Rabu, 26 November 2014

Membakar Hujan #Bagian 1

Ketika aku merasa lebih mati dari biasanya

Oleh: Billal_HB

        


Kami duduk dalam diam berdampingan menghadap laut lepas. Awan mendung bergegas berarak menuju ke arah kami, membuat permukaan laut yang berkilauan menjadi biru beku. Hingga pada akhirnya Arfan, sahabatku memecah bisu yang telah puluhan menit membatu.

“Aku cuma sebesar dan seluas gelas, Bill,” katanya serak. “Aku telah penuh dan tumpah.”

Aku menoleh sesaat padanya ketika angin dingin menghempas wajahku lalu kembali memandang ombak yang bergulung.

“Bukankah kau pernah bilang, jika gelas telah penuh sebaiknya bergegaslah mencari mangkuk, dengan begitu kau bisa membuat muatan yang banyak? Apa kau lupa?” balasku seraya menghela napas.

Kami diam lagi. Kulirik wajah Arfan yang tersenyum pucat dan caranya menarik udara yang semakin dingin ke dalam paru-parunya. Jantungku berdebar tak seperti biasanya. Sekitar mataku menjadi hangat oleh sesuatu yang terbendung.

“Bill.” Arfan memanggilku pelan lalu menatapku dan tersenyum, sementara Aku hanya mengangguk padanya. “Maukah kau berjanji padaku?”

“Berjanji apa?” tanyaku penasaran. Kutatap wajah temanku itu dengan lekat, seakan ia tengah menaruh harapan besar padaku.
“Bilamana aku basah karena hujan, maka segera bakarlah aku,” katanya seraya memberikan aku bola api besar merah yang ia pegang. “Itu cara terbaik untuk hilang.”
Aku tersentak dan tersedak oleh udara yang tengah kuhirup. Membuat apa yang terbendung di mataku jatuh dan mengalir. Sangat tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Arfan, aku hanya merasakan jantungku berdetak lebih cepat.

“Aku tidak mengerti apa maksudmu, kawan,” jawabku ragu. “Api apa itu?”

Arfan tersenyum padaku dan mengangguk yakin. Melihatku menjadi cengeng. Air mata yang terjatuh bebas di daguku. Aku lantas membungkuk dan memaku pandangan ke bawah, pada dedaun yang berserakan di kakiku. Terasa sakit di dada tapi tidak mengerti apa yang menyakiti. Arfan membelai punggungku samar, seperti menyentuh tapi tidak mengenai. Hingga saat aku bangkit dan menyadari keadaan yang berbeda ketika hujan rebas membasahi wajahku.

Aku sendirian. Dibawah hujan yang deras. Tidak duduk di tepi laut, tidak pula bersama Arfan yang tadi ada di sisiku. Melainkan di tepi jalan yang tidak ada siapa-siapa di sana. Dalam ketidakpahamanku, aku merasakan perih yang menjalar dari kedua tanganku yang entah kenapa bisa melepuh merah bara. Dan secara bergantian memandang kedua tanganku yang terbakar dan jalan yang basah tergenang hujan.

“Aku tidak membakarnya,” lirihku. “Tidak benar. Arfan, kau dimana?”

Aku percaya, Aku membakar hujan agar tak membasahinya. Mungkin atau entahlah. Aku tahu dia tidak pergi. Tidak meninggalkanku seperti yang lain. Arfan, akan kutemukan kau meski aku tahu perihnya membakar hujan.



Lirik, 25 November 2014 08.05























































Selasa, 18 November 2014

Pelangi Ikhtiar

Aku gagal dan terjatuh. Semua mata mengarah kepadaku. Mengapa ini harus terjadi? Sungguh tidak mungkin seorang Ilham yang selalu juara kelas di SMP harus terperosok ke urutan duapuluh besar dengan rata-rata tujuh untuk nilai Ujian Nasional.

Airmata tak bisa terbendung lagi, nilai hancur dan masuk SMA favorit pun pupus. Kecewa dan tidak bisa terima mengapa Allah memberikan ujian ini kepadaku. Apa salah dan dosaku, belajar pun tak pernah lalai, justru teman yang malas nilai UNnya jauh lebih bagus. Ini tidak adil.

