Jumat, 18 September 2015

Jodoh Pilihan-Nya

Jodoh Pilihan-Nya
Yanuari Purnawan

Aku menghela nafas panjang. Semua terasa menyesakkan. Angin sore seolah menerpa hatiku yang mulai dingin. Bukan karenanya, namun karena egoku. Seharusnya aku bisa menyadari itu. Tetapi, rasa itu sulit untuk kutolak lalu menghapusnya.
“Aku butuh jeda untuk hubungan ini. Aku tak ingin ada yang tersakiti atau terluka dengan jalinan yang semu dan terlarang untuk dua hati yang belum halal,” terangnya tegas.
Matanya yang tajam tapi meneduhkan membuatku sedikit gugup. Kalimat yang ia lontarkan seolah menjadi tombak yang mengenai hatiku. Tak ada yang tersakiti? Apa-apaan itu. Ucapannya barusan sudah cukup membuatku sakit. Aku hanya bisa menunduk menyembunyikan rasa yang sedang bergejolak di hati.
“Maaf, jika perkataanku menyakitimu. Namun, aku tak ingin kita berlarut dalam hal yang dilarang oleh-Nya. Jika kamu jodohku pasti kita akan disatukan, namun jika tidak, pasti ada jodoh terbaik pilihan-Nya. Biar kita memantaskan diri dulu, aku ingin kamu fokus dengan pendidikanmu, begitupun dengan aku.” Ia pun berbalik arah melangkah menjauh dariku yang masih tertunduk. Tanpa bisa kucegah bening hangat itu membasahi pipi.
“Terima kasih, Kak. Aku akan setia menunggu waktu itu tiba,” ucapku lirih sambil memandang punggung gagahnya yang mulai hilang tertelan senja.
***
Muhammad Budi Wasesa, nama laki-laki yang kini menjadi ketua Lingkar Dakwah Kampus itu. Merupakan mahasiswa jurusan informatika. Tinggi, bersih, dan tampan. Apalagi ditambah sikapnya yang berwibawa, cerdas dan memiliki senyum yang menawan. Siapa wanita yang tidak lumer jika dekat dengannya. Termasuk aku. Mungkin berlebihan, namun apa dikata jika cinta itu hadir semua jadi gila. Pesona Kak Budi—panggilanku untuknya, membuat semua gadis seanterio kampus jatuh hati. Tetapi jangan berharap banyak ya girls, karena Kak Budi cuma untukku.
“Hayo … melamun aja! Melamunin siapa tuh?” canda Kak Nadia yang sedang mengamatiku berimajinasi tentang pesona Kak Budi. Aku pun salah tingkah dengan pipi yang merona merah.
“Enggak kok, Kak!” elakku sambil mengambil buku catatan. Seharusnya acara halaqah semacam ini bukan untuk melamunin pangeran surgaku. Namun, tempat menimbah ilmu. Astaghfirullah ….
“Kak, emang salah ya kalau kita suka sama seseorang!” tanyaku kepada Kak Nadia tatkala acara halaqah sudah selesai.
Mata teduh berbinar menatapku. Membuatku sedikit kikuk.
“Cie … lagi falling in love sama siapa nih?” godanya sambil mengedipkan mata. Aku pun tambah salah tingkah dan merona merah.
“Enggak kok. Cuma nanya saja. Kan banyak banget yang terjangkit virus merah jambu tersebut.” Aku berusaha beralasan, namun dalam hati harus kuakui kalau diri ini juga terjangkit virus merah jambu.
Kak Nadia mengambil posisi lebih dekat denganku sambil tersenyum tulus.
“Cinta itu anugerah dari-Nya, jadi tak ada yang salah dengan cinta.” Kalimatnya terhenti lalu mengatur nafas panjang. “Mencintai dan dicintai itu fitrah, jadi nikmati setiap episode dari-Nya. Namun, ada hal yang paling penting dari cinta itu.”
“Apa itu, Kak?” potongku penuh penasaran. Wajah bersahaja berbalut jilbab biru itu tersenyum gemas melihat tingkahku yang tak sabaran.
Kak Nadia diam sebentar, sekarang membuatku yang gemas dengannya.
