati
Bagai dawai tak bersuara: Sepi


Nongkojajar, 240615

Rabu, 17 Juni 2015

Jejaka Tomboy

Jejaka Tomboy
Oleh : Yanuari Purnawan


Seharusnya masa SMA adalah masa-masa yang paling indah dan sulit terlupakan. Tidak bagiku, masa SMA yang tak terlupa adalah masa piluh dan galau. Bukan karena banyak PR atau sering remedial. Namun, lebih dari itu. Status! Ya, status jadi jomblo sejati tersemat indah dalam sanubari dan predikat itu pun masih kusandang hingga kini. Tuhan, adakah secuil cinta untuk hamba-Mu ini. Atau selamanya jodohku ada di tangan-Mu.

“Wih … rajin amat lo, dari tadi serius ngerjain tugas!” celaku pada Hasan, teman sebangku yang tengah asyik mencoret-coret kertas. Mimik wajahnya menyiratkan konsentrasi penuh. Bahkan lebih serius dari Dedy Colbouzer saat sulap.

“Gitu dong rajin!” lanjutku sambil menepuk pundaknya. Hasan yang bertubuh gembul, pendek dan berkulit gelap itu hanya tersenyum. Terlihat susunan giginya yang tak beraturan.

“Emang aku lo yang rajin dan punya otak encer,” sanggahnya sambil tetap fokus menulis, tulisannya masih sama. Kayak ceker ayam terkelindas Busway.

“Tapi lo kok serius banget nulisnya. Emang nulis apaan?” Aku masih penasaran dengan teman setiaku alias cuma dia teman akrabku di SMA ini.

Lo tahu nggak? Saatnya kita mendobrak masa depan,” jelasnya berbinar sambil memegang kerah seragam putih yang mulai pudar warnanya tersebut.

“Bahasa lo dalam banget! Emang begitu penting coretan tersebut?” raguku dengan sedikit bergurau.

Hasan pun memandangku lekat lalu beralih mengamati sekitar kelas yang sepi. Karena, memang masih jam istirahat. Seperti ada suatu rahasia yang ingin dia sampaikan. Aku pun mulai curiga dan gelisah. Jangan-jangan! Hasan ingin berbuat yang tidak baik.

“San … aku masih normal. Jadi, jangan macam-macam!” jelasku sedikit gugup.

“Enak saja! Emang aku cowok apaan. Aku ingin mengatakan suatu rahasia kepada lo. Tapi, lo janji nggak akan beberkan rahasia ini,” terangnya sambil menegaskan apa yang sedang dia lakukan tadi. Aku pun hanya mengangguk, menyetujui syarat tersebut.

“Sebenarnya … aku sedang menulis surat cinta!” Hampir saja tawaku meledak, jika tidak segera dibungkam oleh Hasan.

“Emangnya lo kesambet setan mana? Hari gini masih zaman surat-suratan. Ini sudah zamannya sms-an, San. Aduh! Apakah status jomblo lo benar-benar merusak otak lo yang tinggal secuil itu?” ledekku sambil menahan tawa.

Lo silahkan tertawain aku. Tapi, lihat saja hasilnya nanti! Menurut majalah yang pernah aku baca, inilah cara ampuh untuk menggaet hati seorang cewek. Kalau sms, sudah basi. Dan lewat surat cinta, cewek akan merasa tersanjung dan spesial,” papar Hasan semangat. Sepertinya majalah yang dia baca, berhasil meracuni otaknya. Namun, aku yang jomblo akut pun harus mengakui argumennya benar juga.

***
Bel pulang sekolah pun terdengar nyaring. Bukan membuat siswa-siswi jengkel, namun membuat wajah yang semula kayak mie direbus kelamaan. Menjelma merekah bagai bunga mawar yang mekar. Aku pun bersiap pulang, tapi Hasan segera mencegah. Dia memegang pergelangan tanganku. Romantis! Seperti dalam drama korea. Tapi, segera kutepis. Geli. Apalagi jika dilihat teman-teman.

