Minggu, 21 Februari 2016

Ketika Allah Mencintaiku

Ketika Allah Mencintaiku



Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan. (Q.S Ali ‘Imran [3] : 186)

Adakah hakikatnya jika kita hijrah menuju kebaikan maka masalah dan ujian selesai. Ternyata, tidak semudah itu. Allah dengan kekuasaannya pasti akan melihat sejauh mana batas iman kita dengan ujian yang maha dahsyat lagi. Seberapa kuat kita berjalan di atas jalan kebenaran. Seberapa ikhlas dan sabar kita ketika ujian datang bahkan lebih besar bak gelombang tsunami. Dan mampukah kita menjadi karang yang kokoh untuk tetap percaya akan segala skenario terindah-Nya.
Dulu ketika awal hijrah untuk belajar lebih baik dan taat akan perintah-Nya, ujian dalam hidup ini akan berkurang. Namun, Sang Pemilik jiwa ini jauh lebih kuasa lagi dari prasangka hamba-Nya. Ujian seakan silih berganti hinggap dan setia dalam hidupku. Satu per satu orang yang aku sayangi pergi menuju keabadian. Ibu, nenek, keponakan dan dua tanteku secara cepat telah menghadap-Nya. Bagai mimpi buruk, harta pun lenyap bak debu tertiup angin. Wussh … habis tanpa sisa.
Ingin rasanya diri ini menggugat Allah. Kenapa ya Allah di saat diri ini mendekat kepada-Mu, malah Engkau timpahkan ujian yang bahkan jauh lebih besar dan bertubi-tubi? Bisikan setan seolah bernyanyi merdu di telinga. Lihatlah, ketika kamu berhijrah ujian malah semakin dahsyat. Sudahlah kembali saja ke jalan dulu! Air mata ini seakan kering. Lagi-lagi, ada saja cara Dia menyentil diri ini yang masih rapuh.

“Apabila seorang mukmin tertimpa musibah berupa penyakit, keletihan, mual, kesedihan serta kesusahan, Allah akan melebur dosa perbuatan jeleknya dengan musibah tersebut.” (HR Muslim)

Ketika membaca hadits di atas, air mataku tumpah ruah. Kini, aku yakin skenario-Nya jauh lebih indah dari prasangka hamba-Nya. Ketika keyakinan merapuh dan bisikan setan berbisik merdu, sesegera diri ini mengingat betapa besar nikmat-Nya. Renungan buat diri ini, ujian mungkin silih berganti datang, namun bisakah kita menghitung nikmat-Nya yang begitu melimpah. Udara gratis, air yang melimpah dan akal yang sehat. Ternyata, bukan tentang seberapa besar apa yang kita dapat, tetapi seberapa besar rasa syukur dalam dada akan setiap kuasa-Nya.
Mungkin, dengan ujian yang menggunung ini adalah bentuk cinta Allah dengan cara yang berbeda. Allah suka mendengar rintahan doa-doa kita, tangis kelemahan kita dan sujud-sujud di setiap shalat kita. Astaghfirullah, betapa bodohnya jika diri ini masih harus menggugat-Nya. Tak ada lagi alasan untuk berbalik ke belakang dan mengulang kelamnya hidup. Kita tak pernah tahu berapa jatah umur kita di dunia ini. Hidayah mungkin bisa datang kembali, namun ketika hidayah datang lebih awal mengapa kita tidak menjemputnya dengan istiqomah dan tawakal.

“Dan masa (Kejayaan dan kehancuran) itu, kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran). (Q.S Ali ‘Imran [3]: 140)

Setiap yang bernyawa pasti pernah diuji, bahkan jauh lebih berat dari kita. Ketika diuji bersabar, diberi nikmat bersyukur. Pasti Allah menyelipkan hikmah dan pembelajaran dari setiap peristiwa. Baik itu suka ataupun duka. Berbaik sangka akan setiap rencana-Nya. Karena, kita tak punya hak untuk nyawa ini. Dengan ujian bertubi-tubi ini, aku menyakini karena Allah mencintaiku. Mencintai kita yang sungguh-sungguh berhijrah dalam kebaikan. Iman yang masih secuil, ilmu yang masih dangkal ini semoga tidak menuntun diri ini untuk kembali ke dalam jerat-jerat setan. Aamiin.

Kemenangan hari ini … bukanlah berarti kemenangan esok hari
Kegagalan hari ini … bukanlah berarti kegagalan esok hari
Tak ada yang jatuh dari langit dengan cuma-Cuma
Semua usaha dan doa
Kebenaran hari ini bukanlah berarti kebenaran saat nanti
Kebenaran bukanlah kenyataan
Hidup adalah perjuangan tanpa henti-henti
Usah kau menangisi hari kemarin
Hidup adalah perjuangan
Bukanlah arah dan tujuan
Hidup adalah perjalanan
(Lagu Hidup Adalah Perjuangan, Dewa 19)




Rabu, 10 Februari 2016

Cinta Tanggal Merah

Cuap-Cuap Cantik ...,

Pernahkah kalian jatuh cinta, namun waktunya tak tepat. Dan bagaimana rasanya memutuskan sesuatu yang sangat kita cintai untuk diakhiri. Galau pasti, sakit tentu. Tapi, ada satu yang harus kita patuhi yaitu perintah-Nya.

