Sabtu, 20 Januari 2018

Dancing With The Rain

Dancing With The Rain
Yanuari Purnawan


Apa yang kamu sukai dari hujan? Aku begitu menyukai hujan karena setiap tetesannya menyadarkanku bahwa aku tak sendirian di dunia, yang hancur menjadi kepingan terlupakan.
*
Awan mendung menyelimuti kota Pasuruan, mungkin sebentar lagi hujan segara turun. Aku bersyukur datang lebih awal dari waktu yang telah dijanjikan. Jam tiga sore kafe tempat kita janjian masih sepi dan lenggang, dekorasi ala vintage menambah suasana hangat. Aku memilih duduk di sebelah jendela karena viewnya menghadap ke arah jalan yang tak terlalu ramai.
“Mau pesan apa?” sapa sang pelayan sembari tersenyum.
“Nanti saja, Mbak. Aku sedang menunggu teman!” Sang pelayan pun pamit. Aku menatap kaca di sampingku, di luar tampak gerimis sedang bermanja ria.
Kalimat itu kembali terngiang dipikiranku. Adel, sahabatku sejak sekolah dasar itu selalu tepat menebak apa yang kini melanda perasaanku. Bagai cenayang, dia mengintrogasi semalaman hingga mendamparkan aku di sini untuk bertemu dengannya. Aku yakin ini sangat serius baginya, karena dengan jadwal kerjanya sebagai editor majalah yang begitu sibuk tak mungkin dengan mudah meluangkan waktunya buat bertemu denganku.
Gerimis menjelma menjadi koloni air yang tak mampu di bendung awan hingga membuat sebagian orang sibuk berlindung darinya.  Mataku terfokus pada seorang gadis berkemeja kotak-kotak biru masuk ke dalam kafe. Aku tersenyum lalu melambaikan tangan ke arahnya. Dia pun membalas dengan lambaian lalu menuju ke arah mejaku.
“Maaf, gue telat. Biasa bos zaman old itu selalu menambah jam kerja lebih lima menit!” gerutu Adel sambari menyandarkan punggungnya di tempat duduk. Aku tersenyum melihat tingkahnya yang begitu kesal terhadap atasannya.
“Sabar, Bu! Mungkin bos loe itu lagi puber kedua jadi suka main aturan sediri.” Cewek berambut sebahu itu terkekeh lalu melambaikan tangan ke arah pelayan.
“Loe mau pesan apa!”
“Emm … cappuchino saja deh!”
Sembari menunggu pesanan aku mengotak-atik smartphoneku yang sedari tadi menunggu notif whatsup darinya, lelaki itu, lelaki mayaku.
“Kita janjian kesini bukan untuk diam-diaman nunggu pokemon lewat kayak gini kan!” sindir Adel yang beberapa menit ini aku acuhkan. Aku hanya terkekeh sambil menautkan jari telunjuk dan tengah membentuk huruf V.
“Seberapa lama lagi loe bertahan untuknya?” Perkataan cewek tomboy tersebut langsung ke inti permasalahan yang kita bahas kemarin malam. Mataku hanya terfokus pada kaca yang menampilkan tetesan air seolah mengamuk, seperti kecamuk di dalam hatiku. Bertahan? Mungkin akulah orang yang paling sabar dalam hal bertahan dalam hubungan seperti ini.
Pesanan pun datang, sedikit memecah kebisuan di antara kita.
“Loe boleh saja betahan untuknya, tapi ingat jangan hancurkan hidup loe untuk perasaan maya tersebut!” lanjut Adel mulai ke inti masalah dari hubunganku dengan seorang lelaki yang selama enam bulan lebih aku kenal. Iya. Adel selalu mengerti dan menerima tentang pilihan hidupku asal itu baik dan membuatku bahagia. Sejak SMP dia sudah mengetahui bahwa aku punya ketertarikan berbeda dengan cowok seusiaku.
“Gue … !” Seolah ada duri menempel di tenggorokan susah sekali untukku menjelaskan perasaanku kepada Adel. Aku mengaduk cappuchinoku sambil menatap hujan yang masih setia dengan hebatnya mengamuk bumi.
“Jika loe masih anggap gue sahabat, gue mohon loe ambil keputusan yang tepat!” Aku menunduk pasrah akan perasaan ini yang tak tahu harus dibawa kemana. Adel benar aku harus segera mengambil keputusan sebelum semua membinasakan diriku selamanya.
Enam bulan lalu, tepatnya di akhir bulan Januari, aku mengenal lelaki itu melalui jejaring social facebook. Awalnya aku hanya menyukai status-statusnya yang begitu mengena di hati lalu merambah ke blog pribadinya yang berisi kumpulan cerita dunia pelangi. Oh Tuhan, aku benar-benar jatuh hati pada setiap tulisannya. Tanpa sadar dan diminta rasa kagum akan karyanya menjelma menjadi rasa suka kepada orangnya. Dari situlah awal benih-benih cinta itu muncul.
   Aku selalu menunggu setiap update terbaru baik itu status ataupun tulisannya. Bagai tersihir aku sangat mencintai apa yang ada pada dirinya atau lebih tepatnya setiap yang dia posting di media sosial. Dari komentar-komentarku mengenai tulisan di blog maupun statusnya yang dia respon dengan cepat. Hingga tanpa sadar hubunganku dengannya tak hanya sekedar antara penulis dengan penggemar, melainkan sudah mulai masuk ke area pribadi bernama perasaan cinta.
‘Hujan mengingatkan pada senyum itu. Dari bibir munggil dan pipi cubbynya.’
Membaca status terbarunya membuat diriku baper. Apa itu untukku? Rindukah dia kepadaku? Benarkah jika status yang dia tulis tersebut buatku. Sambil tersenyum tak jelas aku mengetik di kolom komentar statusnya.
“Cie, buat siapa tuh statusnya, Kak?”
Beberapa menit tak ada tanggapan darinya, biasanya dia begitu cepat membalas komentarku. Namun, kali ini begitu beda, apa yang terjadi dengannya atau aku yang salah tempat berkomentar begitu. Aku benar-benar galau hanya sekedar menunggu balasannya, sedang akun facebooknya dalam tanda online.
“Hai, Lilbro, sorry untuk komentarmu terlalu privasi buatku!”