“Ada apa sih, San? Emang lo nggak mau pulang?” tanyaku kesal. Hasan pun menampilkan wajah unyunya. Namun, bukannya unyu malah seperti preman yang tobat dan menjadi cowok setengah matang. Lekong deh!

“Aku ada misi rahasia. Dan lo harus bantu!”

“Maksud lo?” selidikku curiga. Hasan pun mengeluarkan amplop berwarna putih. Seperti, amplop untuk surat izin tidak masuk sekolah gara-gara ke rumah nenek.

“Ini surat cinta yang kutulis dari lubuk hati terdalam. Dan, kupersembahkan untuk yayang Silvi,” terangnya menggebu sambil memandang amplop putih tersebut. Hasan memang sedang tergila-gila pada gadis yang beda kelas dengan kita, bernama Silvi. Gadis berparas cantik, tinggi, putih dan merupakan anak dancer sekolah.

“Terus, apa hubungannya dengan aku?”

“Kamu yang jadi kurir cintaku,” ucapnya berapi-api. Apa aku tidak salah dengar? Kurir cinta! Benar-benar kesambet setan jeruk purut nih orang.

Setelah perdebatan yang cukup panjang, lebih panas dari sidang paripurna. Akhirnya, aku pun menyerah. Melihat wajah Hasan yang begitu memperihatinkan. Rasa iba dan jijik menjadi satu. Semoga saja teman satuku ini, bisa mengubah statusnya. Tidak lagi jomblo kramat. Apa salahnya aku membantu menjadi kurir cintanya. Walaupun terkesan kampungan dan alay banget.

“Aku takut, San!” Tanganku mendadak dingin saat dia memberikan amplop putih tersebut.

“Sudahlah …  aku bantu lo, awasin orang lewat nanti,” jelasnya menenangkanku.
Dengan menghela nafas panjang, aku pun siap beraksi. Namun, tiba-tiba Hasan berteriak.

“Hei … aku ke toilet dulu!” Hasan pun berlari menuju toilet sekolah. Tubuhku panas dingin. Kelas Silvi berada di pojok dari kelasku. Karena, keadaan sepi, segera aku menuju bangku Silvi. Dalam hati, aku masih ragu. Apakah ini bangku Silvi? Namun, dengan keyakinan penuh dan sering melihatnya duduk di sini. Pasti, benar! Semoga saja berhasil.

***
Braaagh!

Pukulan kasar tepat di atas meja kami. Aku dan Hasan, terdiam dan tak bergeming. Wajah tampan dan tubuh atletis di depan kami, menyiratkan emosi tingkat dewa.
“Ari … apa-apaan ini?” tanya Indra sang ketua basket sekolah dengan wajah geram. Aku pun mendadak gagap. Pikiran melayang. Mengapa amplop putih milik Hasan itu bisa ada di tangan Indra?

“A … a … aku.”

Lo gila apa? Aku tuh cowok normal. Mana mungkin aku suka sama cowok? Dan perlu lo ingat, aku tidak suka cara lo kirim surat kayak gini. Kampungan!” potong Indra dengan emosi lalu pergi dari kelas kami. Wajahku pucat. Jika perlu, aku ingin segera berlari dan teriak, “AKU INGIN OPERASI PLASTIK, MAK!”  Seisi kelas tertawa terbahak-bahak dan kutenggelamkan wajah di atas meja. Hasan yang duduk di sampingku pun, melakukan hal yang sama denganku.

Selidik punya selidik, mengapa Indra menuduhku yang kirim surat tersebut? Dewi, teman satu kelasnya melihatku menaruh amplop itu ke bangku Indra. Pantas saja, tuduhan itu tepat mengarah kepadaku. Hasan pun berkali-kali meminta maaf. Alhasil, aku pun luluh dan memaafkannya. Dan aku menyuruhnya berjanji, tidak akan ada surat-surat cinta lagi. Dengan senyum pahitnya, Hasan mau berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan konyolnya.

