Senin, 22 Agustus 2016

Jalan Masih Panjang

Jalan Masih Panjang
Yanuari Purnawan

Sebenarnya aku tak pandai berdekatan dengan seoarang perempuan. Jujur lidahku selalu kaku jika berbicara dengan lawan jenis, mungkin itulah yang menjadi alasan bagiku untuk menghindar dari mereka. Namun, tidak kepada perempuan bernama Wulan. Dia adalah perempuan yang duduk di depan bangkuku. Anaknya baik dan murah senyum, itulah kesan pertama saat kita berkenalan.
“Kenalin Wulan!” ucapnya antusias sambil membalikkan badan ke arah tempat dudukku. Aku hanya tersenyum kikuk.
“Arya!”
Senyum mengembang di wajahnya seakan menghipnotisku dan dunia berputar melambat. Entah perasaan apa yang sedang terjadi kepadaku.
“Semoga kita bisa menjadi teman sekelas yang baik,” jelasnya yang lagi-lagi disertai senyum begitu memesona. Aku pun hanya mengangguk sambil membalas senyumnya.
Wulan begitu ramah dan menyenangkan sehingga mudah baginya berteman dengan siapa saja, lain denganku yang sulit bersosialisasi dan pendiam. Jadi, selama beberapa hari temanku hanya buku dan perempuan yang duduk di depan bangku. Iya, hanya Wulan sajalah yang mau mengobrol denganku di sekolah baru ini.
“Sekali-kali jangan menutup diri dan mulai bersosialisasi dengan lainnya!”
Aku hanya diam sambil mengerjakan soal-soal matematika. Merasa tak dihiraukan Wulan yang duduk menghadapku langsung menekankan bolpoin ke jariku.
“Sakit tau!” rancauku sambil memegang jariku yang di tusuk bolpoin.
“Makanya kalau ada orang ngomong dengerin! Emang soal matematika lebih menarik dari aku.”
Aku tak bisa menahan tawa yang membuat Wulan semakin kesal lalu berpaling dari menghadapku.
***
Waktu berjalan begitu cepat tak terasa kedekatanku dengan Wulan semakin intens, apalagi kita sering tugas kelompok bersama. Mungkin orang lain yang melihat hubungan kita sering menganggap kalau kita adalah pasangan kekasih. Termasuk di dalam kelas pun rumor kalau aku pacaran dengan Wulan semakin menjadi saja. Namun, bagiku dan Wulan hubungan kita hanya sebatas teman sekelas yang dekat, tak lebih dari itu. Walau dalam hatiku ada rasa lebih kepadanya, tapi aku sadar diri dan tak mau merusak hubungan pertemanan kita.
“Mbem … apa kamu merasakan ada sesuatu yang aneh dalam hubungan kita ini?”
Tembem adalah panggilan akrab Wulan kepadaku, sedangkan aku memanggilnya dengan sebutan Bawel. Pasti tahu mengapa aku memanggilnya begitu, karena kalau dia bicara tak pernah ada istilah lowbat.
“Aneh gimana sih, Bawel!” balasku sambil mengotak-atik rumus fisika. Kita sedang mengerjakan tugas kelompok fisika di perpustakaan.
“Iya aneh … kayak orang … orang pacaran …,” gumamnya ragu-ragu walaupun begitu masih jelas ditangkap gendang telingaku.
Aku hanya mampu tersenyum dan sedikit gugup akan perkataannya yang begitu vulgar dan jujur. Mungkin itulah yang aku sukai dari dia, gaya bicaranya yang ceplas-ceplos.
“Emangnya kamu mau punya pacar seperti aku?”
Sepertinya aku ingin menelan kembali perkataan tersebut, namun semua terlambat. Wulan menatapku tajam. Apakah dia marah kepadaku?
“Sudahlah … Mbem, nggak perlu dibahas!” jawabnya gugup dan terkesan salah tingkah. Apakah dia juga merasakan hal yang sama denganku? Hanya Allah di atas Arsh yang tahu isi hatinya.
***
Ada yang berubah dari Wulan, kini aku tak menemukan Wulan yang selalu ceplas-ceplos dan suka jailin aku. Dia lebih pendiam dan tertutup, ironisnya dia tak lagi intens mengobral denganku. Apakah aku pernah berbuat salah kepadanya? Sungguh inilah hal terberat dari hidupku harus berjauhan dengan sesosok perempuan yang kusukai secara diam-diam.
Wulan benar-benar berubah, dia bahkan tak lagi heboh berbicara denganku atau saling bertukar sms lucu setiap hari. Dia lebih memilih bergaul dengan teman-teman perempuannya. Sepertinya dia membuat jarak untuk berdekatan denganku. Situasi ini yang membuat pikiranku tersita hingga akhir-akhir ini nilai pelajaranku menurun.
“Jangan sia-siakan waktumu hanya untuk kesenangan semu!”