Oh Tuhan, ini pertama kalinya dia membalas pesan messanggerku. Bagai terbang ke langit dan lupa menginjak bumi, aku begitu bingung untuk membalas pesannya walau kita tak saling bertatap muka langsung.
“Sorry, membuat kakak tidak nyaman dengan komentar tersebut!” balasku dengan harap-harap cemas apakah dia akan membalasnya. Yes! Dia membalasnya dengan emoji jempol gede. Aku tersenyum sendiri dan buru-buru membalas pesannya dengan emoji smile lebar. Semalaman kita saling berbalas emoji tanpa ada kata apapun, tapi mampu membuatku bahagia dan seperti ada kupu-kupu di dalam perutku.
Dari situlah kedekatanku secara pribadi mulai terjalin dengan dia. Aku menyukai cara dia menjawab pesan-pesanku baik itu dalam dunia literasi maupun pribadi. Mungkinkah aku mulai jatuh cinta kepadanya walau kita tak pernah bertemu? Ini gila, tetapi aku menikmati dan menyukai semuanya.
“Hai … gue ke sini bukan untuk menunggu loe melamun!” Adel membuyarkan semua lamunanku tentang dia, entah sedang apa dia sekarang? Kenapa ini? Haruskah aku mengakhirinya. Aku menghela napas panjang lalu kembali menyesap cappuchinoku yang mulai dingin.
“Arya, gue tahu banget perasaan loe kepadanya. Namun, apa mesti loe harus membakar diri loe sendiri!”
Mata Adel tajam menatap diriku, tergambar jelas dari raut wajahnya yang begitu mengkhawatirkan diriku.
“Mungkin ini bukan jalur gue mencampuri urusan personal loe. Namun yang mesti loe ingat gue sahabat loe dan tak ingin melihat loe terluka berlarut-larut seperti ini.”
Perkataan Adel barusan berasa menohok kembali rasa yang masih terpatri di hati ini. Aku menatap hujan yang masih begitu lebat ditambah kilatan petir yang membuat diri ini kecil dan merinding. Bagai lampu blitz kilatan petir mengingatkanku kembali kepadanya yang mungkin tak mengingatku kini.
“Aku mencintai kakak!”
Sudah tiga bulan lebih aku menyimpan semua perasaan ini kepadanya. Entah setan darimana, aku begitu berani menuliskan kalimat tersebut di kolom pesan pribadinya. Biarlah, semua telah terjadi dan aku harus siap menghadapi apa yang akan terjadi nantinya. Semenit, dua menit, hingga lima menit pesanku hanya dibaca saja olehnya. Aku begitu frustasi, apa dia marah kepadaku? Atau apakah dia tidak menyukaiku?
“Sorry, barusan ada urusan. What? Kamu mencintai kakak? Maksudnya?”
Membaca balasan pesan darinya membuat diriku gugup dan bingung harus bagaimana.
“Emm … selama tiga bulan ini aku begitu nyaman dekat dengan kakak. Aku menyukai tulisan kakak, status kakak dan cara kakak membalas pesan dariku. Kak, mungkin ini konyol dan tidak masuk akal, tapi bagaimana lagi aku tak bisa mengontrol rasa ini yang terlanjur menautkan hatiku kepada kakak. Namun, sekali lagi aku tak memaksa kakak untuk juga mencintaiku. Dengan berkata jujur begini, ada sedikit rasa lega di hatiku walau terkesan naif.”
Kembali dia hanya membaca pesan dariku tanpa cepat membalasnya. Apa mungkin dia sedang berpikir dan punya perasaan juga kepadaku. Tuhan jangan hukum aku walau tahu ini salah, tapi aku sungguh mencintainya.
“Dek, selama itu pula kakak juga merasa nyaman. Namun, untuk bilang ini cinta, kakak tak mau buru-buru karena mungkin saja kenyamanan ini hanya sebatas pertemanan dunia maya dan tak lebih dari itu. Kita jalani dulu semuanya, tetap jadi adekku yang lucu, cubby, dan baik.”
Mengingat pesan tersebut aku jadi tersenyum sendiri. Sejak saat itu pula hubunganku dengannya lebih merambat ke area pribadi dibanding lainnya. Tanpa ikatan apapun, aku merasa bahagia karena sejatinya cinta tetaplah cinta walau tanpa embel-embel pacar atau kekasih.
“Gue tak tahu bagaimana bisa menghilangkan bahkan membunuh perasaan ini!”
Terangku sambil menatap lembut wajah sahabat tomboyku tersebut. Adel tersenyum dan menatap kaca jendela kafe yang basah oleh tetesan hujan.
“Apa loe pernah kehujanan?”
Aku bingung mengapa Adel malah memberiku pertanyaan yang tak ada sangkut pautnya dengan perasaanku.
“Setiap orang pasti pernah kehujanan. Bahkan baru kemarin gue kehujanan gara-gara lupa bawa jas hujan.”
Adel terkekeh mendengar jawaban polos dariku. Rasanya ingin aku timpuk dia, tapi aku masih sadar dia adalah sahabat terbaikku satu-satunya.
“Gue memang bukan orang bijak atau lebih tepatnya bukan sahabat yang baik buat loe. Namun, gue ingin bilang ini kepada loe. Seandainya kita kehujanan hanya ada dua pilihan, berlindung atau berbasah ria menikmati hujan. Oke. Sekarang jawab jujur, saat loe kehujanan kemarin loe pilih opsi mana?”
Eh, kok dia malah kasih pertanyaan kembali. Apa yang terjadi dengan otak sahabatku satu ini. Apa karena frustasi dengan sikapku dia jadi seperti ini.
“Mungkin karena gue nggak bawa jas hujan dan terlanjur basah juga, gue memilih menikmati hujan walau akhirnya badan gue terasa sakit semua.”
“Seperti itu pula perasaan loe kepadanya!”
Untuk kesekian kalinya aku dibuat bingung dengan pemikiran Adel. Apa hubungannya lagi antara hujan dan perasaanku.
“Maksud loe, gue harus menikmati perasaan ini?”
Aw! Dia menjitak kepalaku dengan kasarnya lalu menatapku penuh amarah beserta kasihan.
“Oh God, kenapa gue punya sahabat sebodoh loe sih? Oke dengar baik-baik, menurut orang bijak di luar sana, ‘jika diri kamu kebasahan oleh hujan, maka nikmati dan menarilah bersama hujan’ begitupun dengan perasaan loe!”
