Rabu, 02 Maret 2016

Inikah Cinta?

Inikah Cinta?
Yanuari Purnawan


Aku hanya mampu melihat punggung gagahnya. Sejak satu semester aku menjadi pengagum rahasia. Mendengar cerita tentangnya dari teman sekelas hingga gosip ringan dari meja redaksi majalah sekolah. Aku memang fokus dengan ekstrakulikuler jurnalis. Walau banyak teman memilih ikut ekstrakulikuler basket demi lebih dekat dengannya, tetapi aku lebih memilih dunia yang aku cintai daripada berkorban untuknya yang masih semu.

Teriakkan siswi-siswi SMA 40 begitu histeris, melihat sang kapten main basket saat ajang perlombaan basket antar sekolah. Raka, sang kapten yang menjadi bintang saat itu. Beberapa tri point dicetaknya hingga mengantarkan SMA kami menjadi juara. Raka … walau aku tak sehisteris para cewek itu, tetapi dari jauh aku selalu mendukungmu.

Seperti mendapat durian runtuh, aku ditunjuk ketua redaksi untuk wawancara dengan para punggawa basket sekolah. Ini kesempatan emas untuk dekat dengan Raka. Aku harus mempersiapkan ini sesempurna mungkin. Jangan sampai aku kelihatan bodoh di depan mereka, apalagi Raka.

“Permisi … maaf ganggu waktunya?” tanyaku sopan kepada para pemain basket tatkala sedang latihan.
“Ada apa?” jawab salah satu anggota tim basket. Sambil membetulkan letak kacamata minus yang kupakai, terlihat cowok itu mendekatiku: Raka.
“Aku ingin wawancara kalian yang kemarin menang lomba basket antar sekolah ….” jawabku dengan sedikit gemetaran. Dadaku berdesir hebat dan jantung berdebar kencang. Aku tidak menyangka bisa sedekat ini melihatnya.
“Maaf, kami sibuk!” jawab Raka ketus dan meninggalkanku sendiri yang masih mematung melihatnya.

Ya … Rabb, salahkah perasaan ini! Dengan setia aku duduk di kursi penonton sambil menunggu Raka selesai latihan. Beberapa kali jepretan dari kamera ponsel berhasil mengabadikan dia sedang latihan basket. Bulir keringat membasahi wajah dan bajunya, andai aku bisa menyeka keringat itu. Sungguh pemandangan yang sayang jika harus dilewatkan begitu saja.

“Raka, ini air mineralnya!” ucap seorang cewek berambut hitam panjang sambil menyodorkan sebotol air mineral kepada Raka. Tidak lain cewek tersebut adalah Silvy, cewek yang santer digosipkan pacaran dengan Raka. Melihat pemandangan tersebut entah mengapa membuat hatiku panas. Ingin ku remas-remas itu cewek yang berani-beraninya mendekati Rakaku.

Menunggu terlalu lama tanpa terasa aku tertidur hingga tidak menyadari jika latihan basket usai. Lapangan basket sepi, kemana mereka? Aku berlari menuju ruang ganti sudah tidak ada orang. Bagaimana dengan wawancaranya? Aku tidak ingin perjuanganku menunggu berakhir sia-sia.

“Raka?!!” teriakku, tatkala melihat Raka yang sedang sendirian di tempat parkir.
“Ada apa? Masih masalah wawancara!” ucapnya sinis. Mendengar ucapannya aku hanya mampu menganggukan kepala.
“Aku capek dan banyak PR, aku harus pulang,” terangnya lagi sambil menghidupkan mesin sepeda motornya.
“Jangan begitu, apa kamu tidak kasihan denganku? Aku sudah menunggu lama untuk bisa wawancara,” jawabku memelas, berharap dia luluh.
“Oke, aku mau di wawancara asal dengan syarat selama seminggu kamu harus mengerjakan PR-ku. Apa kamu setuju?” tanyanya.

Aku mengangguk menyetujui syarat tersebut. Betapa bahagianya sore itu, walau setumpuk buku berisi PR-nya harus aku kerjakan. Apakah ini yang disebut cinta? Walau kata orang itu buruk, jika melihatnya dengan cinta pasti akan terasa indah.

Tidak terasa sudah empat hari aku mengerjakan syarat darinya. Selama itu pula aku semakin dekat. Namanya Raka Hadi Pratama, anak tunggal dari salah satu anggota dewan di negeri ini, suka warna biru, makanan favorit nasi goreng dan hobi main basket. Itulah sekelumit biodata tentang Raka. Dia sekarang tidak sejaim awal kita bertemu, lebih cair dan ramah.

Sejak perubahan sikapnya, membuat kami semakin akrab. Sesekali kubawakan nasi goreng buatanku untuk bekal makan saat latihan basket. Aku sangat setia menemani latihan, mulai dari menyemangati hingga memberikan handuk kering untuk menyeka keringatnya. Walau kadang merasa lelah harus mengerjakan semua, tetapi setelah melihat senyum Raka, semangatku kembali berenergi lagi. Raka andai kau tahu aku di sini mencintaimu.

Ini hari terakhir aku mengerjakan syarat dari Raka. Entah mengapa bukannya senang malah aku merasa sedih. Aku takut kedekatan yang baru bersemi ini akan berakhir.

“Raka … jika kau perlu sesuatu jangan sungkan panggil aku,” ucapku gugup, saat itu Raka sudah rapi untuk pulang dari latihan basket.
“Oke, tetapi ada apa kok bicara begitu? Takut tidak bisa dekat dengan cowok ganteng kayak aku,” jawabnya sembari tersenyum. Lagi-lagi senyum itu membuatku terpesona. Lapangan basket yang sepi, membuatku berani. Kupeluk Raka.
“Aku tidak ingin kebersamaan ini berakhir. Aku ingin dekat denganmu,” jawabku dengan airmata yang mengalir membasahi pipi. Dada bidang itu membuatku nyaman dipelukannya.
“Jangan melankolis begitu, sudahlah toh aku juga gak pergi jauh. Tenang saja kita tetap sahabatan karena aku nyaman bersamamu,” ucapnya sambil menyeka airmataku. Jantungku berdebar tidak karuan. Mimpikah ini! Raka merasa nyaman denganku. Jika ini mimpi aku tidak mau terbangun, aku ingin tetap dipelukannya.

