Senin, 12 November 2018

A Man Called Bapak

Selasa, 12/11/18

Engkaulah nafaskuYang menjaga di dalam hidupkuKau ajarkan aku menjadi yang terbaikKau tak pernah lelahS'bagai penopang dalam hidupkuKau berikan aku semua yang terindah

Reff:Aku hanya memanggilmu ayahDi saat aku kehilangan arahAku hanya mengingatmu ayahJika aku tlah jauh darimu

   (Ayah - Seventeen)




Jujur aku sama bapak tak pernah dekat, tapi semenjak ibu meninggal benteng ego itu perlahan terkikikis. Dulu bagiku beliau adalah laki-laki yang pendiam, acuh dan tak bertanggung jawab pada keluarga. Malu, itulah kata yang tepat untuk mendeskripsikan tentang beliau. Karena, dimataku yang penuh keegoan tersebut, ibu adalah tulang punggung keluarga. Lalu otak kecilku berkelana dimana peran seorang suami dan bapak itu?

Sebegitukah egoku tersebut! Mungkin lebih, ketidaksukaanku terhadap bapak hanya mampu aku pendam dalam hati dan pikiran. Benar, aku masih punya budaya ketimuran untuk sadar tentang apa itu andap asor alias sopan santun. Walau begitu, gerak-gerikku terhadap beliau sekedarnya atau seperlunya, bahkan jarang banget bertegur sapa. Bapak adalah musuh dalam ruang egoku yang masih labil dalam mengertikan kehidupan yang sebenarnya.

Enam tahun lalu, ibu sakit dan berjuang melawan penyakitnya. Kembali pertanyaan berkecamuk di dada kemana peran suami dan bapak sebagai kepala keluarga? Perih itu semakin mengangah lebar tatkala Tuhan mengambil satu sayap dalam hidupku. Ibu. Kenapa harus ibu? Ego perang dengan pikiran kalutku saat itu.

Kematian itu perlahan menampilkan pembelajaran baru bagi hidupku selama ini. Bapak yang dulu aku lihat acuh, luruh dalam sedih, air mata itu jatuh perlahan membasahi wajah keriputnya. Tuhan, kemana saja aku selama ini? Bapak yang selama ini berjuang dalam diamnya, ternyata menyimpan luka paling dalam di hatinya? Tuhan jangan hukum hamba yang lalai dan lena dalam ego bahwa bapak adalah musuh. Di saat anak lain membanggakan bapaknya, aku malah malu menyebutnya pahlawan dalam keluarga. 

Kali ini benteng keegoan itu luruh dan hanyut dalam perasaan banggaku kepada bapak. Beliau memang sosok  pendiam dan terkesan acuh. Namun dari sikapnya tersikapnya tersebut, aku belajar bahwa bapak tak ingin istri dan anak-anaknya khawatir. Beliau berjuang tenaga, pikiran dan hidupnya agar kami hidup layak, hidup dengan menjaga martabat keluarga dan berkorban untuk waktu senangnya buat kami. 

Bapak, kini aku sadar arti diam dan acuhmu. Bukan tetang ketidakmampuan menjadi kepala keluarga, tapi semua itu bapak lakukan semata bentuk cinta dengan cara yang berbeda untuk keluargamu. Terimakasih atas keringat dan perjuanganmu, Pak. Maafkan anakmu ini yang belum bisa membuat engkau tersenyum bangga. Namun, kami anakmu sangat menyayangimu, bapak.

Selamat Hari Bapak/ Ayah/ Papa/ Daddy/ Bokap Nasional.




Sabtu, 10 November 2018

LAMA

Minggu, 11/11/18



Hey... My Blog, how are you? Kuharap kamu baik-baik saja walau sudah lama banget tak pernah aku sapa kurang lebih satu tahun ke belakang. Tadi, kukira kamu sudah penuh sarang laba-laba dan mulai angker untuk dikunjungi lagi. Ya Tuhan, maafkan aku telah melalaikan blog yang kubuat dengan susah payah dulu.

Kini aku ingin sedikit menyapamu dan kembali memperhatikanmu. Kuharap kamu tak menyalakanku selama itu menelantarkanmu tanpa ada karya apapun di berandamu (Eh... Emang aku punya karya T.T). Oh iya, apakah kamu juga merindukanku? Pembaca juga (eits... emang siapa yang mau baca blog receh gini), lagi-lagi mengelus dada dan menampar diri, "sadar woy!"


Dari bentuk kekurangan ajaranku kepadamu, izinkan aku kembali menuliskan semua apa yang di otak dan imajinasiku, pertanyaannya apakah kamu mengizinkan? Of course, pasti kamu rindu juga 'kan! (Jangan sok kepedean deh!)


Maaf sekali lagi, jujur aku tak perlu beralasan mengapa selama ini aku acuh kepadamu hingga efeknya tak ada satu tulisan baru pun terpampang nyata di berandamu. Malas, write block atau sejenisnya menurutku basi jika menjadi alasan selama setahun aku meninggalkanmu. Mungkin kamu beranggapan sudah berbuat tapi tak bertanggung jawab. Oke, aku memang salah, tapi salah kamu juga tak semenarik aplikasi lain yang terkini dan viral, kamu tetap seperti itu-itu saja. Jangan sedih ya! Memang begitulah sifat manusia, ada yang baru dan lebih oke pasti lupa dengan yang lama. Ingat tak semua seperti itu kok. Mungkin mereka termasuk saya berpaling darimu hanya sebagai pelarian sesaat hingga lupa lalu mati suri hehe.