Seharusnya aku merasa senang mendapat sms dari seseorang yang aku tunggu kabar darinya. Namun entah mengapa sms darinya kini berasa ada anak panah yang menembus hatiku. Apakah sebenarnya Wulan tahu akan perasaanku kepadanya? Aku hanya mampu memandang layar ponsel dan bingung harus menekan tombol replay. Kegalauan ini benar-benar keterlaluan, mungkin inikah yang dinamakan cinta bersemi lalu mati itu. Secepatnya aku harus bicara dengan Wulan.
Saat pulang sekolah aku menunggunya di depan perpustakaan. Kemarin malam aku sudah sms dia jika ingin berbicara serius kepadanya. Mungkin terdengar konyol masih berseragam putih abu-abu sudah berani bicara serius, namun jika sudah urusan hati siapa yang mampu mengontrol. Kulihat Wulan datang tidak sendiri tapi dengan salah satu teman perempuannya.
“Assalamualaikum, maaf buat kamu menunggu!” ucapnya begitu lembut dan santun. Wulan tampak anggun dengan jilbab putihnya atau itu karena aku tak pernah melihatnya pakai jilbab sebelumnya.
“Wa … alaikumsalam!” jawabku gugup sambil meremas jari-jariku. Entah apa yang terjadi, lidahku terasa keluh dan tenggorokan seakan menelan duri.
“Apa yang ingin Arya bicarakan? Maaf aku tak ada waktu banyak, soalnya aku dan Rina harus pergi liqo’!” jelasnya Wulan sambil melihat jam tangannya. Sungguh begitu manis melingkar di tangannya. Stop! Aku harus fokus dengan tujuanku ada di sini.
“Emm … aku hanya ingin tanya, maksud sms kamu kemarin malam itu apa? Yang isinya jangan sia-siakan waktumu hanya untuk kesenangan semu.”
Wulan terdiam sejenak sambil mengingat-ingat sms yang dikirimnya tempo hari. Wajahnya kembali cerah, secerah langit sore hari ini.
“Oh … sms itu! Kukira kamu sudah mengerti. Baiklah jika kamu ingin penjelasan dariku, maka akan aku jelaskan. Intinya, jangan membuang waktu kita hanya untuk kesenangan yang tak pasti semisal melibatkan hati kepada lawan jenis.”
“Maksudmu hubungan kita selama ini?” potongku yang penasaran. Wulan hanya tersenyum sambil menunduk lalu melanjutkan penjelasannya.
“Arya, aku mengerti selama ini kita telah salah jalan. Semenjak aku gabung dengan rohis sekolah ternyata, banyak yang keliru dari hubungan kita. Agama kita sudah mengatur bagaimana cara bergaul dengan lawan jenis yang sesuai syaria. Jujur aku juga melibatkan hati saat berhubungan denganmu dan itu salah.”
“Salah?”
Dia hanya mengangguk lalu pergi bersama temannya meninggalkanku sendiri yang membisu. Penjelasan dari Wulan barusan seakan membuka mataku bahwa dia benar-benar berubah. Sekuat tenaga aku menahan untuk tegar dan tak menjatuhkan air mata, namun dalam diam mata dan hatiku pun menangis.
***
Cinta yang bertepuk sebelah tangan itu memang menyakitkan, namun yang lebih menyakitkan kalau kita tetap bertahan kepada cinta tersebut. Aku berpikir kalau Wulan adalah jodohku kelak, tapi siapa yang bisa mendekte takdir.
“Jalan masih panjang, Bro!” ucap Hasan salah satu teman terdekatku kini di Rohis sekolah. Semenjak pertemuanku dengan wulan di perpustakaan dulu, membuatku berpikir mengapa aku juga tak bergabung dengan Rohis sekolah, siapa tahu aku bisa menemukan jawaban akan kegundahan hatiku.
“Bicara cinta memang tak ada habisnya. Obat orang jatuh cinta itu hanya satu yakni menikah. Kita kan masih SMA jadi belum pantes untuk bicara cinta, bukan?” lanjut Hasan yang gaya bicara seperti ustadz beken di televisi saja.
Aku terdiam sambil membaca buku Kutinggalkan dia Karena Dia karya Dunia Jilbab yang membuat hatiku tertohok oleh salah satu kalimat di dalam buku tersebut.
“Jodoh tak serta merta dekat karena kita pacaran. Dan tak pula menjauh karena kita jomblo.”
Aku jadi tersenyum sendiri mendengar ucapan Hasan barusan. Jalan masih panjang untuk kita yang masih belum siap untuk berkomitmen. Daripada sibuk melibatkan hati dan pacaran, lebih baik dari sekarang memantaskan diri untuk kelak menjadi calon imam idaman. Hingga Allah mempertemukan kita dengan pasangan halal yang juga memantaskan dirinya. Jalanku masih panjang, hijrah menuju kebaikan memang tak mudah, namun pasti ada jalan terbaik yang disiapkan-Nya.
“Sudah azan zuhur, Bro. Yuk ke mushalla!”
Aku menutup buku yang sedang kubaca lalu berangkulan menuju rumah Allah. Dari ujung mataku sesosok perempuan yang pernah duduk di depan bangku pun berjalan memenuhi panggilan-Nya untuk salat zuhur. Aku segera menepis perasaan itu dan menata hati lalu berujar, “Jalan masih panjang.”