Duh ... ngomong apa ini? Sudah deh daripada aku semakin ngelantur mending baca cerita. Semoga memberikan kita sedikit pencerahan, di hari yang selalu mendung ini hehe. Jika suka silahkan di share, jika tidak, semoga tidak merusak mata anda.^^

Yuk, cap cus ke ceritanya saja, selamat menikmati seperti aku yang menikmati ketika menulisnya.

#####

Cinta Tanggal Merah
Oleh : Yanuari Purnawan



Kulirik jam tangan sudah menunjukkan pukul tiga sore. Hampir satu jam aku menunggu dengan setia di koridor sekolah. Ditambah hujan yang mulai deras. Sudah jamuran dan pegal rasanya. Kalau bukan karena janji, mungkin aku sudah pulang duluan. Mondar-mandir kayak setrikaan, hanya demi cinta.

Dari ujung mata, terlihat sesosok yang sudah lama kutunggu. Sepertinya, dia juga terburu-buru menghampiriku.
“Maafnya …! Sudah lama menunggu?” sapa Alya dengan nafas yang tersenggal-senggal. Gadis di depanku tersebut seperti habis lari marathon. Bulir keringat membasahi wajah putih dan bersih itu.
“Nggak papa kok! Malah hampir jamuran nih,” candaku sambil tersenyum melihat wajahnya yang semakin menunjukkan rasa bersalah.
“Ngambek ya?” goda Alya sambil mengedipin mata. Membuatku semakin gemas saja melihat tingkahnya.
“Kok lama sih! Memang rapat osis apa rapat paripurna?” celaku sambil berjalan beriringan menuju tempat parkir sekolah.
“Tahu deh. Belum ada titik temu buat acara pensi ulang tahun sekolah nanti.” Terlihat air mukanya kesal.

Sesampainya di tempat parkir, hujan masih setia mengguyur. Kami terpaksa menunggu hujan agak redah dulu, baru pulang. Suasana sekolah mulai sepi hanya ada aku dan Alya serta Pak Dudung, satpam sekolah. Pak Dudung sedang asyik beristirahat di posnya. Kami hanya bisa termangu di salah satu bangku dekat parkiran sepeda motor.
“Al .. aku ingin bicara sesuatu?” tanyaku memecah kebisuan. Wajah putih itu menoleh ke arahku.
“Tanya apa? Kayaknya serius,” jawabnya. Terlihat rambut hitam sebahunya, acak-acakkan terembus angin sore.
“Kamu sudah baca sms-ku tadi malam ‘kan?”
“Sudah. Tapi, aku tak mengerti maksud smsnya, Farhan!” jelasnya sambil mengeryitkan dahi.
“Yang mana, Al?”
“Cinta tanggal merah,” ucapnya sambil menatapku lekat. Bola mata itu begitu teduh, secepat mungkin kualihkan pandangan ke arah hujan. Suasana kembali bisu. Aku berusaha mencari kalimat yang tepat. Hingga tak akan ada yang tersakiti.
“Alya … aku ingin berhenti.”
“Maksudnya?” Seperti ada tanya besar dalam pikiran Alya.
“Aku ingin mengakhiri hubungan tak jelas ini,” jelasku sedikit pelan.
“Farhan! Kamu pikir hubungan ini hanya mainan saja. Jika kamu bosan tinggal cari yang lainnya gitu?” ucap Alya dengan emosi.
“Bukan begitu, Alya. Hubungan kita sudah tak wajar. Aku tak ingin menggantungkan perasaanmu dengan suatu hubungan yang tak jelas arahnya. Hanya itu alasanku.”
“Lalu! Sekarang apa yang harus kita lakukan?” Dari kelopak mata Alya, terbendung kristal hangat yang siap tumpah. Aku berusaha mengatur nafas agar lebih tenang dan tak emosi.
“Alya … cinta kita sudah tanggal merah. Harus berhenti sejenak. Usia seperti kita, bukan untuk membahas masalah cinta-cintaan, tetapi untuk berprestasi. Dan kurasa kini saatnya kita mencoba untuk berhenti lalu berbenah memantaskan diri,” terangku dengan tegas.

Kristal hangat itupun tumpah dari kelopak matanya. Kurasa, Alya bisa memahami maksudku tersebut.
“Bohong! Pasti, kamu punya cewek lain,” sanggahnya sambil terisak.
“Alya …!”

Plakk!
Sebelum aku menjelaskan kepadanya. Tamparan tersebut langsung tepat mengenai pipiku. Aku berusaha tegar dan kuat menahan emosi.
“Cukup, Farhan!” Alya langsung berlari menerobos hujan. Sepertinya hujan tak menjadi alasan untuk segera pergi dari tempat ini. Seragam putih abu-abunya basah kuyup. Bersama derai air mata, dia berlari dan menjauh dariku.

Alya maafkan aku telah melukai perasaanmu. Tetapi, inilah resiko yang harus aku ambil. Berhenti atau tidak sama sekali. Biarlah waktu yang akan menuntun cinta ini. Sekalipun bukan Alya jodohku. Aku percaya bahwa Allah, telah menyiapkan bidadari-Nya untukku. Bukan sekarang tetapi nanti, jika aku telah mampu berkomitmen lebih serius yakni menikah.