“Bagaimana kita menyikapi kala cinta itu datang. Jangan sampai keluar jalur yang diperintahkan-Nya. Jemput jodoh dengan cara yang baik misal ta’aruf. Jika, belum mampu menikah mending pantaskan diri dulu hingga kelak dipertemukan oleh jodoh pilihan-Nya.”
Perkataan Kak Nadia seakan menembak tepat hatiku kini. Bening hangat pun luruh. Aku mengusapnya sambil menahan rasa. Entah rasa apa itu. Terpenting, aku malu kepada Kak Nadia dan lebih malu kepada-Nya. Kak Nadia memegang bahuku, berusaha menenangkanku.
“Dek, percayalah jodoh kita sudah tertulis di lauh mahfuz-Nya.”
Aku hanya mampu mengangguk sambil tertunduk. Apakah perasaan ini salah, ya Allah. Aku dalam dilema. Satu sisi aku mencintai Kak Budi, aku takut kehilangannya. Tetapi, aku juga takut akan melanggar perintah-Nya. Apa yang harus aku lakukan?
***
Semua perkataan Kak Nadia sepekan yang lalu bagai angin yang datang lalu pergi begitu saja. Awalnya aku takut dan berusaha menghindar dari pangeran surgaku. Namun, perasaan ini terlampau besar untuk menjauhinya. Dalam hati menolak jika aku salah. Toh, aku juga tidak pacaran dengannya. Kami tidak melanggar syariat. Meskipun, dalam hati kecilku ada sesuatu yang kosong, entah itu apa.
Setiap hari selalu aku mengirim sms kepadanya. Sekedar basi-basi tanya tentang kegiatan dakwah kampus. Hingga, obrolan tak penting semisal tanya kabar dan jadi alarm shalat untuknya. Berlebihan. Mungkin, tapi bagi seseorang yang jatuh cinta itu masih dalam lingkup wajar. Namun, yang tak kumengerti ia masih santai dan biasa saja menanggapinya.
“Kak, apa salah jika ada akhwat yang suka dengan ikhwan namun, ia tak berani mengungkapkannya?” tanyaku lewat sms. Hatiku gamang waktu itu. Keberanian darimana, hingga aku berani mengirim sms seperti itu. Lama tak ada balasan dari Kak Budi. Apa yang terjadi? Apa ia marah kepadaku? Perasaan menyesal tiba-tiba menghantui.
Beep … beep ….
Kulihat layar ponsel, ada pesan darinya. Hatiku pun girang dan buru-buru membukanya.
“Tak ada yang salah, namun kadang kala pengakuan itu perlu agar tak menyesal dikemudian hari. Jika, ia masih malu cukup berdoa minta petunjuk-Nya. Karena, kita tak pernah mengerti jalan takdir-Nya.”
Smsnya membuatku semakin berani untuk mengungkapkan semua perasaan ini kepadanya.
“Kak … sebenarnya akhwat itu adalah aku. Iya, aku sedang suka kepada seorang ikhwan bernama Muhammad Budi Wasesa,” balasku dengan hati yang bergetar. Aku tak tahu apakah ini benar atau salah. Namun, aku merasa lega. Rasa itu melebur bersama sms tersebut. Bukan lagi balasan smsnya, tetapi apa yang akan terjadi nanti yang menganggu pikiranku.
“Afwan, Dek, aku tak bisa menjawabnya lewat sms. InsyaAllah, besok sore kita bicarakan di taman kota.”
Dadaku sesak, sulit sekali bernafas. Menunggu esok terasa lamban dan bertahun-tahun. Mataku tak bisa terpejam, pikiran tentangnya masih bergelayut dalam tempurung otak. Apa yang akan terjadi esok?
***
“Cintai dan benci sesuatu itu sewajarnya saja. Karena, kita tak tahu apa yang terjadi esok. Mungkin, kini kita mencintainya namun esok belum tentu kita akan membencinya. Begitupun sebaliknya. Untuk itu cintailah sesuatu karena Allah. Nanti, apa pun yang terjadi pasti terbaik untuk hamba-Nya.”