Menyadari itu aku benar-benar tertampar lalu tertantang untuk kembali padamu. Bersamamu menuangkan apa yang menjadi gundah gulana dalam pikirian. Karena, aku sadar hanya dirimu yang paling mengerti diriku ini. Menulis dengan tak sopannya hingga dibilang ceker ayam pedas oleh sebagian orang, tapi kamu setia mengekspos semua itu tanpa komplain. Terimakasih, kamu menerimaku kembali, menuntun jari untuk nyaman di rumah yang dulu ada menemaniku dalam kondisi apapun. Love you, My Blog!💓💓



--Maaf Banget Buat Para Pembaca Ini hanya tulisan receh dari pikiran penulis receh pula--




Salam Rindu dari aku buat semuanya!!!^^ Adakah yang rindu denganku? Jika ada silahkan komentar bagaimana blog ini ke depannya. Terima kasih.

Sabtu, 20 Januari 2018

Dancing With The Rain

Dancing With The Rain
Yanuari Purnawan


Apa yang kamu sukai dari hujan? Aku begitu menyukai hujan karena setiap tetesannya menyadarkanku bahwa aku tak sendirian di dunia, yang hancur menjadi kepingan terlupakan.
*
Awan mendung menyelimuti kota Pasuruan, mungkin sebentar lagi hujan segara turun. Aku bersyukur datang lebih awal dari waktu yang telah dijanjikan. Jam tiga sore kafe tempat kita janjian masih sepi dan lenggang, dekorasi ala vintage menambah suasana hangat. Aku memilih duduk di sebelah jendela karena viewnya menghadap ke arah jalan yang tak terlalu ramai.
“Mau pesan apa?” sapa sang pelayan sembari tersenyum.
“Nanti saja, Mbak. Aku sedang menunggu teman!” Sang pelayan pun pamit. Aku menatap kaca di sampingku, di luar tampak gerimis sedang bermanja ria.
Kalimat itu kembali terngiang dipikiranku. Adel, sahabatku sejak sekolah dasar itu selalu tepat menebak apa yang kini melanda perasaanku. Bagai cenayang, dia mengintrogasi semalaman hingga mendamparkan aku di sini untuk bertemu dengannya. Aku yakin ini sangat serius baginya, karena dengan jadwal kerjanya sebagai editor majalah yang begitu sibuk tak mungkin dengan mudah meluangkan waktunya buat bertemu denganku.
Gerimis menjelma menjadi koloni air yang tak mampu di bendung awan hingga membuat sebagian orang sibuk berlindung darinya.  Mataku terfokus pada seorang gadis berkemeja kotak-kotak biru masuk ke dalam kafe. Aku tersenyum lalu melambaikan tangan ke arahnya. Dia pun membalas dengan lambaian lalu menuju ke arah mejaku.
“Maaf, gue telat. Biasa bos zaman old itu selalu menambah jam kerja lebih lima menit!” gerutu Adel sambari menyandarkan punggungnya di tempat duduk. Aku tersenyum melihat tingkahnya yang begitu kesal terhadap atasannya.
“Sabar, Bu! Mungkin bos loe itu lagi puber kedua jadi suka main aturan sediri.” Cewek berambut sebahu itu terkekeh lalu melambaikan tangan ke arah pelayan.
“Loe mau pesan apa!”
“Emm … cappuchino saja deh!”
Sembari menunggu pesanan aku mengotak-atik smartphoneku yang sedari tadi menunggu notif whatsup darinya, lelaki itu, lelaki mayaku.
“Kita janjian kesini bukan untuk diam-diaman nunggu pokemon lewat kayak gini kan!” sindir Adel yang beberapa menit ini aku acuhkan. Aku hanya terkekeh sambil menautkan jari telunjuk dan tengah membentuk huruf V.
“Seberapa lama lagi loe bertahan untuknya?” Perkataan cewek tomboy tersebut langsung ke inti permasalahan yang kita bahas kemarin malam. Mataku hanya terfokus pada kaca yang menampilkan tetesan air seolah mengamuk, seperti kecamuk di dalam hatiku. Bertahan? Mungkin akulah orang yang paling sabar dalam hal bertahan dalam hubungan seperti ini.
Pesanan pun datang, sedikit memecah kebisuan di antara kita.
“Loe boleh saja betahan untuknya, tapi ingat jangan hancurkan hidup loe untuk perasaan maya tersebut!” lanjut Adel mulai ke inti masalah dari hubunganku dengan seorang lelaki yang selama enam bulan lebih aku kenal. Iya. Adel selalu mengerti dan menerima tentang pilihan hidupku asal itu baik dan membuatku bahagia. Sejak SMP dia sudah mengetahui bahwa aku punya ketertarikan berbeda dengan cowok seusiaku.
“Gue … !” Seolah ada duri menempel di tenggorokan susah sekali untukku menjelaskan perasaanku kepada Adel. Aku mengaduk cappuchinoku sambil menatap hujan yang masih setia dengan hebatnya mengamuk bumi.
“Jika loe masih anggap gue sahabat, gue mohon loe ambil keputusan yang tepat!” Aku menunduk pasrah akan perasaan ini yang tak tahu harus dibawa kemana. Adel benar aku harus segera mengambil keputusan sebelum semua membinasakan diriku selamanya.
Enam bulan lalu, tepatnya di akhir bulan Januari, aku mengenal lelaki itu melalui jejaring social facebook. Awalnya aku hanya menyukai status-statusnya yang begitu mengena di hati lalu merambah ke blog pribadinya yang berisi kumpulan cerita dunia pelangi. Oh Tuhan, aku benar-benar jatuh hati pada setiap tulisannya. Tanpa sadar dan diminta rasa kagum akan karyanya menjelma menjadi rasa suka kepada orangnya. Dari situlah awal benih-benih cinta itu muncul.
   Aku selalu menunggu setiap update terbaru baik itu status ataupun tulisannya. Bagai tersihir aku sangat mencintai apa yang ada pada dirinya atau lebih tepatnya setiap yang dia posting di media sosial. Dari komentar-komentarku mengenai tulisan di blog maupun statusnya yang dia respon dengan cepat. Hingga tanpa sadar hubunganku dengannya tak hanya sekedar antara penulis dengan penggemar, melainkan sudah mulai masuk ke area pribadi bernama perasaan cinta.
‘Hujan mengingatkan pada senyum itu. Dari bibir munggil dan pipi cubbynya.’
Membaca status terbarunya membuat diriku baper. Apa itu untukku? Rindukah dia kepadaku? Benarkah jika status yang dia tulis tersebut buatku. Sambil tersenyum tak jelas aku mengetik di kolom komentar statusnya.