Selesai


Selasa, 09 Februari 2016

[Review] Sayap-Sayap Cinta Asma Nadia

Sayap-Sayap Cinta Asma Nadia

Judul              : Jilbab Traveler  “Love Sparks In Korea”
Penulis          : Asma Nadia
Penerbit        : AsmaNadia Publishing House
Halaman        : 380 halaman
ISBN               : 978-602-9055-39-9
Cetakan pertama, Oktober 2015.


Kali ini Asma Nadia akan mengajak pembacanya untuk berkeliling di bumi Allah yang begitu luas. Dari Nepal hingga ke negeri yang terkenal dengan drama romantisnya, yakni Korea Selatan. Berkisah tentang gadis berjilbab bernama Rania Timur Samudra yang hobi traveler. Bukan semata traveler, namun Rania juga mengeksplore keindahan tempat yang ia kunjungi melalui fotografi. Dari traveler tersebut, hobi fotografinya pun semakin diasah untuk bisa membidik foto yang indah dan berkwalitas.
Sesuai judulnya “Love Sparks In Korea” Asma Nadia menyajikan cerita cinta romantis di negeri ginseng tersebut. Perjalanan cinta Rania di bumi Allah mengantarkannya bertemu dengan sesosok laki-laki korea dengan dandanan preman bernama Hyun Geun. Laki-laki yang memiliki hobi sama dengan Rania, yakni fotografi. Berawal dari kecopetan di Nepal, hingga takdir mempertemukan mereka kembali di tanah kelahiran Hyun Geun.
Di sisi lain, seorang laki-laki yang menjadi teman lama Rania, juga menawarkan pesona cintanya tersendiri. Lelaki yang takut naik pesawat, berhasil terbang untuk membawa secercah harapan akan cinta kepada Rania. Ilhan, sosok laki-laki yang mampu membuat keajaibannya sendiri akan ketakutannya selama ini.
Buku yang menggambarkan cinta akan bumi Allah yang menakjubkan, hingga liku-liku takdir cinta gadis berjilbab yang waktu kecil sering sakit-sakitan. Walaupun pada awalnya, bisa tertebak siapa yang mampu memenangkan hati Rania dan sedikit terlalu lama alurnya hingga terasa bosan. Namun, kejutan akan cinta pertama Hyun Geun mampu menjadi penawar akan klimaks kisah dalam buku ini.
Buat para pembaca, buku ini sangat cocok untuk kalian yang hobi traveler dan fotografi. Karena, selain kisah cinta, kalian akan diberikan tips-tips traveler yang nyaman serta ilmu fotografi agar bisa membidik objek dengan akurat. Asma Nadia dengan buku “Love Sparks in Korea” mampu menerbangkan sayap-sayap cintanya yang indah dan berliku. Namun , yang pasti takdir Allah selalu penuh kejutan dan ketakjuban tersendiri bagi hamba-Nya yang senantiasa bersyukur.[]