Semenjak peristiwa memalukan tersebut, predikat sebagai jejaka tomboy masih melekat kepadaku dan Hasan. Predikat jomblo hingga kami lulus SMA. Namun, banyak hikmah yang aku petik dari kejadian tersebut. Bahwa, percayalah jodoh sudah ada yang mengatur. Serahkan urusan tersebut kepada-Nya. Sebagai, muslim seharusnya kita memakai cara yang halal. Misal ta’aruf. Dan status jomblo itu bukan aib, tapi hanya status trend saja. Jadi, jangan takut jadi jomblo. Tunjukan kalau kalian jomblo yang berprestasi dan punya prinsip. Mungkin, surat cinta bisa salah alamat, tetapi ingatlah jodoh tak akan pernah salah dan tertukar.[]


Selesai 

Senin, 08 Juni 2015

MOS



Masa yang paling indah itu adalah masa-masa di sekolah. Dan kisah-kasih paling romantis itu adalah kisah-kasih di drama korea. Yaiyalah, mana ada kali romatisan di indonesia, paling-paling serigala jatuh cinta sama anak SMA. Apanya yang keren? Aneh iya, emang tuh anak SMA demen sama hewan. Mungkin perlu ke dokter hewan, kalau kemungkinan dia terkena sindrom hartikulturamaningtikus.

Ini adalah hari pertama aku menginjakkan kaki di tanah lapang hati gembira dan senang. Bukan. Tapi, dunia SMA. Akhirnya, aku bisa keluar dari anak ingusan yang berseragam biru-putih dengan kuncir 12. Sebagai, gadis yang masih ranum dan fresh. Ini kesempatan emas bagiku untuk menggaet cowok keren kalau bisa senior. Bayangan indah, ketabrak kakak senior berkacamata tinggi lalu buku jatuh pas ngambil buku tak sengaja tangan kita bersentuhan dan pas mendongakkan kepala, ternyata dia adalah cowok bermuka abstrak. Ah! Otak ini mulai nggak karuan.

Segala pernak-pernik MOS (Masa Orientasi Siswa) pun sudah rapi dan siap untuk melawan penjajahan. Aku pun menyiapkan strategi jitu agar tidak di bully habis-habisan oleh Osis. Salah satunya, pura-pura pingsan dan jatuh di pelukkan kakak osis ganteng.

"Pak, SMA 2!" teriakku ke sopir angkot. Walaupun agak kurang kece, masak hari pertama masuk SMA harus naik angkot. Tapi, gimana lagi kita kan sedang berada dalam labil ekonomi dan konspirasi kemakmuran yang tak adil dan beradab.

Kulihat semua murid baru heboh dengan aksesoris MOS yang memang diharuskan saat daftar ulang kemarin. Kita pun sebelum memulai acara MOS dikumpulkan di lapangan. Masak sudah jam 8 pagi masih harus apel. Apakah para osis tidak mengerti atau membaca koran perkiraan cuaca wilayah jawa timur khususnya Surabaya. Apa mereka sedang menguji daya tahan tubuh kita terhadap sengatan matahari. Atau muungkin mereka menginginkan kita seperti ikan asin.

Acara apel MOS pun selesai. Namun, tidak selesai dengan penderitaan kita. Kita diharuskan kumpul sesuai nama gugus. Kebutulan nama gugus itu Toraja. Aku pun berkumpul dengan para gugus dengan antribut serba ungu tersebut.

"Kamu?" teriak kakak berwajah sangar dengan mata tajam memanggil namaku.
"Saya, Kak!" jawabku gugup sambil mempertegas kalau kakak berjilbab putih itu memanggil diriku.

"Iya, siapa lagi bolot!" Dengan langkah yang berat, aku berjalan ke arah Kak Adel nama pembina gugus Toraja itu.

"Siapa nama kamu?" bentaknya lagi.

"Mutia, Kak!" ucapku gelagapan sambil menunjukan papan nama yang terbuat dari carton tersebut.

"Apa arti nama kamu?"