Selesai

Jumat, 05 Agustus 2016

Matahari untuk Bintang

Matahari untuk Bintang
Oleh : Yanuari Purnawan


Aku masih setia menunggunya. Semenit, dua menit hingga berubah menjadi jam. Tetapi, batang hidungnya saja tak terlihat. Apa dia lupa akan janji tersebut? Atau mungkin dia benar-benar tak ingin bertemu denganku. Suasana taman kampus mulai sepi, langit mulai mendung, rasa di dalam dada seolah berkecamuk. Resah, kecewa dan sedih. Berkali-kali kuhubungi nomor ponselnya juga tidak aktif. Sungguh, menunggu adalah hal paling menyebalkan dalam hidup ini.

“Maaf ya, Kak! Aku terlambat,” ucapnya dengan tersenggal-senggal seperti habis lari marathon. Sebelum kupersilahkan dia duduk, terlebih dulu, dia mengenalkan sahabat perempuan yang menemaninya.
“Tidak apa-apa kok! Sebentar lagi kakak sudah jamuran,” candaku sambil tersenyum ke arah kedua gadis berjilbab di depanku. Mereka hanya tersenyum mendengar candaanku tersebut.
“Memangnya ada apa, Kak Irfan menyuruhku ke sini?” tanyanya dengan air muka yang penuh penasaran. Tiba-tiba lidah menjadi keluh, keringat dingin mulai membasahi pelipis dan sedikit gugup.
“Emm … Nay … jujur  aku suka sama Nayla,” jelasku dengan terbata-bata. Mata beningnya membelalak mendengar penjelaskanku tersebut. Lalu beralih memandang sahabatnya yang tak kalah kaget dengannya.
“Maksudnya?” kejar Nayla yang masih belum paham.
“Sejak pertama kali kenal sama Nayla, entah mengapa hatiku selalu berdesir dan ada getaran halus. Hingga puncaknya, aku tidak bisa tidur karena bayangan Nayla selalu ada dalam pikiranku. Aku bukanlah pria yang soleh, tetapi aku sudah belajar agama. Pasti Nayla tahu itu,” terangku, jujur.
“Lalu?”
“Maukah Nayla jadi pacarku?” ucapku spontan. Nayla yang sedari tadi menunduk lalu menatapku dalam.
“Aku sangat salut dengan keberanian Kak Irfan. Tetapi, di dalam islam tidak ada yang namanya pacaran. Hanya menikahlah jalan satu-satunya.”
“Lalu?” potongku yang mulai penasaran dengan jawabannya.
“Kalau Kak Irfan suka sama Nayla … maka nikahilah aku!” tantang Nayla tegas. Membuatku kaget, seolah ada petir yang menyambar diri ini. Tak pernah terpikir sedikitpun tentang rencana menikah sebelumnya. Dan sekarang kata itu meluncur dari bibir perempuan yang aku sukai.

Setelah perbincangan kurang lebih setengah jam di taman kampus. Nayla dan sahabatnya undur diri untuk pulang karena hari sudah sore. Aku sedikit bernafas lega, karena diberi waktu satu minggu untuk menjawab tantangan Nayla. Secepat mungkin, aku harus sampai kos-kosan dan segera bicara dengan sahabatku, Rio, akan masalah ini.

“Cari cewek lain saja. Kalau kamu belum siap menikah, jangan dipaksakan. Nanti kamu bisa menyesal,” jelas Rio menasihatku yang sedang curhat akan dilema yang sedang kuhadapi.

Pikiranku kacau antara iya atau tidak. Disatu sisi aku masih kuliah dan di sisi lain aku juga menyukai Nayla. Haruskah aku menikah? Ataukah ikhlas merelakan cinta untuk Nayla. Dalam kekalutan ini, tanpa disuruh aku langsung mengambil air wudhu. Ini pertama kalinya, aku benar-benar khusyuk ketika shalat malam. Rabb, tunjukanlah jalan yang terbaik atas masalahku ini. Sebersit doa kupanjatkan dengan tulus dan penuh kepasrahan.

Dalam kegamangan segera kuhubungi kedua orangtua di desa. Sebagai seorang anak, restu dan pendapat orangtualah yang paling utama. Kuceritakan masalah yang sedang kuhadapi. Dari perkenalanku dengan gadis soleha bernama Nayla, hingga tantangan untuk menikahinya. Bapak dan ibu memasrahkan keputusan akan masalah ini kepadaku. Mereka akan menyetujui apapun jalan yang akan aku ambil. Bahkan jika harus menikah muda sekalipun. Bagi mereka, menikah muda bukanlah masalah besar asal gadis tersebut soleha sudah cukup.

 Tanpa terasa satu minggu berjalan begitu cepat. Kini, tibalah hari di mana keputusan terbesar dalam hidup akan aku ambil. Dengan langkah gontai serta penampilan apa adanya, aku menuju taman kampus. Tak seperti pertemuan terdahulu, malah aku yang datang terlambat. Kulihat Nayla dan sahabatnya sudah sampai duluan. Setelah minta maaf, mereka mempersilahkan aku duduk.

“Nayla … apa sudah siap menerima jawabanku?” tanyaku memecah kebisuan beberapa detik. Nayla yang tampak anggun dengan jilbab putih panjangnya itu, hanya mengangguk.
“Aku bukanlah bintang yang mampu bersinar terang tanpa matahari. Bagiku, Nayla adalah matahari yang mampu menerangi setiap sendi kehidupanku. Dengan ketulusan hati dan cinta karena-Nya, aku ingin menikahi Nayla,” jelasku, tulus dari hati. Kulihat Nayla hanya tertunduk dan diam tanpa kata.
“Aku mengerti berat menerima pria sepertiku. Aku bukanlah pria yang baik dan soleh yang pantas untuk gadis soleha seperti Nayla. Aku bisa terima kok, jika Nayla memang tidak bisa menerimanya,” lanjutku penuh keikhlasan. Mata bening itu menatapku tajam. Lalu dengan bibir bergetar Nayla berkata.

Bismillah … aku mau menjadi matahari untuk bintang.”[]


Selesai

Jumat, 08 Juli 2016

2 Hati 1 Rasa

2 Hati, 1 Rasa
Oleh : Yanuari Purnawan

Sayup terdengar suara merdu para santri melafalkan ayat suci Al-Qur’an. Sudah menjadi agenda rutin pondok pesantren, setiap ba’da magrib untuk tadarus. Semua santri diwajibkan untuk mengikuti setiap jadwal yang sudah ditentukan. Tetapi, sekali lagi mata Ustad Imron harus melotot, mencari dua sekawan yang belum terlihat batang hidungnya.