Jumat, 22 Januari 2016

Back to Me

Back to Me
Yanuari Purnawan



Seperti katamu, malam tak harus tentang gelap. Bisa juga tentang taburan bintang atau remangnya cahaya bulan. Aku selalu mengingat kalimat itu. Sederhana, namun mengkristal di dalam hati. Percaya atau tidak, kita pasti sedang memandang langit yang sama. Terlentang di rumput yang hijau sambil menghitung bintang. Itukan caramu untuk menghapus sepi dan sedih.
“Lihatlah langit itu?” suruhmu sambil terlentang melihat langit malam. Taman komplek jam sepuluh sangat sepi. Entah, apa yang menggiringku untuk ikut denganmu Menikmati dinginnya malam atau melihat bintang jatuh.
“Biasa saja. Bintangnya juga sedikit, mungkin mendung!” Kamu menatapku heran lalu bangkit dan duduk di sampingku.
“Dasar … kamu tuh emang tidak peka!” protesmu sambil mencubit pipiku yang cubby. Seperti ada desiran halus menyusup ke dalam dada lalu turun ke hati. Senyum itu yang membuatku kuat menahan dingin malam. Walau esoknya aku harus merasakan perut yang melilit karena masuk angin.
”Ih … sakit tau!” tepisku. Kamu hanya tersenyum manis lalu kembali menatap langit.
“Kenapa sih kamu suka sekali langit malam? Bagiku sama saja dan tidak ada yang spesial,” cerocosku yang membuatmu kembali mencubit pipiku gemas.
“Kamu tuh nanya apa lagi introgasi?” Aku tersenyum menanggapinya.
Beberapa menit keadaan mulai membisu. Angin malam seakan menusuk tulang. Suasana menjadi sunyi, hingga kamu mulai bercerita.
“Semua tentang ini?” jelasmu sambil menunjuk dada. Aku diam tak mengerti.
“Kamu memang nggak peka!”
“Lha tunjuk dada, emang sakitnya tuh di sini!” protesku yang berkali-kali dibilang tidak peka.
Kamu lalu mengatur napas, seperti ada beban yang sedang disimpan. Tapi, aku tak berani untuk bertanya lebih lanjut.
“Ini tentang perasaan. Saat kita jauh hanya langitlah yang dekat dan sama. Dan mengapa langit malam, karena di balik gelapnya tetap indah dengan taburan bintang dan cahaya bulan. “
Aku mendengarkannya dengan serius. Mata tak mampu berkedip, kamu sungguh terlihat berbeda. Dewasa.
“Kamu lagi ada masalah?”
Kamu hanya tersenyum lalu mengajakku untuk pulang. Sungguh, ini terlalu ganjil. Mengapa kamu tak ingin bercerita? Apakah kamu mengira aku terlalu tak peka akan masalahmu? Jahat.
***
Tuhan pasti punya rencana terbaik buat hamba-Nya. Ini bukan tentang aku atau kamu, namun tentang kita. Kita yang mudah sekali menilai dan berandai-andai.
“Kutunggu di taman.”
Sms itu kembali memenuhi inbox di ponsel. Sudah berapa kali kamu mengirimkannya. Sungguh jika tugas kuliah tak sedang bajibun, aku pasti menemanimu memandang langit malam.
“Maaf aku tak bisa. Tugas kuliah sedang menumpuk,” balasku. Mungkin kamu kecewa dengan sikapku yang lebih mementingkan tugas kuliah. Namun, kuharap kamu juga mengerti. Karena ini adalah tanggung jawab dan masa depanku.
Aku tak fokus mengerjakan tugas kuliah. Pikiranku melayang kepadamu. Jujur, aku tak ingin kamu kecewa. Sepertinya setan telah menghasutku untuk menemuimu. Sial, kamu berhasil merobohkan pertahananku. Kuambil jaket lalu melangkah menuju taman komplek. Sesampainya di taman, tak kutemukan sosokmu yang sedang terlentang memandang langit. Mungkinkah kamu marah dan kecewa kepadaku? Tuhan, kuharap semua hanya pikiran bawah sadarku. Jika, memang benar, sungguh aku menyesal.
Air mataku pun terjatuh sambil kebingungan mencari keberadaanmu. Aku lelah, tak kutemukan batang hidungmu. Di kursi taman, kutumpuhkan segala kebodohanku.
“Dasar cengeng!”
Kupandarkan pandangan, sosok itu tersenyum tipis sambil menyodorkan sapu tangan berwarna biru ke arahku.
“Udah tidak peka, cengeng lagi!”
Aku hanya diam sambil membersihkan air mata dengan sapu tanganmu. Apa yang terjadi kepadaku. Ini di luar nalar. Tapi, tak kuasa aku menahannya. Iya! Aku kini memelukmu yang membuat dirimu kebingungan. Dan aku pun terisak di dadamu.
”Apa-apaan nih? Emang kamu kira aku sudah meninggal di gigit anjing liar malam-malam!” bentakmu hingga pelukan terhadapmu harus kulepas. Kuseka air mata lalu memandang dalam.
“Aku takut kalau kamu diculik Alien!”
Kamu tertawa sambil menjitak kepalaku. Walau sakit, entah mengapa aku suka.
“Dasar! Ayo pulang.”
“Karena, kamu membuatku menangis malam ini. Kamu harus menggendongku sampai depan rumah.”
Kamu melotot hingga aku merasa takut dan menyesal berbicara begitu. Namun, apa yang terjadi. Wajahmu kembali terlihat manis dengan senyum itu. Kamu pun jongkok dan mengerti maksudku. Kamu memenuhi permintaanku. Tuhan, jika ini mimpi aku tak ingin terbangun.
***
Aku tak mengerti
Dan tak akan mengerti
Akan sosokmu
Tingkahmu
Pikiranmu
Namun, aku mengerti sayap-sayap cinta itu
Menerbangkan angan bersamamu selamanya