Aku pun semakin merinding dan gemetaran. Mutia! Apa ya arti namaku. Kenapa dari dulu, aku tidak pernah nanya arti namaku kepada ayah atau ibu. Dengan otak yang tinggal secuil, aku pun menjawab dengan lantang.

"IMUT DAN SETIA!"

Damn! Semua orang yang mendengar ucapakanku tadi langsung tertawa terbahak-bahak. Mungkin mereka kira aku macan yang berhasil melewati lingkaran api.

Namun, ternayata kenyataan tak sesuai khayalan. Tak ada tabrakan dengan cowok keren ataupun pingsan dan di bopong kakak senior yang ganteng. Semua itu fitnah. Yang ada hanya penyiksaan tiada henti. Mungkin, lebih tepatnya pembangunan mental. Karena, di SMA ini sangat jauh berbeda dengan sekolah lainnya. Yang koordinir murid cewek itu adalah kakak osis cewek dan begitu sebaliknya. Jadi, tak ada namanya caper sama kakak osis ganteng.

Dan lebih parah lagi, aku yang merupakan siswi dodol. Setiap hari, kita diwajibkan untuk setoran hafalan surat pendek minimal 5 surah. Alamak! Aku pun harus belajar mengaji lagi. Sungguh, inilah MOS paling beda yang pernah terjadi. Tidak ada perploncoan ataupun kekerasan fisik, yang ada ibu selalu bilang kepadaku.

"Duh ... anak ibu sekarang rajin ngaji! Alhamdulillah ibu sekolahkan kamu di SMA tersebut."

Ibu saja yang belum mengerti, ini bagiku penyiksaan terindah. Namun, terima kasih buat kakak osis yang mau sabar menungguku selesai hafalan surah pendeknya serta membuat ibuku bangga kepadaku untuk pertama kalinya.[]

_Based true story from my friend_





Jumat, 05 Juni 2015

Jomblo Ahli Fatwa

Telah terbit Buku Kumpulan Kisah Hikmah.
Judul Buku : Jomblo Ahli Fatwa
Penulis : Joko Ade Nursiyono
Penerbit : Pena Indis
Distributor : New Indie Press
ISBN : 978-602-0897-09-7
Tebal : 190 Halaman
Ukuran : 14 X 20 cm kertas bookpaper
Harga : Rp. 67.500,-
CARA PESAN:
Kirim pesan dengan format:
Judul Buku_Nama Pemesan_Alamat lengkap + Kode Pos_No. Hp_Jumlah Pesanan
Ke No. Hp; 085649947840 (Sdr. Yanuari Purnawan) atau Inbox ke fb New Indie Press. Bisa lewat penulis Joko Ade

Sinopsis
“Man iku utawi sopo wong, Nusia iku kang dilale’ake sopo man.” Gurem memaknai dua kata itu sambil mata tertutup.
“Jadi, Man itu siapa orang, Nusia yang dijadikan lupa siapa orang. Jelas! Orang itu sudah sedari awal dijadikan oleh Allah Azza wa Jalla sebagai mahluk yang pelupa. Coba sampeyan amati, kemarin kan ada pemilihan kepala desa. Langsung di sana-sini janji-janji bertebaran, sampai aku ndak bisa tidur.”
“Lho … kenapa, Rem?” tanya Peking penasaran.
“Pagi-pagi aku diberi uang gratis, tapi yo … aku terima wong gratis.” Gurem menjawab sambil terkekeh.
“Sek toh, ini letak lupanya neng ndi?” Demung bertanya sambil angkat jari.
Gurem dengan lantang melanjutkan kalimat-kalimat penjelasannya. Ia menyatakan bahwa ia merasa lupa, karena saat mendapatkan uang, ia ndak ingat Allah Azza wa Jalla. Yang lebih menyedihkan lagi adalah meskipun ia diberi uang gratis oleh salah satu yang diyakini sebagai kandidat kepala desa, eh malah ndak ia pilih orangnya.
Manusia, Man dan Nusia
Sekelumit kisah tentang trio jomblo ndeso dalam memaknai kehidupan. Dan masih banyak lagi kisah hikmah berbalut kekonyolan antara Gurem, Peking serta Demung. Semua tersaji lengkap dalam buku yang penuh nilai ispiratif ini.