“Cie, buat siapa tuh statusnya, Kak?”
Beberapa menit tak ada tanggapan darinya, biasanya dia begitu cepat membalas komentarku. Namun, kali ini begitu beda, apa yang terjadi dengannya atau aku yang salah tempat berkomentar begitu. Aku benar-benar galau hanya sekedar menunggu balasannya, sedang akun facebooknya dalam tanda online.
“Hai, Lilbro, sorry untuk komentarmu terlalu privasi buatku!”
Oh Tuhan, ini pertama kalinya dia membalas pesan messanggerku. Bagai terbang ke langit dan lupa menginjak bumi, aku begitu bingung untuk membalas pesannya walau kita tak saling bertatap muka langsung.
“Sorry, membuat kakak tidak nyaman dengan komentar tersebut!” balasku dengan harap-harap cemas apakah dia akan membalasnya. Yes! Dia membalasnya dengan emoji jempol gede. Aku tersenyum sendiri dan buru-buru membalas pesannya dengan emoji smile lebar. Semalaman kita saling berbalas emoji tanpa ada kata apapun, tapi mampu membuatku bahagia dan seperti ada kupu-kupu di dalam perutku.
Dari situlah kedekatanku secara pribadi mulai terjalin dengan dia. Aku menyukai cara dia menjawab pesan-pesanku baik itu dalam dunia literasi maupun pribadi. Mungkinkah aku mulai jatuh cinta kepadanya walau kita tak pernah bertemu? Ini gila, tetapi aku menikmati dan menyukai semuanya.
“Hai … gue ke sini bukan untuk menunggu loe melamun!” Adel membuyarkan semua lamunanku tentang dia, entah sedang apa dia sekarang? Kenapa ini? Haruskah aku mengakhirinya. Aku menghela napas panjang lalu kembali menyesap cappuchinoku yang mulai dingin.
“Arya, gue tahu banget perasaan loe kepadanya. Namun, apa mesti loe harus membakar diri loe sendiri!”
Mata Adel tajam menatap diriku, tergambar jelas dari raut wajahnya yang begitu mengkhawatirkan diriku.
“Mungkin ini bukan jalur gue mencampuri urusan personal loe. Namun yang mesti loe ingat gue sahabat loe dan tak ingin melihat loe terluka berlarut-larut seperti ini.”
Perkataan Adel barusan berasa menohok kembali rasa yang masih terpatri di hati ini. Aku menatap hujan yang masih begitu lebat ditambah kilatan petir yang membuat diri ini kecil dan merinding. Bagai lampu blitz kilatan petir mengingatkanku kembali kepadanya yang mungkin tak mengingatku kini.
“Aku mencintai kakak!”
Sudah tiga bulan lebih aku menyimpan semua perasaan ini kepadanya. Entah setan darimana, aku begitu berani menuliskan kalimat tersebut di kolom pesan pribadinya. Biarlah, semua telah terjadi dan aku harus siap menghadapi apa yang akan terjadi nantinya. Semenit, dua menit, hingga lima menit pesanku hanya dibaca saja olehnya. Aku begitu frustasi, apa dia marah kepadaku? Atau apakah dia tidak menyukaiku?
“Sorry, barusan ada urusan. What? Kamu mencintai kakak? Maksudnya?”
Membaca balasan pesan darinya membuat diriku gugup dan bingung harus bagaimana.
“Emm … selama tiga bulan ini aku begitu nyaman dekat dengan kakak. Aku menyukai tulisan kakak, status kakak dan cara kakak membalas pesan dariku. Kak, mungkin ini konyol dan tidak masuk akal, tapi bagaimana lagi aku tak bisa mengontrol rasa ini yang terlanjur menautkan hatiku kepada kakak. Namun, sekali lagi aku tak memaksa kakak untuk juga mencintaiku. Dengan berkata jujur begini, ada sedikit rasa lega di hatiku walau terkesan naif.”
Kembali dia hanya membaca pesan dariku tanpa cepat membalasnya. Apa mungkin dia sedang berpikir dan punya perasaan juga kepadaku. Tuhan jangan hukum aku walau tahu ini salah, tapi aku sungguh mencintainya.
“Dek, selama itu pula kakak juga merasa nyaman. Namun, untuk bilang ini cinta, kakak tak mau buru-buru karena mungkin saja kenyamanan ini hanya sebatas pertemanan dunia maya dan tak lebih dari itu. Kita jalani dulu semuanya, tetap jadi adekku yang lucu, cubby, dan baik.”
Mengingat pesan tersebut aku jadi tersenyum sendiri. Sejak saat itu pula hubunganku dengannya lebih merambat ke area pribadi dibanding lainnya. Tanpa ikatan apapun, aku merasa bahagia karena sejatinya cinta tetaplah cinta walau tanpa embel-embel pacar atau kekasih.
“Gue tak tahu bagaimana bisa menghilangkan bahkan membunuh perasaan ini!”
Terangku sambil menatap lembut wajah sahabat tomboyku tersebut. Adel tersenyum dan menatap kaca jendela kafe yang basah oleh tetesan hujan.
“Apa loe pernah kehujanan?”
Aku bingung mengapa Adel malah memberiku pertanyaan yang tak ada sangkut pautnya dengan perasaanku.
“Setiap orang pasti pernah kehujanan. Bahkan baru kemarin gue kehujanan gara-gara lupa bawa jas hujan.”
Adel terkekeh mendengar jawaban polos dariku. Rasanya ingin aku timpuk dia, tapi aku masih sadar dia adalah sahabat terbaikku satu-satunya.
“Gue memang bukan orang bijak atau lebih tepatnya bukan sahabat yang baik buat loe. Namun, gue ingin bilang ini kepada loe. Seandainya kita kehujanan hanya ada dua pilihan, berlindung atau berbasah ria menikmati hujan. Oke. Sekarang jawab jujur, saat loe kehujanan kemarin loe pilih opsi mana?”
Eh, kok dia malah kasih pertanyaan kembali. Apa yang terjadi dengan otak sahabatku satu ini. Apa karena frustasi dengan sikapku dia jadi seperti ini.
“Mungkin karena gue nggak bawa jas hujan dan terlanjur basah juga, gue memilih menikmati hujan walau akhirnya badan gue terasa sakit semua.”
“Seperti itu pula perasaan loe kepadanya!”
Untuk kesekian kalinya aku dibuat bingung dengan pemikiran Adel. Apa hubungannya lagi antara hujan dan perasaanku.
“Maksud loe, gue harus menikmati perasaan ini?”
Aw! Dia menjitak kepalaku dengan kasarnya lalu menatapku penuh amarah beserta kasihan.