Lambat laun putik itu tumbuh menjadi bunga yang memesona. Seperti perasaan ini kepadamu. Tak pernah mati, namun selalu tumbuh bermekaran di dalam hati. Aku mengerti tak seharusnya rasa ini hadir. Tapi, siapa yang mampu memncegahnya. Sosokmu terlalu istimewa bagiku. Kalau ini salah, mungkin ini adalah kesalahan yang terindah dalam hidupku.
“Apa kamu pernah jatuh cinta?” Pertanyaanmu malam ini sungguh membuatku salah tingkah. Sekuat tenaga aku mengendalikan diri dan berusaha tenang. Walau jantungku berdegup lebih kencang.
“Kok tanya gitu? Jangan-jangan kamu sedang jatuh cinta ya!” godaku yang berhasil membuat pipimu merona merah.
“Hayo ngaku, sama siapa?”
“Bodoh! Emangnya kamu ketua RT dan aku harus laporan kepadamu.”
Sifat jutekmu itu sepertinya sudah mendarah daging. Terlalu gengsi untuk mengakui. Namun, kini tatapan itu menusuk hingga dadaku. Sesak. Apa yang mau kamu lakukan. Tidak mungkin! Jangan-jangan ….
“Kamu benar. Kini aku sedang jatuh cinta.”
Hampir saja tawaku meledak. Sekuat tenaga aku menahan diri untuk bersikap biasa.
“Aku jatuh cinta kepada Bella,” lanjutmu sambil melihat langit malam. Kalimat barusan berhasil menghancurkan puzzle perasaan yang sudah kususun indah. Tuhan, mungkin kini aku salah dengar atau sedang mimpi. Ini tidak nyata, bukan? Aku harus kuat dan tak menangis.
“Bella?”
“Dia adalah perempuan yang aku sukai sejak di bangku SMA.”
Penjelasan itu membuat dadaku semakin sesak. Aku berharap air mata tak tumpah di hadapanmu. Apa yang harus kulakukan? Tuhan, bantu aku untuk mengatasi semua perasaan ini.
“Kamu kenapa?”
Ingin rasanya aku berteriak sekarang dan bilang aku sakit dan cemburu.
“Eh … malah diam!”
Sambil menghirup udara yang seperti debu, aku beranikan memandangmu tajam, “Apa aku harus lompat-lompat dan mengucapkan turut bahagia, begitu?”
Aku pun berlari meninggalkanmu yang mematung kaget akan sikap kekanak-kanakkanku.
***
Bila mencintai itu sesakit ini, aku tak akan pernah mengenal cinta. Jika mengenalmu membuat hatiku hancur, ingin kuputar waktu untuk tak menyapamu. Semua sudah terjawab, aku dan kamu hanya mimpi indah yang kupoles untuk nyata. Keadaan sudah berbeda, Bella-lah yang memenangkan hatimu. Tuhan pun merestui kalian. Walau kalian tak tahu, kini aku tersakiti.
“Aku akan menikah,” jelasmu begitu antusias. Udara malam seperti membekukan semua perasaan ini. Tak ada rasa senang atau sedih. Datar. Itulah yang kini kurasa.
“Secepat itukah?”
“Itulah istimewahnya Bella. Perempuan berjilbab yang tak mau pacaran dan baginya ta’aruf lalu menikah.” Matamu berkilau saat menjelaskan siapa Bella. Mungkin, cinta telah mengakar di hatimu. Namun, melayukan rasaku kepadamu.
“Terus Bella mau denganmu?”
Kamu hanya mengangguk lalu menunduk, “Mungkin aku bukanlah laki-laki yang sholeh. Namun, kita sepakat untuk sama-sama belajar. Kita sudah dewasa dan menikah adalah satu-satunya benteng untuk terhindar dari zina.”
Bella pun berhasil mengubah kepribadianmu. Kamu kini lebih religius dan dewasa.
“Semoga kalian berjodoh,” ucapku lirih.
***
Seharusnya ini menjadi hari bahagia. Sahabat baikku kini akan melepas masa lajangnya bersama wanita pujaannya. Namun, air mata ini tak mampu kubendung. Kamu yang selama ini ada dalam setiap imaji indahku harus pergi selamanya. Apa yang harus kulakukan? Ini terlalu sakit, Tuhan.
Kamu begitu gagah dengan jas putih bersanding dengan Bella yang begitu cantik dengan gaun putihnya. Raut wajah penuh kebahagian, duduk berdua di pelaminan. Ikhlaskan dia … ikhlaskan dia, itulah berkecamuk di dalam hatiku kini.
Aku memelukmu sambil mengucapkan selamat. Entah keberanian dari mana kata-kata itu mampu keluar dari mulutku.
“Aku menyayangimu,” ucapku sambil mempererat pelukan seperti berharap tak akan berpisah. Namun, kamu begitu dewasa dan mengucapkan kalimat yang hingga kini masih mengedap dalam hati dan pikiran.

Kutulis jejak rindu tentangmu
Yang mampu menembus gravitasi
Membuatku bebas untuk menghantarkan
Dahaga tentangmu
Iya. Karena, ini semua tentangmu
Yang mampu mencuri mimpi indahku
Kini
Aku menuntutmu untuk kembali
Kembali kepadaku
Menceritakan langit malam

Sudah berapa lama aku terlentang di rumput taman komplek. Setengah jam, satu jam, mungkin lebih. Kupandangi langit malam yang begitu agung. Bertabur bintang dan remangnya cahaya bulan. Namun, ini sudah malam ke sembilan puluh Sembilan aku sendiri memandang langit malam. Aku selalu menyakini, bahwa kita pasti sedang melihat langit yang sama. Dan itu seperti katamu saat kita bersama menghabiskan malam yang dingin serta membuat perutku melilit esok paginya.
Jujur aku berharap kamu kembali. Bercerita tentang langit malam, menghina aku tak peka, mengolok-olok aku cengeng, mencubit pipi cubby-ku dan menjitak kepalaku yang tak serius. Namun, rasa itu berhasil kutepis walau pedih. Seperti kata-kata yang kamu ucapkan saat pesta pernikahan itu. Kata-kata itulah yang selalu melekat dan sedikit mengobati rasa ini. Bagai mantra-mantra yang menyihirku untuk sadar, bahwa kamu tak akan pernah kembali kepadaku.
“Aku juga menyayangimu. Bahkan, lebih dari itu kamu adalah sahabat terbaik yang pernah aku kenal. Dan aku akan selalu berdoa semoga kamu mendapatkan jodoh terbaik dari-Nya. Wanita yang cantik nan soleha.”[]

