Senin, 16 Oktober 2017

Aku yang Jatuh Cinta

Aku yang Jatuh Cinta
-YP-

Jika pada akhirnya takdir menuliskan kita bersama, dimanapun aku dan kamu berada pasti akan bersatu juga. Pun sebaliknya, jika takdir berkata lain kita tak bisa bersatu maka sedekat apapun aku dan kamu pasti berpisah juga.
*
Delapan tahun. Waktu yang begitu singkat untuk mereka karena mereka sedang bahagia-bahagianya menikmati proses atau bahkan dalam tahap menuju kesuksesan dalam hidupnya. Bukan untukku, delapan tahun adalah waktu terlama buat menunggu dan kembali menatap mata itu yang sorot matanya begitu tajam tapi meneduhkan. Delapan tahun, rasaku untukmu masih sama seperti awal aku berjumpa denganmu.
“Jangan takut!” sapamu sambil menepuk pundakku. Aku langsung menoleh ke arahmu yang dibalas dengan sorot mata yang begitu tajam. Oh Tuhan, saat itu aku seperti terkena aritmia. Mata yang indah dibalut dengan senyum yang menawan.
“Biasalah kalau MOS begini digunakan oleh senior untuk menunjukkan keseniorannya atau ya mereka gunakan untuk ajang balas dendam karena tahun kemarin mereka juga diperlakukan seperti kita.” Aku hanya tersenyum mendengar penjelasannya yang begitu panjang tersebut.
“Ohnya, hampir lupa. Kenalin, aku Pandu Dimas Revandra. Emm… kamu pasti Krisna Wahyu Pratama!” Kurasakan wajahku merona saat kamu tahu nama lengkapku. Namun, sedetik kemudian aku hanya mampu tersenyum bodoh sambil garuk-garuk tengkuk yang tak gatal.
“Benerkan itu nama kamu? Pas sekali dengan wajahmu yang manis,” ucapmu lagi sambil menunjuk papan nama dari kertas karton yang menempel di dadaku.
Itulah kali pertama aku berkenalan denganmu. Mungkin dari situlah awal takdir sedang menuliskan tentang kisah hidupku yang tak lagi sendiri melainkan ada namamu bersama mata tajam indah tersebut.
Kuedarkan pandanganku ke setiap sudut rumah makan, kenangan tentangmu menyeruak kembali. Delapan tahun yang lalu ditempat ini, yang dulu masih kita sebut warung nasi goreng. Namun, warung itu menjelma menjadi rumah makan yang cukup luas dengan menu tak sebatas nasi goreng seperti dulu. Ah, ternyata waktu begitu mudah mengubah segalanya, tapi mengapa waktu tak mampu mengubah perasaanku kepadamu.
Tuhan begitu baiknya menuliskan takdir aku denganmu. Bukan lagi kita yang satu gugus saat MOS, satu sekolahan, tapi kita sekarang satu kos-kosan. Hampir saja aku loncat kegirangan kalau tidak sadar bahwa aku harus jaga image di depanmu.
“Lucu ya ternyata kita bisa satu kos-kosan!” ucapmu lalu beralih mengambil ransel dan menuju ke kamar kosmu. Aku hanya diam sambil mengekorimu sambil menetralkan jantungku yang sejak menatapmu berdetak tak menentu.
“Kamarmu yang mana?” Aku menatapnya kembali. Masih sama mata tajam yang indah bagiku. Aku gelagapan untuk menjawabnya.
“Kamarku di depan kamarmu …!” jawabku sambil menunjuk kamar di depanmu. Kamu tersenyum lalu berkata yang membuat mukaku merona.
“Apa kamu ingin pindah dan sekamar denganku?”
“Maksudnya?”
“Sejak tadi kamu berdiri di kamarku. Sedang aku mau tidur dulu sebelum menata barang bawaan. Apa kamu masih ingin di sini juga, tidur sama aku!” godamu yang sukses membuat aku semakin merona.
“Sial!” Aku hanya mampu tertunduk lalu melangkah meninggalkan kamarmu. Walau dalam hati aku berharap itu terjadi. Tidur sekamar denganmu. Tuhan … mengapa si mata tajam itu membuatku segila ini. Kembali aku mengutuk diriku yang tak bisa meredam rasaku untukmu.
Hampir lima belas menit aku menunggumu. Namun, batang hidungmu pun tak tampak sekarang. Apa kamu masih ingat tentang rumah makan ini? Mungkinkah kamu tersesat karena rumah makan yang sekarang berbeda jauh dengan dulu. Sebodoh itukah dirimu jika masih lupa, bukankah kamu sendiri yang kemarin membuat janji bertemu di rumah makan Pakde Sapto ini. Aku masih setia mengamati rumah makan ini yang terlihat ramai apalagi ini sudah sore.
“Mas, jadi mau pesan apa?” kembali pelayan menanyaiku untuk memesan makan dan kembali aku menjawab sambil tersenyum.
“Nanti ya mbak … maaf temanku masih diperjalanan!” Sang pelayan pun mendengus lalu pergi. Mungkin dia kira aku hanya pengunjung yang numpang duduk sambil wi-fian gratis.
Saat itu aku masih sibuk mengerjakan soal-soal fisika yang begitu rumit. Sedang kamu sedang asyik mengotak-atik ponsel. Jujur aku begitu iri denganmu yang begitu banyak punya waktu luang, sedang aku selalu habis pulang sekolah, mandi, shalat lalu kembali mengejakan PR yang begitu menumpuk dan besok harus dikumpulkan. Maklum dulu aku anak IPA sedang kamu masuk jurusan IPS. Namun, kamu begitu populer ditambah lagi kamu adalah kapten tim futsal sekolah. Sungguh, aku begitu sebal dan kesal sekali setiap ada cewek-cewek ganjen yang berusaha mendekatimu. Bahkan, teman sekelasku pun begitu agresif tanya ini itu tentangmu terhadapku. Menyebalkan sekali bukan! Emang mereka kira  aku babysistermu. Cukup bahas cewek-cewek itu yang bikin emosi tingkat dewa.
Aku begitu pusing menentukan rumus tentang soal listrik statis, listrik dinamis, kukira sebentar lagi kepalaku akan mengeluarkan asap. Dari ujung mata, kulihat kamu tersenyum diambang pintu kamarku.
“Sibuk ya?”
“Lumayan. Kurasa guru fisika sedang semangat-semangatnya mengasih tugas!”
Kamu hanya geleng-geleng saja mendengar jawabanku. Lalu mengambil buku yang ada di depanku.