Kini, aku mengerti kalimat yang dijelaskan Kak Nadia kala memberi materi dalam acara dakwah kampus untuk para muslimah dua hari yang lalu. Aku masih setia menangis di dalam kamar. Semua episode itu terasa menjadi satu bak film. Salah. Iya, ada yang salah dengan perasaan ini. Bukankah Kak Budi benar memberi jeda untuk hubungan yang tak halal ini. Tetapi, kenapa aku masih sakit. Lebih tepatnya sakit di hati.
Sudah sepekan, rasa sakit itu masih bergelayut di dalam hati. Seharusnya, aku bisa menerima, toh tidak ada yang dirugikan dalam hubungan ini. Kak Budi, sedikit pun tak menggantung perasaanku. Tetapi, akulah yang kegeeran kepada sosoknya yang selalu santun dan ramah.
Gelagatku pun tercium juga oleh Kak Nadia. Wajahku yang biasa cerah, kini redup tak bergairah.
“Dek, jika ada masalah jangan dipendam sendiri. Nih … ada pundak kakak!” ucapnya sambil menepuk pundaknya. Kak Nadia selalu mengerti perasaan adik-adiknya. Suasana sepi setelah acara halaqah tadi membuatku berani. Kristal bening meluncur deras membasahi pipi dan mengalir di pundak Kak Nadia.
Sambil mengelus kepalaku yang berbalut jilbab merah jambu, Kak Nadia lirih berkata.
“Jika ini tentang perasaan adek. Kakak hanya mampu bilang ikhlaskan. Serahkan semua pada takdir-Nya. Jangan membebani diri dengan sesuatu yang belum tentu baik untuk masa depan kita.”
Tangisku semakin kencang kalimat Kak Nadia menohok hatiku. Mengapa aku harus menangis untuk hal yang belum tentu baik untuk masa depanku. Sulit. Tapi, inilah kenyataannya. Aku harus berani. Melangkah jauh lebih baik. Bukankah ia pun berkata demikian. Memantaskan diri. Iya, aku harus jadi muslimah yang baik untuk jodoh tebaik dari-Nya.
***
Hari-hariku kini jauh lebih baik. Bahkan lebih baik setelah tak ada namanya di hatiku. Namun, bukan begitu saja ia terhapus dalam memori. Kadang rasa rindu bersua dengannya bergelayut dalam pikiranku. Namun, buru-buru kupadamkan dengan lebih banyak mendekat kepada-Nya.
“Menikah?”
Aku masih tertegun tak percaya. Air mata pun luruh sambari memeluknya. Hangat. Semoga ia dengan pangeran surganya menjadi keluarga sakinah, mawadah, dan warrahmah.
“Beneran?” tekanku yang masih tak percaya. Ia hanya mengangguk. Wajahnya masih sama bersahaja dan meneduhkan. Kak Nadia akan menikah. Beruntung sekali pria itu mendapatkan muslimah yang insyaAllah saleha tersebut. Ia pun menyodorkan undangan berwarna merah jambu. Manis sekali. Aku pun tersenyum bahagia.
“Kok aku nggak tahu Kak Nadia akan menikah secepat ini!” celetukku sambil memasukkan undangan manisnya ke dalam tas.
“Semua begitu cepat dan kakak pun masih tak percaya. Kami melalui proses ta’aruf sebulan. Karena, ada kemantapan jadi kami pun memutuskan untuk segera menyempurnakan separuh agama. Mungkin, inilah jodoh pilihan-Nya untuk kakak,” terangnya dengan rona bahagia dan sedikit malu. Aku pun merasa bahagia, kakak yang selalu sabar dan setia menemani dan memberi nasihat kebaikan kini akan menikah.
“Tapi, janji jangan tinggalkan kami ya!” Kupeluk Kak Nadia hangat. Ia mengangguk pelan dan sedikit terisak.
***
Skenario-Nya begitu luar biasa. Episode yang lalu kini pecah berkeping-keping. Sesak. Namun, kembali inilah kenyataan. Takdir kini yang menang. Bukankah semua telah tercatat rapi di lauh mahfuz-Nya. Undangan merah jambu itu tak lagi manis di mataku.
Menikah
Nadia Putri
Dengan
Muhammad Budi Wasesa