Selesai

Jumat, 15 Januari 2016

Untuk Kayla

 Untuk Kayla



Gelap. Satu kata yang bisa menggambarkan perasaannya kini. Cewek berambut sebahu tersebut berusaha berimaji bagaimana semua itu bisa bermula. Cowok dengan rambut acak-acakan itu seolah menjadi magnet. Merapat dalam ketidaksamaan dan menjauh dalam kesamaan.
"Key ...!"
Panggilan itu mengingatkannya pada kejadian satu tahun lalu. Cowok bermata biru tersebut berusaha berkenalan dengan Kayla dengan ramah. Bukannya senyum hangat yang diterima, namun sikap tak acuh Kayla berhasil membuat cowok pindahan itu harus menelan ludah. Mood Kayla hari itu memang tidak baik, ditambah lagi cowok itu salah menyebut namanya. Bagi Kayla cowok pindahan yang duduk di bangku sampingnya pasti akan membuat harinya semakin kalut.
***
"Nattan!" ucap cowok indo itu sambil menjulurkan tangan ke arah Kayla. Dengan malas Kayla menjawab tanpa mengindahkan uluran tangannya.
"Kayla!"
"Key ... lah!" Nattan berusaha mengeja nama Kayla, namun terasa sulit dan asing bagi cowok yang besar di Sidney tersebut.
Di balik kacamatanya, Kayla menatap Nattan dengan sinis.
"Kay!" balas Kayla dengan kesal.
"Key ...!" Nattan menatap Kayla sambil tersenyum polos.
***
Tak terasa waktu cepat bergulir, dia seperti matahari yang cepat terbit lalu cepat pula tenggelam. Dia yang dulu masih kuncup kecil, kini telah mekar sempurna dan indah.*
Kenangan masa kecilnya membuat air mata begitu mudah mengalir. Di taman belakang sekolah merupakan tempat yang nyaman untuk melampiaskan dahaga rindunya.
Rindu belaian orang tua, dekap hangat sang ibu dan tangan kekar sang ayah saat menggendongnya. Lamunan Kayla tiba-tiba terusik dengan suara bass seorang cowok.
"Key ...!" Mata Kayla yang sembab beradu pandang dengan mata biru cowok yang menjadi idola baru cewek satu sekolah itu.
"Ngapain kamu di sini?" Kayla berusaha menetralisir perasaannya lalu mengusap sisa air mata di pipinya.
"You look ugly if weep!" canda Nattan sambil mendekat ke arah Kayla.
Kayla hanya menunduk lalu menatap bunga-bunga yang tertata rapi. Namun, latar bunga-bunga tersebut tak membuat hatinya ikut berbunga juga. Apalagi kehadiran Nattan, membuatnya semakin bad mood. Nattan pun hanya diam sambil menatap wajah sendu Kayla. Pikirannya pun berusaha mencari alasan, mengapa cewek berkacamata ini menangis di taman belakang sekolah.
***
Akhir-akhir ini, Pikiran Nattan selalu fokus pada Kayla. Cewek pendiam, pintar dan sering menangis di taman belakang sekolah itu. Dia berusaha untuk lebih dekat dengannya. Namun, Kayla masih setia dengan sifat juteknya.
Bel pulang sekolah berbunyi, Nattan masih setia duduk di bangku kelas. Bangku yang terletak di samping kanan bangku Kayla. Mata birunya fokus dengan jemari lentik Kayla. Kayla sepertinya masih asyik dengan kegiatan coret-coret di buku berwarna biru mudanya.
"Key ... kamu tidak pulang?" tanya Nattan sambil tersenyum ke arahnya. Walaupun gaya bicara Nattan masih sama. Selalu salah menyebut nama Kayla. Cewek berambut sebahu itupun membalas dengan senyuman juga.
Bagi Nattan ini awal yang baik untuk mengenalnya lebih dekat.
"Kamu terlihat lebih manis jika tersenyum begitu!" puji Nattan tulus. Wajah Kayla bersipu merah, seperti ada rasa baru dan pertama kali yang dia rasa.
Entah karena itu pujian dari cowok idola baru sekolah. Atau kalimat Nattan mengingatkan kepada seseorang yang dulu pernah ada di hati dan hidupnya.
"Natttan ...?" lirih Kayla menyebut nama Nattan. Mata Nattan kembali fokus ke arah Kayla. Kayla pun membalas tatapan Nattan. Bibir Nattan kembali menyunggingkan senyum manis yang bisa membuat luluh para gadis yang menjadi penggemarnya.
"Ada apa?" Tatapan Nattan semakin tajam ke arah Kayla hingga membuatnya kembali menunduk.
Suasana kelas menjadi hening. Bisu sesaat. Dengan mengambil nafas panjang Nattan pun membuka suara.
"Oke kalau tidak ada yang ditanyakan, aku pamit duluan. See you again!" Bibir Kayla bergetar, namun dia tak mampu berucap atau hanya sekedar membalas ucapan Nattan.
"Key ... percayalah masih ada payung yang siap melindungi kita dari rintik hujan maupun teriknya sinar matahari."
"Maksudmu?" Kayla tak mengerti apa yang sedang Nattan ucapkan. Perkataan tersebut terlalu filosofis baginya yang masih berseragam putih abu-abu tersebut.
Nattan kembali tersenyum tanpa menjawab pertanyaan atau lebih rasa penasaran Kayla tersebut. Dia pun menghilang di balik pintu kelas.
***
Hujan masih setia mengguyur bumi. Seakan mendung dan bau tanah mengerti perasaan Kayla kini. Di balik kacamatanya, dia fokus memandang bangku taman belakang. Basah. Cat abu-abunya pun mulai memudar. Cowok itu kembali mengusik ruang bawah sadar.
"Key ...!" sapa cowok berambut acak-acakan sambil mengatur nafasnya.
"Habis lari marathon ya?" tanya Kayla kesal.
Bukan maksud hati dia harus bersikap jutek. Namun, surat yang terselip di buku biologinya menghantarkan untuk menunggu sang pengirim surat di bangku taman belakang sekolah.
"Sorry ... tadi aku masih dipanggil untuk ke ruang TU!" Perkataan Nattan hanya disambut senyum kecut dari bibir Kayla.
"Key ... maaf atas kelakuanku selama ini kepadamu. Membuatmu marah, kesal dan tak tenang." ucap Nattan yang mulai mencairkan suasana. Kayla yang mendengarnya masih tak bergeming menatap bunga-bunga taman.
Tangan Nattan berusaha meraih tangan Kayla.
"Key ...!" Sebuah kotak berbungkus biru dia serahkan kepada Kayla,
Mata Kayla basah sambil memegang kalung berbandul kunci. Kenangan satu tahun lalu menyisahkan aroma pedih di hatinya.
"Apaan ini?" tanya Kayla terkejut dengan nada juteknya. Nattan hanya tersenyum sambil mengisyaratkan Kayla untuk membukanya.
Sebuah kalung berbandul kunci. Cantik. Mata Kayla berbinar sebentar.
"Key atau kunci. Ah ... sampai kini pun namamu susah kuucap dengan benar. Key ... coba bukalah hatimu, terimalah setiap ujian hidup ini dengan syukur. Aku yakin kamu akan menjadi orang hebat. Bahkan bisa sekelas Chairil Anwar." Nattan tersenyum sambil menyerahkan sebuah buku yang berisi coretan puisi Kayla. Nattan mengumpulkan setiap coretan tersebut di bawah bangku Kayla. Menurut Kayla kertas itu telah menjadi sampah dan dibuang oleh pembersih sekolah. Namun ...,
Bening hangat itupun luruh juga. Kelas mulai sepi. Jam pulang sekolah tak membuatnya bergeming dari bangkunya. Nattan telah pergi, entah dia masih ingat kepada Kayla apa tidak?
"Pindah?" Kayla masih tak percaya. Bu Nur selaku TU sekolah itu pun menjelaskan mengapa Nattan sudah lima hari tak masuk sekolah. Hal tersebutlah yang membawa Kayla bertanya kepada Bu Nur.
London. Jauh. Bahkan sangat jauh bagi Kayla yang yatim piatu tersebut.
"Kay ... ayo ditunggu teman-teman nih buat menjuriin lomba tulis puisi!" teriak Melodi teman sekelas Kayla.
Mendadak lamunan itupun buyar. Sambil tersenyum, Kayla menatap sahabatnya tersebut.
"Terima kasih, Nattan!" ucap Kayla lirih dan untuk terakhir kalinya dia menatap bangku belakang taman sekolah.
Selesai.
*( Diambil dari Novel "Hatiku Berhenti di Kamu" karya Eka Y. Saleem Hal.37)


