Senin, 27 Oktober 2014

Penulis ya Menulis

Penulis ya Menulis
Oleh : Yanuari Purnawan
Kata-kata kita menjelma boneka lilin
saat kita mati untuk memperjuangkannya
kala itulah ruh kan merambahnya
dan kalimat-kalimat itupun hidup selamanya
-Sayyid Quthb-
            Siapa sih penulis itu? Ya, orang yang menulis. Jadi jika ingin menjadi penulis, maka suka tidak suka dan terpaksa harus menulis. Tidak ada ampun untuk tidak menulis, bagi dia yang benar-benar ingin mendedikasikan diri di dunia literasi.
            Sekarang pertanyaanya, apakah hanya sekedar menulis lalu bisa disebut penulis. Ternyata, tak sesederhana itu banyak hal yang harus disiapkan. Ibarat pena harus di tajamkan agar tidak tumpul hingga indah saat menggoreskan kata dalam setiap tulisan. Lalu apa saja yang harus dipersiapkan untuk menjadi penulis, terutama bagi penulis pemula.
Yuk … kita simak beberapa hal yang perlu disiapkan untuk menjadi penulis.
1.      Niat
Sekarang apa niat kalian menjadi penulis. Ingin terkenal, punya uang banyak atau bermanfaat bagi sesama. Terserah! Karena itu menyangkut hati nurani masing-masing individu. Tetapi, alangkah indahnya jika setiap goresan pena kita bisa member manfaat bagi sesama. Ibarat lebah yang selalu memberi manfaat. Jangan sampai tulisan kita seperti air susu yang jatuh ke tanah, walau bagus tetapi tak ada guna.
2.      Membaca
Sebuah motivasi indah dari penulis tuna netra Ramaditya Adikara, yang menulis buku “Mata Kedua” yaitu “Jika ingin menjadi penulis, harus sering membaca.” Jujur waktu dapat kalimat motivasi tersebut saya bingung, apa hubungannya menulis dengan membaca. Tetapi setelah ditelaa, ternyata dengan membaca bisa menambah referensi kita dalam menulis, sehingga tidak monoton. Jadi selain menulis, luangkan waktu untuk membaca.
3.      Berani
“Lho, kok harus berani sih. Memang mau perang.” Memang perang saja yang harus berani, jadi penulis juga harus berani. Berani di sini beda dengan yang mau ikut perang, karena ini perangnya masalah dunia literasi. Kadang rasa minder, takut dan tidak percaya diri menghantui penulis, terutama penulis pemula. Tetapi jika, tidak punya mental pemberani, maka saran saya berhenti saja jadi penulis. Karena dunia literasi itu kejam. Kok kejam sih! Memang iya, jika kita menulis hanya ala kadarnya, jangan harap di baca, di toleh saja orang akan ogah. Kadang yang lebih ekstrim, tulisan kita di baling sampah atau cakar ayam. Jika tidak ada mental kuat dan berani, mungkin tulisan kita hanya bertengker di buku harian saja.
4.      Coba
Kalau sudah berani, tak ada alasan lagi untuk mencoba. Salah satunya ikut event-event, kan banyak event kepenulisan secara online, misalnya saja di http://www.rasibook.com/p/tentang-kami.html
5.   Pantang menyerah
Terus coba lagi, jangan menyerah. Jika gagal, evalusi dan belajar lagi. Saya sendiri tak luput dari kegagalan demi kegagalan. Ikut event online di sini gagal, coba lagi ke event selanjutnya. Terus berkarya, jangan berhenti walau kegagalan kerap menghampiri.

Sekarang tunggu apalagi, yuk mulai menulis. Jangan takut, apalagi minder. Terus pertajam pena untuk menjadi penulis yang bermanfaat bagi sesama. Dengan membaca kita mengenal dunia, dengan menulis kita di kenal dunia. Salam literasi^^.