“Kurasa kamu tak akan tinggal kelas hanya tidak mengerjakan soal-soal tersebut dan kurasa kamu sedang butuh makan yang banyak untuk mengisi energimu kembali!” ucapmu sambil menimpuk pelan dengan buku ke kepalaku.
“Maksudmu?”
“Kita makan di luar sekarang, aku dan anak futsal lainnya sedang merayakan kemenangan tim kami minggu lalu. Dan kamu harus ikut denganku!”
“Tapi …,”
“Sudah, aku tunggu dua menit lagi!” potongmu sambil menatapku tajam. Aku yang ditatap seperti itu hanya bisa menurut tanpa membantah lagi.
Ramai. Itulah kesan pertamaku saat makan nasi goreng bersama teman-teman futsalmu. Namun, ada hal yang sebelumnya tak kumengerti tentangmu kini sedikit banyak mulai kuketahui dari obrolanmu bersama teman-temanmu. Ternyata, kamu diam-diam suka sama cewek bernama Almira kelas dua belas Ipa satu, sungguh hal itu membuat dadaku sesak. Selama makan nasi goreng entah mengapa yang kurasakan hanya hambar. Kurasa lidahku mulai mati rasa, bukan hanya lidah mungkin juga hatiku.
Kamu melambaikan tangan ke arahku lalu dengan sedikit tergesa-gesa duduk di kursi depan mejaku. Mata tajam indah itu kembali memenuhi otakku.
“Maaf membuatmu menunggu!” ucapmu sambil tersenyum menatapku.
“Mungkin sebentar lagi aku sudah ubanan gara-gara menunggumu.” Aku dan kamu pun tertawa bersama, tawa yang tak pernah kulihat lagi selama delapan tahun.
“Kamu sudah pesan makanan?” Aku menggeleng sambil mengamati dirimu yang tak banyak berubah setelah delapan tahun. Masih sama seperti dulu hanya sekarang kamu berjenggot yang tertata rapi di bagian rahang.
Aku masih mengingat kenangan delapan tahun lalu di tempat ini dan hari dimana itu adalah hari terakhirku melihatmu.
“Jam empat sore ini ya!” ucapku lesuh tanpa binar semangat sambil meminum es jeruk yang sedari tadi aku aduk-aduk saja.
“Iya. Ayah bilang sih begitu! Terima kasih ya dua tahun ini kamu menjadi teman satu sekolah dan kosanku yang begitu baik,” terangmu santai. Tak seperti dirimu, aku begitu gugup dan tak tahu apa yang terjadi ke depannya sepeninggal kamu tak ada lagi dalam hidupku.
“Kuharap setelah di sekolah barumu kamu tak akan melupakanku!” Apa yang kuucapkan barusan. Begitu bodohnya kalimat itu harus keluar dari mulutku. Kulirik kamu hanya tersenyum lalu dengan gemas mengacak-acak rambutku.
“Kamu sangat lucu, Kris … kamu harus tahu ini bahwa setiap yang datang pasti akan pergi atau menetap tergantung takdir yang menuliskannya bagaimana. Aku tak akan melupakan teman sebaik dirimu!” Hampir saja air mata menetes dari kelopak mata mendengar ucapan tersebut. Sekuat tenaga aku tahan, aku tak ingin terlihat cenggeng di hadapanmu kali ini. Aku harus kuat dan ikhlas biar takdir yang menjawab semua rasa ini untukmu.
Malam itu adalah malam dimana bantalku kuyup oleh air mata. Semalaman aku menangisi kepergianmu untuk pindah sekolah. Tuhan kalau boleh aku meminta biarkan dia tetap di sini bersamaku. Namun, kembali takdir berbicara lain kamu tetap pergi bersama ayahmu untuk pindah ke sekolah baru.
Delapan tahun. Waktu yang begitu menyiksa diriku untuk mengenang semua tentangmu. Kini, kamu benar-benar ada di depanku dalam wujud nyata. Tuhan, jika ini mimpi biarkan aku tidur selamanya dan jika ini imajinasiku biarkan aku bermain-main hingga napas terhenti.
“Kurasa kamu masih suka makanan ini, bukan?” Kulihat di meja sudah ada nasi goreng dan jus jeruk. Aku tersenyum sambil menatapmu dan kamu pun begitu membalas dengan senyum yang begitu menawan. Tuhan, ternyata dia masih mengingatnya.
“Kukira kamu sudah lupa!” Kamu tersenyum sambil menyantap nasi goreng. Perasaan itu kembali menyeruak tatkala kamu tersenyum seperti itu lagi.
“Mengapa baru kemarin kamu menghubungiku setelah delapan tahun kita tak pernah bertemu?” tanyaku yang membuat kamu berhenti mengunyah lalu menatapku.
“Tak ada alasan apapun. Sejujurnya aku tak enak hati mengganggu calon dokter sepertimu. Aku yakin kamu terlalu sibuk hanya sekedar membalas chat aku!”
Alasan konyol. Delapan tahun tanpa kabar darimu hanya bilang aku terlalu sibuk. Sekarang aku sadar sesadarnya kalau dirimu memang tak menganggapku berarti dalam hidupmu. Aku kecewa, tapi apa dayaku yang cinta sendiri kepadamu.
Tak ada obrolan berarti, aku dan kamu kembali sibuk dengan pemikiran masing-masing.
“Aku senang sekali bisa bertemu denganmu kembali. Seperti yang kukatakan tadi, aku sangat berharap kamu datang!” ucapmu lalu berdiri hendak meninggalkanku sedang aku hanya bisa sekuat tenaga tersenyum kepadamu walau kini hatiku begitu perih.
Kali ini aku berusaha untuk tak meneteskan air mata untukmu. Aku harus menerima takdir ini, bahwa aku dan kamu tak mungkin bisa bersatu. Aku memahami bukan dirimu yang tak peka akan perasaanku, tapi aku sendiri yang jatuh cinta kepadamu. Dan aku tak menyalahkan dirimu yang tak mencintaiku dan memilih seorang wanita untuk kamu nikahi. Kulihat undangan warna merah jambu di meja depanku. Kembali aku mengingat ucapanmu tadi.
“Aku ingin kamu datang ke acara pernikahanku dan aku lebih berharap lagi kamu mau jadi pendampingku nanti saat prosesi akad nikahku!”
“Mengapa harus aku?” tanyaku dengan nada bergetar menahan diri untuk tidak menangis.
“Karena kamu adalah satu-satunya sahabat yang tulus dan benar-benar aku sayangi. Dan kupastikan kamu juga punya rasa itu bukan!”
Aku hanya mampu menelan ludah lalu menatap mata tajam indahmu itu. Rasaku kepadamu adalah aku jatuh cinta kepadamu sedang kamu tidak.
“Terima kasih sudah menyayangiku, Pandu Dimas Revandra!”