Sabtu, 19 Desember 2015

Once Upon A Time

Once Upon A Time
Yanuari purnawan


Aku terdiam tertunduk, bulir air mata menetes perlahan. Di kamar yang sunyi, aku berusaha menjernihkan pikiran. Tetapi, masih saja kepedihan itu masih bercongkol di hati.
Kuseka airmata dan mengambil nafas panjang, kutatap wajah di depan cermin. Sungguh menyedihkan, wajah pria yang awut-awutan tanpa gairah.

Tetiba, suara ponsel membuyarkan segala pikiran di otak.

“Kamu jangan gila, pikirkan lagi.” Sebuah pesan singkat dari sahabatku. Pesan itu seolah membuka mata hatiku untuk berpikir waras.

“Bisa ketemu?” balasku.

Sejurus kemudian ada pesan balasan darinya.

“Oke, di tempat biasa kita nongkrong, ya!”

Kupacu sepeda motor dengan perlahan. Aku ingin menikmati udara sore yang begitu segar dan menenangkan. Ternyata, aku lebih dulu datang, setelah beberapa menit menunggu akhirnya dia datang juga. Riski, pria berusia dua puluh lima tahun yang sudah kuanggap saudara kandung sendiri, datang dengan pakaian resmi kerjanya. Maklum dia adalah PNS.

“Sudah lama menunggu?” tanyanya sembari mengambil tempat duduk di sampingku.
Aku hanya mengangguk.

“Apa kamu sudah memikirkannya?” tanyanya lagi.

“Bang, aku sudah lelah menanti. Dan ini saat yang tepat untukku bertemu dengannya,” jawabku-Aku biasa memanggil Riski dengan panggilan abang.

“Dengar Abang. Jangan gila dan bodoh, masih ada hal yang lebih penting dari hal itu. Usiamu masih dua puluh tahun, jadi jangan kau sia-siakan,” ucap Riski tajam menatapku.