“Oh God, kenapa gue punya sahabat sebodoh loe sih? Oke dengar baik-baik, menurut orang bijak di luar sana, ‘jika diri kamu kebasahan oleh hujan, maka nikmati dan menarilah bersama hujan’ begitupun dengan perasaan loe!”
“Intinya jangan pernah loe berusaha untuk menghapus rasa itu di hati. Namun, nikmati semua dengan keikhlasan dan kerelaan dengan apa yang akan terjadi ke depannya. Hadapi perasaan itu, jika dia memang terbaik dan pantas diperjuangkan dia pasti akan datang sendiri dengan cara terindah yang belum pernah loe duga sebelumnya.”
Mataku berkaca , tapi tak sampai meneteskan air mata. Perkataan Adel barusan membuka kembali apa yang sebenarnya terjadi pada apa yang sedang bergejolak di dalam dada ini. Perjuangan? Tidak. Lebih tepatnya ini pengorbananku sendiri. Dalam dua minggu ke belakang aku dengannya memang sedang dalam posisi untuk mencari dan menerka apa yang harus kita lakukan ke depannya. Aku sudah terlanjur basah oleh perasaan cinta berlebih kepadanya. Namun yang menjadi pertanyaan besar apakah dia juga memiliki cinta yang sama kepadaku.
“Aku lelah kak harus begini terus. Apakah kakak tidak punya rasa apapun untukku?”
Tulisku di pesan pribadi untuknya. Sudah beberapa hari ini dia tak menjawab pesanku baik itu whatsup maupun messenger. Sungguh kondisi seperti ini membuatku frustasi antara rindu, khawatir, takut dan semuanya berasa campur aduk. Aku sangat mengerti kalau dia orang yang moody-an, tapi bisakah dia meluangkan waktunya sebentar untuk membalas pesanku atau hanya sekedar menuliskan kata ‘hai’ di pesan pribadi.
Enam bulan mengenalnya, aku sudah hafal sekali dengan sifatnya, tapi apakah dia juga sudah mengenal sifatku. Tuhan, kurasa otakku ingin meledak jika sehari saja tanpa kabar darinya. Namun, apa yang terjadi setelah dia mengabaikan pesan dariku? Dengan mudahnya dia menuliskan sebuah status di media sosialnya.
“Mungkin ini saatnya aku harus hiatus dari namanya media sosial.”
Membaca statusnya tersebut membuat dadaku terasa nyeri bagai ada tombak menancap di hatiku. Sakit walau tak berdarah, kutahan air mata ini untuk tak terjatuh. Namun, rasaku untuknya begitu dalam tanpa bisa aku kontrol bening hangat itu mengalir di pipi.
“Kenapa kakak harus hiatus segala dari media sosial? Apa kakak tak memikirkan orang yang mencintai kakak?”
Kalimat itu aku tulis ke pesan whatsupnya,  berharap kali ini dia mau membalas pesan dariku.
Aku bahagia. Ada setitik harapan untukku. Kali ini dia tidak mengabaikan pesanku, tetapi apa yang aku bayangkan menjadi redup seketika tatkala jari ini menekan pesan balasan darinya.
“Nggak usah lebay napa, Dek! Kakak cuma hiatus bukan meninggal.”
Apa yang terjadi dengan otaknya, pernahkah dia menghargai sedikit saja perasaanku. Enam bulan bukan sebentar kedekatan kita terjalin. Namun, beginikah apa yang dia rasakan kepada.
“Mungkin bagi kakak ini lebay, tapi bagiku ini adalah rasa yang ada di hatiku. Jujur aku takut jika kakak harus meninggalkanku. Kakak pasti tahu apa yang pernah terjadi pada hidupku dulu. Atau kakak sengaja ingin mengulang sejarah kelam untukku!”
Kukeluarkan segela keluh kesah yang selama ini terpendam di dalam hati ini untuknya. Tak perlu waktu  lama dia pun menanggapi pesanku tersebut.
“Dek, sekali lagi aku bilang sebelum dirimu terbang hingga lupa memijak tanah. Ingat pada realita hidupmu, ini bukan sekedar cerita fiksi atau drama korea.”
“Iya, aku paham itu, tapi bisakah kakak tidak pergi untukku?”
“Dari dulu aku tak pernah menahanmu, Dek. Aku selalu bicara kenyataan, lupakan semua rasa itu untukku, tak mungkin kita bersatu. Maaf. Kukatakan aku hanya menganggap kamu teman tak bisa lebih dari itu!”
Jleb! Serasa ada jutaan anak panah menembus dada dan hati hingga aku mati rasa. Jahat. Kata itu yang mampu terucap dari mulut ini. Sekejam itukah dia sebenarnya, enam bulan seakan memberiku angin surga, tapi apa kini yang dia beri, bara api neraka yang membakar diriku sendiri menjadi abu.
“Apa loe sanggup menari bersama perasaanmu?”
Tangan Adel mengenggam jemariku, seakan memberiku kekuatan untuk tetap tegar dan bangkit lagi. Gara-gara kejadian itu pula yang membuatku bersamanya duduk di meja kafe ini. Aku bersyukur masih punya sahabat yang begitu baik dan peduli kepadaku. Terima kasih Adel, kamu masih sudi menerima sahabat bodohmu ini dan kumohon pada Tuhan untuk selalu menjagamu dalam kebahagian serta kebaikan.
Aku mengangguk sambil menatap wajah sahabatku tersebut. Ada raut lega dari wajahnya yang tak cantik itu. Namun, aku begitu menyayangi dia yang begitu ajaib dengan sikap dia dalam menasihatiku.
Hujan kini menyisahkan tetesan gerimis, mobil dan motor mulai memecah jalanan yang sedari tadi lenggang diamuk hujan.
“Sudah sore nih, gue harus cabut dulu sebelum magrib gue harus sampai  rumah. Loe taukan nomor yang harus loe hubungi jika butuh teman curhat!” ucap Adel sebelum berpamitan. Aku kembali tersenyum dan memeluknya sebentar. Tubuh mungilnya pun menghilang di balik pintu kafe. Sedang aku masih tertegun menatap kaca yang basah oleh hujan barusan, cappuchino pun telah habis. Entah mengapa aku masih betah di sini atau lebih tepatnya memberi jeda pada diriku untuk memahami nasihat Adel.
Aku pun membuka jurnal pribadiku dan menuliskan sesuatu yang masih mengganjal di dalam hati. Mungkin dengan sedikit menuliskannya akan mengurangi beban yang kurasa kini.
Pada hujan yang pernah mengetuk hatiku
Izinkan aku menikmati setiap tetesmu
Walau aku tak mampu menjamahmu dalam nyataku
Biarkan aku menikmati alunan simponimu
Biarkan aku menari bersama senandungmu