“Intinya jangan pernah loe berusaha untuk menghapus rasa itu di hati. Namun, nikmati semua dengan keikhlasan dan kerelaan dengan apa yang akan terjadi ke depannya. Hadapi perasaan itu, jika dia memang terbaik dan pantas diperjuangkan dia pasti akan datang sendiri dengan cara terindah yang belum pernah loe duga sebelumnya.”
Mataku berkaca , tapi tak sampai meneteskan air mata. Perkataan Adel barusan membuka kembali apa yang sebenarnya terjadi pada apa yang sedang bergejolak di dalam dada ini. Perjuangan? Tidak. Lebih tepatnya ini pengorbananku sendiri. Dalam dua minggu ke belakang aku dengannya memang sedang dalam posisi untuk mencari dan menerka apa yang harus kita lakukan ke depannya. Aku sudah terlanjur basah oleh perasaan cinta berlebih kepadanya. Namun yang menjadi pertanyaan besar apakah dia juga memiliki cinta yang sama kepadaku.
“Aku lelah kak harus begini terus. Apakah kakak tidak punya rasa apapun untukku?”
Tulisku di pesan pribadi untuknya. Sudah beberapa hari ini dia tak menjawab pesanku baik itu whatsup maupun messenger. Sungguh kondisi seperti ini membuatku frustasi antara rindu, khawatir, takut dan semuanya berasa campur aduk. Aku sangat mengerti kalau dia orang yang moody-an, tapi bisakah dia meluangkan waktunya sebentar untuk membalas pesanku atau hanya sekedar menuliskan kata ‘hai’ di pesan pribadi.
Enam bulan mengenalnya, aku sudah hafal sekali dengan sifatnya, tapi apakah dia juga sudah mengenal sifatku. Tuhan, kurasa otakku ingin meledak jika sehari saja tanpa kabar darinya. Namun, apa yang terjadi setelah dia mengabaikan pesan dariku? Dengan mudahnya dia menuliskan sebuah status di media sosialnya.
“Mungkin ini saatnya aku harus hiatus dari namanya media sosial.”
Membaca statusnya tersebut membuat dadaku terasa nyeri bagai ada tombak menancap di hatiku. Sakit walau tak berdarah, kutahan air mata ini untuk tak terjatuh. Namun, rasaku untuknya begitu dalam tanpa bisa aku kontrol bening hangat itu mengalir di pipi.
“Kenapa kakak harus hiatus segala dari media sosial? Apa kakak tak memikirkan orang yang mencintai kakak?”
Kalimat itu aku tulis ke pesan whatsupnya,  berharap kali ini dia mau membalas pesan dariku.
Aku bahagia. Ada setitik harapan untukku. Kali ini dia tidak mengabaikan pesanku, tetapi apa yang aku bayangkan menjadi redup seketika tatkala jari ini menekan pesan balasan darinya.
“Nggak usah lebay napa, Dek! Kakak cuma hiatus bukan meninggal.”
Apa yang terjadi dengan otaknya, pernahkah dia menghargai sedikit saja perasaanku. Enam bulan bukan sebentar kedekatan kita terjalin. Namun, beginikah apa yang dia rasakan kepada.
“Mungkin bagi kakak ini lebay, tapi bagiku ini adalah rasa yang ada di hatiku. Jujur aku takut jika kakak harus meninggalkanku. Kakak pasti tahu apa yang pernah terjadi pada hidupku dulu. Atau kakak sengaja ingin mengulang sejarah kelam untukku!”
Kukeluarkan segela keluh kesah yang selama ini terpendam di dalam hati ini untuknya. Tak perlu waktu  lama dia pun menanggapi pesanku tersebut.
“Dek, sekali lagi aku bilang sebelum dirimu terbang hingga lupa memijak tanah. Ingat pada realita hidupmu, ini bukan sekedar cerita fiksi atau drama korea.”
“Iya, aku paham itu, tapi bisakah kakak tidak pergi untukku?”
“Dari dulu aku tak pernah menahanmu, Dek. Aku selalu bicara kenyataan, lupakan semua rasa itu untukku, tak mungkin kita bersatu. Maaf. Kukatakan aku hanya menganggap kamu teman tak bisa lebih dari itu!”
Jleb! Serasa ada jutaan anak panah menembus dada dan hati hingga aku mati rasa. Jahat. Kata itu yang mampu terucap dari mulut ini. Sekejam itukah dia sebenarnya, enam bulan seakan memberiku angin surga, tapi apa kini yang dia beri, bara api neraka yang membakar diriku sendiri menjadi abu.
“Apa loe sanggup menari bersama perasaanmu?”
Tangan Adel mengenggam jemariku, seakan memberiku kekuatan untuk tetap tegar dan bangkit lagi. Gara-gara kejadian itu pula yang membuatku bersamanya duduk di meja kafe ini. Aku bersyukur masih punya sahabat yang begitu baik dan peduli kepadaku. Terima kasih Adel, kamu masih sudi menerima sahabat bodohmu ini dan kumohon pada Tuhan untuk selalu menjagamu dalam kebahagian serta kebaikan.
Aku mengangguk sambil menatap wajah sahabatku tersebut. Ada raut lega dari wajahnya yang tak cantik itu. Namun, aku begitu menyayangi dia yang begitu ajaib dengan sikap dia dalam menasihatiku.
Hujan kini menyisahkan tetesan gerimis, mobil dan motor mulai memecah jalanan yang sedari tadi lenggang diamuk hujan.
“Sudah sore nih, gue harus cabut dulu sebelum magrib gue harus sampai  rumah. Loe taukan nomor yang harus loe hubungi jika butuh teman curhat!” ucap Adel sebelum berpamitan. Aku kembali tersenyum dan memeluknya sebentar. Tubuh mungilnya pun menghilang di balik pintu kafe. Sedang aku masih tertegun menatap kaca yang basah oleh hujan barusan, cappuchino pun telah habis. Entah mengapa aku masih betah di sini atau lebih tepatnya memberi jeda pada diriku untuk memahami nasihat Adel.
Aku pun membuka jurnal pribadiku dan menuliskan sesuatu yang masih mengganjal di dalam hati. Mungkin dengan sedikit menuliskannya akan mengurangi beban yang kurasa kini.
Pada hujan yang pernah mengetuk hatiku
Izinkan aku menikmati setiap tetesmu
Walau aku tak mampu menjamahmu dalam nyataku
Biarkan aku menikmati alunan simponimu
Biarkan aku menari bersama senandungmu