_Selesai_

Kamis, 03 Agustus 2017

Restu Bumi

Restu Bumi adalah cerpen yang sempat mengalami Save-Delete berulang kali. Dan akhirnya dengan napas lega selesai juga. Maaf jika cerpen kali ini atau memang semua cerpenku tidak memuaskan hati para reader (Ceileh … emang punya pembaca ge er amat^^). Intinya jangan lupa kasih kritik dan sarannya. Selamat membaca!

Restu Bumi
Yanuari Purnawan


Pemuda tujuh belas tahun itu mengadu kesakitan. Di ruang bangsal rumah sakit tersebut dia menahan untuk tidak meneteskan air mata. Tangan lembut seorang wanita paruh baya dengan penuh kasih sayang mengelus-elus wajah pemuda yang sedang menahan sakit itu. Sang wanita paruh bayu itupun berusaha untuk tetap tegar di depan anak semata wayangnya.
“Bu … sakit …!” teriak sang anak sambil menggenggam erat tangan ibunya. Sang ibu berusaha menenangkan anaknya.
“Sabar ya, sayang! Bentar lagi dokternya datang.” Air mata sang ibu pun terjatuh membasahi pipinya yang keriput di makan usia. Bagaimanapun hati ibu mana yang tidak sedih kalau melihat darah dagingnya menangis kesakitan.
Hingga beberapa menit kemudian, seorang dokter pria muda menghampiri bangsal tempat pemuda yang kesakitan tersebut.
“Dengan keluarga Bu Nurhayati?” tanya sang dokter yang diikuti dengan seorang suster. Sang ibu mengangguk menjawab pertanyaan sang dokter tanpa melepas jemarinya yang digenggam sang anak.
“Saya  Dokter Restu Pradipta ahli bedah tulang,” ucap Dokter Restu memperkenalkan diri sebelum memeriksa sang pemuda. Mata Dokter Restu memandang sang pemuda itu dengan rasa iba dan kagum. Iba karena tampak begitu kesakitan dan kagum dengan wajahnya yang begitu manis.
“Mana yang sakit, Dek?” tanya Dokter Restu, entah mengapa tiba-tiba dia memanggil pasiennya dengan sebutan ‘Adek’. Mungkin bagi Dokter Restu karena usia sang pasien lebih muda darinya. Sang pemuda yang kesakitan tersebut menunjuk pergelanggan kakinya. Spontan Dokter Restu memeriksa pergelangan kaki sang pemuda. Dia sempat tertegun melihat kaki sang pemuda, mulus seperti kaki anak perempuan.
“Suster, minta foto sito ekstremitas bawah lalu bawah foto basahnya pada saya,” ucap Dokter Restu kepada sang suster yang begitu cekatan menulis perintahnya.
“Bagaimana, Dok, kaki anak saya?” tanya Bu Nurhayati dengan nada penuh kekhawatiran.
“Dari hasil foto nanti kita bisa lihat lebih jelas,” ucap Dokter Restu lalu pergi meninggalkan ruang bangsal tersebut. Ada setitik rasa entah itu apa yang begitu halus menyergap Dokter Restu tatkala matanya memandang sang pemuda tersebut. Mungkin hanya takdir yang mampu menerjemahkan semua rasa itu.
*
Dokter Restu begidik melihat hasil foto sang pemuda tersebut. Dokter muda itu terlihat kalut dengan apa yang dia lihat ini. Kasihan pemuda seusianya harus berjuang melawan penyakit yang begitu berbahaya.
“Kemungkinan besar osteosarkoma,” ucap Dokter Restu lirih.
Osteosarkoma adalah kanker ganas yang menyerang tulang. Kemudian Dokter Restu menghubungi suster untuk segera melakukan CT scan.
“Lakukan CT scan untuk pasien Bumi Syailendra!”
Nama yang begitu indah, seindah paras sang pemilik nama tersebut. Bagaimanapun dia adalah pasienmu, ingat itu Restu. Pikiran Dokter Restu tidak hanya terfokus pada penyakit sang pemuda itu, tetapi juga kepada diri sang pemuda tersebut.
Setelah melihat hasil CT scan, memang menyokong diagnosis Dokter Restu.
“Segera lakukan biopsi agar kita bisa menentukan tingkat keganasan kanker secara histologis,” perintah Dokter Restu. “Panggil pasiennya,” lanjutnya datar.
*
“Masih sakit?” Pemuda yang usianya kira-kira tujuh belas tahun itu mengerjap menatap sang pemilik suara. Matanya lekat memandang dokter muda di depannya. Dokter ganteng nan menawan pikirnya kemudian. Bumi menggeleng tanpa berkata apapun. Dokter Restu memandangnya dengan rasa gemas, ingin baginya mengacak-acak rambut sang pasien itu. Namun, segera niat itu pupus karena dia tahu kalau dia adalah dokter dan harus menjaga etika serta profesional kerja.
“Dokter … apa penyakitku ini parah?” tanya Bumi dengan tatapan sendu. Sekali lagi Dokter Restu memandang Bumi dengan rasa iba dan entah rasa apa lagi itu yang sulit dia jabarkan sendiri. Sejak tadi dia menahan untuk tidak bertindak jauh, tetapi jemari-jemarinya berhasil mengacak-acak rambut Bumi.
“Kami akan melakukan yang terbaik. Jadi, tugas Bumi harus tetap optimis untuk sembuh!” Senyum mengembang dari keduanya. Senyum penuh ketulusan dan pengharapan akan sebuah takdir yang tertulis tentang mereka.
*
“Amputasi, Dok!” Bu Nurhayati merasa tak percaya mendengar penjelasan Dokter Restu bahwa anak semata wayangnya harus mengidap penyakit kanker ganas yang mengharuskan anaknya kehilangan kaki kirinya.
“Apa tidak ada pilihan lagi, Dok?”
Dokter Restu menggeleng, “ini adalah cara satu-satunya agar sel kanker tidak menyebar ke organ lainnya.”
Mendengar kenyataan itu terasa begitu pahit dan memiluhkan bukan hanya bagi Bu Nurhayati, tetapi terlebih bagaimana beliau mampu menjelaskan semua kepada sang anak, Bumi.