Rabu, 08 Oktober 2014

Sarang Laba-Laba

Merasa diri ini tertampar, ternyata banyak tugas lain hingga melalaikan lapak blog. Aku seperti tidak tahu diri. Ingat tidak, berjam-jam menghabiskan waktu dan uang cuma buat blog ini, bolak-balik ke rumah teman dan kadang tanpa malu juga pinjam laptop tetangga. Tetapi dimana semua, blog yang aku buat dengan perjuangan seperti mati suri dan ibarat rumah telah banyak sarang laba-labanya.

Semua bermula dari 'Aku ingin Menjadi Penulis' entah mengapa kalimat itu mudah terlontar dari mulut. Tidak ada persiapan sama sekali, pokoknya menulis saja. Aku mulai tertarik dengan blog. Dengan adanya blog, hobi menulisku akan sedikit terbantu. Perjalanan tiga kilometer menuju warnet bukan masalah bagiku. Senang dan optimis mimpiku akan tercapai. Jika ingin menjadi penulis, ya menulislah. Begitu kata para senior dalam bidang litersi memberi motivasi.

Tanpa punya laptop, aku sudah berani mengikuti banyaak event dan menulis di blog ini. Tidak lupa dengan berat hati aku juga harus menyusahkan tetanggaku hanya sekedar pinjam laptop untuk menuliskan naskah yang telah kutulis. Perjuangan dan pengorbanan selalu menumbuhkan hasil, usaha yang kau beri itulah usaha yang akan kau dapat. Lelah, letih dan gagal sudah menjadi warna dalam hariku. Aku tidak menyesal memilih jalan ini, aku gagal dan aku bangkit lagi. Aku senang akan semua ini.

Seiring waktu berjalan, dengan segenap tenaga dan doa, akhirnya tabunganku cukup untuk membeli laptop. Aku bahagia, mimpi menjadi penulis akan segera terwujud. Tidak disangka justru ini awal dari semua. Semangatku kandas, aku lebih bersuka ria dengan FB dan twitter hingga lupa apa tujuan awal aku membeli laptop. Aku lupa dengan blog yang selama ini menemani hariku, aku lupa event-event yang ingin aku ikuti. Punya laptop bukan menambah semangat dalam menulis, melainkan rasa malas yang terus mendera dalam hidup. Aku masih ingin menulis dan mimpi menjadi penulis harus aku wujudkan.

Mana janjiku dulu, aku punya laptop, aku menulis sebanyaknya di blog. Tetapi hari ini, merasa tertampar. Blogku tidak ubahnya rumah yang banyak sarang laba-labanya. Bisa-bisa blogku menjadi angker karena tidak pernah ada postingan baru. Cerbungku masih berhenti, aku ibarat menggantungkan harapan sahabat yang setia membacanya. Walau tulisan atau cerpen masih terbilang sampah ini. Aku harus berubah, sesibuk apapun, blog ini harus terisi dengan postingan baru yang bermanfaat.

Bye ... bye sarang laba-laba, aku bersihkan sedikit demi sedikit hingga apa yang aku janjikan bisa terwujud.
Ya Allah ... Berkahilah setiap langkah hamba dalam kebaikan dan kebermanfaatan.
Aamiin

Selasa, 23 September 2014

Ada Cinta Di kota Santri. #part 8

“Menurut ukhty, kalung ini bagus, tidak,” tanyaku kepada Delia.
Sekonyong-konyong penjaga toko,
“Wah, kalian pasangan yang ideal, kalau kalung ini pasti cocok buat Mbak yang cantik ini,” potong menjaga toko.
Wajahku merona merah, kaget akan ucapan itu. Dengan lembut Delia menepisnya.
“Tidak, aku kesini cuma kebetulan bertemu dengan dia dan aku di suruh membantu memilihkan hadiah buat ulang tahun Ibunya.”