Pada hujan yang menyebut namamu
Mengusik rinduku dalam setiap tetesmu
Mengalir dalam denyut nadiku
Membasahi setiap ragaku
Biarkan aku menikmati tarian bersamamu

Pada hujan kemarin, hari ini, dan esok
Biarkan aku menyebut namamu
Namamu yang pernah membasahi hati ini
Namamu …
Iya, namamu yang kukenang dalam hujan
Walau dirimu adalah kemarau

_Untukmu Lelakiku, Triawan Al Ghifari_

Selesai














Rabu, 29 November 2017

Cinta di Atas Kerutan Kening


|Cinta di Atas Kerutan Kening|
By: Muhammad Asqalani eNeSTe


Dy: Qubeb, bolehkah aku mencium keningmu dengan panas bibirku, agar agama dan segala pemahamanmu retak. Qubeb: jangan mushankan aku Dy, seperti cintamu yang bergelantungan itu, aku tak ingin jatuh tanpa agama. Dy: oh, kekasihku yang teramat rapi menyimpan cumbu, keluarkanlah segala kemunafikanmu, agar kita benar-benar menikmati hidup tanpa baju. Qubeb: tidak Dy, aku tak sehina itu, jangan pernah kauhina jiwaku yang tetap percaya keperkasaan Tuhan yang gemar menunggu. Dy: oh! Qubeb: tinggalkan aku dengan segala sendu dan airmata yang masih menggenang mengenang ibu, hilanglah dari hidupku jika ini semua menurutmu pilihanku paling keliru. Dy: tidak sayang, aku mencintaimu, seperti halnya Tuhan yang bergonta-ganti baju itu. 2017

Muhammad Asqalani eNeSTe. Suka berbicara Bahasa Inggris. Rentang tahun 2021-2028 bercita-cita tinggal di Australia. Aktif di Community Pena Terbang (COMPETER). WA: 082385449383. Buku puisinya yang akan terbit di awal 2018 adalah: Anglocita Nama Cumbu.

Senin, 27 November 2017

On The Sky No More Blue


|On The Sky No More Blue|
By : Muhammad Asqalani eNeSTe
https://www.google.co.id
Koza: On the sky no more blue. Eyebrow: sebab itu betapa rahasia. Koza: seperti langit-langit dadamu? Eyebrow: langit-langit dadaku senantiasa biru. Koza: jangan berdusta, tidakkah dadamu kini pucat dan pudar warna? Eyebrow: kenapa? Koza: sebab kau telah lama ranggas cinta, hidupmu kandas tanpa kecupan-kecupan. Eyebrow: aku pengagum kesendirian, hiruk-pikuk hanya suara batuk setan. Koza: jangan mengaku suci, jika kesucian tak lagi kaumiliki. Eyebrow: kau menohokku. Koza: aku ingin mencintaimu lagi, hingga cabik-cabik fantasi, hingga telanjang segala mimpi. Eyebrow: tidakkah kenyataan telanjang lebih kau impikan, tidakkah ilmu raba hendak kau amalkan? Koza: aku ingin memperdalam hal-hal paling tidak masuk akal dari kekuatan sentuhan. Di luar hujan, aku kedinginan dan menggigil membekukan tangisan. Hatiku telah lama salju, warna biru hanya kamu, yang kini hitam. sebentar lagi aku akan tenggelam, dalam cerita yang kuciptakan. Minum tehmu tuan, seseorang yang mirip kamu, menyentuh bibirku dengan santai, aku mendadak akan lebur seperti pasir di pantai, di mana kau sebagai penidur yang gemar berkubang. ---- Jika seribu tahun lagi langit runtuh, akankah kau memeluk iman baru, atau masih setia pada keyakinan, on the sky no more blue. 2017

Muhammad Asqalani eNeSTe. Suka berbicara Bahasa Inggris. Rentang tahun 2021-2028 bercita-cita tinggal di Australia. Aktif di Community Pena Terbang (COMPETER). WA: 082385449383

Jumat, 24 November 2017

Kini Selamanya

Kini Selamanya
Oleh : Yanuari Purnawan

“Tuhan tidak adil, mengapa Dia berikan semua ini kepadaku. Aku ingin seperti mereka menikmati masa muda, bebas, gaul dan jalan-jalan bersama teman-teman sebaya. Ah! Ini cuma mimpi dan mimpi belaka,” gumam seorang pemuda kurus sambil mengamati sekitar di luar jendela kamar. Ada perasaan iri dan cemburu di dalam hatinya.

“Sayang, ada apa kok melamun sendiri di kamar?” Sebuah tepukan lembut dari seorang wanita di pundaknya membuat lamunan itu hilang walau masih menyisahkan luka di hati.
“Ibu … tidak ada apa-apa kok!” Tatapan itu membuat dia tidak bisa bohong kepada wanita yang telah melahirkannya.
“Panji, jangan bohong sama ibu! Ibu mengerti kamu sedang menyimpan sesuatu di dalam hati.”
“Bu, Tuhan itu tidak adilnya! Seharusnya panji sekarang bisa sekolah, main dan berprestasi. Bukan seperti ini menjadi benalu,” jawab Panji, pemuda berusia tujuh belas tahun itu yang sudah harus menerima kenyataan pahit dalam hidupnya.
“Sayang, ingat Tuhan memberi kita ujian bukan karena tidak sayang kepada hamba-Nya. Semua itu semata untuk meningkatkan derajat hamba-Nya yang tetap sabar, bangkit dan bersyukur. Ibu yakin Panji bisa berprestasi mungkin bukan saat ini tetapi percaya esok ada hari indah yang telah disiapkan oleh-Nya untuk Panji.” Nasehat dari ibunya mampu membuat bulir hangat luruh membasahi pipi Panji. Dipeluk wanita yang selama beberapa bulan belakangan berjuang sendiri untuk menghidupi anaknya sebagai buruh cuci.

Semangat Panji mulai membara untuk menyambung hidupnya kembali. Kalimat yang keluar dari bibir ibunya ibarat mantra sakti untuk membuka mata hatinya. Kini, Panji mulai menata ulang langkah hidupnya, dia tidak mau terus-terusan menjadi benalu terutama bagi wanita yang banyak berkorban untuknya.

Di ambilnya sebuah krek sebagai pengganti kaki kanan yang sudah diamputasi akibat kecelakaan. Dan peristiwa kelam tersebut juga harus meninggal luka yang begitu dalam bagi keluarga tersebut. Ayah yang menjadi tulang punggung harus meninggalkan mereka untuk selamanya. Berat, apalagi Panji juga harus meneruskan ke perguruan tinggi. Tetapi nasib berkata lain, dia harus merelakan impiannya untuk bisa menyandang status mahasiswa.