“Ke mana Rizal dan Yusuf?” tanya Ustad Imron kepada santri yang sedang tadarus tersebut. Seketika mereka menghentikan bacaanya. Para santri saling beradu pandang, karena takut.
“Mengapa kalian diam!” Suara Ustad muda tersebut semakin meninggi lalu dipandangnya satu per satu para santri.
“Kalian takut kepada mereka berdua. Sekalipun yang tanya Ustad kalian sendiri! Hasan, ke mana mereka?” Hasan yang ditanyai gemetaran. Santri asal Madura itu hanya menunduk lalu berkata.
“Mereka pergi ke warnet ….” Wajah Ustad Imron menjadi geram. Dalam hati dia berkata, “Awas jika kalian pulang nanti.”
***
“Aman … aman!” teriak Rizal kepada Yusuf, tatkala sedang mengendap masuk pondok melalui pagar. Perlahan Yusuf naik pagar, ketika hendak turun.
“Bruuk!” Yusuf terjatuh menindih Rizal. Suara gaduh tersebut mengusik tidur para santri.
“Dasar santri bengal!” Suara Ustad Imron memecah heningnya malam. Wajah sangarnya membuat kedua santri itu menelan ludah dan pucat.

Rizal dan Yusuf harus merasakan jeweran lalu digiring ke kantor keamanan santri oleh Ustad Imron.
“Kalian ini sudah berapa kali diperingatkan masih saja melanggar aturan!” terang Ustad Imron sambil menahan emosi.
Istighfar, Ustad!” ucap Rizal dan Yusuf bersamaan.
“Dasar kalian ini!” Amarah Ustad Imron tak bisa terkendali lagi. Kedua santri tersebut diseret menuju gubuk tempat para santri belajar bertani.
“Kalian sekarang tidur di sini!” bentak Ustad yang sekaligus ketua dewan keamanan santri tersebut.

Ini bukan kali pertama mereka dihukum, sebelumnya pernah digunduli, bersihin kamar mandi santri hingga puncaknya mereka harus tidur malam di gubuk tengah ladang.
“Suf … kamu kapok, tidak?” tanya Rizal yang sedang tiduran di gubuk beralas tikar.
“Kapok sih! Tetapi asyik,” jawab Yusuf sambil tersenyum memandang sahabatnya. Mereka bersahabat sejak pertama kali mondok di pesantren Darussalam tersebut.
“Maafkan aku, Suf. Membuatmu ikut merasakan semua ini.” Rizal bangun lalu duduk sambil memandang langit.

Suasana malam itu begitu hening, bintang-bintang mengintip malu dan bulan sabit tersenyum bercahaya. Terbayang persahabatan yang terjalin begitu lama bahkan menjelma menjadi saudara. Bagi Rizal, Yusuf adalah sahabat terbaik untuk mengadukan segala yang dia rasakan. Sedangkan bagi Yusuf, Rizal adalah sahabat sekaligus saudara yang setia ada disisinya.

Walaupun berbeda status sosial, Yusuf yang merupakan anak orang kaya sedangkan Rizal hanya anak tukang becak. Tetapi, perbedaan tersebut tidak menghalangi persahabatan mereka. Sampai saat ini tak pernah ada perselisihan yang berarti diantara keduanya.

“Mengapa harus minta maaf, ‘kan tidak ada yang salah!” jawab Yusuf yang juga menikmati indahnya malam penuh bintang-bintang. Mereka lalu tersenyum bersama.
“Kamu ingat, Zal! Saat pertama aku masuk pesantren.” Yusuf mencoba mengatur nafas untuk melanjutkan ucapannya.
“Tidak ada yang peduli sama aku. Setiap hari menangis ingin pulang. Tetapi, ada tangan malaikat yang memegang pundakku. Lalu dia berkata ….” Yusuf mengalihkan pandangannya kepada Rizal.
“Jangan sedih, kamu tidak sendiri. Aku akan setia bersamamu. Dua hati, satu rasa,” ucap mereka bersamaan.
***

Suasana haru, menyelimuti acara wisuda para santri. Walaupun pernah dibilang santri Bengal, Rizal dan Yusuf menunjukan kalau mereka mampu berprestasi. Mereka keluar menjadi lulusan terbaik. Bening hangat mengalir dari kelopak mata Rizal dan Yusuf, dua sahabat yang dari pertama hingga lulus dari pesantren kini harus berpisah.

“Suf, jangan lupakan aku! Kita tetap sahabatkan,” ucap Rizal sambil memeluk sahabatnya tersebut.
“InsyaAllah, aku tidak akan melupakan sahabat terbaik sepertimu.”  Mereka saling berpelukan dengan derai air mata.
“Dua hati, satu rasa,” ucap mereka dangan terisak lalu tersenyum bersama.

Dua hati antara Rizal dan Yusuf melebur dalam satu rasa bernama sahabat. Tidak ada kata benci, iri dan saling menjatuhkan. Bagi mereka walau kadang hati mereka berbeda pendapat. Tetapi, tetap satu rasa dalam menjalaninya. Karena semua terbalut indah dalam nama persahabatan.[]

 Selesai

Kamis, 30 Juni 2016

Tak Seharum Mawar

Tak Seharum Mawar
Oleh : Yanuari Purnawan


Semudah itukah mereka terhasut. Ini tidak bisa dibiarkan, semua gara-gara siswi baru itu. Kehadirannya membuat kehidupan sekolahku tak tenang. Bukan karena dia cantik dan modis. Tetapi, gadis kampugan tersebut perlahan telah mengambil posisiku. Aku harus berbuat sesuatu sebelum semua terlambat.

Risma dan Santi, dua sahabatku telah menjadi korbannya. Mereka biasanya selalu bersamaku ke mana-mana, sekarang mendadak menjadi tertutup dan sulit diajak jalan-jalan. Aku tidak mengerti jalan pikiran mereka, mengapa begitu mudah percaya dengan cewek yang baru dikenal, daripada sahabat yang hampir tiga tahun bersama.