Kalung dengan bandul bunga, menjadi pilihanku untuk diberikan kepada Ibu. Semoga beliau senang dengan hadiah ini. dengan via pos ku kirimkan hadiah yang tak berarti ini jika dibandingkan pengorbanannya saat mengandung, melahirkan dan merawatku dulu.
***
“Kak, gimana jawaban sudah lebih seminggu, Dini menunggu,” ucapnya via telepon.
“Aku ….”
“Kak, Dini sudah siap, apa pun keputusannya itu mungkin yang terbaik bagi Dini. Jadi jangan ragu,” terangnya, yang mendengar suara gugupku.
Kuambil nafas dan mengucap bismilah.
“Afwan, Dini. Kakak tidak bermaksud menyakitimu sama sekali, jujur Kakak sudah menganggap Dini sebagai adik kandung dan tidak lebih dari itu. Untuk menikah, mungkin ada calon yang lebih cocok dengan Dini.”
Dadaku bergemuruh, peluh mengalir di pipi dan semoga ini keputusan yang terbaik untuk kami. Kudengar ada isak tangis di seberang telepon sana, Dini menangis. Tidak ada tanggapan dan telepon langsung dimatikan.
“Maafkan aku, Dini.”

Desakan itu juga bukan dari Dini saja, Nurjannah berkali-kali menghubungi untuk meminta keputusan dariku. Tidak ada alasan untuk menolak gadis soleha, anak Ustad itu. Aku binggung, apa yang harus aku lakukan. Istikharah sudah, yang ada selalu bayangan Ibu. Apakah jdohku itu pilihan Ibu? Tetapi, setiap aku bertanya kepadanya selalu terserah aku, Ibu cuma bisa mendoakan yang terbaik saja.

Ya … Rabb, mengapa begitu rumit. Jika dia jodoh untukku berikan petunjuk-Mu, walau sebatas mimpi. Dalam kebimbangan, hanya mendekat kepada-Nya, hatiku menjadi tenang. Ku rapalkan doa untuk calon bidadariku kelak. Semoga dialah yang bisa menjadi istri dan ibu yang baik dan soleha, yang melahirkan generasi yang kuat akan agamanya, yakni islam. InsyaAllah, Nurjannah …


Bersambung…

Jumat, 19 September 2014

Emak

Emak

Oleh : Yanuari Purnawan



Jum’at, 13 september 2013

            Hari itu, kau menyuruhku mengantar ke malang. Berat rasanya, melihat tubuh tua yang ringkih karena penyakit yang sudah tiga bulan menyerang. Menunggu, hingga tiba mobil datang… Ya, mobil penangkut barang kupersembahkan untuk kau. Anak macam apa aku ini? Tetapi tak pernah ada keluhan yang keluar dari mulutmu.
“Mak, doain aku punya mobil bagus, biar tak bisa rekreasi kemanapun Emak mau nanti,” ucapku, dengan berusaha menahan airmata untuk tidak jatuh.
Hanya anggukan pelan yang kau berikan. Kupeluk tubuh kurus itu dengan penuh rasa sayang.

Selasa, 17 september 2013

            Wajah itu! Hampir saja aku tak mengenalinya lagi, ini Emakku atau bukan? Wajahnya redup, kulitnya terkelupas, rambutnya tinggal segelintir dan suaranya tak bisa kudengar lagi. Emak, ada apa dengan kau? Setiap aku bertanya,
“Mana yang sakit, Mak.”
Kau hanya tersenyum, begitu kuatkah ragamu hingga mampu bertahan akan penyakit ini.
“Mak, makan dulunya?” tanyaku, sambil memeriksa selang kecil yang dipasang dihidungnya. Emak mengidap laryngitis, sehingga sulit bicara dan mencerna. Otomatis harus makan lewat selang tersebut. Setiap cairan semisal air susu kedelai yang dimasukan keselang itu, entah mengapa hatiku teriris. Tes… airmataku terjatuh juga, seharusnya aku kuat, Emak yang sakit saja kuat.
Lagi- lagi airmata ini jatuh, tatkala harus menggsok gigi Emak. Giginya yang jarang dan tak beraturan membuatku harus berhati-hati saat menggosoknya, takut akan melukai mulut yang begitu indah menebar nasehat untukku. Rumah sakit, sudah berapa banyak airmata terjatuh disana.
“Suster… Tolong pasien ruang no.7, infusnya terlepas,” teriakku diruang perawat.
Darah… Darah itu keluar dari tangan Emak, banyak sekali. Kuangkat tubuh itu dan memeluk dan menyanggahnya dari belakang. Bukan hanya darah yang mengalir kesekujur pakaianku tetapi juga muntahan Emak yang ternyata sedang kembung karena kebanyakan susu kedelai. Setelah setengah jam akhirnya Suster sudah selesai membetulkan infus Emak.
“Mak, sakitnya disuntik,” godaku, sambil memeluk tubuhnya. Emak jangan perginya, aku masih ingin memeluk dan tidur dipangkuan kau.