Aku menangis dalam sujud sepertiga malam. Kuaduhkan semuanya kepada Sang pemilik hati ini. Bukan mengutuk mereka yang sebentar lagi menikah, membina keluarga yang diridhoi-Nya. Namun, aku berdoa untuk kebahagian mereka. Aku bersyukur atas takdir ini. Takdir yang mengantarkanku untuk lebih memahami makna ikhlas. Tidak mudah. Namun, semua akan berjalan indah jika kita libatkan Dia. Dia, Sang Maha Baik yang akan memberikan jodoh terbaik untukku. Jodoh pilihan-Nya dan ia bukan Muhammad Budi Wasesa.
Selesai









Selasa, 01 September 2015

Jangan Menangis Lagi

Jangan Menangis Lagi
Yanuari Purnawan
Aku ingin berlari lalu pergi
Menghapus luka di hati
Tertusuk duri; Mati
Semua terasa sepi
Sunyi
Sendiri dalam mimpi


Aku belari meninggal kerumunan itu. Sekuat tenaga menahan agar air mata tak luruh. Mereka pasti akan melemahkanku jika melihatku menangis. Tidak! Itu tidak akan pernah terjadi. Biarlah mereka puas tertawa kini. Namun, semburat fajar merah masih menyisakan harapan.
Sekuat-kuatnya diri untuk menahannya, tapi bening hangat itupun tanpa kupinta sudah membasahi pipi. Kutumpahkan semua di atas tempat tidur. Raungan menjadi-jadi. Aku sudah tak kuat lagi. Ingin rasanya semua berakhir tanpa jeda. Tuhan, inikah yang disebut keadilan-Mu. Entah mengapa kalimat itu terucap dengan mudah. Bukan tak bersyukur, namun rasa sabar ini sudah melewati limit. Sekali lagi, bukan takdir yang salah tapi diriku.
“Ada apa?” Sebuah sentuhan lembut di pundak. Aku pun menggeser badan. Kupeluk wanita di sampingku dengan derai air mata.
“Menangislah jika itu membuatmu lega!” Tangisku pun meradang. Ingin sekali kutumpuhkan semuanya sekarang dan terakhir kali. Belaian lembut di rambut membuatku sedikit tenang dan nyaman.
“Aku kesepian!” lirih aku mulai bersuara.
“Terus?”
“Aku takut kesepian ini menggerogotiku hingga nanti sampai mati.” Tangisku pun pecah kembali. Belaian tangan halusnya semakin terasa kuat.
“Kamu yakin dengan apa yang kau rasa?” Aku hanya mengangguk dan terbenam dalam pelukannya.
“Apakah ibu tak malu punya anak sepertiku?” Sekonyong-konyong pertanyaan itu melesat dari bibirku. Wajah teduh itu menatapku penuh kasih. Mata malaikat yang mampu membuat ruang hatiku hangat kembali.
“Mengapa harus malu. Sembilan bulan perut ibu buncit juga tidak malu.” Senyum menghias wajahnya. Aku hanya diam menikmati dekapan hangat darinya. Kamarku yang gelap menjelma hening. Sesekali isak tangisku yang masih terdengar.
“Tapi ….!”
“Setiap manusia punya caranya sendiri untuk bahagia, Nak. Mungkin yang terlihat oleh mata tak sama dengan apa yang terasa di hati.” Kalimat yang dari bibir seolah menjadi oase di tengah gersangnya sahara. Menjadi obat yang mampu menyumbuhkan luka.
“Tapi, aku takut, Bu. Takut tak akan mampu lagi berdiri tanpamu di sisiku. Takut jika gelap itu masih saja bergelayut dalam hidupku,” jelasku dengan isak tangis. Ketakutan yang terpendam dalam hati ingin sekali aku hapus dengan air mata ini.
“Ibu percaya bahwa anak ibu adalah anak yang kuat dan semangat.” Senyum kembali menghias wajah teduhnya. “Sekalipun orang lain menghinamu, ibu tak akan sanggup melakukan hal yang sama seperti mereka. Darah kita menyatu, apakah ibu sanggup.” Air mata ibu perlahan membasahi pipinya.
“Bu …,!” Kuseka air matanya. “Maafkan, anakmu ini.”
“Bukan kamu yang salah, Nak. Tetapi ibu yang salah. Terlalu cepat pergi meninggalkanmu sendiri.”
“Tidak, bu. Ibu adalah penyemangatku, pelindungku dan pembelaku. Akulah anak ibu yang belum bisa membanggakanmu walau secuil.” Kami pun dalam dekapan hangat berselimut isak tangis.
“Jangan menagis lagi!” ucap ibu sambil menyeka air mataku. Mataku sembab.
“Janji kepada ibu, kau akan tetap menjadi anak ibu yang baik walau dalam kondisi yang tak baik. Biar orang berkata apapun tentang hidupmu. Namun, kamu harus jadi apa yang hatimu ingin. Jangan biarkan ketakutan, kesepian dan hinaan menjadi batu sandungan yang menjatuhkanmu.” Kulihat senyum itu begitu tulus penuh kasih sayang.
“Aku merindukanmu, Bu!” Bayangan itu memudar seiring cahaya fajar mulai menerpa kisi-kisi jendela kamar. Aku tersengkur sendiri di kamar yang gelap dan sepi.