Alifa, dialah biang keladi dari semua masalah ini. Cepat atau lambat virus tersebut akan menyebar ke seanterio sekolah. Bahkan Zaky, cowok yang aku taksir perlahan mulai mendekatinya. Sebelum semua menjadi kacau, aku harus berbuat sesuatu untuk mencegah virus tersebut agar tidak semakin menyebar.

Kulihat alifa sedang duduk di bangku taman dekat pintu gerbang sekolah. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang. Tiba-tiba sebuah mobil berwarna silver berhenti tepat di depan gerbang. Seorang pria berusia dua puluh lima tahunan, membuka pintu mobil dan menyungging senyum kepada Alifa. Sejurus kemudian Alifa menghampiri pria tersebut lalu masuk ke dalam mobil.
Seingatku , Alifa itu anak tunggal dan tidak punya kakak atau saudara dekat. Semua kuketahui dari Risma yang sering cerita tentang kehidupan Alifa. Sesuatu yang janggal, bisa-bisanya Alifa yang berjilbab tersebut jalan berduaan dengan seorang pria. Aku harus selidiki dan mungkin kejadian ini bisa menguntungkan untuk menghentikan virus tersebut.

“Alifa …!” teriakku kepada Alifa yang sedang duduk sambil membaca di taman sekolah. Dia menoleh lalu tersenyum.
“Ada apa Dian?” tanyanya dengan senyum yang masih mengembang diwajahnya.
“Tidak ada apa-apa! Emm … enak nih kemarin dijemput pria pakai mobil,” sindirku sambil duduk di sampingnya. Wajah Alifa mendadak pucat, seperti menyimpan sesuatu. Sekilas kulihat dia menutup buku yang sedang dibaca tersebut.
“Dian … tahu dari mana?” tanyanya sedikit gemetaran.

Kutatap wajahnya yang terlihat bingung. Jilbab putih panjangnya sesekali tertiup angin. Sesaat suasana taman menjadi hening. Aku tersenyum sinis, seolah berhasil menembak mati sang buruan. Alifa juga masih diam, menunggu jawabanku.
“Tidak penting aku tahu dari mana, karena aku melihatnya sendiri. Alifa, tak perlu menjadi munafik dengan pakai jilbab, ikut rohis dan sok alim,” terangku sinis.
“Maksudmu?” Seperti ada rasa penasaran dari ucapannya. Aku hanya tersenyum lalu menatapnya kembali.
“Jangan pura-pura bodoh. Kamu pacaran ‘kan dengan pria tersebut!” kejarku mencari penjelasan dari bibir Alifa. Dia hanya diam dan menunduk, air matanya menetes.
“Maaf … Dian, mungkin kamu salah paham. Dia bukan pacarku, tetapi pria tersebut adalah sepupuku. Namanya Farhan,” jelasnya sambil terisak. Aku belum mengerti mengapa dia menangis.
“Lalu mengapa kamu menangis?”
“Dian, syukur kamu yang melihatnya. Jika itu orang lain, pasti akan menjadi gosip yang menjatuhkanku.” Seketika dia memelukku. Aku hanya diam.

Keterangan dari Alifa membuat dadaku sesak. Maksudku ingin memojokkannya tetapi, justru aku yang terpojok. Terbuat dari apa hatinya hingga dia berpikir aku adalah sahabat yang baik.

Sejak kejadian di taman sekolah tersebut, diam-diam aku mengamati gerak-gerak Alifa. Hingga tanpa sadar, keinginanku menjatuhkan terkikis dengan sifat dan kepribadiannya yang santun. Dia sekarang menjadi ketua rohis sekolah. Jilbab panjang dan adab bergaulnya sangat diperhatikan. Sangat beda dengan kebanyakkan remaja puteri seusianya. Perlahan rasa iri itu mulai merasuk ke dalam hati.

“Alifa, mengapa kita harus pakai jilbab?” tanyaku penasaran tatkala kami sedang duduk santai di pelataran mushala sekolah.
“Karena itu wajib, perintah dari Allah,” jawabnya singkat. Jilbab putih panjangnya menghiasi wajah bersahaja tersebut.
“Kalau pakai jilbab kita ‘kan tidak bisa gaul dan terkesan kampungan.”
“Jilbab itu prisai, pelindung para muslimah dari pandangan pria yang tidak baik dan lebih mendekatkan diri kepada-Nya.” Aku hanya diam dan mengangguk mendengar penjelasannya.
“Biarlah kita tak seharum mawar. Tetapi, kita mahal bagai mutiara yang tersimpan. Percuma cantik di mata manusia, kalau tidak cantik di mata Allah,” lanjut Alifa menjelaskan. Kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya benar-benar menohok hatiku.

Percakapan di pelataran mushala sekolah, mengantarkanku pada perenungan panjang. Tanpa terasa bening hangat keluar dari kelopak mata lalu menganak sungai. Teringat betapa jahiliyah diri ini. Pacaran, hura-hura dan lupa akan kuwajiban sebagai muslimah. Seharusnya, sebagai remaja mampu memberi contoh yang baik seperti Alifa. Bersyukur untuk sahabatku yang sudah terkena virus kebaikannya.


Rabb, maafkan hamba yang pura-pura lupa akan perintah-Mu. Kutatap wajah di depan cermin. Kuseka air mata yang membasahi pipi. Bismillah, mulai hari ini Dian Mayangsari berjilbab karena mencintai perintah-Mu. Walau sekarang tak lagi seharum mawar, aku percaya bahwa muslimah dengan jilbabnya akan tampak mahal bagai mutiara di mata-Nya.[]

Rabu, 29 Juni 2016

Bukan Roman Picisan

By: Yanuari Purnawan

Ibu jahat! Apa salahnya jika aku ingin menikahi gadis itu. Gadis yang ku kenal tiga bulan yang lalu saat acara pelatihan rohis untuk anak SMA. Gadis yang menginspirasi, dengan kekurangannya mampu melafalkan ayat-ayat suci Al-qur’an dengan indah dan merdu. Aku tersihir akan pesona dan kesejukan akhlaknya.