Waktu berjalan begitu cepat, pagi baru telah menyambut. Aku dan Raka semakin dekat tidak jarang aku main ke rumahnya. Mengerjakan tugas bersama, maklum kami sudah kelas tiga. Kami berjuang untuk mempersiapkan ujian akhir agar bisa lulus. Dalam bidang akademik aku memang di atas Raka. Jadi, tidak jarang berkali-kali aku harus sabar mengajarinya.
Hingga tiba masa itu, di mana aku tidak akan menatap punggung gagahnya sesering sekarang. Kami dinyatakan lulus dan aku mendapat nilai tertinggi. Seharusnya aku senang dengan kabar tersebut, tetapi entah hati ini merasa sedih. Sebentar lagi tak ada lagi senyum yang memberikan ketenangan di hatiku.

Aku harus mengungkapkan perasaan ini, sebelum semuanya terlambat. Aku harus berani, apa pun hasilnya nanti yang terpenting aku sudah jujur dengan perasaan ini. Aku tidak ingin rasa yang terpendam selama tiga tahun ini menjadi bom waktu yang akan menghancurkanku.

Hujan tidak menjadi halangan untuk menemui Raka di salah satu tempat makan. Di mana aku sudah berjanji kepadanya untuk mengatakan sesuatu yang penting. Kulihat Raka sudah datang terlebih dulu.
“Mau bicara apa sih? Kayak serius banget hingga menyuruh datang ke sini,” ucapnya.

Sebelum menjawab pertanyaannya. Tiba-tiba ada cewek cantik berambut panjang dan berpakaian rapi datang menghampiri kami.
“Ohnya, kenalin ini Ratna, pacar aku yang baru,” terang Raka memperkenalkan cewek tersebut.

Mendengarnya seperti petir menyambar tubuhku. Aku masih tertegun tidak percaya. Sakit rasanya hati ini, dengan berat aku melangkah pergi meninggalkan mereka. Terdengar teriakan Raka menyebut namaku.
“Rian?!!”
“Rian … katanya mau bicara sesuatu!”

Suara itu menggema seiring hujan begitu deras mengguyur tubuhku. Inikah cinta itu? Mengapa begitu sakit rasanya. Ternyata, takdir telah mengisyaratkan bahwa aku dan Raka tidak mungkin bersatu. Hujan … hapus semua pedih dan rasa cinta ini bersama setiap tetesanmu.[]


Selasa, 23 Februari 2016

Pagi Baru

Pagi Baru
Oleh : Yanuari Purnawan


Seharusnya aku bisa melupakan semua itu. Menjadi diri yang baru, tanpa terusik oleh bayang masa lalu. Berkali-kali mencoba, tetapi masih saja sama. Kupandang layar ponsel, sebuah pesan darinya. Membuat pikiran tersita sementara. Sebagai humas di biro perjalanan haji dan umroh. Aku tak ingin masalah pribadi tersebut membuat pekerjaan terganggu. Aisyah, seharusnya mengerti akan kondisi ini. Atau aku sebagai lelaki yang tidak tegas mengambil keputusan.

“Permisi … Pak!”
“Iya … ada apa Rudi?” tanyaku sedikit gugup dan membuyarkan lamunan tentang Aisyah dan masa lalu.
“Ada seseorang yang mau bertanya tentang biro perjalanan haji dan umroh kita,” jawab Rudi yang merupakan salah satu staf karyawan di biro travel ini.
“Suruh dia datang ke ruang kerjaku.”
“Baik, Pak!”

 Setelah beberapa menit menunggu. Ada suara ketukan pintu dan salam dari luar. Sepertinya suara perempuan.
Assalamualaikum.”
Waalaikumsalam, silahkan masuk!” jawabku ramah. Terdengar suara ganggang pintu ditarik. Deg! Jantungku seolah berhenti berdegup. Aku masih tak percaya dengan sosok perempuan yang ada dihadapanku.
“Siska …!” teriakku kaget.
“Ridwan …!” jawabnya tak kalah kaget denganku. Sungguh ini benar-benar kebetulan atau hanya sekedar mimpi. Bukan, ini bukan mimpi! Tetapi, ini kenyataan. Dia kembali lagi dan ada dihadapanku sekarang. Beberapa saat kami terpaku dangan pikiran masing-masing.
“Tidak menyangka kita bisa ketemu lagi disini. Oh ya … bagaimana kabarnya?” sapanya memecah kebisuan diantara kami.
“Iya … Alhamdulillah baik,” ucapku sedikit grogi.
“Senang bertemu kamu kembali.” Senyum mengembang dari bibir Siska. Perkataannya seolah mengingatkanku pada kenangan masa lalu itu. Aku hanya bisa membalas dengan senyuman.
“Kamu sudah menikah lagi?” tanyanya, seketika membuat bibirku keluh untuk menjawab apa. Hanya gelengan yang mampu kulakukan, sambil menyerahkan brosur travel haji dan umroh.
“Silahkan dipilih paket mana yang sesuai keinginanmu?” ucapku tanpa mampu mampu memandang wajahnya.
“Kalau paket bulan madu, ada tidak?” Pertanyaan Siska tersebut membuatku mendongakkan kepala menatapnya.
“Tak, perlu kaget begitu. Aku sudah menikah lagi.” lanjutnya sambil menunjukan cincin pernikahan di jari manis kirinya.
“Jadi …!”
“Sejak aku bercerai dengan Ridwan. Banyak hal yang tak pernah kuketahui sebelumnya. Hingga pada suatu hari, ada seorang pria yang menawarkan tangannya untuk menuntunku menuju jalan-Nya,” terang Siska dengan binar wajah yang bahagia.
“Emm … kayaknya kamu sudah menemukan kebahagiaan sekarang!” ucapku menanggapi perkataannya.
“Semuanya juga berkat kamu.” Siska tersenyum, wajah putihnya bersemu merah.
“Maksudmu?”
“Semenjak kita memutuskan berpisah tahun lalu dan harus menjadi janda. Sungguh, sulit bagiku untuk bangkit lagi. Berbulan-bulan dalam keterpurukan. Hingga, sepupu mengajakku ke pengajian di kampusnya. Dari acara tersebut, aku memahami bahwa hidup harus berjalan terus. Lagi-lagi aku bersyukur lewat pengajian tersebut pula. Akhirnya, bisa menemukan jodohku yang saat ini,” terang Siska. Kulihat air mata menetes mambasahi pipi putih itu. Dengan ujung jilbab, dia menyekanya.
“Lalu … apa hubungannya denganku yang merupakan mantan suamimu?” kejarku penasaran. Siska hanya tersenyum lalu mengalih pandangan ke arah jendela.
“Seandainya aku tak pernah mengenalmu. Mungkin, aku tak akan pernah belajar dari kegagalan di masa lalu. Aku bersyukur atas jalan yang berliku ini. Bukankah kegagalan kemarin, belum tentu kegagalan esok. Dengan tetap bangkit lalu bergerak maju, insyaAllah kebahagian itu akan terwujud.”