Jum’at, 20 september 2013

            Entah mengapa aku tak bisa tidur, bayangan Emak seolah menari berputar dalam pikiran. Setelah shalat malam, kubuka pintu dapur, kulihat sesosok bayangan wanita berbaju putih dan berambut panjang.
“Emak, tunggu aku. Disini aku merindu kau,” batinku.
Langit seolah runtuh, tubuhku lemas bak tulang ini terlolosi satu-satu, nafas tak beraturan dan airmata tumpah ruah.
“Emaakkkk…,” teriakku histeris.
Telepon seolah petaka yang tak terlupakan. Telepon dari paman yang sedang menunggu di rumah sakit, mengabariku Emak kritis.
Dengan tubuh yang terseok lemah, ku kuatkan diri untuk menemani Emak. Dalam perjalanan, selaksa doa, kupanjatkan untuk kesembuhanya. Emak kuat, tunggu aku, ya.
“Kamu yang sabar,” ucap Paman sambil menangis.
Mendengarnya, tubuhku lemas, terkapar di lantai rumah sakit dan menangis histeris.
Sebuah keranda tertutup kain hitam, terbujur kaku sosok wanita mulia. Melihatnya tangisku pecah lagi, aku tak kuat. Paman berusaha menenangkanku, aku harus kuat. Ku bacakan surat yasin di pinggir keranda itu walau dengan deraian airmata.
Di ambulance, kupegang tangan lembutnya.
“Mak, maafkan akunya belum bisa membuat kau bahagia dan selalu merepotkan.”
Lantunan surat yasin mengiringi kepergian kau menuju peristirahatan terakhir. Aku tak mampu melihat, jasad yang pernah menggendong, mengasuh dan mendidikku tertimbun tanah.
Ya Rabb, ampuni dosanya, terangi dan lapangkan kuburnya, ringankan siksa kuburnya dan tempatkan disisi-Mu, di tempat yang mulia serta kumpulkan kami kelak di surga-Mu.
Aamiin.
Kupersembahkan tulisan ini, untukmu yang selalu menyayangi kami. Terimakasih, Emak. Satu tahun kepergianmu, tak akan mampu menghapus setiap cinta yang pernah kau goreskan dihati ini.

Selesai.