“Hanna.” Saat kami berkenalan, selesai acara tersebut.

“Robi,” jawabku malu-malu. Entah mengapa ada getaran halus bergelayut di hati.

Hanna, seorang guru di TPQ yang bersahaja dengan hijab panjangnya itu, telah berhasil menjajah hatiku.

Ya … Rabb, aku tidak mampu menahan gejolak ini, semoga Engkau tuntun hamba menuju jalan yang Engkau ridhoi.
***
Airmataku tidak bisa terbendung lagi. Ibu tidak setuju dengan keputusanku menikahi Hanna. Baginya, Hanna hanya gadis kampungan, sampah yang di bungkus kantong hitam lalu di buang ke selokan. Dan satu hal yang membuat hatiku teriris, ibu tidak suka dengannya karena akan menjadi benalu bagiku ke depan.

“Ibu, aku mohon,” pintaku.

“Sudah Ibu katakan, Ibu tidak akan pernah setuju kamu menikahi Hanna,” jawab ibu dengan emosi.

“Apa karena dia tidak sama dengan gadis lainnya?”

Dengan menghela nafas panjang dan mencoba mengatur emosinya, ibu berkata.

“Dengar ibu, kamu harus berpikir jernih jangan hanya nafsu semata. Ini ibu lakukan demi masa depanmu kelak.”

Kulihat airmata ibu menetes, aku tidak sanggup untuk memaksanya lagi, aku yakin pasti ada jalan terbaik untuk hubunganku dengan Hanna.
***
“Hanna, mau tidak menikah dengan Mas,” tanyaku kepada Hanna di sebuah rumah makan sederhana dekat dia mengajar.

“Asal orangtua Mas setuju, Hanna mau,” jawabnya sambil menunduk.

“Apa Mas yakin ingin menikahiku? Mas pasti mengerti aku beda dengan gadis lainnya,” tanyanya sambil memandang ke arahku.

“Mas yakin, tetapi Ibu belum bisa menerimanya,” jawabku dengan menahan untuk tidak menangis.

“Aku mengerti itu Mas, berat untuk menerima gadis sepertiku dan aku tidak mau menikah hanya karena belas kasihan orang lain.” Kulihat airmata membasahi pipinya.

Dengan bantuan tongkat sebagai penuntun langkahnya, dia pergi meninggalkanku. Kupandang punggungnya dan lirih berkata, “Hanna aku mencintaimu.”

Dari kaca rumah makan, kulihat mobil berkecepatan tinggi menabrak seorang gadis.

“Hanna?!” teriakku.

Wajah itu pucat dan darah keluar membasahi jilbab hitamnya. Tubuh terbujur tidak berdaya, bagai mimpi. Aku hanya diam, terpaku melihatnya.
Airmata mengiringi kepergian dia untuk selamanya. Hanna, aku masih ingat apa yang kau ucapkan terakhir kali itu.

“Hanna memang buta Mas, tetapi hati ini tidak pernah buta. Mungkin bagi banyak orang hidup kami gelap, tetapi dengan menghafal kalam-Nya kami punya cahaya yang menuntun langkah ini. Sesungguhnya kebutaan yang sejati, jika dia di beri nikmat melihat tetapi tidak digunakan untuk mengagumi dan mensyukuri keagungan-Nya dan lebih parah lagi, mata hatinya juga ikut buta karena nafsu duniawi semata.”


Minggu, 19 Juni 2016

Kau yang ada dalam Doaku

Kau yang ada dalam Doaku
Oleh : Yanuari Purnawan



Mencintaimu bagai semburat fajar yang melukis indahnya pagi. Entah berapa banyak kalimat puitis tersebut memenuhi setiap inci otak ini. Benar kata para Sufi, cinta itu memabukkan, walau tanpa alkohol. Aduh! Mengapa virus ini harus menjangkit diri tatkala iman masih secuil. Namun, siapa yang tak bergeming? Jika pesonanya mampu memecahkan dinding terdalam hati. Humairah-ku, apakah kau juga merasakan hal yang sama denganku?

“Kak, bagaimana acara bakti sosial minggu ini?” tanya gadis bermata indah di depanku yang membuatku sedikit gelagapan.
“Emm … emm … insyaAllah fix dan sudah sembilan puluh persen rampung proposalnya,” jawabku yang masih salah tingkah. Gadis berjilbab putih itu hanya tersenyum melihat tingkahku. Dasar bodoh dan memalukan. Aku hanya mampu menunduk dan sibuk dengan pikiran sendiri.

Hanna, dialah gadis berjilbab dan bermata indah tersebut. Semua tentangnya kini menjadi fokus utama dalam hidupku. Ya … Allah salahkah ini? Namun aku hanya hamba-Mu yang lemah. Tuntun cinta yang mulai tumbuh dan bersemi ini dalam cinta karena-Mu. Sebaris doa selalu kupanjatkan untuk menguatkan diri. Bahwa aku tak ingin binasa bak Laela dan Maj’nun ataupun Romeo dan Juliet.

Sebagai ketua Lingkar Dakwah Kampus mengantarkanku untuk lebih dekat dengan Hanna. Dia juga menjabat sebagai salah satu seksi dalam kegiatan kampus tersebut. Aku yang di amanahi tugas ini, seharusnya tidak terjebak dalam lingkaran cinta yang belum halal. Sudahi dan akhiri. Itulah keputusan yang harus segera kutempuh.