Selesai
Kalipucang, 1 september 2015





Jumat, 28 Agustus 2015

Muhasabah Cinta


Sepenggal Kisah:

Andaikata aku seperti dirimu, aku tak tahu seperti apa diriku sekarang.
Andaikata aku  seperti dirimu, apakah kita bisa bersama?
Tapi, aku bangga dengan diriku sekarang.
Aku Ridha dengan semuanya.
Dan aku cinta dengan kehidupanku di atas agama-Nya.

Ketika aku tak ingin merasakan ini, hati merangkai cerita lain. Aku begitu tersipu dan tersiksa dalam waktu bersamaan. Aku seperti di atas awan di tengah petir yang menyambar.
Kini, kulihat ia tepat di depan kelas, berjalan ke arahku. Kusisipkan pandangan pada sesosok lelaki yang dengan cepat  berjalan dan berlalu di sampingku.
Aku benar-benar dalam belanggu cinta yang tak kuinginkan, tak disyariatkan oleh agama.
Hatiku memancarkan kebahagiaan melihat senyum di wajahnya. Aku merasa dalam kebahagian yang sangat.
“Ya Allah, inikah cinta yang Engkau tanam di hatiku?”

Seindah Langit­- Nailah Maddin

###
Cinta memang menghadirkan banyak rasa. Senang, sedih, cemas dan ragu, semua bergumul menjadi satu atas nama cinta. Namun, bagaimana jika cinta itu hadir tak tepat waktu? Maka bermuhasabah terhadap cinta itulah jalannya.
Dari pada galau, baca saja keseluruhan kisah cinta yang penuh inspiratif lainnya dalam buku ini.
###

Kontributor:

Rere Zivago, Noviyanti, Diata Ma, Nanik Maryanti, Mila Nurmila, Nada Aprilia, Syifa An-Nabila, Rizky Ramadhon, Ife Ayubi, Nur Rahmah AR, Halimahtussahdiah D, Anisa Faqot, Zyukron, Agustin Faridatul Hasanah, Nailah Maddin, dan Shofiyatus Sholihah.

Judul Buku: Muhasabah Cinta
Penerbit: Pena Indis
Distributor: New Indie Press
ISBN: 978-602-0897-32-5
Desain: Fandy Said
Editing: Yanuari Purnawan
Harga Umum: 40.000 (Belum Ongkir)
Harga kontributor= 37.000 (Belum Ongkir)

CARA PESAN:
Kirim pesan dengan format:
Judul Buku_Nama Pemesan_Alamat lengkap + Kode Pos_No. Hp_Jumlah Pesanan
Ke No. Hp; 085649947840 (Sdr. Yanuari Purnawan) atau Inbox ke fb New Indie Press

Metamorfosis Hati


Sepenggal Kisah:

"Pabila cinta memanggilmu, ikutilah dia walau jalannya berliku-liku. Dan apabila sayapnya merangkummu, pasrahlah serta menyerah walau pedang tersembunyi disela sayap itu melukaimu." (Kahlil Gibran)

Lagi-lagi aku terhipnotis akan syair ini, mampu membuatku bertahan dengannya. Sudah dua tahun lamanya kami berbagi kasih dan bersabar bahwa kami bisa menikah dengan waktu yang telah dijanjikan. Rasa cinta itu tumbuh sebelum pernikahan, padahal sudah kutekadkan sebelumnya bahwa cinta hanya untuk yang halal. Namun, ternyata aku melanggar janjiku sendiri. Kupikir waktu itu bahwa Kak Arman adalah calon imamku dan tak ada yang menghalangi cinta kami berdua.