Dengan berjalan tertatih, dia menuju mushalla dekat rumahnya. Di tempat tersebut, dia curahkan apa yang terpendam di hatinya.
Ya … Allah, hamba percaya tidak ada ujian yang Kau beri di luar batas kemampuannya hamba-Mu. Maka berkahi dan kuatkan setiap langkah hamba menuju kebaikan yang telah Kau gariskan.”

Episode baru telah dimulai, binar semangat telah mengisi ke dalam sorot matanya. Panji, tak ingin terpuruk lagi. Bangkit adalah jalan yang harus dia tempuh kini.
“Apa yang ingin kamu lakukan, Nak?” tanya ibunya penuh kecemasan.
“Ibu, tenang saja. Alhamdulilah, Panji dapat kerja,” jawab Panji begitu semangat untuk memulai hari pertama kerja.
Alhamdulilah, memang kerja apa, Nak?”
“Pak Budi menyuruhku menjaga warnet, kebetulan beliau butuh orang yang mengerti tentang dunia komputer.” Mata itu lagi-lagi menunjukan jiwa pemuda yang penuh optimisme.

Warnet tempat kerjanya tak jauh dari rumah, sehingga dia bisa berangkat dengan berjalan. Masih ada sebersit rasa khawatir yang hinggap dari wanita tua itu melihat anaknya harus berjalan kaki sejauh satu kilometer menggunakan krek. Mungkin bagi manusia normal jarak tersebut tidak menjadi masalah, tetapi bagi sosok Panji mungkin butuh tenaga ekstra agar sampai dengan selamat.

Panji bekerja dengan ulet dan cekatan walau dalam keterbatasan. Membuat sosoknya menjadi kesayangan Pak Budi selaku bosnya. Hal yang membuatnya lebih di mata Pak Budi, pria berusia tiga puluhan tersebut adalah Panji tidak pernah meninggalkan shalat lima waktu. Setiap azan berkumandang dia selalu bergegas untuk memenuhi panggilan-Nya, tanpa beban sama sekali. Sangat kontras dengan remaja saat ini yang lebih memilih hang out di kafe, main game online hingga lupa waktu dan kencan sama pacar yang belum halal.

Panji sekaligus memanfaat kerjanya dengan menggunakan fasilitas yang ada dengan maksimal. Disela pekerjaan menjaga internet, dia juga belajar menjadi reseller bisnis online dengan membuat blog. Pak Budi yang mengetahui hal tersebut memberi restu malah menyuruhnya untuk memasarkan tempat warnetnya.

Sehari, seminggu hingga satu bulan bisnis online Panji ternyata tak berjalan sesuai harapan. Komentar sinis kembali terlontar kepada pemuda cacat tersebut.
“Mimpi mau sukses, jalan saja susah.” Begitulah ocehan orang sekitar melihat kegigihan Panji untuk meraih mimpinya. Panji hanya mampu tersenyum menanggapi komentar sinis tersebut. Dia percaya suatu saat dia akan berhasil.

“Bu, memang orang cacat kayak Panji tidak layak untuk sukses?” tanya Panji sambil rebahan diatas paha ibunya. Dengan lembut ibunya membelai rambut anak semata wayang tersebut.
“Panji masih muda, kuat dan cerdas, jadi tidak ada alasan untuk sukses. Walaupun kondisi Panji tak sempurna. Ingat pesan, Ibu. Sesungguhnya kecacatan sejati itu jika dia punya hati, mata, tangan dan kaki yang sempurna tetapi tidak digunakan untuk mengagungkan asma-Nya.” Kembali energi positif menjalar ke dalam jiwa mudanya.

Langkah itu semakin pasti walau cibiran kerap terlontar dari mulut orang yang tak suka dengannya. Baginya, keterbatasan dan masa muda adalah dua hal yang berbeda tetapi bisa saling mengikat. Panji masih semangat bekerja menjaga warnet. Warnetnya semakin hari semakin ramai hingga Pak Budi akan membuka cabang baru. Dan yang dipercaya untuk mengelolanya adalah panji.

Mendengar kabar itu, pemuda tujuh belas tahun tersebut bersyukur akan amanah barunya. Dia berjanji akan bekerja secara optimal. Remaja seusianya, biasa masih menengadahkan tangan meminta uang kepada orang tuanya. Beda dengan remaja bernama Panji, sekarang dia menyuruh ibunya berhneti jadi buruh cuci. Karena uang yang diperoleh dari hasil kerja sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bukan hanya itu, remaja yang selalu rajin shalat berjamaah di masjid tersebut mendapat apresiasi dalam bisnis onlinenya. Beberapa hasil dagangan yang dipromosikan lewat internet tersebut laris manis di pasaran. Ada beberapa perusahaan yang menawarkan kerja sama untuk pemasaran produknya.

Ternyata, pencapaian Panji tidak lantas membuatnya besar kepala. Dari penghasilannya, dia sisihkan untuk membantu para penyandang cacat agar mampu bersaing dan bekarya.

“Nak, jangan terlena dengan nikmat ini. Semua hanya titipan, bersyukur dan berbagi itu adalah cara aman untuk menjaganya.” Sebuah nasehat seorang ibu kepada anaknya yang masih remaja dan belajar tumbuh menjadi dewasa.

Kini dan selamanya, remaja cacat tersebut telah membuktikan. Keterbatasan bukan halangan, apalagi diusia yang masih muda. Usia yang gemilang untuk bekarya dan berprestasi. Bukan mengeluh dan bergalau ria terhadap nasib. Gunakan masa mudamu sebelum masa tuamu.


Selesai

Selasa, 14 November 2017

Remaja yang Bercinta

Remaja yang Bercinta
Oleh : Yanuari Purnawan


Jatuh cinta itu berjuta rasanya. Ada rasa senang, rindu, cemas dan galau. Semua campur aduk seperti adonan kue. Hati dag dig dug saat melihat orang yang dicintai. Malu tapi mau hingga kayak kucing cacingan. Dan paling parah apapun aktivitasnya selalu bayangan dia yang menyertai. Sungguh virus merah jambu tersebut begitu besar dampaknya.