***
“Bi … apakah Faiz sudah layak untuk menikah?” tanyaku sedikit gemetar kepada Abi tatkala kami sedang berbincang santai di beranda rumah. Pria berkumis dan berjenggot rapi itu menatapku tajam. Wajah bersahajanya, menyiratkan keteduhan kasih sayang seorang bapak.
“Faiz … dengarkan abi. Menikah itu bukan masalah layak atau tidaknya. Tapi, menikah itu berdasarkan dari kesiapan hatimu. Jika kamu sudah siap, maka menikahlah. Jika kamu ragu terus berdoa, minta kepada-Nya. Abi selalu mendukungmu, Nak.” Perkataan abi benar-benar mampu membiusku untuk menjadi insan yang lebih baik. Terima kasih, abi.

Semenjak percakapanku dengan abi tempo hari. Membuatku semakin yakin, siap dan mantap untuk melanjutkan hubunganku dengan Hanna. Apapun nanti hasilnya, asal niat ini baik, insyaAllah pasti ada jalan.
“Hanna … apakah kamu sibuk nanti malam?” tanyaku sedikit gugup di tengah kegiatan bakti sosial. Hanna yang bergamis ungu senada dengan jilbabnya tersebut sekilas memandangku lalu menunduk kembali.
Afwan , Kak. Alhamdulilllah Hanna nggak sibuk. Memangnya ada apa, ya?” tanyanya balik. Aku hanya tersenyum malu lalu pergi meninggalkannya yang masih penasaran.

***
“Kabarnya Hanna akan di khitbah seseorang!” terang Doni tatkala kami sedang berkemas setelah acara bakti sosial.
“Maksudmu?” selidikku yang tak percaya. Benarkah ini? Hanna akan di khitbah seseorang. Kabar dari Doni sedikit memupuskan harapanku untuk meminang Hanna.
“Benar Faiz! Aku dapat kabar tersebut dari sahabat dekatnya, Putri,” jelas Doni dengan mimik serius. Aku hanya diam dan merasakan sesak di dalam dada.

Di dalam kamar, aku masih ragu dan bimbang untuk pergi ke rumah Hanna. Namun, di satu sisi aku sudah berjanji kepadanya. Apa yang harus kulakukan? Penolakkan sudah tergambar jelas di depan mata. Apakah aku harus nekat meminangnya juga. Dalam posisi ini, kupasrahkan semua kepada-Nya. Dengan wajah yang masih galau, akupun mantap pergi ke rumah Hanna.

Rumah bergaya minimalis dengan ruang tamu yang sederhana, namun membuat siapapun betah untuk bertamu.
“Ini Nak Faiz, ya? Tadi Hanna bilang sama bapak kalau temannya mau datang,” sapa Bapak berkoko putih dan berkopyah hitam tersebut ramah.
“Benar, Pak!” jawabku gemetar.
“Ada keperluan apa Nak Faiz berkunjung ke sini?” Mata teduh itu menatapku. Aliran darah seakan berhenti dan jantung berdegup lebih cepat. Lidahku keluh. Dengan beristighfar dan membaca basmallah. Kuberanikan diri untuk berbicara.
“Saya datang ke sini untuk meminang putri bapak bernama Hanna Safitri,” ucapku mantap. Pak Harun nama bapak Hanna tersebut, tersenyum memandangku.
“Bapak hanya sebagai perantara. Jadi, bapak tidak bisa mengambil keputusan. Semua kuserahkan kepada Hanna. Karena dia sudah dewasa,” terang Pak Harun diplomatis. Beliau pun memanggil putri semata wayangnya.
Gadis berbusana biru serasi dengan warna jilbabnya, keluar dari belakang sambil menunduk.
Nduk, kamu pasti sudah mendengar percakapan kami dari dapur. Sekarang, kamu yang memberi keputusan atas perihal pinangan ini.” Pak Harun mempersilahkan putrinya mengambil keputusan. Hal tersebut membuatku yang duduk panas-dingin.
“Terima kasih, atas keberanian Kak Faiz untuk meminangku. Dengan mengucap bismillah aku terima pinangan dari Kak Faiz.” Jawaban dari Hanna membuatku tak percaya. Ragu masih menjalar. Dengan sedikit keberanian, aku pun berbicara.
“Tapi … dengan gosip Hanna dikhitbah seseorang itu, bagaimana?” Wajah bersahaja dan anggun tersebut tersenyum menatapku lalu menunduk malu.
“Kak Faiz, kaulah seseorang yang ada dalam setiap doaku. Sedang gosip itu hanya rumor biasa, tapi yang pasti Kak Faiz lah jawaban atas semua itu,” terang Hanna penuh keyakinan.

Ya … Allah inikah jawaban atas doa-doa yang kupanjatkan selama ini. Ternyata, cinta karena-Mu menuntunku pada satu kepastian. Bahwa, Hanna, kaulah humairah-ku, yang ada dalam setiap bait-bait doaku juga.

Selesai

Rabu, 15 Juni 2016

Cinta dalam Ikhlas

Cinta dalam Ikhlas
Oleh : Yanuari Purnawan



Mata masih membulat menatapnya. Getaran halus perlahan menyusup ke dalam hati. Sosoknya membuat degup jantung tak menentu. Hingga lambat laun menjadi tak terkendali lagi. Paras yang bersahaja, senyum yang ramah dan sikap yang santun tersebut. Membuat seonggok daging bernama hati itu, menjelma menjadi merah jambu.

“Jangan gugup! Santai saja,” ucap Andi sahabat satu kampus sambil menepuk pundakku.
“Aku yakin kalian adalah pasangan yang serasi, Han.” Andi berusaha menenangkanku. Sahabat satuku ini selalu saja mengerti apa yang sedang kurasakan. Lewat dia pula, aku bisa mengenal lebih dekat Dilla. Gadis yang membuat hariku berwarna dan penuh bunga-bunga cinta.
“Di … apa aku tidak terlihat berantakan?” tanyaku sedikit gugup untuk menghadapi momen yang sangat bersejarah dalam hidupku.
“Tidak kok, cuma kayak udang rebus saja,” jawabnya sambil tertawa. Aku hanya bisa cemberut.