“Begitu parahkah, Dok, penyakitku ini sampai-sampai aku harus diamputasi?” tanya Bumi ke Dokter Restu yang sedang siaga mengecek kondisi Bumi sebelum melakukan amputasi. Dokter muda itu hanya memberikan senyum terbaik kepada pasiennya tersebut.
“Dokter … apakah di dunia ada orang buntung yang menjadi dokter?”
“Maksudnya?” Dokter Restu mengalihkan pekerjaaanya sebentar untuk menatap Bumi yang memiliki mata malaikat itu, bening dan penuh ketulusan.
“Dulu aku bercita-cita menjadi dokter, tetapi setelah kenyataan bahwa aku akan jadi buntung mungkin cita-citaku akan pupus begitu saja!”
Air mata telah membasahi pipi cubby Bumi. Dokter Restu yang melihatnya menjadi tersentuh dan seketika memeluk Bumi penuh kehangatan.
“Semuanya ada takdirnya masing-masing!” Dokter Restu berusaha menyemangati Bumi dengan mengelus-elus punggung pemuda yang begitu menarik perhatiannya.
“Iya, Dok. Kalau tidak jadi dokter mungkin aku bisa jadi suster ngesot,” ucap Bumi sambil melepas pelukan Dokter Restu. Mereka pun tertawa bersama di dalam kesedihan. Rasa yang entah bagaimana datangnya menghangat di hati Restu dan Bumi.
*
Ada rasa takut menjalar ketika Bumi harus masuk ke ruang operasi. Namun, dia masih bersyukur karena ada Dokter Restu yang siaga di sampingnya. Sejak mau masuk ruang operasi jemari Bumi dengan erat menggenggam jemari Dokter Restu. Baginya dengan menggenggam jemari dokter idolanya tersebut ada secercah energi baru yang masuk ke dalam tubuhnya. Dokter Restu hanya diam dan fokus walau ada rasa hangat di hatinya. Diam-diam dia berdoa agar Bumi kuat dan tenang saat operasi nanti.
“Dok, aku takut?” ucap Bumi lirih.
“Tenang ya … nanti adek dibius. Jadi, tidak akan merasakan apa-apa!” jelas Dokter Restu dengan nada begetar. Di sampingnya sudah ada dua dokter lainnya yang membantu operasi beserta dua perawat.
“Sebelum dibius aku mau bilang semoga aku bisa mendengar suara Dokter Restu lagi!” Dokter Restu tersenyum tegar dan perlahan mata bening yang memancarkan ketulusan itu terpejam.
Empat jam lebih operasi itu berlangsung dan berjalan lancar. Dokter Restu masih setia menjaga Bumi di ruang pemulihan pasca operasi. Matanya tak lepas memandang sesosok pemuda yang masih tertidur akibat obat bius. Tangannya perlahan membelai wajah yang begitu teduh dan manis itu. Tanpa sadar air mata menggenang di pelupuk mata Dokter Restu hingga perlahan membasahi wajah tampannya.
“Dek, kamu harus kuat!” ucap Dokter Restu sambil menggenggam jemari putih pucat milik Bumi. Dikecupnya jemari tersebut lalu dia pun mengecup kening Bumi penuh kasih sayang.
*
Matanya masih sembab, dia berusaha tegar untuk tidak meratapi nasibnya. Namun, apa daya dia terlalu muda menerima kenyataan bahwa dia harus kehilangan kaki kirinya. Tuhan tak adil pikir Bumi. Ibunya pun berusaha membesarkan hati putranya tersebut.
“Percayalah, Nak, akan ada pelangi setelah badai,” ucap Bu Nurhayati lembut sambil memegang tangan anaknya. Beliau paham dengan apa yang dirasakan Bumi, persis seperti lima tahun lalu ketika Bu Nurhayati kehilangan suaminya akibat kecelakaan. Raut wajah Bumi pun sama ketika dia kehilangan sang ayah untuk selamanya dan kini dia pun harus mendapati kalau kakinya tak sempurna lagi.
“Permisi … adek sudah baikkan?” sapa Dokter Restu tanpa digubris Bumi, tatapannya masih fokus pada perban di kaki kirinya.
“Kalau diam berarti sudah baik nih!” Bumi menatap dokter idolanya tersebut dengan tatapan sendu tanpa binar semangat seperti biasanya.
“Mendapati aku sekarang buntung, apa aku harus teriak kegirangan!” ucap Bumi sinis kembali matanya menahan bendungan agar tidak jatuh. Dokter Restu diam, lidahnya kelu dan entah ada rasa iba serta sayang di hatinya.
Sebelum meninggalkan ruangan tersebut Dokter Restu tersenyum ke arah Bumi lalu berkata, “Dek, minggu ini kamu sudah pulang. Bolehkah dokter mengajakmu jalan-jalan?” Mata Bumi lekat memandang bola mata yang indah di depannya tersebut tanpa mampu berkata apa-apa.
“Karena diam, maka dokter rasa adek setuju. Oke, sampai ketemu minggu depan!” Dokter Restu pun menghilang dari pandangan Bumi yang berhasil menyisahkan rasa penasaran di hati Bumi sekarang.
*
“Setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing.”
Suara itu berhasil memecah kebisuan di antara mereka berdua. Bumi masih fokus melihat apa yang ada di depan matanya kini. Hatinya tersentuh dan menyesal pernah berpikir bahwa Tuhan tak adil akan hidupnya. Sekarang dengan mata kepalanya sendiri dia melihat bagaimana anak-anak dengan tidak kesempurnaannya begitu luar biasa semangat untuk melanjutkan hidup.
“Ini buat Dokter Restu dan ini buat Kak Bumi,” ucap gadis mungil itu sambil menyodorkan gelang dari manik-manik warna cokelat muda kepada Dokter Restu dan Bumi. Bumi menerima gelang tersebut dengan hati bergerimis.
“Terima kasih, Tasya manis!” Gadis bernama Tasya itu pun berlalu yang sebelumnya tersenyum ke arah mereka berdua. Bumi melihat Tasya berjalan dengan menggerakkan tangan dan tubuhnya. Tasya tidak punya kaki.
“Tasya kecelakaan satu tahun lalu yang mengharuskan dua kakinya di amputasi,” terang Dokter Restu yang menangkap rasa penasaran di wajah Bumi.
“Dok … apa rasa syukur itu sebenarnya?” Mata Bumi mengerjap tanpa memandang Dokter Restu. Sang dokter idola itu menarik lengan Bumi hingga tubuh Bumi berhimpit dengannya. Bumi bisa merasakan detak jantung dan bau parfum Dokter Restu.
“Rumah Pelangi ini kami dirikan karena adanya rasa syukur itu. Bersyukur kala nikmat dan bersabar kala ujian menerpa. Kamu tahu dimana rasa syukur itu?” Kembali Mata Dokter Restu memandang wajah manis di sampingnya tersebut. Bumi pun melakukan hal yang sama dengan Dokter Restu. Mata mereka beradu, desiran halus itupun menyusup ke dalam hati mereka yang mulai menghangat karena adanya rasa, rasa memiliki dan menyayangi.
“Rasa syukur itu terletak di hati kita masing-masing. Ketika hati ini peka akan segala nikmat-Nya percaya sebesar apapun ujian dari-Nya, semua akan terasa ringan karena kita akan menyadari bahwa nikmat-nya jauh lebih besar dari segala ujian yang menimpa. Dek, ibarat besi semakin ditimpah beban berat, besi tidak mengeluh tetapi mampu menjelma menjadi pedang yang tajam.”
Kecupan di pipi Dokter Restu itu begitu cepat. Bumi hanya tertunduk sambil tersipu malu, sedangkan Dokter Restu tertegun mendapat kecupan mendadak tersebut.
“Maaf, Dok! Aku tidak bisa menahannya!”
Dokter Restu masih tak percaya dengan apa yang terjadi barusan. Bumi mengecup pipi kanannya, ada rasa hangat yang menyelingkupi hatinya.
Dalam perjalanan pulang pun Dokter Restu tak banyak bicara dan fokus mengemudi mobil. Sedangkan Bumi yang duduk di sebelahnya pun diam dengan memandang ke arah luar jendela. Hening. Hujan pun turun begitu deras memecah kesunyian diantara mereka.
“Terima kasih atas hari ini, Dok!” ucap Bumi tatkala mereka sudah sampai di depan rumah Bumi. Dokter Restu mengambil payung mengeluarkan krek dari bagasi lalu menuju beranda rumah. Melihat hal tersebut Bumi bertanya-tanya mengapa kreknya di taruh di beranda. Dokter Restu mengetuk kaca mobil, seketika Bumi membukanya. Belum hilang rasa penasarannya, Dokter Restu sudah membungkuk.
“Buruan sebelum hujannya tambah deras. Ayo naik!”
“Tapi, Dok!” Bumi ragu untuk naik ke atas punggung Dokter Restu.
“Apa perlu aku paksa kamu untuk mau digendong?” Bumi tersenyum mendengar ucapan Dokter Restu, hatinya menghangat ketika dia berada dalam gendongan dokter idolanya tersebut.
*