Entah mengapa keterangan Siska membuat hati ini sedikit terbuka. Aku tidak boleh takut akan masa lalu yang pernah gagal. Tetapi, seharusnya aku takut, jika masih berkutat dengan bayang masa lalu.
“Oke! Aku pilih paket ini saja. Harganya lumayan dan waktunya juga cukup untuk bulan madu,” pilihnya untuk travel umroh sekaligus bulan madu seperti yang dia katakan.
“Ternyata kamu sudah lebih dewasa dari yang kukenal dulu,” pujiku sambil menatapnya sebentar.
“Setiap manusia memiliki fase untuk berbenah dan belajar. Bukankah hari selalu menawarkan pagi baru. Mengapa kita sebagai manusia tidak?” jelasnya dengan tersenyum ramah lalu bergegas meninggalkan ruanganku. Sebelum keluar, dia sempat berkata.
“Ridwan, semangat untuk bangkit dan kutunggu undangan pernikahanmu.” Aku hanya menanggapinya dengan tersenyum.

Setelah Siska keluar dari ruanganku. Buru-buru kuambil ponsel untuk mengirim pesan. Aku harus menyelesaikan masalah dengan gadis yang tak kalah cantik dan soleha dari Siska. Sudah berapa bulan ini aku menggantungkan perasaannya. Secepatnya atau tidak sama sekali. Sebuah pesan singkat terkirim ke nomor ponsel Aisyah.

“Aisyah, insyaAllah besok aku akan datang menemui orang tuamu.

Selesai

Minggu, 21 Februari 2016

Ketika Allah Mencintaiku

Ketika Allah Mencintaiku



Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan. (Q.S Ali ‘Imran [3] : 186)

Adakah hakikatnya jika kita hijrah menuju kebaikan maka masalah dan ujian selesai. Ternyata, tidak semudah itu. Allah dengan kekuasaannya pasti akan melihat sejauh mana batas iman kita dengan ujian yang maha dahsyat lagi. Seberapa kuat kita berjalan di atas jalan kebenaran. Seberapa ikhlas dan sabar kita ketika ujian datang bahkan lebih besar bak gelombang tsunami. Dan mampukah kita menjadi karang yang kokoh untuk tetap percaya akan segala skenario terindah-Nya.
Dulu ketika awal hijrah untuk belajar lebih baik dan taat akan perintah-Nya, ujian dalam hidup ini akan berkurang. Namun, Sang Pemilik jiwa ini jauh lebih kuasa lagi dari prasangka hamba-Nya. Ujian seakan silih berganti hinggap dan setia dalam hidupku. Satu per satu orang yang aku sayangi pergi menuju keabadian. Ibu, nenek, keponakan dan dua tanteku secara cepat telah menghadap-Nya. Bagai mimpi buruk, harta pun lenyap bak debu tertiup angin. Wussh … habis tanpa sisa.
Ingin rasanya diri ini menggugat Allah. Kenapa ya Allah di saat diri ini mendekat kepada-Mu, malah Engkau timpahkan ujian yang bahkan jauh lebih besar dan bertubi-tubi? Bisikan setan seolah bernyanyi merdu di telinga. Lihatlah, ketika kamu berhijrah ujian malah semakin dahsyat. Sudahlah kembali saja ke jalan dulu! Air mata ini seakan kering. Lagi-lagi, ada saja cara Dia menyentil diri ini yang masih rapuh.

“Apabila seorang mukmin tertimpa musibah berupa penyakit, keletihan, mual, kesedihan serta kesusahan, Allah akan melebur dosa perbuatan jeleknya dengan musibah tersebut.” (HR Muslim)

Ketika membaca hadits di atas, air mataku tumpah ruah. Kini, aku yakin skenario-Nya jauh lebih indah dari prasangka hamba-Nya. Ketika keyakinan merapuh dan bisikan setan berbisik merdu, sesegera diri ini mengingat betapa besar nikmat-Nya. Renungan buat diri ini, ujian mungkin silih berganti datang, namun bisakah kita menghitung nikmat-Nya yang begitu melimpah. Udara gratis, air yang melimpah dan akal yang sehat. Ternyata, bukan tentang seberapa besar apa yang kita dapat, tetapi seberapa besar rasa syukur dalam dada akan setiap kuasa-Nya.
Mungkin, dengan ujian yang menggunung ini adalah bentuk cinta Allah dengan cara yang berbeda. Allah suka mendengar rintahan doa-doa kita, tangis kelemahan kita dan sujud-sujud di setiap shalat kita. Astaghfirullah, betapa bodohnya jika diri ini masih harus menggugat-Nya. Tak ada lagi alasan untuk berbalik ke belakang dan mengulang kelamnya hidup. Kita tak pernah tahu berapa jatah umur kita di dunia ini. Hidayah mungkin bisa datang kembali, namun ketika hidayah datang lebih awal mengapa kita tidak menjemputnya dengan istiqomah dan tawakal.