Kupandangi sekitar ruang tamu yang bercat putih dan bergaya minimalis tersebut. Ruang ini akan menjadi saksi bisu perjalanan cintaku. Hingga suara pria membuyarkan segala lamunanku.
Assalamualaikum, maaf sudah menunggu lama,” sapa pria berkoko dan berkopyah putih tersebut.
Waalaikumsalam,” jawabku bersamaan dengan Andi.

Mendengar suara pria tersebut, membuat tangan terasa basah dan lutut seakan lemas. Bulir keringat dingin mulai membasahi dahi. Sorot mata pria yang tak lain ayah dari Dilla, membuatku semakin grogi dan salah tingkah. Biasanya aku selalu percaya diri, baik saat diskusi di kampus maupun di luar kampus. Tetapi, entah mengapa kepercayaan diri tersebut lenyap seketika.

“Kalian satu kuliah dengan Dilla?” tanya Pak Syamsul. Ayah Dilla membuka pembicaraan yang seolah mengetahui kegugupan kami, terutama aku selaku tokoh utama dalam pertemuan ini. Kami hanya mengangguk membenarkan pertanyaan tersebut.
“Saya mengerti dari Dilla, ada yang mau mengkhitbahnya. Apakah itu benar?” Ucapan dari bibir Pak Syamsul membuatku panas dingin. Ternyata, Dilla sudah memberitahu ayahnya. Andi yang duduk di sebelahku menendang pelan kakiku untuk segera angkat suara.
“Ma … af, Pak. Saya Farhan, yang mau mengkhitbah putri bapak bernama Adilla Safitri,” jelasku dengan terbata. Aku tidak mengerti bagaimana raut wajahku kini.
“Terima kasih atas keberanian Nak Farhan. Tetapi, saya tidak bisa memutuskan dan yang berhak menjawab adalah Dilla.” Ayah Dilla begitu demokratis. Lalu beliau memanggil Dilla untuk memberi keputusan. Dengan jilbab putihnya, Dilla terlihat anggun dan bersahaja.
“Nak, kamu pasti sudah mendengar percakapan kami. Sekarang giliran Dilla yang mengambil keputusan,” terang ayah Dilla lembut sambil menatap putrinya.
“Terima kasih, Ayah dan semuanya atas kesempatan ini. Jujur aku sangat menghargai keberanian mas Farhan sebagai lelaki sejati. Berani mengkhitbah mendatangi orangtuaku.” Keterangan dari bibir Dilla membuat sedikit embun pengharapan menetes lembut ke dalam hati. Aku yakin dia pasti menerima khitbah ini.
“Tetapi, sebelum mas Farhan datang untuk mengkhitbah. Aku lebih dulu mencintai seseorang,” lanjutnya.
“Maksudnya?” aku belum mengerti, tetapi keterangan Dilla membuat hatiku remuk redam.
“Maaf mas Farhan, hatiku sudah terpaut dengan pria lain.”
“Kalau boleh tahu, siapakah pria itu?” tanyaku sekuat tenaga berusaha untuk tegar dan tabah.
“Andi Maulana,” jawab Dilla dengan nada suara sedikit bergetar.

Mendengar siapa pria yang disebut Dilla, membuatku tak percaya. Suasana mendadak hening. Tetapi, tidak dengan perasaanku. Seolah ada petir menyambar hati lalu menghancurkannya. Lidahku keluh untuk berucap lagi. Andi yang duduk di sampingku diam, seperti mencari pembenaran diri.
“Maaf, apa aku tidak salah dengar? Andi Maulana, sahabatku ini!” tanyaku sambil melirik Andi. Bukan marah ataupun cemburu, tetapi aku butuh penjelasan yang lebih. Dilla hanya mengangguk lalu berkata.
“Aku mulai mencintai mas Andi saat pertama kali masuk kampus. Sifat dewasa, sopan dan santunnya membuat hatiku luluh. Apalagi saat dia bersedia menjadi mak comblang mas Farhan. Entah mengapa hatiku lebih terpaut untuknya.”
“Farhan jujur bukan maksudku untuk menusukmu dari belakang. Ini di luar perkiraanku. Aku juga baru mengerti hari ini, tentang perasaan Dilla. Maafkan aku!” ucap Andi gugup, takut aku salah paham. Kutatap mata Andi dan tersenyum.
“Andi, Dilla dan Pak Syamsul, sebenarnya hatiku hancur. Tetapi, sebagai pria aku harus ikhlas melepaskan cinta ini untuk sahabatku. Bukankah cinta tak harus dipaksakan. Andi … kutitipkan Dilla untukmu. Aku ikhlas karena dia mendapatkan pria yang jauh lebih baik dariku.” Tanpa terasa air mata menetes. Andi langsung memelukku dengan terisak.
Alhamdulillah,” ucap Pak Syamsul sambil tersenyum haru.

Peristiwa kali ini menyadarkanku, bahwa cinta sejati tak harus memiliki. Tetapi, cinta sejati itu harus berani mengikhlaskan yang dicintainya untuk bahagia bersama dengan yang lain. Bukankah jodoh, maut, rezeki sudah ada yang mengatur dan tercatat rapi di lauh mahfuz-Nya. Jadi, mengapa harus risau kehilangan yang kita cintai. Aku harus ikhlas, mungkin Dilla bukan cinta sejatiku. Tetapi, aku percaya Allah pasti telah menyiapkan bidadari lainnya untuk menjadi cinta sejatiku.[]