Selasa, 02 Juni 2015

Ketika Cinta, Benci dan Prinsip Mewarnai Dunia Remaja




Judul Buku: Bait-Bait Kata
Penerbit: Pena Indis
Distributor: New Indie Press
ISBN: 978-602-0897-06-6
Desain: Fandy Said
Editing: Yanuari Purnawan
Harga Umum: 39.000 (Belum Ongkir)
Harga kontributor= 35.500 (Belum Ongkir)
PRE ORDER: 1 Juni s/d 10 Juni 2015
CARA PESAN:
Kirim pesan dengan format:
Judul Buku_Nama Pemesan_Alamat lengkap + Kode Pos_No. Hp_Jumlah Pesanan
Ke No. Hp; 085649947840 (Sdr. Yanuari Purnawan) atau Inbox ke fb New Indie Press
Sinopsis:
“Sarah, ya?”
Aku tercenang. Bukankah ia adalah kakak perempuan yang satu tempat mengaji denganku?
Terlepas dari keterkejutanku. Pun aku berniat membuka suara. “Kak─”
“Panggil Ari saja. Ternyata kita seumuran.” Ia memotong ucapanku seraya tersenyum.
“Kebetulan aku belum ada teman. Kita sebangku saja, ya.” Lalu ia menuntun langkahku pada sebuah bangku di deretan ketiga dari meja guru. Dalam hati aku begitu merona senang. Ya Allah syukurlah, tanpa perlu bersusah payah aku langsung menemukan teman....
***
“Kamu itu sebenarnya bisa ngomong gak sih? Aku bosan tahu duduk sama patung seperti kamu!”
Aku terhenyak bungkam. Ia mengebrak meja cukup keras dan memekakan telinga. Beberapa teman mungkin melihatnya, namun semua seolah bergeming tanpa suara. Ya Allah kenapa semua menjadi seperti ini....
Kesabaran Berbuah Kebaikan_Ginny Nadia
***
Apa yang sebenarnya terjadi antara Sarah dan Ari? Mengapa Ari yang semula ramah, mendadak menjadi kasar? Bagaimana kelanjutan persahabatan mereka?
Penasaran! Tenang saja, semua terangkum indah dalam buku ini, bersama kumpulan cerpen inspiratif lainnya.[]
Kontributor:
Sarah Nadia, Khanis Selasih, Nenny Makmun, Zahraa Senja, Safiatul Fitri, Muhammad EL Malka, Nidhom VE, Nor Aniyah, Prihastiwi Dwi Wulandari, Qibti ‘Inayatul Arfi, Muhammad Syukur, Aziza Zuhroh Sya’bandiyah, Fajriani Fitri, Latifa Fitriani, dan Rismaulina Sitanggang.