“Dan masa (Kejayaan dan kehancuran) itu, kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran). (Q.S Ali ‘Imran [3]: 140)

Setiap yang bernyawa pasti pernah diuji, bahkan jauh lebih berat dari kita. Ketika diuji bersabar, diberi nikmat bersyukur. Pasti Allah menyelipkan hikmah dan pembelajaran dari setiap peristiwa. Baik itu suka ataupun duka. Berbaik sangka akan setiap rencana-Nya. Karena, kita tak punya hak untuk nyawa ini. Dengan ujian bertubi-tubi ini, aku menyakini karena Allah mencintaiku. Mencintai kita yang sungguh-sungguh berhijrah dalam kebaikan. Iman yang masih secuil, ilmu yang masih dangkal ini semoga tidak menuntun diri ini untuk kembali ke dalam jerat-jerat setan. Aamiin.

Kemenangan hari ini … bukanlah berarti kemenangan esok hari
Kegagalan hari ini … bukanlah berarti kegagalan esok hari
Tak ada yang jatuh dari langit dengan cuma-Cuma
Semua usaha dan doa
Kebenaran hari ini bukanlah berarti kebenaran saat nanti
Kebenaran bukanlah kenyataan
Hidup adalah perjuangan tanpa henti-henti
Usah kau menangisi hari kemarin
Hidup adalah perjuangan
Bukanlah arah dan tujuan
Hidup adalah perjalanan
(Lagu Hidup Adalah Perjuangan, Dewa 19)




Rabu, 10 Februari 2016

Cinta Tanggal Merah

Cuap-Cuap Cantik ...,

Pernahkah kalian jatuh cinta, namun waktunya tak tepat. Dan bagaimana rasanya memutuskan sesuatu yang sangat kita cintai untuk diakhiri. Galau pasti, sakit tentu. Tapi, ada satu yang harus kita patuhi yaitu perintah-Nya.

Duh ... ngomong apa ini? Sudah deh daripada aku semakin ngelantur mending baca cerita. Semoga memberikan kita sedikit pencerahan, di hari yang selalu mendung ini hehe. Jika suka silahkan di share, jika tidak, semoga tidak merusak mata anda.^^

Yuk, cap cus ke ceritanya saja, selamat menikmati seperti aku yang menikmati ketika menulisnya.

#####

Cinta Tanggal Merah
Oleh : Yanuari Purnawan



Kulirik jam tangan sudah menunjukkan pukul tiga sore. Hampir satu jam aku menunggu dengan setia di koridor sekolah. Ditambah hujan yang mulai deras. Sudah jamuran dan pegal rasanya. Kalau bukan karena janji, mungkin aku sudah pulang duluan. Mondar-mandir kayak setrikaan, hanya demi cinta.

Dari ujung mata, terlihat sesosok yang sudah lama kutunggu. Sepertinya, dia juga terburu-buru menghampiriku.
“Maafnya …! Sudah lama menunggu?” sapa Alya dengan nafas yang tersenggal-senggal. Gadis di depanku tersebut seperti habis lari marathon. Bulir keringat membasahi wajah putih dan bersih itu.
“Nggak papa kok! Malah hampir jamuran nih,” candaku sambil tersenyum melihat wajahnya yang semakin menunjukkan rasa bersalah.
“Ngambek ya?” goda Alya sambil mengedipin mata. Membuatku semakin gemas saja melihat tingkahnya.
“Kok lama sih! Memang rapat osis apa rapat paripurna?” celaku sambil berjalan beriringan menuju tempat parkir sekolah.
“Tahu deh. Belum ada titik temu buat acara pensi ulang tahun sekolah nanti.” Terlihat air mukanya kesal.

Sesampainya di tempat parkir, hujan masih setia mengguyur. Kami terpaksa menunggu hujan agak redah dulu, baru pulang. Suasana sekolah mulai sepi hanya ada aku dan Alya serta Pak Dudung, satpam sekolah. Pak Dudung sedang asyik beristirahat di posnya. Kami hanya bisa termangu di salah satu bangku dekat parkiran sepeda motor.
“Al .. aku ingin bicara sesuatu?” tanyaku memecah kebisuan. Wajah putih itu menoleh ke arahku.
“Tanya apa? Kayaknya serius,” jawabnya. Terlihat rambut hitam sebahunya, acak-acakkan terembus angin sore.
“Kamu sudah baca sms-ku tadi malam ‘kan?”
“Sudah. Tapi, aku tak mengerti maksud smsnya, Farhan!” jelasnya sambil mengeryitkan dahi.
“Yang mana, Al?”
“Cinta tanggal merah,” ucapnya sambil menatapku lekat. Bola mata itu begitu teduh, secepat mungkin kualihkan pandangan ke arah hujan. Suasana kembali bisu. Aku berusaha mencari kalimat yang tepat. Hingga tak akan ada yang tersakiti.
“Alya … aku ingin berhenti.”
“Maksudnya?” Seperti ada tanya besar dalam pikiran Alya.
“Aku ingin mengakhiri hubungan tak jelas ini,” jelasku sedikit pelan.
“Farhan! Kamu pikir hubungan ini hanya mainan saja. Jika kamu bosan tinggal cari yang lainnya gitu?” ucap Alya dengan emosi.
“Bukan begitu, Alya. Hubungan kita sudah tak wajar. Aku tak ingin menggantungkan perasaanmu dengan suatu hubungan yang tak jelas arahnya. Hanya itu alasanku.”
“Lalu! Sekarang apa yang harus kita lakukan?” Dari kelopak mata Alya, terbendung kristal hangat yang siap tumpah. Aku berusaha mengatur nafas agar lebih tenang dan tak emosi.
“Alya … cinta kita sudah tanggal merah. Harus berhenti sejenak. Usia seperti kita, bukan untuk membahas masalah cinta-cintaan, tetapi untuk berprestasi. Dan kurasa kini saatnya kita mencoba untuk berhenti lalu berbenah memantaskan diri,” terangku dengan tegas.

Kristal hangat itupun tumpah dari kelopak matanya. Kurasa, Alya bisa memahami maksudku tersebut.
“Bohong! Pasti, kamu punya cewek lain,” sanggahnya sambil terisak.
“Alya …!”

Plakk!
Sebelum aku menjelaskan kepadanya. Tamparan tersebut langsung tepat mengenai pipiku. Aku berusaha tegar dan kuat menahan emosi.
“Cukup, Farhan!” Alya langsung berlari menerobos hujan. Sepertinya hujan tak menjadi alasan untuk segera pergi dari tempat ini. Seragam putih abu-abunya basah kuyup. Bersama derai air mata, dia berlari dan menjauh dariku.