Tiga minggu pasca operasi, Bumi menjalani rawat jalan. Dan Dokter Restu yang bertugas di poliklinik bedah. Dengan ceketan dia kembali memeriksa foto tulang dan hasil biopsinya. Dia berharap kalau anak sebar kankernya tidak sampai ke paru-paru, walaupun dalam pemeriksaan sebelum operasi tidak ditemukan metastasis jauh ke organ lain. Namun, setelah melakukan punksi percobaan untuk mengeluarkan cairan dari paru-paru Bumi. Dokter muda itu melihat cairan yang keluar dari paru-paru itu memerah seperti cucian air daging. Dokter restu mencoba menahan untuk tidak menangis. Ternyata amputasi kaki untuk Bumi sia-sia belaka. Anak sebarnya telah sampai ke paru-paru, hampir tidak ada harapan lagi.
Dilihatnya Bumi yang sedang asyik membaca di ruang rawat inap. Setelah mengetahui tingkat anak sebarnya, Dokter Restu menyarankan untuk rawat inap.
“Dek, bagaimana keadaanmu?” ucap Dokter Restu lesuh. Melihat ekspresi Dokter Restu, Bumi menangkap ada sesuatu yang terjadi dalam dirinya walaupun dia pun sudah merasakannya.
“Seperti yang dokter lihat aku baik-baik saja. Malah dua minggu yang lalu aku belajar melukis!” Binar di mata Bumi membuat Dokter Restu ingin memeluk pasien favoritnya yang tegar dan penuh semangat tersebut.
“Apa dokter bisa melihat hasil lukisannya?”
“Semoga saja ya, Dok, sebelum Bumi pulang!”
Dokter Restu mengacak-acak rambut Bumi penuh sayang dan sedih. Karena, dia harus mendapati Bumi yang masih muda tersebut tak akan lama menapaki hidup.
“Dokter … terima kasih atas semua kenangan indahnya selama ini!”
Air mata menganak sungai di mata Dokter Restu, sekuat tenaga dia menahannya agar terlihat tegar dihadapan Bumi. Jemari mereka saling bertautan, perlahan Bumi melepaskannya sambil menatap haru Dokter Restu.

Bu Nurhayati dengan setia berada di samping anaknya. Matanya bengkak dan terlihat putus asa. Beliau mengetahui bahwa penyakit Bumi sudah berada dalam stadium akhir. Tangannya mengusap lembut wajah lalu membelai punggung tangan anak semata wayangnya yang sedang tertidur pulas. Air matanya tak mampu terbendung lagi, beliau terisak dan berdoa jika memang telah tiba saatnya semoga Bumi berada di tempat yang mulia di sisi-Nya.
Tiba-tiba Bumi bangun dengan keadaan sesak napas. Bu Nurhayati panik bergegas memanggil dokter. Dokter Restu yang siaga lalu berhambur ke ruangan Bumi bersama para perawat. Dokter Restu memimpin tindakan resusitasi terhadap pasiennya.
“Ayo … Bumi … bertahanlah!” Dalam kepanikan Dokter Restu masih berharap Bumi mampu bertahan lebih lama lagi. Dia masih ingin melihat senyum dan binar ketulusan dari mata Bumi.
Namun setelah berjuang selama satu jam akhirnya mereka menyerah juga. Bumi mengembuskan napas terakhirnya, tanpa sempat mengucapkan sepata kata terakhir kepada ibunya dan Dokter Restu. Kepedihan menyelimuti hati Bu Nurhayati yang mendapati harus ditinggalkan oleh suami dan anaknya. Di sudut lain, seorang dokter muda berusaha untuk tegar dan tidak menangis. Dokter Restu menulis surat laporan kematian Bumi dengan hati yang ditabah-tabahkan, sebenarnya saat ini dia ingin berteriak dan menangis sekeras-kerasnya. Walaupun dia sering menangani pasien meninggal dunia, entah mengapa pada Bumi, Dokter Restu merasakan benar-benar terpukul dan kehilangan. Di dalam mobil saat hendak pulang, Dokter Restu tak bisa lagi menahan untuk tidak menangis. Dia menangis dalam sepi dan hening, bayangan Bumi berkelabat di otaknya.
*

Gundukkan tanah itu basah dengan taburan bunga yang masih segar, tertulis di batu nisan ‘Bumi Syailendra’ 28 Januari 1999-20 April 2016. Beberapa orang sudah meninggalkan pemakaman. Tak terkecuali Bu Nurhayati yang harus dipapah para kerabat saat meninggalkan pemakaman, beliau begitu terpukul dan sempat pingsan.
Hanya ada satu orang yang masih setia berada di pemakaman. Dokter Restu menatap batu nisan di depannya, diusapnya perlahan. Dia menangis dalam diam tanpa air mata, hatinya bergerimis. Dia menahan semua rasa itu sendiri kini, rasa untuk selalu bersama dan memiliki utuh pasien muda berparas manis. Bumi. Hampir air matanya tumpah ketika melihat tubuh orang yang dekat dengannya harus tertimbun tanah dan tak akan pernah kembali lagi untuk selamanya. Setelah puas memandang pusara Bumi, Dokter Restu beranjak pergi yang sebelumnya dia mengecup batu nisan baru tersebut.
“Selamat jalan …!”

Di dalam mobil Dokter Restu melepas kacamatanya yang tadi sempat menyembunyikan bola matanya yang merah. Dia menatap kotak warna cokelat yang berada di sampingnya. Sebenarnya dia ingin membukanya sewaktu dia tahu siapa pengirim kado tersebut. Namun, dia urungkan karena sibuk dengan pasien lain dan proses pemakaman Bumi. Perlahan dibukanya kotak itu, ternyata berisi kertas kecil dan kertas besar yang digulung. Dibacanya isi tulisan di kertas kecil tersebut.