Di dalam kamar, kuluapkan segala emosi dengan menangis sejadi-jadinya. Merenung apa yang terjadi kemarin sebelum hal ini terjadi. Aku mulai duduk di bangku Sekolah Dasar sampai kelas tiga SMP semester satu selalu juara kelas. Semua orang memuji kepandaianku tetapi sepandai-pandai tupai melompat pasti jatuh juga. Benar kata pepatah, akhirnya kejatuhan dan kegagalan  itu pun nyata dalam rangkaian episode hidupku.

“Aku gagal, Bu!” ucapku kepada ibu.
“Sabar, Nak. Ini ujian dari-Nya untuk menaikan kwalitasmu,” jawab ibu sambil mengusap rambutku.
Aku tak kuasa menahan airmata, mengalirlah membasahi pipi.
“Allah tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Mungkin menurut kita itu jelek belum tentu jelek di mata-Nya, atau sebaliknya menurut kita itu baik belum tentu baik di mata-Nya,” lanjut ibu berusaha menenangkanku.
Entah seperti mantra yang mujarab, kalimat yang terucap dari bibirnya mampu menenangkan hati yang sedang gundah. Aku yakin skenario Allah pasti jauh lebih baik dari apa yang di rencanakan hamba-Nya. Terima kasih, Bu. Ku kecup keningnya tulus.
***
Gelap berganti terangnya matahari, pagi menyambut insan yang senantiasa bertasbih kepada Sang Pencipta. Seperti mendapat energi baru, aku lebih siap untuk menerima kegagalan ini walau begitu berat belajar ikhlas. Kulihat saat wisuda SMP bukan lagi namaku yang di panggil sebagai juara. Tidak apalah masih ada hari esok dan aku akan berprestasi lagi. Entah mengapa, api semangat berkobar begitu besar di dada.

Akhirnya keputusan melanjutkan ke SMA favorit harus terganti dengan SMA biasa. Ternyata rasa kecewa itu masih tersimpan di hati, apalagi melihat teman yang bisa melanjutkan ke SMA favorit, harusnya aku juga bersaing bersama mereka.

“Ilham, ada apa kok melamun?” tanya sahabatku Azis sambil menepuk pundakku.
“Tidak apa-apa, hanya aku masih belum percaya bisa sekolah di sini,” jawabku gugup.
“Aku mengerti kamu pasti kecewa, sang juara kelas harus sekolah di SMA biasa, ya kan!”
Aku mengangguk lalu menunduk, lagi-lagi airmata menetes.
“Ilham, mungkin inilah jodohmu,” seru Azis.
“Maksudnya.”
“ini sudah skenario Allah untukmu jadi terimalah dengan ikhlas. Mungkin sulit bagimu, tetapi percayalah akan ada pelangi di balik besarnya badai. Kamu tunjukan kepada mereka di mana pun berada selalu berprestasi.”
Entah mengapa nasehat Azis begitu menusuk ke dalam hatiku. Sepercik harapan baru mulai tumbuh dan semangat untuk bangkit semakin besar. Mungkin kemarin aku gagal, tetapi kali ini aku harus melangkah jauh lebih baik dari kemarin.

Percaya atau tidak di SMA ini, aku bukan hanya belajar ilmu umum saja tetapi juga ilmu agama, mulai dari shalat dhuha hingga shalat dzuhur berjamaah. Sungguh pemandangan aneh tetapi di sinilah aku bangkit dan menjadi Ilham yang berkarakter islami dan berprestasi.

Gelar ketua osis melekat di balik diriku sebagai seorang siswa. Tidak pernah menyangka, dulu untuk menjadi ketua osis mungkin hanya mimpi sekarang gelar ini pun aku raih. Aku masih belum puas aku ingin membanggakan sekolah ini. Banyak orang yang merendahkan murid dari SMA di mana aku sekolah.