Dulu yang tidak suka dandan sekarang hampir dua jam bercermin. Yang cowok jadi memperhatikan penampilan, wangi dan rambut jadi klemis. Kalau yang cewek pakai bedak sampai cerminnya mau retak, bimbang harus pakai baju apa hingga dilema sambil dengerin lagu galau. Merasa diri mereka butiran debu yang separuh jiwanya pergi karena cinta sakitnya tuh di sini!*Nunjuk gigi karena lagi sakit gigi hehe.

Cinta … oh cinta, begitu hebat pengaruhmu. Hingga yang tak suka puisi menjelma menjadi pujangga. Apa yang dilihat dan dirasa menjadi kata-kata indah nan puitis. Apalagi virus tersebut menginfeksi para remaja masa kini. Mengapa remaja-remaja lagi? Karena masa remaja adalah masa penjajakkan dan pencarian jati diri. Ingin dihargai, dicintai merupakan hal yang wajar dalam fase usia mereka.

“Jadi remaja boleh dong cinta-cintaan?” Boleh banget malah harus. Kita sebagai makhluk-Nya wajib mencintai makhluk lainnya. Saling menyayangi, menhormati dan menghargai. “Kalau sama lawan jenis gimana?” Tidak masalah, ‘kan itu fitrah. “Jadi, remaja boleh dong pacaran!” eits … memang siapa yang bolehin pacaran? Yang boleh ‘kan saling mencintai sebagai makhluk-Nya. Kalau masalah pacaran, tunggu dulu perlu bertapa dan menyepi untuk menalarkannya.^^

“Kak, gimana dong aku kan terlanjur cinta sama si doi?” tanya seorang remaja cowok yang sedang kasmaran terhadap seorang cewek.
“Nggak mungkin dong aku putusin si doi!” lanjutnya dengan muka kusut.
Mendengar pertanyaan remaja cowok tersebut jadi tersenyum geli. Memangnya jika putus, si cewek akan mati atau gantung diri. Hei … kamu yang merasa benar-benar lelaki jangan sempit pemikirannya. Justru ketika kamu memutuskan hubungan pacaran dengan cewek tersebut. Kamu telah berhasil menjaga kehormatanmu dan kehormatan si cewek tersebut. Tenang Bro and Sis, kalau jodoh tak lari ke mana.

“Jadi nggak boleh ya pacaran?” Boleh asal tidak di tempat punyanya Allah. Jadi, cari saja tempat di alam semesta ini yang bukan merupakan kekuasaan-Nya.
“Ya … mana ada, Kak!” Kalau begitu sudah jelas ‘kan mengenai pacaran tersebut. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk berkhalawat alias pacaran. Karena, aktivitas pacaran sama juga dengan mendekati zina. Islam cuma mengenal istilah ta’aruf, bukan pacaran islami loh! Dan ta’aruf ini juga ditujukan bagi dia yang mampu untuk komitmen serius alias menikah. Kalau kalian yang masih remaja, memang sudah siap menikah. Tuh … jika bahas menikah langsung kabur deh.

Jangan gegana (Galau, gelisah, merana) dulu, islam adalah agama yang komplit dan sistematis. Setiap permasalahan, pasti ada solusinya. Bagaimana jika remaja yang bercinta? Yang masih belum mampu mandiri dan cukup dewasa untuk menikah. Tetapi, rasa cinta di dalam dada tak bisa terbendung. Yuk simak hadits di bawah ini.

Dan barang siapa belum mampu menikah, hendaklah ia shaum (puasa), karena shaum membentengi dirinya.” (HR.Al-Bukhari dan Muslim)
Sudah jelaskan bukan islam mengaturnya. Bagi remaja yang belum mampu berkomitmen serius alias menikah. Bukan pacaran solusinya, melainkan shaum (puasa). Jadi, perbanyak puasa dan mengingat Allah, agar hati menjadi tenang hingga waktu datang untuk meminang dan dipinang.

“Lalu, bagaimana remaja yang bercinta menurut pandangan islam tersebut?” Remaja yang bercinta menurut pandangan islam adalah menjaga kehormatan diri dan menata cinta sampai waktunya tiba. Bro and sis (biar lebih gaul hehe) … percayalah cinta itu universal, jangan memandang sempit makna cinta. Bukan hanya masalah aku dan kamu, tapi cinta itu luas.
Remaja yang bercinta pertama adalah bangga dan cinta akan agamanya, yakni islam. Selalu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Mengikuti sunnah rasul-Nya dan mengamalkannya. Sungguh inilah cinta yang hakiki, cinta Allah kepada hamba-Nya. Jadi, apakah kita harus berpaling dengan melakukan hal yang dibenci oleh-Nya yakni pacaran. Ayo! Dipikir ulang kalau mau pacaran hehe … jangan ngotot dan ngeles kayak bajaj. Setuju nggak setuju, setuju!^^

Remaja yang bercinta kedua adalah cinta kepada orangtua. Mengapa cinta orang tua, karena cinta mereka tak ada duanya kepada kamu. Seburuk apapun perlakuan kamu terhadap mereka. Mereka tetap mencintai dan mendoakan yang terbaik untuk kamu. Sudahlah, sebelum kamu bilang i love you kepada lawan jenis, ucapankan dulu kepada orangtuamu. Sebelum memegang yang belum halal untukmu, lebih baik pegang dan cium punggung tangan orangtuamu.

Sudahlah tak perlu risau masalah cinta-cintaan. Karena, cinta remaja hanya sebatas cinta semu dan miskin komitmen. Sebelum terlambat, jangan sampai terjebak virus merah jambu tersebut. Bagi yang sudah mulai terinfeksi, mulai putar haluan. Dekatkan diri kepada-Nya dan minta kekuatan untuk bisa menjaga kehormatan diri. Sudahi atau akhiri demi kebaikkan diri.

Ya … Allah, kuatkan remaja islam, remaja penerus tegaknya agama ini dalam kebaikkan. Jadikan hidup dan langkah mereka dalam keberkahan dan kebermanfaatan. Kokohkan iman islam di dada mereka hingga mampu menjaga kehormatan diri dan agama. Aamiin … aamiin yaa robbal allamin.