Alya maafkan aku telah melukai perasaanmu. Tetapi, inilah resiko yang harus aku ambil. Berhenti atau tidak sama sekali. Biarlah waktu yang akan menuntun cinta ini. Sekalipun bukan Alya jodohku. Aku percaya bahwa Allah, telah menyiapkan bidadari-Nya untukku. Bukan sekarang tetapi nanti, jika aku telah mampu berkomitmen lebih serius yakni menikah.

Selesai


Selasa, 09 Februari 2016

[Review] Sayap-Sayap Cinta Asma Nadia

Sayap-Sayap Cinta Asma Nadia

Judul              : Jilbab Traveler  “Love Sparks In Korea”
Penulis          : Asma Nadia
Penerbit        : AsmaNadia Publishing House
Halaman        : 380 halaman
ISBN               : 978-602-9055-39-9
Cetakan pertama, Oktober 2015.


Kali ini Asma Nadia akan mengajak pembacanya untuk berkeliling di bumi Allah yang begitu luas. Dari Nepal hingga ke negeri yang terkenal dengan drama romantisnya, yakni Korea Selatan. Berkisah tentang gadis berjilbab bernama Rania Timur Samudra yang hobi traveler. Bukan semata traveler, namun Rania juga mengeksplore keindahan tempat yang ia kunjungi melalui fotografi. Dari traveler tersebut, hobi fotografinya pun semakin diasah untuk bisa membidik foto yang indah dan berkwalitas.
Sesuai judulnya “Love Sparks In Korea” Asma Nadia menyajikan cerita cinta romantis di negeri ginseng tersebut. Perjalanan cinta Rania di bumi Allah mengantarkannya bertemu dengan sesosok laki-laki korea dengan dandanan preman bernama Hyun Geun. Laki-laki yang memiliki hobi sama dengan Rania, yakni fotografi. Berawal dari kecopetan di Nepal, hingga takdir mempertemukan mereka kembali di tanah kelahiran Hyun Geun.
Di sisi lain, seorang laki-laki yang menjadi teman lama Rania, juga menawarkan pesona cintanya tersendiri. Lelaki yang takut naik pesawat, berhasil terbang untuk membawa secercah harapan akan cinta kepada Rania. Ilhan, sosok laki-laki yang mampu membuat keajaibannya sendiri akan ketakutannya selama ini.
Buku yang menggambarkan cinta akan bumi Allah yang menakjubkan, hingga liku-liku takdir cinta gadis berjilbab yang waktu kecil sering sakit-sakitan. Walaupun pada awalnya, bisa tertebak siapa yang mampu memenangkan hati Rania dan sedikit terlalu lama alurnya hingga terasa bosan. Namun, kejutan akan cinta pertama Hyun Geun mampu menjadi penawar akan klimaks kisah dalam buku ini.
Buat para pembaca, buku ini sangat cocok untuk kalian yang hobi traveler dan fotografi. Karena, selain kisah cinta, kalian akan diberikan tips-tips traveler yang nyaman serta ilmu fotografi agar bisa membidik objek dengan akurat. Asma Nadia dengan buku “Love Sparks in Korea” mampu menerbangkan sayap-sayap cintanya yang indah dan berliku. Namun , yang pasti takdir Allah selalu penuh kejutan dan ketakjuban tersendiri bagi hamba-Nya yang senantiasa bersyukur.[]