Pada hujan yang menyebut namamu
Mengusik rinduku dalam setiap tetesmu
Mengalir dalam denyut nadiku
Membasahi setiap ragaku
Biarkan aku menikmati tarian bersamamu

Pada hujan kemarin, hari ini, dan esok
Biarkan aku menyebut namamu
Namamu yang pernah membasahi hati ini
Namamu …
Iya, namamu yang kukenang dalam hujan
Walau dirimu adalah kemarau

_Untukmu Lelakiku, Triawan Al Ghifari_

Selesai














Rabu, 29 November 2017

Cinta di Atas Kerutan Kening


|Cinta di Atas Kerutan Kening|
By: Muhammad Asqalani eNeSTe


Dy: Qubeb, bolehkah aku mencium keningmu dengan panas bibirku, agar agama dan segala pemahamanmu retak. Qubeb: jangan mushankan aku Dy, seperti cintamu yang bergelantungan itu, aku tak ingin jatuh tanpa agama. Dy: oh, kekasihku yang teramat rapi menyimpan cumbu, keluarkanlah segala kemunafikanmu, agar kita benar-benar menikmati hidup tanpa baju. Qubeb: tidak Dy, aku tak sehina itu, jangan pernah kauhina jiwaku yang tetap percaya keperkasaan Tuhan yang gemar menunggu. Dy: oh! Qubeb: tinggalkan aku dengan segala sendu dan airmata yang masih menggenang mengenang ibu, hilanglah dari hidupku jika ini semua menurutmu pilihanku paling keliru. Dy: tidak sayang, aku mencintaimu, seperti halnya Tuhan yang bergonta-ganti baju itu. 2017

Muhammad Asqalani eNeSTe. Suka berbicara Bahasa Inggris. Rentang tahun 2021-2028 bercita-cita tinggal di Australia. Aktif di Community Pena Terbang (COMPETER). WA: 082385449383. Buku puisinya yang akan terbit di awal 2018 adalah: Anglocita Nama Cumbu.