Senin, 16 Oktober 2017

Aku yang Jatuh Cinta

Aku yang Jatuh Cinta
-YP-

Jika pada akhirnya takdir menuliskan kita bersama, dimanapun aku dan kamu berada pasti akan bersatu juga. Pun sebaliknya, jika takdir berkata lain kita tak bisa bersatu maka sedekat apapun aku dan kamu pasti berpisah juga.
*
Delapan tahun. Waktu yang begitu singkat untuk mereka karena mereka sedang bahagia-bahagianya menikmati proses atau bahkan dalam tahap menuju kesuksesan dalam hidupnya. Bukan untukku, delapan tahun adalah waktu terlama buat menunggu dan kembali menatap mata itu yang sorot matanya begitu tajam tapi meneduhkan. Delapan tahun, rasaku untukmu masih sama seperti awal aku berjumpa denganmu.
“Jangan takut!” sapamu sambil menepuk pundakku. Aku langsung menoleh ke arahmu yang dibalas dengan sorot mata yang begitu tajam. Oh Tuhan, saat itu aku seperti terkena aritmia. Mata yang indah dibalut dengan senyum yang menawan.
“Biasalah kalau MOS begini digunakan oleh senior untuk menunjukkan keseniorannya atau ya mereka gunakan untuk ajang balas dendam karena tahun kemarin mereka juga diperlakukan seperti kita.” Aku hanya tersenyum mendengar penjelasannya yang begitu panjang tersebut.
“Ohnya, hampir lupa. Kenalin, aku Pandu Dimas Revandra. Emm… kamu pasti Krisna Wahyu Pratama!” Kurasakan wajahku merona saat kamu tahu nama lengkapku. Namun, sedetik kemudian aku hanya mampu tersenyum bodoh sambil garuk-garuk tengkuk yang tak gatal.
“Benerkan itu nama kamu? Pas sekali dengan wajahmu yang manis,” ucapmu lagi sambil menunjuk papan nama dari kertas karton yang menempel di dadaku.
Itulah kali pertama aku berkenalan denganmu. Mungkin dari situlah awal takdir sedang menuliskan tentang kisah hidupku yang tak lagi sendiri melainkan ada namamu bersama mata tajam indah tersebut.
Kuedarkan pandanganku ke setiap sudut rumah makan, kenangan tentangmu menyeruak kembali. Delapan tahun yang lalu ditempat ini, yang dulu masih kita sebut warung nasi goreng. Namun, warung itu menjelma menjadi rumah makan yang cukup luas dengan menu tak sebatas nasi goreng seperti dulu. Ah, ternyata waktu begitu mudah mengubah segalanya, tapi mengapa waktu tak mampu mengubah perasaanku kepadamu.
Tuhan begitu baiknya menuliskan takdir aku denganmu. Bukan lagi kita yang satu gugus saat MOS, satu sekolahan, tapi kita sekarang satu kos-kosan. Hampir saja aku loncat kegirangan kalau tidak sadar bahwa aku harus jaga image di depanmu.
“Lucu ya ternyata kita bisa satu kos-kosan!” ucapmu lalu beralih mengambil ransel dan menuju ke kamar kosmu. Aku hanya diam sambil mengekorimu sambil menetralkan jantungku yang sejak menatapmu berdetak tak menentu.
“Kamarmu yang mana?” Aku menatapnya kembali. Masih sama mata tajam yang indah bagiku. Aku gelagapan untuk menjawabnya.
“Kamarku di depan kamarmu …!” jawabku sambil menunjuk kamar di depanmu. Kamu tersenyum lalu berkata yang membuat mukaku merona.
“Apa kamu ingin pindah dan sekamar denganku?”
“Maksudnya?”
“Sejak tadi kamu berdiri di kamarku. Sedang aku mau tidur dulu sebelum menata barang bawaan. Apa kamu masih ingin di sini juga, tidur sama aku!” godamu yang sukses membuat aku semakin merona.
“Sial!” Aku hanya mampu tertunduk lalu melangkah meninggalkan kamarmu. Walau dalam hati aku berharap itu terjadi. Tidur sekamar denganmu. Tuhan … mengapa si mata tajam itu membuatku segila ini. Kembali aku mengutuk diriku yang tak bisa meredam rasaku untukmu.
Hampir lima belas menit aku menunggumu. Namun, batang hidungmu pun tak tampak sekarang. Apa kamu masih ingat tentang rumah makan ini? Mungkinkah kamu tersesat karena rumah makan yang sekarang berbeda jauh dengan dulu. Sebodoh itukah dirimu jika masih lupa, bukankah kamu sendiri yang kemarin membuat janji bertemu di rumah makan Pakde Sapto ini. Aku masih setia mengamati rumah makan ini yang terlihat ramai apalagi ini sudah sore.
“Mas, jadi mau pesan apa?” kembali pelayan menanyaiku untuk memesan makan dan kembali aku menjawab sambil tersenyum.
“Nanti ya mbak … maaf temanku masih diperjalanan!” Sang pelayan pun mendengus lalu pergi. Mungkin dia kira aku hanya pengunjung yang numpang duduk sambil wi-fian gratis.
Saat itu aku masih sibuk mengerjakan soal-soal fisika yang begitu rumit. Sedang kamu sedang asyik mengotak-atik ponsel. Jujur aku begitu iri denganmu yang begitu banyak punya waktu luang, sedang aku selalu habis pulang sekolah, mandi, shalat lalu kembali mengejakan PR yang begitu menumpuk dan besok harus dikumpulkan. Maklum dulu aku anak IPA sedang kamu masuk jurusan IPS. Namun, kamu begitu populer ditambah lagi kamu adalah kapten tim futsal sekolah. Sungguh, aku begitu sebal dan kesal sekali setiap ada cewek-cewek ganjen yang berusaha mendekatimu. Bahkan, teman sekelasku pun begitu agresif tanya ini itu tentangmu terhadapku. Menyebalkan sekali bukan! Emang mereka kira  aku babysistermu. Cukup bahas cewek-cewek itu yang bikin emosi tingkat dewa.
Aku begitu pusing menentukan rumus tentang soal listrik statis, listrik dinamis, kukira sebentar lagi kepalaku akan mengeluarkan asap. Dari ujung mata, kulihat kamu tersenyum diambang pintu kamarku.
“Sibuk ya?”
“Lumayan. Kurasa guru fisika sedang semangat-semangatnya mengasih tugas!”
Kamu hanya geleng-geleng saja mendengar jawabanku. Lalu mengambil buku yang ada di depanku.