For, Dokter Restu Pradipta

Ketika angin membawa harapan
Terhempas ke dalam cawan
Beisi secercah kehidupan
Pada takdir tertawan
Terikat restu bumi keabadian

From, Bumi Syailendra

Diambilnya kertas yang digulung itu lalu dibuka, air mata membasahi pipi Dokter Restu. Wajah dalam lukisan itu begitu teduh dengan binar mata penuh ketulusan.
“Terima kasih, Dek!” Didekapnya lukisan itu bersama luka kenangan yang tak akan terhapus oleh hujan dan waktu.

_Selesai_




Selasa, 27 Desember 2016

Cahaya Hijrah

Cahaya Hijrah
Yanuari Purnawan


Kota Pasuruan diguyur hujan yang tak begitu lebat, namun mampu membuat orang-orang berhamburan mencari tempat berteduh. Begitupun dengan diriku yang berlari menuju emperan toko yang sedang tutup. Aku menggerutu dan mengutuk diri karena cuaca yang tak bersahabat hingga membuat sebagian kemeja dan celana basah. Andai tadi aku menerima tawaran Andi untuk pulang bareng, pasti tidak akan seperti ini jadinya.

Mataku menelusur ke arah jalan raya, berharap masih ada angkutan umum di jam seperti ini. Iya, biasanya angkutan umum akan lama pas jam mau maghrib. Entah mengapa Pak Sopir akan beroperasi setelah maghrib. Lagi-lagi aku harus mengasihani diri, karena harus terlambat pulang ke rumah. Ketika hendak menerobos hujan, ada sebuah mobil berhenti di depanku lalu seseorang membuka kaca mobilnya.
“Ari, ya?” sapanya sambil tersenyum ke arahku. Aku hanya diam sambil menunjuk diri sendiri.
“Yuk, masuk! Angkot jam segini biasanya lama, daripada lama menunggu, mending bareng. Kita kan se arah.”
Aku menatapnya lalu masuk ke dalam mobil avanza warna silvernya. Aku masih saja diam saat dia menyalakan mobilnya. Kenapa dia baik banget kepadaku? Tapi, sepertinya aku pernah melihatnya, entah kapan dan dimana. Aku berusaha memutar otak, namun dia sepertinya tahu rasa penasaran yang sedang aku rasakan sekarang.
“Ya Allah … ternyata kamu lupa sama aku! Ini aku, Saipul Hadi, mantan anak SMA 1 juga. Inget nggak?” Aku hanya menggeleng dan menyesali diri ini yang pelupa.
“Kalau yang pernah malak kamu di kamar mandi cowok pas SMA, inget kan?”
Keterangan dia barusan membuat diriku tersentak. Siapa yang tidak ingat kejadian naas yang menimpaku waktu itu. Segerombolan anak cowok kelas sebelas sedang nongkrong di toilet dekat kantin. Saat itu aku buru-buru mau ganti baju olahraga, tanpa permisi aku menerobos segerombolan kakak kelas tadi. Malang tidak bisa dielak, mereka malah menarikku masuk ke dalam toilet dan memalakku. Alhasil, uang jajanku yang tak seberapa itu diambil kakak kelas. Dan salah satu kakak kelas itu adalah yang sedang mengemudikan mobil ini.

Sebenarnya aku ingin bertanya kepadanya, namun harus tertahan karena suara azan maghrib berhasil memecah kesunyian sore yang basah ini. Saipul menepikan mobilnya tatkala kita sudah berada di depan pelataran masjid. Aku merasa ragu dan tak percaya, apakah mantan preman sekolah ini akan shalat atau mau mencuri kotak amal masjid?
“Yuk, kita shalat dulu! Bukankah shalat di awal waktu itu lebih utama pahalanya.”
Aku menelan ludah, apa yang terjadi kepadanya sekarang. Bicaranya santun dan terkesan jauh dari dirinya delapan tahun yang lalu. Aku menduga dia pernah gagar otak atau kepalanya pernah membentur tiang listrik.