Jumat, 22 Januari 2016

Back to Me

Back to Me
Yanuari Purnawan



Seperti katamu, malam tak harus tentang gelap. Bisa juga tentang taburan bintang atau remangnya cahaya bulan. Aku selalu mengingat kalimat itu. Sederhana, namun mengkristal di dalam hati. Percaya atau tidak, kita pasti sedang memandang langit yang sama. Terlentang di rumput yang hijau sambil menghitung bintang. Itukan caramu untuk menghapus sepi dan sedih.
“Lihatlah langit itu?” suruhmu sambil terlentang melihat langit malam. Taman komplek jam sepuluh sangat sepi. Entah, apa yang menggiringku untuk ikut denganmu Menikmati dinginnya malam atau melihat bintang jatuh.
“Biasa saja. Bintangnya juga sedikit, mungkin mendung!” Kamu menatapku heran lalu bangkit dan duduk di sampingku.
“Dasar … kamu tuh emang tidak peka!” protesmu sambil mencubit pipiku yang cubby. Seperti ada desiran halus menyusup ke dalam dada lalu turun ke hati. Senyum itu yang membuatku kuat menahan dingin malam. Walau esoknya aku harus merasakan perut yang melilit karena masuk angin.
”Ih … sakit tau!” tepisku. Kamu hanya tersenyum manis lalu kembali menatap langit.
“Kenapa sih kamu suka sekali langit malam? Bagiku sama saja dan tidak ada yang spesial,” cerocosku yang membuatmu kembali mencubit pipiku gemas.
“Kamu tuh nanya apa lagi introgasi?” Aku tersenyum menanggapinya.
Beberapa menit keadaan mulai membisu. Angin malam seakan menusuk tulang. Suasana menjadi sunyi, hingga kamu mulai bercerita.
“Semua tentang ini?” jelasmu sambil menunjuk dada. Aku diam tak mengerti.
“Kamu memang nggak peka!”
“Lha tunjuk dada, emang sakitnya tuh di sini!” protesku yang berkali-kali dibilang tidak peka.
Kamu lalu mengatur napas, seperti ada beban yang sedang disimpan. Tapi, aku tak berani untuk bertanya lebih lanjut.
“Ini tentang perasaan. Saat kita jauh hanya langitlah yang dekat dan sama. Dan mengapa langit malam, karena di balik gelapnya tetap indah dengan taburan bintang dan cahaya bulan. “
Aku mendengarkannya dengan serius. Mata tak mampu berkedip, kamu sungguh terlihat berbeda. Dewasa.
“Kamu lagi ada masalah?”
Kamu hanya tersenyum lalu mengajakku untuk pulang. Sungguh, ini terlalu ganjil. Mengapa kamu tak ingin bercerita? Apakah kamu mengira aku terlalu tak peka akan masalahmu? Jahat.
***
Tuhan pasti punya rencana terbaik buat hamba-Nya. Ini bukan tentang aku atau kamu, namun tentang kita. Kita yang mudah sekali menilai dan berandai-andai.
“Kutunggu di taman.”
Sms itu kembali memenuhi inbox di ponsel. Sudah berapa kali kamu mengirimkannya. Sungguh jika tugas kuliah tak sedang bajibun, aku pasti menemanimu memandang langit malam.
“Maaf aku tak bisa. Tugas kuliah sedang menumpuk,” balasku. Mungkin kamu kecewa dengan sikapku yang lebih mementingkan tugas kuliah. Namun, kuharap kamu juga mengerti. Karena ini adalah tanggung jawab dan masa depanku.
Aku tak fokus mengerjakan tugas kuliah. Pikiranku melayang kepadamu. Jujur, aku tak ingin kamu kecewa. Sepertinya setan telah menghasutku untuk menemuimu. Sial, kamu berhasil merobohkan pertahananku. Kuambil jaket lalu melangkah menuju taman komplek. Sesampainya di taman, tak kutemukan sosokmu yang sedang terlentang memandang langit. Mungkinkah kamu marah dan kecewa kepadaku? Tuhan, kuharap semua hanya pikiran bawah sadarku. Jika, memang benar, sungguh aku menyesal.
Air mataku pun terjatuh sambil kebingungan mencari keberadaanmu. Aku lelah, tak kutemukan batang hidungmu. Di kursi taman, kutumpuhkan segala kebodohanku.
“Dasar cengeng!”
Kupandarkan pandangan, sosok itu tersenyum tipis sambil menyodorkan sapu tangan berwarna biru ke arahku.
“Udah tidak peka, cengeng lagi!”
Aku hanya diam sambil membersihkan air mata dengan sapu tanganmu. Apa yang terjadi kepadaku. Ini di luar nalar. Tapi, tak kuasa aku menahannya. Iya! Aku kini memelukmu yang membuat dirimu kebingungan. Dan aku pun terisak di dadamu.
”Apa-apaan nih? Emang kamu kira aku sudah meninggal di gigit anjing liar malam-malam!” bentakmu hingga pelukan terhadapmu harus kulepas. Kuseka air mata lalu memandang dalam.
“Aku takut kalau kamu diculik Alien!”
Kamu tertawa sambil menjitak kepalaku. Walau sakit, entah mengapa aku suka.
“Dasar! Ayo pulang.”
“Karena, kamu membuatku menangis malam ini. Kamu harus menggendongku sampai depan rumah.”
Kamu melotot hingga aku merasa takut dan menyesal berbicara begitu. Namun, apa yang terjadi. Wajahmu kembali terlihat manis dengan senyum itu. Kamu pun jongkok dan mengerti maksudku. Kamu memenuhi permintaanku. Tuhan, jika ini mimpi aku tak ingin terbangun.
***
Aku tak mengerti
Dan tak akan mengerti
Akan sosokmu
Tingkahmu
Pikiranmu
Namun, aku mengerti sayap-sayap cinta itu
Menerbangkan angan bersamamu selamanya

Lambat laun putik itu tumbuh menjadi bunga yang memesona. Seperti perasaan ini kepadamu. Tak pernah mati, namun selalu tumbuh bermekaran di dalam hati. Aku mengerti tak seharusnya rasa ini hadir. Tapi, siapa yang mampu memncegahnya. Sosokmu terlalu istimewa bagiku. Kalau ini salah, mungkin ini adalah kesalahan yang terindah dalam hidupku.
“Apa kamu pernah jatuh cinta?” Pertanyaanmu malam ini sungguh membuatku salah tingkah. Sekuat tenaga aku mengendalikan diri dan berusaha tenang. Walau jantungku berdegup lebih kencang.
“Kok tanya gitu? Jangan-jangan kamu sedang jatuh cinta ya!” godaku yang berhasil membuat pipimu merona merah.
“Hayo ngaku, sama siapa?”
“Bodoh! Emangnya kamu ketua RT dan aku harus laporan kepadamu.”
Sifat jutekmu itu sepertinya sudah mendarah daging. Terlalu gengsi untuk mengakui. Namun, kini tatapan itu menusuk hingga dadaku. Sesak. Apa yang mau kamu lakukan. Tidak mungkin! Jangan-jangan ….
“Kamu benar. Kini aku sedang jatuh cinta.”
Hampir saja tawaku meledak. Sekuat tenaga aku menahan diri untuk bersikap biasa.
“Aku jatuh cinta kepada Bella,” lanjutmu sambil melihat langit malam. Kalimat barusan berhasil menghancurkan puzzle perasaan yang sudah kususun indah. Tuhan, mungkin kini aku salah dengar atau sedang mimpi. Ini tidak nyata, bukan? Aku harus kuat dan tak menangis.
“Bella?”
“Dia adalah perempuan yang aku sukai sejak di bangku SMA.”
Penjelasan itu membuat dadaku semakin sesak. Aku berharap air mata tak tumpah di hadapanmu. Apa yang harus kulakukan? Tuhan, bantu aku untuk mengatasi semua perasaan ini.
“Kamu kenapa?”
Ingin rasanya aku berteriak sekarang dan bilang aku sakit dan cemburu.
“Eh … malah diam!”
Sambil menghirup udara yang seperti debu, aku beranikan memandangmu tajam, “Apa aku harus lompat-lompat dan mengucapkan turut bahagia, begitu?”
Aku pun berlari meninggalkanmu yang mematung kaget akan sikap kekanak-kanakkanku.
***
Bila mencintai itu sesakit ini, aku tak akan pernah mengenal cinta. Jika mengenalmu membuat hatiku hancur, ingin kuputar waktu untuk tak menyapamu. Semua sudah terjawab, aku dan kamu hanya mimpi indah yang kupoles untuk nyata. Keadaan sudah berbeda, Bella-lah yang memenangkan hatimu. Tuhan pun merestui kalian. Walau kalian tak tahu, kini aku tersakiti.
“Aku akan menikah,” jelasmu begitu antusias. Udara malam seperti membekukan semua perasaan ini. Tak ada rasa senang atau sedih. Datar. Itulah yang kini kurasa.
“Secepat itukah?”
“Itulah istimewahnya Bella. Perempuan berjilbab yang tak mau pacaran dan baginya ta’aruf lalu menikah.” Matamu berkilau saat menjelaskan siapa Bella. Mungkin, cinta telah mengakar di hatimu. Namun, melayukan rasaku kepadamu.
“Terus Bella mau denganmu?”
Kamu hanya mengangguk lalu menunduk, “Mungkin aku bukanlah laki-laki yang sholeh. Namun, kita sepakat untuk sama-sama belajar. Kita sudah dewasa dan menikah adalah satu-satunya benteng untuk terhindar dari zina.”
Bella pun berhasil mengubah kepribadianmu. Kamu kini lebih religius dan dewasa.
“Semoga kalian berjodoh,” ucapku lirih.
***
Seharusnya ini menjadi hari bahagia. Sahabat baikku kini akan melepas masa lajangnya bersama wanita pujaannya. Namun, air mata ini tak mampu kubendung. Kamu yang selama ini ada dalam setiap imaji indahku harus pergi selamanya. Apa yang harus kulakukan? Ini terlalu sakit, Tuhan.
Kamu begitu gagah dengan jas putih bersanding dengan Bella yang begitu cantik dengan gaun putihnya. Raut wajah penuh kebahagian, duduk berdua di pelaminan. Ikhlaskan dia … ikhlaskan dia, itulah berkecamuk di dalam hatiku kini.
Aku memelukmu sambil mengucapkan selamat. Entah keberanian dari mana kata-kata itu mampu keluar dari mulutku.
“Aku menyayangimu,” ucapku sambil mempererat pelukan seperti berharap tak akan berpisah. Namun, kamu begitu dewasa dan mengucapkan kalimat yang hingga kini masih mengedap dalam hati dan pikiran.