Rabu, 17 September 2014

Gosip Cinta

Gosip Cinta
Oleh : Yanuari Purnawan



“Munafik.” Sekonyong kalimat itu melasat dari bibir manis Aliyah.
“Maksudmu,” ucapku.
Dikepalkan tangannya, wajah cantiknya berubah menjadi merah karena begitu geram akan gosip yang santer disekolah ini.
“Masak ada anak rohis pacaran, katanya mengerti agama tetapi…” kata Elsa.
“Yang benar, jangan su’udzon begitu. Ya, kalau itu benar tetapi kalau tidak.” Rahmi salah satu anggota rohis berusaha menelaah ucapan Elsa.
“Ya sudah kalau kalian tidak percaya, kebenaran pasti akan terungkap juga,” jawab Elsa.
Kulihat wajah Aliyah tidak seperti biasa, redup. Gadis yang biasa aktif dan ceria mendadak berubah seratus delapan puluh derajat.
“Aku tidak mengerti mengapa mereka tega, apakah satu tahun kebersamaan tidak cukup mengenalku?” Tangis Aliyah meledak dipelukanku.
“Sabar, ini hanya sementara, buktikan tuduhan itu hanya fitnah belaka,” ucapku sambil mengelus kepalanya. Begitu hebatkah kau fitnah hingga mampu melemahkan sahabatku, benar bahwa fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Dia telah berhasil perlahan menghancurkan Aliyah.
“Al, maaf jika ini membuatmu tersinggung, tetapi apakah kamu suka dengan Ustad Romi?” Tanyaku hati-hati.
Dia hanya mengambil nafas sebentar, lalu menatapku dalam. Apakah pertanyaanku membuatnya tersinggung.
“Aku mencintainya,Ra. Sebelum gosip ini beredar,” jawabnya dengan menunduk.
“Jadi, gosip itu benar. Kamu mengerti syariat tetapi mengapa melakukan hal itu.” Tidak habis pikir, mengapa Aliyah bisa melakukan hal itu.
“Maksudmu, aku seperti yang mereka bilang ‘ Munafik’ begitu. Kamu tidak akan pernah mengerti apa yang aku rasakan.”
Aku hanya terdiam, kutatap wajah sendunya yang masih menyisahkan bulir airmata dan pergi berlalu meninggalkanku.
***
“ Saya terima nikah dan kawinnya Nur Kumalasari binti Imron dengan mas kawin tersebut tunai,” ucap Ustad Romi tegas, waktu pernikahannya dengan Mala.

Ternyata inikah rasa yang terpendam dari Aliyah, tetapi mengapa dia tidak jujur saja.
“Ra, maafkan aku tidak jujur kepadamu, aku tidak mau ada yang tersakiti,” ucap Aliyah kala di mushalah sekolah.
“Maksudmu,” tanyaku penasaran.
“Ternyata Ustad Romi sudah tunangan dan akan menikah dengan Kak Mala.” Sedikit ada gurat kesedihan diwajahnya.
“Terus mengapa bisa ada gosip antara kamu dengan Ustad Romi?”
“Aku juga tidak mengerti, mungkin Elsa melihatku dibonceng ustad Romi. Saat itu Kak Mala mengundangku keacara lamarannya karena sudah malam Kak Mala menyuruh Ustad Romi mengantarku,” terangnya.
Tes… Airmatanya tumpah juga, seperti ada beban yang dia rasakan. Aku paham bagaimana perasaannya sekarang. Kupeluk dia dan menangis bersama. Biarlah gosip itu berlalu bersama angin dan membawanya pergi bersama luka sahabatku, Aliyah.

Selesai.





Senin, 15 September 2014

Ada Cinta Dikota Santri. #part 7

Assalamualaikum…
Akhy Dimas di kota santri
Kota para mujahid ilmu
Yang selalu bercahaya.

Afwan jika surat ini lancang saya kirim, tetapi apa daya bagi wanita lemah bak siti nurbaya diabad milinium ini.
Saya tidak mau berakhir seperti Romeo dan Juliet, yang harus tragis karena suatu perjodohan. Akhy, saya dijodohkan dengan seorang pria dari kudus namanya Ustad Fadil, dia adalah anak sahabat abah ketika masih nyantri di kudus dulu. Jujur abah menyerahkan perjodohan ini kepada saya, beliau tidak mau memaksa jika tidak setuju.
Berat sekali menolak lamaran pria ini, selain anak sahabat abah tetapi juga riwayat hidupnya sangat mengagumkan. Dia lulusan al-azhar, sekarang salah satu staf pengajaran dipesantren dan doasen tamu di UGM.
Sungguh tidak ada alasan yang tepat untuk menolaknya, saya begitu bimbang dilain sisi abah sangat berharap saya menerima pinangan ini, tetapi apakah saya mampu untuk mencintainya. Karena jujur ada ruang khusus yang telah mengisinya, yaitu cinta akan seoarang ikhwan yang rela mengorbankan diri hanya untuk menyelamatkan seorang gadis yang tak dikenalnya.
Saya mencintai akhy, jika memang akhy juga memiliki rasa yang sama, saya harap segera dihalalkan. Pinang saya, maka masalah perjodohan ini selesai.
Saya tidak berharap lebih, tetapi saya tidak cinta ini hancur dan binasa, karena sesungguhnya cinta itu suci sesuai fitrahnya.