“Untung anakku tidak sekolah di SMA itu, muridnya bodoh dan nakal.”

Cibiran orang di luar sana mengenai SMA di mana aku bersekolah, begitu membuat gendang telinga ini panas. Aku akan membuktikan bahwa murid di sini tidak sebodoh dan senakal yang mereka kira, tetapi mereka mampu bersaing dan berprestasi.

Sebagai ketua osis, aku menebar semangat bagi teman-teman agar bangkit dan tidak malas untuk belajar lebih giat lagi serta tidak lupa berdoa kepada-Nya. Banyak sekali hambatan mulai dari rasa malas dan bosan yang kadang datang begitu saja hingga minimnya sarana untuk belajar. Tidak jarang aku harus fotocopy bahan untuk belajar. Alhasil, nilai kita lumayan walau belum mencapai titik luar biasa.

Menginjak kelas tiga SMA, kegiatan kami hanya belajar untuk persiapan Unas. Aku yang pernah gagal sebelumnya, tidak ingin terulang kembali. Tetapi bukan hanya bagiku. Aku ingin kesuksesan nanti juga untuk teman-teman satu SMA.
Sebagai murid yang nilainya paling tinggi, aku harus berbagi membantu teman lainnya untuk bisa. Aku merasa sifat egois dan ingin menang sendiri terkikis oleh ukhuwah yang begitu besar antara aku, teman-teman dan juga guru-guru. Berkali-kali rasa syukur terucap di dalam hati ini, karena bersekolah di SMA biasa ini. Ternyata aku bisa lebih berarti di sini.

Inilah langkah perjuangan kami setelah tiga tahun akan dipertaruhkan dalam tiga hari. Dalam hati kecil, aku berdoa semoga melancarkan unas kali ini bukan hanya untukku tetapi juga teman-teman seperjuangan.
***
“Di balik kesulitan pasti ada kemudahan.” (QS Al-Insyirah(94):5)

Setelah menunggu beberapa bulan, akhirnya pengumuman hasil unas akan kami ketahui. Dalam harap-harap cemas kami yang berada di aula SMA berdoa semoga hasilnya baik.
Dengan kekuasaan-Nya, SMA kami dinyatakan lulus seratus persen. Rasa haru dan bahagia bercampur di aula dan tak lupa sujud syukur kepada-Nya.
Satu persatu dari kami mengecek nama dan urutan nilai. Aku tak melihat namaku sama sekali di urutan atas. Aku panik dan takut jika kegagalan itu harus terulang kembali.
“Ilham, selamatnya,” ucap Azis sambil memelukku.
“Iya sama-sama. Alhamdulilah kita bisa lulus.”
“Bukan itu!”
“Maksudnya?”
“Selamat kamu juara umum sekabupaten Pasuruan tingkat SMA.”
Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Azis, seperti tak percaya. Kemudian Azis menunjukan pengumuman yang  tertulis “Ilham Firmansyah sebagai juara umum sekabupaten Pasuruan.”

Ya … Allah inikah skenario yang Engkau tulisan untuk hamba. Aku bersyukur pernah terjatuh karena dengan begitu, aku mengerti makna bangkit dan berhasil. Tiba-tiba aku teringat nasehat Azis, “Ingatlah pasti ada pelangi di balik badai.”

Selesai

Rabu, 05 November 2014

Gadis Hujan

Aku masih terdiam dan duduk di bangku taman kota. Hujan yang begitu deras mengguyur tubuhku, tetapi tidak membuatku beranjak. Aku masih asyik dengan segala lamunan indah saat bersamanya. Ada percikan rindu teramat dalam di hati.
Hujan seakan menjadi saksi antara dua insan yang saling menyayangi. Dalam hujan kami bertemu dan dalam hujan pula kami harus berpisah. Pertemuan singkat yang mampu membuat hidupku berubah 180 derajat.