Kutulis jejak rindu tentangmu
Yang mampu menembus gravitasi
Membuatku bebas untuk menghantarkan
Dahaga tentangmu
Iya. Karena, ini semua tentangmu
Yang mampu mencuri mimpi indahku
Kini
Aku menuntutmu untuk kembali
Kembali kepadaku
Menceritakan langit malam

Sudah berapa lama aku terlentang di rumput taman komplek. Setengah jam, satu jam, mungkin lebih. Kupandangi langit malam yang begitu agung. Bertabur bintang dan remangnya cahaya bulan. Namun, ini sudah malam ke sembilan puluh Sembilan aku sendiri memandang langit malam. Aku selalu menyakini, bahwa kita pasti sedang melihat langit yang sama. Dan itu seperti katamu saat kita bersama menghabiskan malam yang dingin serta membuat perutku melilit esok paginya.
Jujur aku berharap kamu kembali. Bercerita tentang langit malam, menghina aku tak peka, mengolok-olok aku cengeng, mencubit pipi cubby-ku dan menjitak kepalaku yang tak serius. Namun, rasa itu berhasil kutepis walau pedih. Seperti kata-kata yang kamu ucapkan saat pesta pernikahan itu. Kata-kata itulah yang selalu melekat dan sedikit mengobati rasa ini. Bagai mantra-mantra yang menyihirku untuk sadar, bahwa kamu tak akan pernah kembali kepadaku.
“Aku juga menyayangimu. Bahkan, lebih dari itu kamu adalah sahabat terbaik yang pernah aku kenal. Dan aku akan selalu berdoa semoga kamu mendapatkan jodoh terbaik dari-Nya. Wanita yang cantik nan soleha.”[]