Yang lemah tiada daya

Nurjannah

            Ada apa ini, mengapa begini? Disatu sisi apakah aku pantas dicintai anak seorang ustad dan apa yang harus aku lakukan. Seharusnya aku bangga dan bahagia karena sudah ada dua gadis soleha secara terang menyatakan cinta.
Naif! Sungguh ini pilihan berat dan tidak terasa airmata mengalir, apa yang mereka lihat dari pria yang berlumur dosa, bodoh dan miskin ini.

Apakah tidak ada yang lebih pantas untuk mereka, Andi ataupun Ustad Fadil, mungkin lebih pantas.
Dalam setiap sujudku, selalu memohon agar masalah ini segera terselesaikan dengan baik. Aku tidak ingin menyakiti hati siapapun. Aku tidak ingin nama baik ini dicap sebagai pria penjajah wanita. Astagfirullah!!!

            Lamgit pagi ini begitu cerah, entah tidak mampu mencerahkan hati yang dilanda kebimbangan. Kulihat kalender, hari ini ulang tahun ibu.
Aku segera memacu sepeda motor ke toko perhiasan, semoga kado menjadi kejutan terindah dihari istimewahnya.
Sebelum masuk, kulihat gadis berhijab. Kurasa aku mengenalnya dan ternyata benar dugaanku.
“Assalamualaikum, Akhy.”
“Waalaikumsalam,” jawabku gugup ketika dia tiba-tiba menyapa.
“Ada acara apa, kok ke toko perhiasaan? Jangan-jangan mau lamarannya,” tanyanya.
Pertanyaan itu, membuat wajahku seketika memerah seperti udang rebus. Entah dia mengerti atau tidak.
“Lamaran? Sama siapa, calonnya saja belum ada hehe,” jawabku malu-malu.
“Kalau sama Mbak Nurjannah bagaimana?” ucapnya.

Jlebb… Apakah dia mengerti akan surat itu? Tanda tanya dalam otak ini semakin besar, mengapa harus seperti ini. aku benar-benar tidak mampu menjawabnya. Bibirku keluh, sulit untuk berbicara. Kutatap wajah gadis didepanku, begitu sejuk dengan hijabnya dan aku hanya mampu tersenyum.


Bersambung….

Ada Cinta Dikota Santri. #part6

Aula pesantren berubah bak acara seminar kelas atas, begitu banyak santriwan dan santriwati yang berduyun-duyun untuk mendapatkan cahaya ilmu. Tiba-tiba rasa minder menggelayuti hati, berulangkali tasbih ku baca tetapi tak cukup menenagkan hati ini.


“Akhy, ternyata sudah datang,” sapa Delia, yang begitu anggun dengan jilbab birunya.
“Ayo, akhy duduk disebelah sana,” lanjutnya sambil menunjuk kursi didepan aula.
“Ya, Allah berikan hamba kelancaran dan kemudahan, bismillah,” batinku.

Acara yang dimoderatorin oleh Nurjannah sedikit membuatku sedikit grogi. Kulihat dari depan ternyata begitu banyak yang hadir hingga tempat duduknya tidak cukup.
“Assalamualaikum, hadirin yang dirahmati Allah, terimakasih telah hadir dalam acara “Bedah buku cinta itu!kok gini, buku karangan dari penulis muda tak lain adalah Delia Kumalasari, novel pertama yang menceritak bagaimana cinta itu harus dikemas menurut koridor syar’i,” terang Nurjannah, memulai acara.