“Sepertinya ada yang ingin kamu tanyakan dari tadi?” tanyanya sambil meletakkan teh manisnya yang diminumnya sedikit. Tadi, habis salat dia mengajakku untuk makan dulu sebelum pulang. Sebenarnya aku mau menolak, namun cacing di perutku sepertinya tidak bisa diajak kompromi.
“Aku hanya heran dan tak percaya, mantan preman sekolah mendadak alim begini!” Raut wajahnya seketika tampak sedih, “maaf jika ucapanku barusan menyinggung perasaanmu.”
“Bukankah setiap orang berhak untuk berubah! Dan inilah diriku sekarang yang berhijrah dari zaman jahiliyahku dulu. Serta ingin terus belajar untuk menjadi kekasih terbaik-Nya.” Dia menatapku sambil tersenyum, gurat kesedihan yang tadi sempat terlihat di wajahnya hilang. Aku mengangguk, menyetujui apa yang barusan dia ucapkan.
“Terus bagaimana ceritanya kamu bisa berhijrah seperti sekarang dan belajar menjadi kekasih terbaik-Nya?”
Lagi-lagi senyum menghiasi wajah teduhnya, berbeda sekali dengan dia pas zaman SMA yang begitu menyebalkan dan arogan.
“Semua berawal ketika ayah dan ibu memutuskan bercerai, waktu itu aku menginjak bangku SMA. Sungguh, saat itu aku benar-benar tertekan dan melampiaskan dengan menjadi preman sekolah. Dengan membuat onar di sekolah otomatis membuat diriku mendapatkan perhatian, walau kuakui itu salah.” Dia mengambil jeda dengan menarik napas seperti hendak mengumpulkan energi untuk mengenang masa lalunya.
“Semasa SMA itulah aku selalu dicap sebagai anak nakal dan bandel. Ternyata selapas lulus, kehidupanku jauh lebih buruk lagi. Ayah menyuruhku masuk kepolisian, sedang ibu menginginkanku kuliah keguruan. Saat itu aku muak dengan mereka berdua, yang mereka pikirkan hanya reputasi dan nama baik mereka saja. Tanpa mau mendengar apa yang aku mau. Akhirnya aku memutuskan untuk kuliah keguruan, namun itu hanya bertahan satu tahun.” Matanya berkaca-kaca. Sepertinya beban hidup di masa lalunya begitu berat. Jujur, aku tak pernah menyangka jika si preman sekolah punya cerita hidup yang begitu berliku.
“Bertahan satu tahun! Apa kamu di D.O?”
Aku masih penasaran dengan ceritanya. Dia meminum teh manisnya yang tinggal setengah itu lalu menatapku dan mengangguk.
“Kenapa kamu di D.O? Jangan bilang kamu jadi preman kampus!” Dia kembali tersenyum sambil menggeleng.
“Aku D.O karena aku kecanduan narkoba dan hampir mati gara-gara over dosis!”
Aku yang mendengar pengangkuannya hanya geleng-geleng tak percaya. Lalu dia menunjukan lengan tangan kirinya, ada bekas sayatan pisau di situ.
“Saat hampir mati itulah cahaya-Nya seolah menyentuh mata batinku,” lanjutnya yang kini mulai ceria lagi.
“Maksudmu, hijrah?” Dia mengangguk lalu mengambil ponselnya dan menunjukan foto seorang nenek-nenek bersamanya.
“Lewat tangan neneklah aku berjalan tertatih untuk menuju jalan-Nya. Sedang orang tuaku hanya mengirimkan biaya pengobatan, tanpa sedikitpun berempati menjengukku kala itu. Tapi, nenek dengan kasih sayang dan kesebarannyalah yang terus merawat dan menemaniku.”
Obrolan kita pun harus berhenti, tatkala makanan pesanan kita diantar oleh pelayan. Aku menikmati nasi goreng, sedang dia memilih nasi dengan lauk ayam goreng. Di sela-sela makan, rasa penasaranku mengusik untuk bertanya lebih lanjut kepadanya.
“Lalu setelah keluar dari rumah sakit itu kamu langsung berubah jadi baik?”
“Kurasa tidak ada yang instan untuk mencapai sesuatu di dunia ini. Bukankah mie instan saja untuk dimakan masih perlu direbus dulu,” jawabnya penuh filosofis.
“Jadi, kamu kembali ke obat-obatan terlarang itu?” Seperti wartawan saja diriku ini, dari tadi tanya ini itu kepadanya. Namun, aku tak ingin menyia-yiakan samudera ilmu yang ada di depan mata. Bukankah pengalaman orang lain adalah sebagian dari ilmu.
“Saat di rumah nenek, aku kembali sakaw dan ingin bunuh diri. Namun, lagi-lagi Allah menyelamatkanku dan masih memberi kesempatan untuk hidup. Nenek begitu terpukul dengan kelakuan yang tak kunjung berubah. Atas saran teman nenek, aku disuruh di masukan ke pesantren saja.”
Kita pun menghabiskan makanan yang tersaji di meja, sebelum dia melanjutkan cerita hijrahnya.
“Percaya atau tidak, jadi anak pesantren bukanlah impianku. Namun, ditempat itulah cahaya hijrah seorang Saipul Hadi bermula. Berkali-kali aku meminta nenek, untuk mengeluarkan aku dari pesantren itu. Namun, nenek dengan sabar bilang bahwa pesantren adalah rumahku dan menyuruhku untuk merenung dengan apa yang terjadi dalam kehidupanku.”
“Nenekmu begitu luar biasa, ya!” banggaku tulus kepada neneknya, dia pun tersenyum menatapku.
“Tapi, sayang beliau meninggal satu tahun yang lalu karena sakit.” Air mukanya kembali tampak sedih, “Namun berkat kesabaran nenek, kini aku sadar bahwa hidup itu adalah amanah. Jadi, mau digunakan seperti apa hidup ini, mau dikoridor-Nya atau tersesat menuju kegelapan. Jujur aku pernah tersesat, namun aku bersyukur karena cahaya-Nya telah menuntunku untuk kembali dan beusaha menjadi kekasih terbaik-Nya.”

Mobilnya berhenti di depan gang rumahku. Aku terdiam dan tidak langsung turun.
“Kurasa kamu masih punya utang kepadaku, uang yang dipalak kamu itu!” Dia tampak terkejut lalu merogoh dompetnya.
“Bercanda!” jawabku, “aku ikhlas kok dengan kejadian itu dan sudah maafin kamu!” Aku pun turun dari mobilnya. Sebelum menutup pintu mobilnya, dia tersenyum ke arahku.
“Terima kasih sudah mau maafin aku dan menjadi pendengar yang baik.”
“Aku juga berterima kasih. Karena saat mendengar cerita hidupmu, aku jadi semangat lagi untuk terus belajar menjadi kekasih terbaik-Nya.”
Mobil itu pun berlalu dari hadapanku, menyisakan diriku yang masih mematung di depan gang. Aku berusaha mencerna apa yang terjadi dalam kehidupan Saipul Hadi. Bahwa setiap orang punya masa lalunya masing-masing, namun hanya sedikit orang yang beuntung bisa berdamai dengan masa lalunya. Mengambil keputusan untuk mengejar cahaya-Nya dengan cara berhijrah. Ya Allah, tuntun dan kumpulkan hamba dengan orang-orang yang terus belajar untuk menjadi kekasih terbaik-Mu.


Selesai

Kamis, 10 November 2016

Jodohku Maunya Kamu [1]

Jodohku Maunya Kamu
Yanuari Purnawan


Kau adalah bagian dari mimpi-mimpiku yang tak pernah bisa kuraih.

Apa mungkin diri ini sudah gila. Mencintai seseorang hingga tak ingin satupun bisa memilikinya, kecuali aku. Egois memang, tapi inilah cinta. Cinta yang akan aku perjuangkan sampai kapanpun.
Laki-laki tampan dan saleh itu bernama Aditya Putra Angkasa. Entah apa yang terjadi kepadaku, seperti ada medan magnet yang menarikku untuk selalu mendekat kepadanya. Dia adalah lelaki pertama yang mampu menguasai seluruh hati ini. Ketampanannya itu pasti menjadi daya pikatnya, namun bukan itu saja yang membuat dia begitu sempurna di mata kaum hawa. Sikapnya yang begitu sopan dan berwibawa, ilmu agama mempuni serta calon dokter muda. Bagaimana? Paket komplit sebagai calon pengeran surga.

Aku hanya membolak-balik buku yang aku ambil di rak buku tanpa membacanya. Suasana perpustakaan begitu mendukung dengan apa yang kurasa kini. Sunyi. Aku merasa duniaku sudah tak berwarna lagi dan tak ada semangat untuk melanjutkan hidup. Semua rasa kecewa ini hadir karena sosok yang menjadi idola satu kampus, yakni Kak Adit.
“Kasihan tuh buku kalau cuma dibolak-balik saja!” sapa seseorang yang begitu familiar suaranya di gendang telingaku. Kutatap dengan rasa malas siapa yang menyapa, Rahmi, sahabatku sedang tersenyum dimanis-manisin dihadapanku.
“Buku itu buat dibaca, bukan jadi bahan amarah, Neng. Kalau begitu terus kapan pinternya!” lanjut Rahmi lalu mengambil buku di depanku. Aku hanya mendesah sambil menunduk tanpa melihatnya.
“Kayaknya ada yang lebih serius dari sekedar buku?”
Aku tak menggubris perkataan Rahmi yang datang hanya ingin merecoki. Sungguh, aku tak mood untuk berbicara dengan siapapun kini. Masalah Kak Adit, atau tepatnya masalahku sendiri yang begitu besar mencintainya. Rahmi bangkit dari tempat duduknya hendak meninggalkan perpustakaan. Mungkin, dia jengkel karena sedari tadi ucapannya tak mendapat respon baik dariku. Biarlah aku juga ingin sendiri.
“Bella … seberat apapun masalahnya, aku masih Rahmi sahabatmu yang siap mendengarkan semua keluh kesahmu!”
Rahmi siap pergi, namun aku lebih cepat membuatnya tetap berdiri di tempatnya.
“Kurasa kafe dekat kampus nyaman buat ngobrol!”
Sepertinya ucapanku barusan berisi tawaran. Iya. Rahmi benar aku sekarang butuh teman untuk membagi beban yang sedang kurasakan.
“Ba’da zuhur!” Rahmi tersenyum ke arahku sebelum tubuh mungilnya menghilang di balik pintu. Aku membalas dengan senyum yang sedikit kupaksa.
*
Kita tak bisa menawar hati untuk berpaling dari cinta. Cintalah yang menentukan kemana akan berlabuh.