“Aku capek Bang. Aku juga ingin bertemu dengan Ibu, sudah delapan belas tahun aku tak pernah menatap langsung wajahnya!”

“Kamu tahu sekarang di mana Ibumu? Malaysia! Apa kamu pernah ke sana? Malaysia itu luas, apalagi kamu belum tahu alamat pastinya,” terang Riski sedikit emosi karena kelakuanku yang dikiranya bodoh.

Aku terdiam dan airmata membasahi pipi. Aku terlalu rindu dengan ibu. Kata orang aku masih punya ibu yang bekerja sebagai TKI di Malaysia. Sudah cukup dewasa, aku bisa memahami keadaan ini. Tetapi, aku bosan dan iri jika melihat seorang anak bisa bermanja ria dengan ibunya.

“Abang mengerti kamu sangat merindukannya. Tetapi, jangan gila seperti ini dengan mau menyusul ke Malaysia,” ucap Riski menenangkanku.

“Menurut Abang, Ibu macam apa yang tega meninggalkan anaknya selama berpuluh tahun dan menitipkannya di panti asuhan!”

“Pada suatu saat kamu pasti akan mengerti, mengapa dia pergi meninggalkanmu di panti asuhan. Jangan bertanya begitu, biarkan waktu yang menjawab semuanya. Sudahlah … kita makan dulu yuk!”

Sebelum berpisah Riski mengatakan, “Kadang sebuah penantian itu hanya berujung dengan penyesalan. Menantilah dengan hati yang ikhlas. Ingat, pada suatu saat kamu akan mengerti makna hidup ini.”

***

Pada suatu hari, di mana musim telah berganti. Aku mengetahui, ibu bekerja menjadi TKI di Malaysia dan meninggalkanku di panti asuhan gegara ayah tak mau bertanggung jawab dan selingkuh dengan wanita lain. Dan ibu telah meninggal tatkala usiaku masih lima tahun, akibat di siksa majikannya. Kutahu semua dari ibu panti yang sudah tak tega melihatku menanti ibu untuk menjemputku dari panti asuhan.


Selesai

Rabu, 16 Desember 2015

Catatan tanpa Jejak

Catatan tanpa Jejak
Oleh : Yanuari Purnawan


Tanpa terasa langkah terlalu lelah, keriput menghiasi wajah dan usia semakin senja. Entah, sampai kapan semua bertahan atau malah berakhir. Musim begitu cepat berganti, tanpa ada kompromi bumi berotasi begitu cepat. Sebuah kata sederhana, ‘Sudah’ kemudian senyum atau tangis yang mengikuti hingga bulan tak purnama lagi.

Tahun berganti, dari angka ganjil menuju genap. Bukan seberapa lama, tetapi sebanyak apa. Seberapa lama kita hidup di dunia, bukan itu masalahnya. Tetapi, sebanyak apa manfaat yang kita tebar untuk sesama. Mungkin esok masih abu-abu, tetapi hari ini adalah kenyataan yang harus dihadapi. Sekalipun langkah lelah dan letih, jatuh dan bangkit adalah warna indah siap menyambut hari.

Sesungguhnya jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka celakalah, jika hari ini sama dengan hari kemarin maka merugilah dan jika hari ini jauh lebih baik dari kemarin maka beruntunglah. Sebuah paparan yang begitu mengulik bahwa setiap waktu adalah harta yang tak tergadaikan. Sudahkah diri ini menjadi orang yang beruntung? Atau malah golongan orang merugi bahkan celaka? Tanyakan pada mata hati, karena hati tak pernah berdusta.

Sahabat, mengkaji lebih dalam makna tahun baru. Seharusnya merupakan momentum yang tepat bagi kita untuk memuhasabah diri. Mengintropeksi diri selama satu tahun ke belakang. Apa resolusi kita sudah tercapai dan apa saja yang belum, hingga menjadi pembelajaran diri untuk melangkah lebih baik di tahun ke depan. Karena, semua orang menginginkan menjadi insan yang beruntung. Maka, solusi yang tepat hari ini harus jadi lebih baik dari kemarin.

Bukankah hidup adalah kumpulan hari, jam, menit dan detik. Apakah cukup dengan hanya tiupan terompet lalu menyalakan kembang api yang disertai pesta hura-hura? Sempit sekali, jika hidup hanya di tanggal 1 Januari saja. Karena semua yang kita perbuat setiap detiknya, akan menjadi bahan pertanggung jawaban di hari akhir kelak. Jadi, keputusan melangkah bukan aku atau mereka yang menyuruh. Tetapi, dirimu sendiri yang memutuskan mana yang terbaik untuk masa depanmu.

Ketika semua berlomba-lomba merayakannya. Gengsi jika tak berpartisipasi di dalamnya. Bercermin dengan mata hati, apakah mereka nanti yang akan menentukan hari esok kita? Semua ada ditangan diri sendiri. Mau ke arah mana melangkah. Hanya indah sesaat seperti kembang api. Ataukah mewangi menebar manfaat bagi sesama yang menjadi investasi amal kelak. Sebelum waktu memanggil, tinta telah habis hingga semua sia-sia menjadi catatan tanpa jejak.[]