"Manusia tidak dapat menuai cinta sampai dia merasakan perpisahan yang menyedihkan dan yang mampu membuka pikirannya, merasakan kesabaran yang pahit dan kesakitan yang menyedihkan." (Kahlil Gibran)

Sepotong Sajak dan Takdir-Nya- Tsabita Al-Khansa

###
Cinta memang menghadirkan banyak rasa. Senang, sedih, cemas dan ragu, semua bergumul menjadi satu atas nama cinta. Namun, bagaimana jika cinta itu hadir tak tepat waktu? Maka bermuhasabah terhadap cinta itulah jalannya.

Dari pada galau, baca saja keseluruhan kisah cinta yang penuh inspiratif lainnya dalam buku ini.

Judul Buku: Metamorfosis Hati
Penerbit: Pena Indis
Distributor: New Indie Press
ISBN: 978-602-0897-31-8
Desain: Fandy Said
Editing: Yanuari Purnawan
Harga Umum: 40.000 (Belum Ongkir)
Harga kontributor= 37.000 (Belum Ongkir)

CARA PESAN:
Kirim pesan dengan format:
Judul Buku_Nama Pemesan_Alamat lengkap + Kode Pos_No. Hp_Jumlah Pesanan
Ke No. Hp; 085649947840 (Sdr. Yanuari Purnawan) atau Inbox ke fb New Indie Press

Senin, 10 Agustus 2015

Semua Gara-Gara Dokter Aditya

Siapa yang nggak kenal sama dokter muda yang ganteng, pinter ngaji dan sayang umi ini. Yuk, intip biar kalian nggak kepo-kepoin aku terus hehe *Pede banget^^

Kemarin pas aku lagi stalker instagram Ria Ricis, eh nggak tahunya nemu video dokter Adit sama Ricis. Karena itulah akupun stalker Ig-nya dia. Dan yang lebih mainstream ehhh guanteng banget loh dan pinter ngaji. *Stalkerin aja Ig-nya kalau nggak percaya.

Setelah itu, aku upload di FB saja fotonya pas pakai jas dokter. Nggak disangka respon amburadul. Yang paling halus kasih komen emoticon smile, standart dan kalem hanya bilang ganteng atau subhanallah calon imam yang baik. Namun yang paling ekstrim komennya jangan-jangan itu gebetannya mas Yanuar *Plaak sambil telan sandal^^

Daripada su'udzon nggak baik dan dosa. Mending, kita positif thinking aja. Siapa tahu Dokter Adit bisa menjadi inspirasi dan motivator kita untuk menjadi insan yang lebih baik. Kalau takdir berkata siapa tahu ada ladies yang lagi baca tulisan ini bisa menjadi jodoh dunia dan akhiratnya. Aamiin *Tuh suaranya kenceng dan fasih amat.

Yuk, sini ngintip profinya. Tuh kan ladies langsung senyum-senyum sendiri.

Nama lengkap : Aditya Surya Pratama 

Nama panggilan : Adit, Kak Adit 
Tempat dan tanggal lahir : Bogor, 3 Mei 
Pendidikan : Fakultas Kedokteran Universitas YARSI Jakarta 
Akun Twitter : @adityaSprtma 
Instagram : ADITYASPRATAMA 
ask.fm : adityaspratama

Maaf untuk pin BB sama No. Hp nggak bisa tercantum. Kalau mau, kepoin saja orangnya. Dan baca juga di sini!
Read more at: http://www.slidegossip.com/2015/07/profil-dan-biodata-aditya-surya-pratama-calon-dokter-super-ganteng-yang-pandai-mengaji.html
Artikel ini diambil dari www.slidegossip.com sebagai sumbernya.

Nih, biar kalian tambah puas dan kenyang. Kukasih foto lainnya. Cucok banget kan!^^








Selasa, 04 Agustus 2015

Alone

"Sendiri dalam gelap, entah siapa yang akan mencari. Merindukan cahaya, namun hampa."