Senin, 27 November 2017

On The Sky No More Blue


|On The Sky No More Blue|
By : Muhammad Asqalani eNeSTe
https://www.google.co.id
Koza: On the sky no more blue. Eyebrow: sebab itu betapa rahasia. Koza: seperti langit-langit dadamu? Eyebrow: langit-langit dadaku senantiasa biru. Koza: jangan berdusta, tidakkah dadamu kini pucat dan pudar warna? Eyebrow: kenapa? Koza: sebab kau telah lama ranggas cinta, hidupmu kandas tanpa kecupan-kecupan. Eyebrow: aku pengagum kesendirian, hiruk-pikuk hanya suara batuk setan. Koza: jangan mengaku suci, jika kesucian tak lagi kaumiliki. Eyebrow: kau menohokku. Koza: aku ingin mencintaimu lagi, hingga cabik-cabik fantasi, hingga telanjang segala mimpi. Eyebrow: tidakkah kenyataan telanjang lebih kau impikan, tidakkah ilmu raba hendak kau amalkan? Koza: aku ingin memperdalam hal-hal paling tidak masuk akal dari kekuatan sentuhan. Di luar hujan, aku kedinginan dan menggigil membekukan tangisan. Hatiku telah lama salju, warna biru hanya kamu, yang kini hitam. sebentar lagi aku akan tenggelam, dalam cerita yang kuciptakan. Minum tehmu tuan, seseorang yang mirip kamu, menyentuh bibirku dengan santai, aku mendadak akan lebur seperti pasir di pantai, di mana kau sebagai penidur yang gemar berkubang. ---- Jika seribu tahun lagi langit runtuh, akankah kau memeluk iman baru, atau masih setia pada keyakinan, on the sky no more blue. 2017

Muhammad Asqalani eNeSTe. Suka berbicara Bahasa Inggris. Rentang tahun 2021-2028 bercita-cita tinggal di Australia. Aktif di Community Pena Terbang (COMPETER). WA: 082385449383

Jumat, 24 November 2017

Kini Selamanya

Kini Selamanya
Oleh : Yanuari Purnawan

“Tuhan tidak adil, mengapa Dia berikan semua ini kepadaku. Aku ingin seperti mereka menikmati masa muda, bebas, gaul dan jalan-jalan bersama teman-teman sebaya. Ah! Ini cuma mimpi dan mimpi belaka,” gumam seorang pemuda kurus sambil mengamati sekitar di luar jendela kamar. Ada perasaan iri dan cemburu di dalam hatinya.

“Sayang, ada apa kok melamun sendiri di kamar?” Sebuah tepukan lembut dari seorang wanita di pundaknya membuat lamunan itu hilang walau masih menyisahkan luka di hati.
“Ibu … tidak ada apa-apa kok!” Tatapan itu membuat dia tidak bisa bohong kepada wanita yang telah melahirkannya.
“Panji, jangan bohong sama ibu! Ibu mengerti kamu sedang menyimpan sesuatu di dalam hati.”
“Bu, Tuhan itu tidak adilnya! Seharusnya panji sekarang bisa sekolah, main dan berprestasi. Bukan seperti ini menjadi benalu,” jawab Panji, pemuda berusia tujuh belas tahun itu yang sudah harus menerima kenyataan pahit dalam hidupnya.
“Sayang, ingat Tuhan memberi kita ujian bukan karena tidak sayang kepada hamba-Nya. Semua itu semata untuk meningkatkan derajat hamba-Nya yang tetap sabar, bangkit dan bersyukur. Ibu yakin Panji bisa berprestasi mungkin bukan saat ini tetapi percaya esok ada hari indah yang telah disiapkan oleh-Nya untuk Panji.” Nasehat dari ibunya mampu membuat bulir hangat luruh membasahi pipi Panji. Dipeluk wanita yang selama beberapa bulan belakangan berjuang sendiri untuk menghidupi anaknya sebagai buruh cuci.

Semangat Panji mulai membara untuk menyambung hidupnya kembali. Kalimat yang keluar dari bibir ibunya ibarat mantra sakti untuk membuka mata hatinya. Kini, Panji mulai menata ulang langkah hidupnya, dia tidak mau terus-terusan menjadi benalu terutama bagi wanita yang banyak berkorban untuknya.

Di ambilnya sebuah krek sebagai pengganti kaki kanan yang sudah diamputasi akibat kecelakaan. Dan peristiwa kelam tersebut juga harus meninggal luka yang begitu dalam bagi keluarga tersebut. Ayah yang menjadi tulang punggung harus meninggalkan mereka untuk selamanya. Berat, apalagi Panji juga harus meneruskan ke perguruan tinggi. Tetapi nasib berkata lain, dia harus merelakan impiannya untuk bisa menyandang status mahasiswa.

Dengan berjalan tertatih, dia menuju mushalla dekat rumahnya. Di tempat tersebut, dia curahkan apa yang terpendam di hatinya.
Ya … Allah, hamba percaya tidak ada ujian yang Kau beri di luar batas kemampuannya hamba-Mu. Maka berkahi dan kuatkan setiap langkah hamba menuju kebaikan yang telah Kau gariskan.”

Episode baru telah dimulai, binar semangat telah mengisi ke dalam sorot matanya. Panji, tak ingin terpuruk lagi. Bangkit adalah jalan yang harus dia tempuh kini.
“Apa yang ingin kamu lakukan, Nak?” tanya ibunya penuh kecemasan.
“Ibu, tenang saja. Alhamdulilah, Panji dapat kerja,” jawab Panji begitu semangat untuk memulai hari pertama kerja.
Alhamdulilah, memang kerja apa, Nak?”
“Pak Budi menyuruhku menjaga warnet, kebetulan beliau butuh orang yang mengerti tentang dunia komputer.” Mata itu lagi-lagi menunjukan jiwa pemuda yang penuh optimisme.