Judul Buku: Kini Kutemukan Jalanku
Penerbit: Pena Indis
Distributor: New Indie Press
ISBN: 978-602-0897-07-3
Desain: Fandy Said
Editing: Yanuari Purnawan
Harga Umum: 39.000 (Belum Ongkir)
Harga kontributor= 35.500 (Belum Ongkir)
PRE ORDER: 1 Juni s/d 10 Juni 2015
CARA PESAN:
Kirim pesan dengan format:
Judul Buku_Nama Pemesan_Alamat lengkap + Kode Pos_No. Hp_Jumlah Pesanan
Ke No. Hp; 085649947840 (Sdr. Yanuari Purnawan) atau Inbox ke fb New Indie Press
Sinopsis:
Tak lama suara azan mengalun dan menggema melalui pengeras suara masjid, memanggil seluruh muslim dan muslimah untuk menghentikan sejenak aktivitasnya dan menghadiri panggilan-Nya. Ketika azan selesai dikumandangkan, kulihat masjid mulai bertambah penghuni yang bersiap untuk melaksanakan shalat Ashar.
Satu per satu para jama’ah sudah memenuhi ruang masjid, aku yang sedang berhalangan pun merasakan pelataran kembali terlihat sepi. Iqamat belum dikumandangkan, mungkin mereka masih menunggu yang lain untuk ikut shalat berjama’ah. Kualihkan perhatianku pada handphone milik Kifti yang sedari tadi kugenggam. Pada wallpaper handphonenya terpampang wajah cantik Kifti. Ternyata narsis juga sahabatku yang satu itu. Baru saja aku menekan beberapadigit nomor telepon ibuku, sebuah notifikasi SMS masuk dan tanpa sengaja aku menyentuh notifikasi tersebut. Sebuah aplikasi SMS terbuka dan memperlihatkan pesan yang baru saja masuk. Terdapat sebuah nama pada pengirim pesan singkat tersebut yang cukup membuatku terkejut. Aufar.
Sahabat Surga_Atikah Azzahra
***
Aufar? Siapakah Aufar itu? Sms apa yang dia kirim? Dan ada hubungan apa Kifti dengannya? Bukankah Kifti merupakan salah satu anggota lembaga dakwah kampus! Mungkinkah?
Dari pada su’udzon.Baca saja keseluruhan ceritanya, beserta kumpulan cerpen inspiratif lainnya. Semua terangkum manis dalam buku ini.[]
Kontributor:
Atikah Azzahra, Tri Adnan, Rere Zivago, Devi Ismail, Saniyatin Nadziroh, Nenny Makmun, Jassy Ae, Puput Andalusi, Novi Sinfa Linda Ningtias, Nikmah Soleha, Rakhmad Zubair, Mulia Ahmad Elkazama, Osella, Arha Zahwa, Ujang Wardani, dan Megawati.

Judul Buku: Jangan Benci Aku
Penerbit: Pena Indis
Distributor: New Indie Press
ISBN: 978-602-0897-08-0
Desain: Fandy Said
Editing: Yanuari Purnawan
Harga Umum: 39.000 (Belum Ongkir)
Harga kontributor= 35.500 (Belum Ongkir)
PRE ORDER: 1 Juni s/d 10 Juni 2015
CARA PESAN:
Kirim pesan dengan format:
Judul Buku_Nama Pemesan_Alamat lengkap + Kode Pos_No. Hp_Jumlah Pesanan
Ke No. Hp; 085649947840 (Sdr. Yanuari Purnawan) atau Inbox ke fb New Indie Press
Sepenggal Kisah:
Setiap diri kita pasti selalu ada yang suka dan tidak suka. Mereka yang sering kita sebut "Haters" selalu ingin menjatuhkan kita bagaimana pun caranya. Agak menyebalkan memang. Orang lain yang membenci kita memang itu sudah biasa, tapi bagaimana bila haters itu sendiri adalah saudara kita?
Sitha memang bukan saudara kandungku melainkan saudara tiriku dari ibu tiriku yang menikah dengan ayahku. Entah apa yang sudah kulakukan sampai Sitha begitu tidak suka denganku. Apakah karena ibunya menikah dengan ayahku?
ini sekolahku mengadakan pentas seni dan aku akan bernyanyi di atas panggung. Jantungku berdengung kencang, aku gugup saat giliranku untuk tampil. Dari ruang make up seorang MC memanggil namaku. Aku bergegas keluar menuju panggung. Di pintu, seseorang menghalangi langkahku hingga aku jatuh tersungkur dan kulihat ternyata orang itu Sitha, saudara tiriku.
Pitri Solehah
Kontributor:
Nururrahmah Hidayah, Iruma kwon Jiral, Amira Alaniyah, Masita Rauf, Maulida Nur Fadhila, Farida Salsabila, Melda Yudi Ningsih, Aziz Nur Ikhsan, Umi Hasanah, Afri Azzahra, Pitri Solehah, Nur Rahmah, Minzy Suzy, Michaelmas, dan Yanuari Purnawan.

Info paket penerbitan : https://www.facebook.com/notes/newers-new-indie-press-/paket-penerbitan-new-indie-press-lini-dari-pena-indis/1443545192612213