Setelah pembukaan dari moderator, diisi pembacaan kalam ilahi. Ternyata bacaan tersebut mampu menenangkan hati. Dan dilanjut dengan prolog singkat dari sang penulis. Acara inti pun dimulai yaitu tanya jawab.
Satriwan berkaca mata, segera memberikan pertanyaan.
“Dalam salah satu bab dalam buku tersebut berjudul “Yang muda yang bercinta” tolong dijelaskan maksudnya itu bagaimana?terimakasih.”
Moderator pun mempersilahkan Delia menjawab terlebih dahulu.

“Mengapa aku mengambil kalimat “Yang muda yang bercinta” karena begitu banyak pemuda salah mengartikan apa itu cinta? Hingga mereka terjerumus kedalam kubangan kemaksiatan, misalnya pacaran. Mengapa mereka mengambil langkah itu?karena mereka belum mampu untuk menikah. Jadi, atas dasar cinta pemuda banyak yang melanggar aturan agama. Cinta bagi pemuda alias remaja yang belum siap menikah adalah dengan cinta kepada Allah, orangtua, ilmu dan negaranya. Itulah maksud dari “Yang Muda yang bercinta.” Terang delia, begitu anggun dalam penyampaiannya, tepuk tangan pun bergemuruh didalam aula.

“Sekarang giliran akhy Dimas,” ucap moderator sambil memandang kearahku.
Dengan sedikit mengambil nafas dan mengucap basmallah,

“Yang muda yang bercinta… Menurutku sebagai yang masih awam dalam dunia percintaan. Pemuda yang mampu menjaga cinta sesuai fitrahnya. Cinta bukan asal ucapan “I Love You” yang sering kita dengar, tetapi dari itu. Allah menciptakan dengan Ar-Rahman dan Rohim-Nya, yang artinya Maha pengasih lagi Maha penyayang. Semoga ini menjadi landasan kita terutama bagi pemuda yang masih labil untuk menjaga cintanya untuk dia persembahkan bagi yang halal menerimanya. Pemuda bercinta dengan ilmu, sehingga dia mengerti jalan mana yang akan ditempuh jika cinta datang. Jangan obral cinta, karena cinta itu amanah yang akan dipertanggung jawabkan kelak diakhirat.”

Tepuk tangan pun memecah suasana diaulia. Sesi tanya jawab pun berlangsung meriah. Ba’da ashar pun acara selesai.
Kulihat begitu banyak pemuda khususnya santriwan ataupun santriwati yang bhaus akan ilmu. Semoga ilmu yang sedikit bisa bermanfaat bagi semua. Dan menjadi ladang amal yang mengalir hingga nanti ketika kita mati.

            Dikamar kost, kulihat undangan merah jambu tertulis, menikah Ratih permata sari dengan M. ikhsan.
“Alhamdulilah, akhirnya dia mendapatkan pasangan yang cocok. Bagaimana jika aku menuruti saran Andi untuk terima cintanya sebagai mainan,” batinku.
Semua menikah, lha aku kapan. Tiba-tiba aku teringat acara tadi, cinta itu fitrah. Benarkah, masih adakah cinta untukku?
Dalam sujud malam, kuadukan segala gundah yang menyesak dihati.
Ya Rabb, tiada yang kuasa selain atas kuasa-Mu. Ampuni segala dosa yang nyata maupun tersembunyi. Jadikan setiap cinta yang ada hati ini berlabuh atas izin-Mu. Jangan biarkan hamba lalai atas cinta yang Kau titipkan untuk hamba.
Aamiin
“Mas, ada titipan amplop dari Nurjannah tadi,” ucap Andi, sambil menyerahkan amplop berwarna putih.
“Terimakasih,” jawabku sambil berlalu menuju kamar.

Kulihat beberapa lembar uang dan secarik kertas.
“Apa-apaan ini,”pikirku.
Kubaca secarik kertas tersebut dan… Deg!!!

Bersambung….