“Kurasa kamu tak akan tinggal kelas hanya tidak mengerjakan soal-soal tersebut dan kurasa kamu sedang butuh makan yang banyak untuk mengisi energimu kembali!” ucapmu sambil menimpuk pelan dengan buku ke kepalaku.
“Maksudmu?”
“Kita makan di luar sekarang, aku dan anak futsal lainnya sedang merayakan kemenangan tim kami minggu lalu. Dan kamu harus ikut denganku!”
“Tapi …,”
“Sudah, aku tunggu dua menit lagi!” potongmu sambil menatapku tajam. Aku yang ditatap seperti itu hanya bisa menurut tanpa membantah lagi.
Ramai. Itulah kesan pertamaku saat makan nasi goreng bersama teman-teman futsalmu. Namun, ada hal yang sebelumnya tak kumengerti tentangmu kini sedikit banyak mulai kuketahui dari obrolanmu bersama teman-temanmu. Ternyata, kamu diam-diam suka sama cewek bernama Almira kelas dua belas Ipa satu, sungguh hal itu membuat dadaku sesak. Selama makan nasi goreng entah mengapa yang kurasakan hanya hambar. Kurasa lidahku mulai mati rasa, bukan hanya lidah mungkin juga hatiku.
Kamu melambaikan tangan ke arahku lalu dengan sedikit tergesa-gesa duduk di kursi depan mejaku. Mata tajam indah itu kembali memenuhi otakku.
“Maaf membuatmu menunggu!” ucapmu sambil tersenyum menatapku.
“Mungkin sebentar lagi aku sudah ubanan gara-gara menunggumu.” Aku dan kamu pun tertawa bersama, tawa yang tak pernah kulihat lagi selama delapan tahun.
“Kamu sudah pesan makanan?” Aku menggeleng sambil mengamati dirimu yang tak banyak berubah setelah delapan tahun. Masih sama seperti dulu hanya sekarang kamu berjenggot yang tertata rapi di bagian rahang.
Aku masih mengingat kenangan delapan tahun lalu di tempat ini dan hari dimana itu adalah hari terakhirku melihatmu.
“Jam empat sore ini ya!” ucapku lesuh tanpa binar semangat sambil meminum es jeruk yang sedari tadi aku aduk-aduk saja.
“Iya. Ayah bilang sih begitu! Terima kasih ya dua tahun ini kamu menjadi teman satu sekolah dan kosanku yang begitu baik,” terangmu santai. Tak seperti dirimu, aku begitu gugup dan tak tahu apa yang terjadi ke depannya sepeninggal kamu tak ada lagi dalam hidupku.
“Kuharap setelah di sekolah barumu kamu tak akan melupakanku!” Apa yang kuucapkan barusan. Begitu bodohnya kalimat itu harus keluar dari mulutku. Kulirik kamu hanya tersenyum lalu dengan gemas mengacak-acak rambutku.
“Kamu sangat lucu, Kris … kamu harus tahu ini bahwa setiap yang datang pasti akan pergi atau menetap tergantung takdir yang menuliskannya bagaimana. Aku tak akan melupakan teman sebaik dirimu!” Hampir saja air mata menetes dari kelopak mata mendengar ucapan tersebut. Sekuat tenaga aku tahan, aku tak ingin terlihat cenggeng di hadapanmu kali ini. Aku harus kuat dan ikhlas biar takdir yang menjawab semua rasa ini untukmu.
Malam itu adalah malam dimana bantalku kuyup oleh air mata. Semalaman aku menangisi kepergianmu untuk pindah sekolah. Tuhan kalau boleh aku meminta biarkan dia tetap di sini bersamaku. Namun, kembali takdir berbicara lain kamu tetap pergi bersama ayahmu untuk pindah ke sekolah baru.
Delapan tahun. Waktu yang begitu menyiksa diriku untuk mengenang semua tentangmu. Kini, kamu benar-benar ada di depanku dalam wujud nyata. Tuhan, jika ini mimpi biarkan aku tidur selamanya dan jika ini imajinasiku biarkan aku bermain-main hingga napas terhenti.
“Kurasa kamu masih suka makanan ini, bukan?” Kulihat di meja sudah ada nasi goreng dan jus jeruk. Aku tersenyum sambil menatapmu dan kamu pun begitu membalas dengan senyum yang begitu menawan. Tuhan, ternyata dia masih mengingatnya.
“Kukira kamu sudah lupa!” Kamu tersenyum sambil menyantap nasi goreng. Perasaan itu kembali menyeruak tatkala kamu tersenyum seperti itu lagi.
“Mengapa baru kemarin kamu menghubungiku setelah delapan tahun kita tak pernah bertemu?” tanyaku yang membuat kamu berhenti mengunyah lalu menatapku.
“Tak ada alasan apapun. Sejujurnya aku tak enak hati mengganggu calon dokter sepertimu. Aku yakin kamu terlalu sibuk hanya sekedar membalas chat aku!”
Alasan konyol. Delapan tahun tanpa kabar darimu hanya bilang aku terlalu sibuk. Sekarang aku sadar sesadarnya kalau dirimu memang tak menganggapku berarti dalam hidupmu. Aku kecewa, tapi apa dayaku yang cinta sendiri kepadamu.
Tak ada obrolan berarti, aku dan kamu kembali sibuk dengan pemikiran masing-masing.
“Aku senang sekali bisa bertemu denganmu kembali. Seperti yang kukatakan tadi, aku sangat berharap kamu datang!” ucapmu lalu berdiri hendak meninggalkanku sedang aku hanya bisa sekuat tenaga tersenyum kepadamu walau kini hatiku begitu perih.
Kali ini aku berusaha untuk tak meneteskan air mata untukmu. Aku harus menerima takdir ini, bahwa aku dan kamu tak mungkin bisa bersatu. Aku memahami bukan dirimu yang tak peka akan perasaanku, tapi aku sendiri yang jatuh cinta kepadamu. Dan aku tak menyalahkan dirimu yang tak mencintaiku dan memilih seorang wanita untuk kamu nikahi. Kulihat undangan warna merah jambu di meja depanku. Kembali aku mengingat ucapanmu tadi.
“Aku ingin kamu datang ke acara pernikahanku dan aku lebih berharap lagi kamu mau jadi pendampingku nanti saat prosesi akad nikahku!”
“Mengapa harus aku?” tanyaku dengan nada bergetar menahan diri untuk tidak menangis.
“Karena kamu adalah satu-satunya sahabat yang tulus dan benar-benar aku sayangi. Dan kupastikan kamu juga punya rasa itu bukan!”
Aku hanya mampu menelan ludah lalu menatap mata tajam indahmu itu. Rasaku kepadamu adalah aku jatuh cinta kepadamu sedang kamu tidak.
“Terima kasih sudah menyayangiku, Pandu Dimas Revandra!”


_Selesai_