“Mengapa kamu hujan-hujanan?” tanyaku pada gadis berhijab putih yang sedang duduk di bangku taman kota itu. Memang saat itu hujan deras, aku kebetulan lagi jalan-jalan tidak disangka hujan turun dengan deras.
Gadis itu menatapku tajam, entah apa yang dipikirkannya. Lalu dia menundukkan wajahnya lagi. Wajah yang begitu teduh dan bermata bening.
“Apa aku boleh duduk di sini?” tanyaku lagi, dia hanya mengangguk.
Aku tidak berani berbicara lebih banyak, aku takut dia marah. Hujan masih deras, aku mau beranjak dari tempat duduk, tubuh ini sudah tidak kuat menahan dingin. Gadis itu masih saja tidak bergeming dari tempat duduknya. Siapa dia, ada apa dia di sini, pikirku.

Gadis misterius itu membuatku penasaran. Mata beningnya seolah menari di dalam otakku. Siapa dia sebenarnya. Berkali-kali aku mencoba untuk meredam rasa ini, tetapi rasa ini terlalu kuat menancap di hatiku.

“Boleh kenalan!” ucapku, dengan badan yang sudah menggigil karena hujan. Setiap hujan, kulihat gadis itu selalu duduk di bangku taman kota.
Dia menatapku tajam, aku sempat tersihir oleh binar matanya yang bening itu.
“Sarah,” ucapnya pelan.
“Firman.”
“Apa kamu tidak kedinginan?” tanyaku, melihat wajahnya yang pucat, ku mengerti kalau dia kedinginan. Tetapi dia hanya menggeleng dan berkata,
“Aku suka hujan, karena hujan mampu menggugurkan setiap kesedihan di hati ini.”
Aku masih belum paham apa yang dia maksud. Dia hanya menengadahkan telapak tangannya untuk menimbun setiap tetesan air hujan. Aku masih tidak berani terlalu lama bicara kepadanya. Sepertinya dia menyimpan kepedihan terlalu dalam.
Setiap hujan ku siapkan tubuh untuk berbasah ria menemani gadis itu. Gadis yang ku panggil gadis hujan itu, seolah tidak membuatku jenuh berada di dekatnya, walau tubuh menggigil kedinginan. Ini pertama kalinya ada wanita yang mampu membuatku luluh dan nyaman bersamanya. Apakah ini cinta, aku tidak mengerti. Gadis hujan itu telah berhasil mencuri sebagian ruang di hatiku.

Ku beli bunga di dekat taman kota sebagai hadiah kejutan untuknya. Hari masih mendung, gadis hujan itu tidak terlihat. Apakah karena belum hujan, dia belum datang atau apa aku yang terlalu berharap dia datang setiap hari.
Detik berganti menit, adzan ashar pun telah berlalu, gadis hujan pujaan hatiku tidak kunjung datang. Apa aku harus menunggu hujan, tetapi jika tidak hujan bagaimana. Hari sudah mulai gelap, kuputuskan untuk pergi dari taman kota. Bunga yang terlanjur ku beli terpaksa ku bawa pulang.
Gadis hujan … aku merindu dan menantimu, sehari terasa lama. Aku ingin memandang wajah dan binar mata yang teduh itu. Aku merana di dalam kamar. Inikah cinta, mengapa begitu menyakitkan. Cinta ini membuatku menjadi sosok pria melankolis.

Hujan, sebentar lagi aku akan bertemu dia. Gadis hujan tunggulah, aku akan menemani dan menghapus setiap luka yang pernah engkau rasakan. Aku berlari menuju taman kota, hujan deras pun ku terobos, aku tidak peduli. Rasa rindu ini harus segera diobati.
Dengan nafas yang masih memburu, kulihat sekitar taman, tidak ada gadis hujan yang ku rindukan. Kemanakah dia sekarang, apa dia sakit. Galau dan kalut, semua berkumpul di dalam pikiranku.