Warnet tempat kerjanya tak jauh dari rumah, sehingga dia bisa berangkat dengan berjalan. Masih ada sebersit rasa khawatir yang hinggap dari wanita tua itu melihat anaknya harus berjalan kaki sejauh satu kilometer menggunakan krek. Mungkin bagi manusia normal jarak tersebut tidak menjadi masalah, tetapi bagi sosok Panji mungkin butuh tenaga ekstra agar sampai dengan selamat.

Panji bekerja dengan ulet dan cekatan walau dalam keterbatasan. Membuat sosoknya menjadi kesayangan Pak Budi selaku bosnya. Hal yang membuatnya lebih di mata Pak Budi, pria berusia tiga puluhan tersebut adalah Panji tidak pernah meninggalkan shalat lima waktu. Setiap azan berkumandang dia selalu bergegas untuk memenuhi panggilan-Nya, tanpa beban sama sekali. Sangat kontras dengan remaja saat ini yang lebih memilih hang out di kafe, main game online hingga lupa waktu dan kencan sama pacar yang belum halal.

Panji sekaligus memanfaat kerjanya dengan menggunakan fasilitas yang ada dengan maksimal. Disela pekerjaan menjaga internet, dia juga belajar menjadi reseller bisnis online dengan membuat blog. Pak Budi yang mengetahui hal tersebut memberi restu malah menyuruhnya untuk memasarkan tempat warnetnya.

Sehari, seminggu hingga satu bulan bisnis online Panji ternyata tak berjalan sesuai harapan. Komentar sinis kembali terlontar kepada pemuda cacat tersebut.
“Mimpi mau sukses, jalan saja susah.” Begitulah ocehan orang sekitar melihat kegigihan Panji untuk meraih mimpinya. Panji hanya mampu tersenyum menanggapi komentar sinis tersebut. Dia percaya suatu saat dia akan berhasil.

“Bu, memang orang cacat kayak Panji tidak layak untuk sukses?” tanya Panji sambil rebahan diatas paha ibunya. Dengan lembut ibunya membelai rambut anak semata wayang tersebut.
“Panji masih muda, kuat dan cerdas, jadi tidak ada alasan untuk sukses. Walaupun kondisi Panji tak sempurna. Ingat pesan, Ibu. Sesungguhnya kecacatan sejati itu jika dia punya hati, mata, tangan dan kaki yang sempurna tetapi tidak digunakan untuk mengagungkan asma-Nya.” Kembali energi positif menjalar ke dalam jiwa mudanya.

Langkah itu semakin pasti walau cibiran kerap terlontar dari mulut orang yang tak suka dengannya. Baginya, keterbatasan dan masa muda adalah dua hal yang berbeda tetapi bisa saling mengikat. Panji masih semangat bekerja menjaga warnet. Warnetnya semakin hari semakin ramai hingga Pak Budi akan membuka cabang baru. Dan yang dipercaya untuk mengelolanya adalah panji.

Mendengar kabar itu, pemuda tujuh belas tahun tersebut bersyukur akan amanah barunya. Dia berjanji akan bekerja secara optimal. Remaja seusianya, biasa masih menengadahkan tangan meminta uang kepada orang tuanya. Beda dengan remaja bernama Panji, sekarang dia menyuruh ibunya berhneti jadi buruh cuci. Karena uang yang diperoleh dari hasil kerja sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bukan hanya itu, remaja yang selalu rajin shalat berjamaah di masjid tersebut mendapat apresiasi dalam bisnis onlinenya. Beberapa hasil dagangan yang dipromosikan lewat internet tersebut laris manis di pasaran. Ada beberapa perusahaan yang menawarkan kerja sama untuk pemasaran produknya.

Ternyata, pencapaian Panji tidak lantas membuatnya besar kepala. Dari penghasilannya, dia sisihkan untuk membantu para penyandang cacat agar mampu bersaing dan bekarya.

“Nak, jangan terlena dengan nikmat ini. Semua hanya titipan, bersyukur dan berbagi itu adalah cara aman untuk menjaganya.” Sebuah nasehat seorang ibu kepada anaknya yang masih remaja dan belajar tumbuh menjadi dewasa.

Kini dan selamanya, remaja cacat tersebut telah membuktikan. Keterbatasan bukan halangan, apalagi diusia yang masih muda. Usia yang gemilang untuk bekarya dan berprestasi. Bukan mengeluh dan bergalau ria terhadap nasib. Gunakan masa mudamu sebelum masa tuamu.


Selesai

Selasa, 14 November 2017

Remaja yang Bercinta

Remaja yang Bercinta
Oleh : Yanuari Purnawan


Jatuh cinta itu berjuta rasanya. Ada rasa senang, rindu, cemas dan galau. Semua campur aduk seperti adonan kue. Hati dag dig dug saat melihat orang yang dicintai. Malu tapi mau hingga kayak kucing cacingan. Dan paling parah apapun aktivitasnya selalu bayangan dia yang menyertai. Sungguh virus merah jambu tersebut begitu besar dampaknya.

Dulu yang tidak suka dandan sekarang hampir dua jam bercermin. Yang cowok jadi memperhatikan penampilan, wangi dan rambut jadi klemis. Kalau yang cewek pakai bedak sampai cerminnya mau retak, bimbang harus pakai baju apa hingga dilema sambil dengerin lagu galau. Merasa diri mereka butiran debu yang separuh jiwanya pergi karena cinta sakitnya tuh di sini!*Nunjuk gigi karena lagi sakit gigi hehe.