Selesai

Jumat, 15 Januari 2016

Untuk Kayla

 Untuk Kayla



Gelap. Satu kata yang bisa menggambarkan perasaannya kini. Cewek berambut sebahu tersebut berusaha berimaji bagaimana semua itu bisa bermula. Cowok dengan rambut acak-acakan itu seolah menjadi magnet. Merapat dalam ketidaksamaan dan menjauh dalam kesamaan.
"Key ...!"
Panggilan itu mengingatkannya pada kejadian satu tahun lalu. Cowok bermata biru tersebut berusaha berkenalan dengan Kayla dengan ramah. Bukannya senyum hangat yang diterima, namun sikap tak acuh Kayla berhasil membuat cowok pindahan itu harus menelan ludah. Mood Kayla hari itu memang tidak baik, ditambah lagi cowok itu salah menyebut namanya. Bagi Kayla cowok pindahan yang duduk di bangku sampingnya pasti akan membuat harinya semakin kalut.
***
"Nattan!" ucap cowok indo itu sambil menjulurkan tangan ke arah Kayla. Dengan malas Kayla menjawab tanpa mengindahkan uluran tangannya.
"Kayla!"
"Key ... lah!" Nattan berusaha mengeja nama Kayla, namun terasa sulit dan asing bagi cowok yang besar di Sidney tersebut.
Di balik kacamatanya, Kayla menatap Nattan dengan sinis.
"Kay!" balas Kayla dengan kesal.
"Key ...!" Nattan menatap Kayla sambil tersenyum polos.
***
Tak terasa waktu cepat bergulir, dia seperti matahari yang cepat terbit lalu cepat pula tenggelam. Dia yang dulu masih kuncup kecil, kini telah mekar sempurna dan indah.*
Kenangan masa kecilnya membuat air mata begitu mudah mengalir. Di taman belakang sekolah merupakan tempat yang nyaman untuk melampiaskan dahaga rindunya.
Rindu belaian orang tua, dekap hangat sang ibu dan tangan kekar sang ayah saat menggendongnya. Lamunan Kayla tiba-tiba terusik dengan suara bass seorang cowok.
"Key ...!" Mata Kayla yang sembab beradu pandang dengan mata biru cowok yang menjadi idola baru cewek satu sekolah itu.
"Ngapain kamu di sini?" Kayla berusaha menetralisir perasaannya lalu mengusap sisa air mata di pipinya.
"You look ugly if weep!" canda Nattan sambil mendekat ke arah Kayla.
Kayla hanya menunduk lalu menatap bunga-bunga yang tertata rapi. Namun, latar bunga-bunga tersebut tak membuat hatinya ikut berbunga juga. Apalagi kehadiran Nattan, membuatnya semakin bad mood. Nattan pun hanya diam sambil menatap wajah sendu Kayla. Pikirannya pun berusaha mencari alasan, mengapa cewek berkacamata ini menangis di taman belakang sekolah.
***
Akhir-akhir ini, Pikiran Nattan selalu fokus pada Kayla. Cewek pendiam, pintar dan sering menangis di taman belakang sekolah itu. Dia berusaha untuk lebih dekat dengannya. Namun, Kayla masih setia dengan sifat juteknya.
Bel pulang sekolah berbunyi, Nattan masih setia duduk di bangku kelas. Bangku yang terletak di samping kanan bangku Kayla. Mata birunya fokus dengan jemari lentik Kayla. Kayla sepertinya masih asyik dengan kegiatan coret-coret di buku berwarna biru mudanya.
"Key ... kamu tidak pulang?" tanya Nattan sambil tersenyum ke arahnya. Walaupun gaya bicara Nattan masih sama. Selalu salah menyebut nama Kayla. Cewek berambut sebahu itupun membalas dengan senyuman juga.
Bagi Nattan ini awal yang baik untuk mengenalnya lebih dekat.
"Kamu terlihat lebih manis jika tersenyum begitu!" puji Nattan tulus. Wajah Kayla bersipu merah, seperti ada rasa baru dan pertama kali yang dia rasa.
Entah karena itu pujian dari cowok idola baru sekolah. Atau kalimat Nattan mengingatkan kepada seseorang yang dulu pernah ada di hati dan hidupnya.
"Natttan ...?" lirih Kayla menyebut nama Nattan. Mata Nattan kembali fokus ke arah Kayla. Kayla pun membalas tatapan Nattan. Bibir Nattan kembali menyunggingkan senyum manis yang bisa membuat luluh para gadis yang menjadi penggemarnya.
"Ada apa?" Tatapan Nattan semakin tajam ke arah Kayla hingga membuatnya kembali menunduk.
Suasana kelas menjadi hening. Bisu sesaat. Dengan mengambil nafas panjang Nattan pun membuka suara.
"Oke kalau tidak ada yang ditanyakan, aku pamit duluan. See you again!" Bibir Kayla bergetar, namun dia tak mampu berucap atau hanya sekedar membalas ucapan Nattan.
"Key ... percayalah masih ada payung yang siap melindungi kita dari rintik hujan maupun teriknya sinar matahari."
"Maksudmu?" Kayla tak mengerti apa yang sedang Nattan ucapkan. Perkataan tersebut terlalu filosofis baginya yang masih berseragam putih abu-abu tersebut.
Nattan kembali tersenyum tanpa menjawab pertanyaan atau lebih rasa penasaran Kayla tersebut. Dia pun menghilang di balik pintu kelas.
***
Hujan masih setia mengguyur bumi. Seakan mendung dan bau tanah mengerti perasaan Kayla kini. Di balik kacamatanya, dia fokus memandang bangku taman belakang. Basah. Cat abu-abunya pun mulai memudar. Cowok itu kembali mengusik ruang bawah sadar.
"Key ...!" sapa cowok berambut acak-acakan sambil mengatur nafasnya.
"Habis lari marathon ya?" tanya Kayla kesal.
Bukan maksud hati dia harus bersikap jutek. Namun, surat yang terselip di buku biologinya menghantarkan untuk menunggu sang pengirim surat di bangku taman belakang sekolah.
"Sorry ... tadi aku masih dipanggil untuk ke ruang TU!" Perkataan Nattan hanya disambut senyum kecut dari bibir Kayla.
"Key ... maaf atas kelakuanku selama ini kepadamu. Membuatmu marah, kesal dan tak tenang." ucap Nattan yang mulai mencairkan suasana. Kayla yang mendengarnya masih tak bergeming menatap bunga-bunga taman.
Tangan Nattan berusaha meraih tangan Kayla.
"Key ...!" Sebuah kotak berbungkus biru dia serahkan kepada Kayla,
Mata Kayla basah sambil memegang kalung berbandul kunci. Kenangan satu tahun lalu menyisahkan aroma pedih di hatinya.
"Apaan ini?" tanya Kayla terkejut dengan nada juteknya. Nattan hanya tersenyum sambil mengisyaratkan Kayla untuk membukanya.
Sebuah kalung berbandul kunci. Cantik. Mata Kayla berbinar sebentar.
"Key atau kunci. Ah ... sampai kini pun namamu susah kuucap dengan benar. Key ... coba bukalah hatimu, terimalah setiap ujian hidup ini dengan syukur. Aku yakin kamu akan menjadi orang hebat. Bahkan bisa sekelas Chairil Anwar." Nattan tersenyum sambil menyerahkan sebuah buku yang berisi coretan puisi Kayla. Nattan mengumpulkan setiap coretan tersebut di bawah bangku Kayla. Menurut Kayla kertas itu telah menjadi sampah dan dibuang oleh pembersih sekolah. Namun ...,
Bening hangat itupun luruh juga. Kelas mulai sepi. Jam pulang sekolah tak membuatnya bergeming dari bangkunya. Nattan telah pergi, entah dia masih ingat kepada Kayla apa tidak?
"Pindah?" Kayla masih tak percaya. Bu Nur selaku TU sekolah itu pun menjelaskan mengapa Nattan sudah lima hari tak masuk sekolah. Hal tersebutlah yang membawa Kayla bertanya kepada Bu Nur.
London. Jauh. Bahkan sangat jauh bagi Kayla yang yatim piatu tersebut.
"Kay ... ayo ditunggu teman-teman nih buat menjuriin lomba tulis puisi!" teriak Melodi teman sekelas Kayla.
Mendadak lamunan itupun buyar. Sambil tersenyum, Kayla menatap sahabatnya tersebut.
"Terima kasih, Nattan!" ucap Kayla lirih dan untuk terakhir kalinya dia menatap bangku belakang taman sekolah.
Selesai.
*( Diambil dari Novel "Hatiku Berhenti di Kamu" karya Eka Y. Saleem Hal.37)