Aku berusaha mengeja kalimat tersebut. Kalimat yang tertempel manis di mading sekolah. Entah sihir apa yang mampu membuatku sedikit menghabiskan waktu untuk fokus pada kalimat yang mengawali sebuah artikel. Sepi? Pertanyaan itu seolah menari dalam otakku. Memang koridor sekolah yang tepat di area kelas sebelas tampak lenggang. Walau bel pulang sekolah sudah berbunyi lima belas menit yang lalu. Sekali lagi bukan masalah koridor, namun perasaan ini.

Seperti biasa aku dengan gontai menyusuri koridor sendiri. Seharusnya, masa SMA adalah masa yang indah untuk berkumpul dan bercengkrama dengan teman-teman. Ngomongin guru-guru killer hingga cewek yang jadi target gebetan. Asyik! Namun, itu tak berlaku bagiku.
Sepintas mata menangkap sosok gadis berponi dengan rambut sebahu sedang asyik mendengarkan earphone di bangku bawah pohon. Karena, merasa diamati, cewek itu melempar senyum ke arahku. Akupun membalas senyumannya tersebut dengan kikuk.

"Rahma," kenalnya sambil menjulurkan tangannya. Aku yang duduk di sampingnya hanya diam dan merasa aneh.
"Kok diam?" lanjutnya sembari melambaikan tangan.
"Tidak apa-apa! Dani ...." Aku sudah tak tahu bagaimana yang raut wajah ini. Gugup.
Selang beberapa menit suasana menjadi dingin, hanya hembusan angin yang terdengar menggesek dedaunan.
"Kulihat kamu selalu pulang paling akhir, memangnya menunggu jemputan?" tanyanya memecah kebisuan diantara kami. Akupun hanya menggeleng.
"Lalu?" Matanya menyiratkan rasa penasaran.
"Aku suka sepi dan sendiri!" jawabku datar.

Tak ada percakapan selanjutnya, kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga ...,
"Kamu memang aneh!" jelasnya sambil tersenyum menatapku.
"Aneh? Maksudnya?"
"Semua orang itu paling benci yang namanya sendirian. Lha, kamu kok malah suka dengan sendiri. Anehkan?" Dia tersenyum lalu memasang earphonenya lagi. Aku hanya garuk-garuk kepala yang tidak gatal.
"Sendiri bukan berarti tak bahagia. Sendiri membuatku nyaman," terangku sambil menatap gerbang sekolah lalu menyisir ke arah lain. Ada yang sibuk bercengkrama dengan teman satu eskul, ada yang ngerumpi dengan gengnya dan ada yang sibuk men-dribel bola basket. Tunggu? Inikah ruang hamba yang bernama sepi. Tapi, bukannya semua berjalan menurut alurnya. Sekali lagi, bukan mereka tapi aku. Aku yang terjerat dalam di ruang hampa dan sendiri itu.

"Kamu sudah merasakannya?" tanyanya sambil melilitkan kabel earphone.
"Maaf, aku harus segera pulang," lanjutnya sambil berdiri. Terlihat seorang pria berkemaja batik melambaikan tangan ke arah kami. Mungkin dia, ayahnya.
"Percayalah, bukan suka yang kamu rasa. Namun, hatimu yang masih terjerat dalam ruang itu." Dia pun berlari menjauh ke arah gerbang sekolah. Yang meninggalkanku dengan sejuta tanya yang masih belum aku temukan jawabannya.

_The End_






Sabtu, 18 Juli 2015

Cewek Bla Bla Bla

Cewek Bla Bla Bla
Oleh : Yanuari Purnawan


Sebuah kalimat yang selalu gue inget dalam hati hingga relung jiwa. “Percayalah jodoh itu sudah ada di tangan Tuhan.” Kalimat tersebut membuat gue semakin percaya hingga kini. Karena, sampai saat ini jodoh gue masih ada di tangan Tuhan. Hal ini mebuat dada sesak dan tisu rumah cepat habis. Ya, iyalah! Gue harus menangis semalaman. Semua gara-gara, pangeran berkuda putih, tak jua datang melamar.