Cinta … oh cinta, begitu hebat pengaruhmu. Hingga yang tak suka puisi menjelma menjadi pujangga. Apa yang dilihat dan dirasa menjadi kata-kata indah nan puitis. Apalagi virus tersebut menginfeksi para remaja masa kini. Mengapa remaja-remaja lagi? Karena masa remaja adalah masa penjajakkan dan pencarian jati diri. Ingin dihargai, dicintai merupakan hal yang wajar dalam fase usia mereka.

“Jadi remaja boleh dong cinta-cintaan?” Boleh banget malah harus. Kita sebagai makhluk-Nya wajib mencintai makhluk lainnya. Saling menyayangi, menhormati dan menghargai. “Kalau sama lawan jenis gimana?” Tidak masalah, ‘kan itu fitrah. “Jadi, remaja boleh dong pacaran!” eits … memang siapa yang bolehin pacaran? Yang boleh ‘kan saling mencintai sebagai makhluk-Nya. Kalau masalah pacaran, tunggu dulu perlu bertapa dan menyepi untuk menalarkannya.^^

“Kak, gimana dong aku kan terlanjur cinta sama si doi?” tanya seorang remaja cowok yang sedang kasmaran terhadap seorang cewek.
“Nggak mungkin dong aku putusin si doi!” lanjutnya dengan muka kusut.
Mendengar pertanyaan remaja cowok tersebut jadi tersenyum geli. Memangnya jika putus, si cewek akan mati atau gantung diri. Hei … kamu yang merasa benar-benar lelaki jangan sempit pemikirannya. Justru ketika kamu memutuskan hubungan pacaran dengan cewek tersebut. Kamu telah berhasil menjaga kehormatanmu dan kehormatan si cewek tersebut. Tenang Bro and Sis, kalau jodoh tak lari ke mana.

“Jadi nggak boleh ya pacaran?” Boleh asal tidak di tempat punyanya Allah. Jadi, cari saja tempat di alam semesta ini yang bukan merupakan kekuasaan-Nya.
“Ya … mana ada, Kak!” Kalau begitu sudah jelas ‘kan mengenai pacaran tersebut. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk berkhalawat alias pacaran. Karena, aktivitas pacaran sama juga dengan mendekati zina. Islam cuma mengenal istilah ta’aruf, bukan pacaran islami loh! Dan ta’aruf ini juga ditujukan bagi dia yang mampu untuk komitmen serius alias menikah. Kalau kalian yang masih remaja, memang sudah siap menikah. Tuh … jika bahas menikah langsung kabur deh.

Jangan gegana (Galau, gelisah, merana) dulu, islam adalah agama yang komplit dan sistematis. Setiap permasalahan, pasti ada solusinya. Bagaimana jika remaja yang bercinta? Yang masih belum mampu mandiri dan cukup dewasa untuk menikah. Tetapi, rasa cinta di dalam dada tak bisa terbendung. Yuk simak hadits di bawah ini.

Dan barang siapa belum mampu menikah, hendaklah ia shaum (puasa), karena shaum membentengi dirinya.” (HR.Al-Bukhari dan Muslim)
Sudah jelaskan bukan islam mengaturnya. Bagi remaja yang belum mampu berkomitmen serius alias menikah. Bukan pacaran solusinya, melainkan shaum (puasa). Jadi, perbanyak puasa dan mengingat Allah, agar hati menjadi tenang hingga waktu datang untuk meminang dan dipinang.

“Lalu, bagaimana remaja yang bercinta menurut pandangan islam tersebut?” Remaja yang bercinta menurut pandangan islam adalah menjaga kehormatan diri dan menata cinta sampai waktunya tiba. Bro and sis (biar lebih gaul hehe) … percayalah cinta itu universal, jangan memandang sempit makna cinta. Bukan hanya masalah aku dan kamu, tapi cinta itu luas.
Remaja yang bercinta pertama adalah bangga dan cinta akan agamanya, yakni islam. Selalu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Mengikuti sunnah rasul-Nya dan mengamalkannya. Sungguh inilah cinta yang hakiki, cinta Allah kepada hamba-Nya. Jadi, apakah kita harus berpaling dengan melakukan hal yang dibenci oleh-Nya yakni pacaran. Ayo! Dipikir ulang kalau mau pacaran hehe … jangan ngotot dan ngeles kayak bajaj. Setuju nggak setuju, setuju!^^

Remaja yang bercinta kedua adalah cinta kepada orangtua. Mengapa cinta orang tua, karena cinta mereka tak ada duanya kepada kamu. Seburuk apapun perlakuan kamu terhadap mereka. Mereka tetap mencintai dan mendoakan yang terbaik untuk kamu. Sudahlah, sebelum kamu bilang i love you kepada lawan jenis, ucapankan dulu kepada orangtuamu. Sebelum memegang yang belum halal untukmu, lebih baik pegang dan cium punggung tangan orangtuamu.

Sudahlah tak perlu risau masalah cinta-cintaan. Karena, cinta remaja hanya sebatas cinta semu dan miskin komitmen. Sebelum terlambat, jangan sampai terjebak virus merah jambu tersebut. Bagi yang sudah mulai terinfeksi, mulai putar haluan. Dekatkan diri kepada-Nya dan minta kekuatan untuk bisa menjaga kehormatan diri. Sudahi atau akhiri demi kebaikkan diri.

Ya … Allah, kuatkan remaja islam, remaja penerus tegaknya agama ini dalam kebaikkan. Jadikan hidup dan langkah mereka dalam keberkahan dan kebermanfaatan. Kokohkan iman islam di dada mereka hingga mampu menjaga kehormatan diri dan agama. Aamiin … aamiin yaa robbal allamin.