Aku melangkah menuju toko bunga di samping taman kota. Kulihat seorang Bapak tua yang menunggu toko.
“Permisi, Pak. Apa bapak melihat gadis yang biasa duduk di bangku itu?” tanyaku kepada Bapak penjual bunga itu.
“Gadis yang mana ya.”
“Gadis yang biasa pakai hijab putih dan suka hujan-hujanan itu,” terangku.
“Oh … gadis itu.”
“Bapak kenal dia!” potongku.
Bapak tua itu mengangguk dan menghela nafas panjang lalu berkata,
“Dia gadis gila, Nak.”
“Maksud Bapak?”
“Selly, dia adalah anaknya Pak Burhan. Menjadi gila karena suaminya kecelakaan di dekat taman kota ini. saat kejadian tersebut hujan turun deras, oleh sebab itu dia suka hujan-hujanan,” terang Bapak itu.
“Sekarang dia kemana,Pak?” tanyaku semakin penasaran.
“Dia telah meninggal, tertabrak mobil saat hendak di bawa pulang oleh orang tuanya.”
Kaki dan tubuhku lemas, keterangan dari Bapak tua itu seakan mempupuskan harapanku bersama gadis hujan itu. Ternyata gadis itu gila, aku masih tidak percaya.

Hujan pun turun begitu deras, aku tidak bergeming masih tetap duduk di bangku taman kota. Ada perih yang menyayat hati menerima kenyataan ini. hujan basuh luka ini dan gugurkanlah setiap kesedihan di hati bersama tetesanmu.

Selesai

Senin, 27 Oktober 2014

Penulis ya Menulis

Penulis ya Menulis
Oleh : Yanuari Purnawan
Kata-kata kita menjelma boneka lilin
saat kita mati untuk memperjuangkannya
kala itulah ruh kan merambahnya
dan kalimat-kalimat itupun hidup selamanya
-Sayyid Quthb-
            Siapa sih penulis itu? Ya, orang yang menulis. Jadi jika ingin menjadi penulis, maka suka tidak suka dan terpaksa harus menulis. Tidak ada ampun untuk tidak menulis, bagi dia yang benar-benar ingin mendedikasikan diri di dunia literasi.
            Sekarang pertanyaanya, apakah hanya sekedar menulis lalu bisa disebut penulis. Ternyata, tak sesederhana itu banyak hal yang harus disiapkan. Ibarat pena harus di tajamkan agar tidak tumpul hingga indah saat menggoreskan kata dalam setiap tulisan. Lalu apa saja yang harus dipersiapkan untuk menjadi penulis, terutama bagi penulis pemula.
Yuk … kita simak beberapa hal yang perlu disiapkan untuk menjadi penulis.
1.      Niat
Sekarang apa niat kalian menjadi penulis. Ingin terkenal, punya uang banyak atau bermanfaat bagi sesama. Terserah! Karena itu menyangkut hati nurani masing-masing individu. Tetapi, alangkah indahnya jika setiap goresan pena kita bisa member manfaat bagi sesama. Ibarat lebah yang selalu memberi manfaat. Jangan sampai tulisan kita seperti air susu yang jatuh ke tanah, walau bagus tetapi tak ada guna.
2.      Membaca
Sebuah motivasi indah dari penulis tuna netra Ramaditya Adikara, yang menulis buku “Mata Kedua” yaitu “Jika ingin menjadi penulis, harus sering membaca.” Jujur waktu dapat kalimat motivasi tersebut saya bingung, apa hubungannya menulis dengan membaca. Tetapi setelah ditelaa, ternyata dengan membaca bisa menambah referensi kita dalam menulis, sehingga tidak monoton. Jadi selain menulis, luangkan waktu untuk membaca.
3.      Berani
“Lho, kok harus berani sih. Memang mau perang.” Memang perang saja yang harus berani, jadi penulis juga harus berani. Berani di sini beda dengan yang mau ikut perang, karena ini perangnya masalah dunia literasi. Kadang rasa minder, takut dan tidak percaya diri menghantui penulis, terutama penulis pemula. Tetapi jika, tidak punya mental pemberani, maka saran saya berhenti saja jadi penulis. Karena dunia literasi itu kejam. Kok kejam sih! Memang iya, jika kita menulis hanya ala kadarnya, jangan harap di baca, di toleh saja orang akan ogah. Kadang yang lebih ekstrim, tulisan kita di baling sampah atau cakar ayam. Jika tidak ada mental kuat dan berani, mungkin tulisan kita hanya bertengker di buku harian saja.
4.      Coba
Kalau sudah berani, tak ada alasan lagi untuk mencoba. Salah satunya ikut event-event, kan banyak event kepenulisan secara online, misalnya saja di http://www.rasibook.com/p/tentang-kami.html
5.   Pantang menyerah
Terus coba lagi, jangan menyerah. Jika gagal, evalusi dan belajar lagi. Saya sendiri tak luput dari kegagalan demi kegagalan. Ikut event online di sini gagal, coba lagi ke event selanjutnya. Terus berkarya, jangan berhenti walau kegagalan kerap menghampiri.