Aku masih mengaduk jus orange yang kupesan dua menit lalu. Rahmi belum datang ke kafe tempat kita janjian tadi. Mungkin dia masih shalat zuhur. Bagiku Rahmi bukan sekedar sahabat, tapi sudah seperti kakak yang setia menasihatiku ketika sedang ada masalah. Dari persahabatan ini, mungkin aku yang lebih diuntungkan oleh sifatnya.
“Maaf ya, sudah lama menunggu?” sapanya dengan nada penyesalan. Aku tersenyum lalu dia duduk di kursi di depanku. Rahmi pun memanggil pelayan dan memesan minuman yang sama denganku.
“Kurasa telingaku sudah siap buat dengerin keluh kesah sang penanti cinta!” goda Rahmi sambil mengedipkan mata ke arahku.
Aku mendesah panjang berusaha mengeluarkan apa yang terpendam di dalam hati dan pikiran. Aku memang tak mampu menyimpannya sendiri.
“Kak Adit akan mengkhitbah Kak hana,” ucapku lirih seperti tak kuat menerima kenyataan ini. Rahmi tersenyum memandangku, mata itu tulus memancarkan kasih.
“Jika itu masalahnya, aku tak bisa berbuat apa-apa. Karena, kamu sedang berurusan dengan dirimu, hatimu.”
Benar apa yang dikatakan Rahmi, yang mampu mengakhiri semua ini hanya ada pada diriku. Tapi, cinta yang sudah tersimpan di hati atas nama Kak Adit sulit untuk dihapus begitu saja. Bagaimana aku bisa move on, jika mendengar namanya saja hati ini sudah berdesir halus.
“Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus mengiba kepada Kak Hana untuk menolak pinangan dari Kak Adit? Atau aku merelakan mereka bahagia di atas deritaku,” terangku sambil menahan agar bening hangat tak jatuh dari kelopak mata. Namun sia-sia, pipiku sudah basa oleh air mata. Rahmi berusaha menguatkanku sambil memegang erat jemariku.
“Apa aku salah terlalu mencintai seseorang yang sebentar lagi mengkhitbah orang lain? Salahkah rasa cinta ini jika menginginkan dia jadi milikku saja?”
Aku menyeka air mataku dan beusaha tenang, tatkala pesanan Rahmi diantar pelayan. Rahmi tersenyum lalu mengucapkan terima kasih. Pelayan itu pun membalas senyum Rahmi lalu bergegas meninggalkan meja kita. Aku meminum jus orange yang dari tadi hanya aku aduk-aduk.
“Aku tahu bersaing dengan Kak Hana hanya akan menyisakan kecewa. Jika, wanita itu bukan Kak Hana mungkin aku bisa mengambil hati Kak Adit dengan mudah. Ya Allah, kenapa harus Kak Hana?” ucapku lirih sambil menutupi wajah dengan telapak tanganku. Rahmi menggapai tanganku lalu meremas erat jemariku. Kita saling berpandangan.
“Bella, aku mengerti perasaanmu kini. Namun, lebih elok lagi jika rasa cintamu itu mampu menjadi taman-taman surga untuk dirimu dan orang lain!” Senyum mengembang dari bibir Rahmi, parasnya begitu menenangkan bagi siapa yang memandangnya. Rahmi memang tak secantik wanita kebanyakan, dia memiliki tubuh mungil dan cubby. Tetapi, dia memiliki kecantikan seorang muslimah yang jarang dimiliki wanita lain.
“Lalu aku harus bagaimana? Sulit bagiku mengikhlaskan rasa cinta ini. Aku selalu percaya bahwa Kak Adit adalah jodohku kelak yang sudah digariskan oleh-Nya.”
“Isabella Putri, lihatlah dirimu secara utuh? Di luar sana banyak pangeran surga yang siap menjemputmu dan akan senantiasa menghapus luka-lukamu, hingga tak ada lagi rasa sakit karena cinta. Tapi, cinta yang menumbuhkan harapan baru di hatimu.”
“Bagiku tak ada cinta lain selain cintaku kepada Kak Adit!”
Rahmi mendesah, mungkin dia jengkel dengan sifat keras kepalaku.
“Itulah masalahnya, kamu sudah membunuh terlalu dini cinta yang lain bahkan sebelum cinta itu tumbuh! Bella … aku tak ingin melihatmu seperti ini, karena senangmu adalah senangku juga, begitu juga dukamu adalah dukaku juga.”
Ada semacam desir halus menyusup ke hati saat Rahmi mengatakan kalimat itu. Beruntungnya aku punya sahabat yang begitu luar biasa menyayangiku. Ya Allah, terima kasih Engkau kirim seorang sahabat seperti Rahmi Assauqila Latief ke dalam kehidupanku. Mungkin, jika dunia berpaling membenciku, pasti tangan yang penuh kasih sayang Rahmi siap terulur menuntunku ke arah-Nya. Kini, haruskah aku menolak saran dari sahabat terbaikku. Mungkin berat menghapus cinta yang begitu dalam kepada Kak Adit, namun pasti jalan terbaik yang disiapkan oleh-Nya atas cintaku nanti.
Balik kini aku yang memegang erat jemari Rahmi, seperti menyalurkan energi untuk saling menguatkan, “Baik, akan aku coba!”
*
Dari kejauhan tanpa sepengetahuan Bella dan Rahmi, ada sesosok pria duduk di meja seberang yang sedari tadi mengamati pembicaraan meraka. Pria itu terburu-buru menghabiskan sisa minumannya lalu bergegas meninggalkan kafe tersebut. Namun sebelum pergi kembali ke kampus, ia mengambil almamater yang bertulis Fakultas Kedokteran yang tadi ia lepas dan di taruh di kursi disampingnya. Ia pun pergi meninggalkan kedua sahabat yang berusaha saling menguatkan, tapi dilain sisi ada sekerat rasa sakit dihati seorang pria yang kini sudah menghilang dari kafe yang menguak rahasia baru dalam hidupnya.


_To be continue_