Sekarang tunggu apalagi, yuk mulai menulis. Jangan takut, apalagi minder. Terus pertajam pena untuk menjadi penulis yang bermanfaat bagi sesama. Dengan membaca kita mengenal dunia, dengan menulis kita di kenal dunia. Salam literasi^^.

Rabu, 08 Oktober 2014

Sarang Laba-Laba

Merasa diri ini tertampar, ternyata banyak tugas lain hingga melalaikan lapak blog. Aku seperti tidak tahu diri. Ingat tidak, berjam-jam menghabiskan waktu dan uang cuma buat blog ini, bolak-balik ke rumah teman dan kadang tanpa malu juga pinjam laptop tetangga. Tetapi dimana semua, blog yang aku buat dengan perjuangan seperti mati suri dan ibarat rumah telah banyak sarang laba-labanya.

Semua bermula dari 'Aku ingin Menjadi Penulis' entah mengapa kalimat itu mudah terlontar dari mulut. Tidak ada persiapan sama sekali, pokoknya menulis saja. Aku mulai tertarik dengan blog. Dengan adanya blog, hobi menulisku akan sedikit terbantu. Perjalanan tiga kilometer menuju warnet bukan masalah bagiku. Senang dan optimis mimpiku akan tercapai. Jika ingin menjadi penulis, ya menulislah. Begitu kata para senior dalam bidang litersi memberi motivasi.

Tanpa punya laptop, aku sudah berani mengikuti banyaak event dan menulis di blog ini. Tidak lupa dengan berat hati aku juga harus menyusahkan tetanggaku hanya sekedar pinjam laptop untuk menuliskan naskah yang telah kutulis. Perjuangan dan pengorbanan selalu menumbuhkan hasil, usaha yang kau beri itulah usaha yang akan kau dapat. Lelah, letih dan gagal sudah menjadi warna dalam hariku. Aku tidak menyesal memilih jalan ini, aku gagal dan aku bangkit lagi. Aku senang akan semua ini.

Seiring waktu berjalan, dengan segenap tenaga dan doa, akhirnya tabunganku cukup untuk membeli laptop. Aku bahagia, mimpi menjadi penulis akan segera terwujud. Tidak disangka justru ini awal dari semua. Semangatku kandas, aku lebih bersuka ria dengan FB dan twitter hingga lupa apa tujuan awal aku membeli laptop. Aku lupa dengan blog yang selama ini menemani hariku, aku lupa event-event yang ingin aku ikuti. Punya laptop bukan menambah semangat dalam menulis, melainkan rasa malas yang terus mendera dalam hidup. Aku masih ingin menulis dan mimpi menjadi penulis harus aku wujudkan.

Mana janjiku dulu, aku punya laptop, aku menulis sebanyaknya di blog. Tetapi hari ini, merasa tertampar. Blogku tidak ubahnya rumah yang banyak sarang laba-labanya. Bisa-bisa blogku menjadi angker karena tidak pernah ada postingan baru. Cerbungku masih berhenti, aku ibarat menggantungkan harapan sahabat yang setia membacanya. Walau tulisan atau cerpen masih terbilang sampah ini. Aku harus berubah, sesibuk apapun, blog ini harus terisi dengan postingan baru yang bermanfaat.

Bye ... bye sarang laba-laba, aku bersihkan sedikit demi sedikit hingga apa yang aku janjikan bisa terwujud.
Ya Allah ... Berkahilah setiap langkah hamba dalam kebaikan dan kebermanfaatan.
Aamiin

Selasa, 23 September 2014

Ada Cinta Di kota Santri. #part 8

“Menurut ukhty, kalung ini bagus, tidak,” tanyaku kepada Delia.
Sekonyong-konyong penjaga toko,
“Wah, kalian pasangan yang ideal, kalau kalung ini pasti cocok buat Mbak yang cantik ini,” potong menjaga toko.
Wajahku merona merah, kaget akan ucapan itu. Dengan lembut Delia menepisnya.
“Tidak, aku kesini cuma kebetulan bertemu dengan dia dan aku di suruh membantu memilihkan hadiah buat ulang tahun Ibunya.”

Kalung dengan bandul bunga, menjadi pilihanku untuk diberikan kepada Ibu. Semoga beliau senang dengan hadiah ini. dengan via pos ku kirimkan hadiah yang tak berarti ini jika dibandingkan pengorbanannya saat mengandung, melahirkan dan merawatku dulu.
***
“Kak, gimana jawaban sudah lebih seminggu, Dini menunggu,” ucapnya via telepon.
“Aku ….”
“Kak, Dini sudah siap, apa pun keputusannya itu mungkin yang terbaik bagi Dini. Jadi jangan ragu,” terangnya, yang mendengar suara gugupku.
Kuambil nafas dan mengucap bismilah.
“Afwan, Dini. Kakak tidak bermaksud menyakitimu sama sekali, jujur Kakak sudah menganggap Dini sebagai adik kandung dan tidak lebih dari itu. Untuk menikah, mungkin ada calon yang lebih cocok dengan Dini.”
Dadaku bergemuruh, peluh mengalir di pipi dan semoga ini keputusan yang terbaik untuk kami. Kudengar ada isak tangis di seberang telepon sana, Dini menangis. Tidak ada tanggapan dan telepon langsung dimatikan.
“Maafkan aku, Dini.”

Desakan itu juga bukan dari Dini saja, Nurjannah berkali-kali menghubungi untuk meminta keputusan dariku. Tidak ada alasan untuk menolak gadis soleha, anak Ustad itu. Aku binggung, apa yang harus aku lakukan. Istikharah sudah, yang ada selalu bayangan Ibu. Apakah jdohku itu pilihan Ibu? Tetapi, setiap aku bertanya kepadanya selalu terserah aku, Ibu cuma bisa mendoakan yang terbaik saja.

Ya … Rabb, mengapa begitu rumit. Jika dia jodoh untukku berikan petunjuk-Mu, walau sebatas mimpi. Dalam kebimbangan, hanya mendekat kepada-Nya, hatiku menjadi tenang. Ku rapalkan doa untuk calon bidadariku kelak. Semoga dialah yang bisa menjadi istri dan ibu yang baik dan soleha, yang melahirkan generasi yang kuat akan agamanya, yakni islam. InsyaAllah, Nurjannah …


Bersambung…

Jumat, 19 September 2014

Emak

Emak

Oleh : Yanuari Purnawan



Jum’at, 13 september 2013

            Hari itu, kau menyuruhku mengantar ke malang. Berat rasanya, melihat tubuh tua yang ringkih karena penyakit yang sudah tiga bulan menyerang. Menunggu, hingga tiba mobil datang… Ya, mobil penangkut barang kupersembahkan untuk kau. Anak macam apa aku ini? Tetapi tak pernah ada keluhan yang keluar dari mulutmu.
“Mak, doain aku punya mobil bagus, biar tak bisa rekreasi kemanapun Emak mau nanti,” ucapku, dengan berusaha menahan airmata untuk tidak jatuh.
Hanya anggukan pelan yang kau berikan. Kupeluk tubuh kurus itu dengan penuh rasa sayang.

Selasa, 17 september 2013

            Wajah itu! Hampir saja aku tak mengenalinya lagi, ini Emakku atau bukan? Wajahnya redup, kulitnya terkelupas, rambutnya tinggal segelintir dan suaranya tak bisa kudengar lagi. Emak, ada apa dengan kau? Setiap aku bertanya,
“Mana yang sakit, Mak.”
Kau hanya tersenyum, begitu kuatkah ragamu hingga mampu bertahan akan penyakit ini.
“Mak, makan dulunya?” tanyaku, sambil memeriksa selang kecil yang dipasang dihidungnya. Emak mengidap laryngitis, sehingga sulit bicara dan mencerna. Otomatis harus makan lewat selang tersebut. Setiap cairan semisal air susu kedelai yang dimasukan keselang itu, entah mengapa hatiku teriris. Tes… airmataku terjatuh juga, seharusnya aku kuat, Emak yang sakit saja kuat.
Lagi- lagi airmata ini jatuh, tatkala harus menggsok gigi Emak. Giginya yang jarang dan tak beraturan membuatku harus berhati-hati saat menggosoknya, takut akan melukai mulut yang begitu indah menebar nasehat untukku. Rumah sakit, sudah berapa banyak airmata terjatuh disana.
“Suster… Tolong pasien ruang no.7, infusnya terlepas,” teriakku diruang perawat.
Darah… Darah itu keluar dari tangan Emak, banyak sekali. Kuangkat tubuh itu dan memeluk dan menyanggahnya dari belakang. Bukan hanya darah yang mengalir kesekujur pakaianku tetapi juga muntahan Emak yang ternyata sedang kembung karena kebanyakan susu kedelai. Setelah setengah jam akhirnya Suster sudah selesai membetulkan infus Emak.
“Mak, sakitnya disuntik,” godaku, sambil memeluk tubuhnya. Emak jangan perginya, aku masih ingin memeluk dan tidur dipangkuan kau.

Jum’at, 20 september 2013

            Entah mengapa aku tak bisa tidur, bayangan Emak seolah menari berputar dalam pikiran. Setelah shalat malam, kubuka pintu dapur, kulihat sesosok bayangan wanita berbaju putih dan berambut panjang.
“Emak, tunggu aku. Disini aku merindu kau,” batinku.
Langit seolah runtuh, tubuhku lemas bak tulang ini terlolosi satu-satu, nafas tak beraturan dan airmata tumpah ruah.
“Emaakkkk…,” teriakku histeris.
Telepon seolah petaka yang tak terlupakan. Telepon dari paman yang sedang menunggu di rumah sakit, mengabariku Emak kritis.
Dengan tubuh yang terseok lemah, ku kuatkan diri untuk menemani Emak. Dalam perjalanan, selaksa doa, kupanjatkan untuk kesembuhanya. Emak kuat, tunggu aku, ya.
“Kamu yang sabar,” ucap Paman sambil menangis.
Mendengarnya, tubuhku lemas, terkapar di lantai rumah sakit dan menangis histeris.
Sebuah keranda tertutup kain hitam, terbujur kaku sosok wanita mulia. Melihatnya tangisku pecah lagi, aku tak kuat. Paman berusaha menenangkanku, aku harus kuat. Ku bacakan surat yasin di pinggir keranda itu walau dengan deraian airmata.
Di ambulance, kupegang tangan lembutnya.
“Mak, maafkan akunya belum bisa membuat kau bahagia dan selalu merepotkan.”
Lantunan surat yasin mengiringi kepergian kau menuju peristirahatan terakhir. Aku tak mampu melihat, jasad yang pernah menggendong, mengasuh dan mendidikku tertimbun tanah.
Ya Rabb, ampuni dosanya, terangi dan lapangkan kuburnya, ringankan siksa kuburnya dan tempatkan disisi-Mu, di tempat yang mulia serta kumpulkan kami kelak di surga-Mu.
Aamiin.
Kupersembahkan tulisan ini, untukmu yang selalu menyayangi kami. Terimakasih, Emak. Satu tahun kepergianmu, tak akan mampu menghapus setiap cinta yang pernah kau goreskan dihati ini.

Selesai.