Hal yang paling gue benci di dunia ini adalah disuruh belanja ke Kang Maman. Bukan, karena Kang Maman yang merupakan pedagang sayur keliling dan sudah punya istri dua itu. Apalagi Kang Maman ingin jadiin gue istri yang ketiga. Melainkan, ngomongan pedas, sepedas harga bawang merah ibu-ibu kepo. Para ibu kepo yang merupakan aliansi ibu rumpi se-RT tersebut, membuat gendang telinga jadi bengkak kayak telinga gajah.

“Nis, kapan nih menikah?” tanya Bu Ninis yang merupakan istri Pak RT itu sambil membetulkan kacamatanya lalu tersenyum ke arah gue.
“Iya nih! Non Nisa masak kalah sama Kang Maman yang sudah nikah ampe dua kali,” tambah Kang Maman sambil nyengir kuda, membuat gue infill saja melihat gigi depannya yang tidak tumbuh-tumbuh tersebut.
“Doain saja!” jawab gue singkat sambil memilih sayuran yang akan gue masak hari ini.
“Nunggu apalagi sih, Nis? Umur sudah matang, udah jadi guru Paud lagi,” jelas Bu Leha yang berdaster cokelat dan kedodoran tersebut. Membuat gue ingin pukul tuh perutnya yang udah kayak tanjidor. Dan lagi-lagi gue hanya diam sambil tersenyum ke arah manusia kepo akhir zaman tersebut.
“Apa nunggu Kang Maman jadiin istri ketiga!” Mendengar perkataan Kang Maman tadi, gue ingin ambil golok aja. Bukan buat bunuh tuh aki-aki labil tersebut. Tapi, biar dia sadar gue tuh masih punya otak tajam alias masih waras. Emang gue cewek apaan, dijadiin yang ketiga. Yang pertama saja belum datang melamar.

Seharusnya seseorang yang habis belanja itu senang. Namun, sebaliknya gue hanya bisa menekuk wajah, tak bersemangat. Untung saja gue jadi guru Paud, jadi hampir setiap hari melihat wajah anak-anak yang masih polos. Bebas dari polusi ibu-ibu kepo. Walaupun, samar terlihat gozila kepo tersebut sering ngerumpi sambil menunggu anak-anaknya pulang. Jujur, gue bukan orang yang suka menutup diri. Apalagi mengenai urusan asmara. Sejak duduk di bangku SMA, gue sudah terkena yang namanya virus merah jambu tersebut.

Saat duduk di bangku kelas sebelas SMA, gue sempat menjabat sebagai sekretaris Osis. Dari situlah, gue mulai berkenalan dengan cowok-cowok kece sekolah. Salah satunya Niko atau Nizam Khoirudin. Ya! Karena, dia merupakan punggawa basket sekolah. Jadi, namanya dikeren-kerenin. Keren kagak, aneh iya! Dari Nizam jadi Niko. Cowok inilah yang pertama dekat, lebih tepatnya mendekati gue.

“Sibuk amat! Nih, minum dulu,” sapa Niko alias Nizam sambil menyodorkan botol air mineral. Tersirat senyum manis dengan lesung pipi menghiasi wajahnya.
“Entar aja, Nanggung!” tanggap gue sedikit acuh. Air muka Niko mendadak kecut dan manyun bak Tukul Arwana. Gue pun memalingkan muka dan fokus mengerjakan proposal untuk acara meeting class. Dan kebetulan banget gue berkoordinasi dengan seksi olahraga, yang tak lain dan tak bukan adalah Niko. Suasana mendadak hening, hanya terdengan bunyi tut keyboard komputer. Entah mengapa bulu kuduk tiba-tiba merinding. Bukan karena ada dedemit lagi naksir gue. Tapi, ini bapaknya dedemit berwujud cowok yang sedang mengamati gue.
“Ngapain lo lihatin gue …!” tanya gue sedikit kikuk sambil menatap wajahnya yang mulai salah tingkah. Sambil tersenyum dan memaerkan giginya, dia pun  mulai berbicara.
“Lo itu cewek yang langkah!”
“Maksud lo gue itu cewek purba. Langkah gitu! Udah deh gue sibuk jangan bercanda.” Gue berusaha mengelak walaupun hati ini sedang menari-nari. Bunga-bunga bak Syahrini.
“Lha … itu langkahnya lo! Judes banget sama gue. Jujur ya, semua cewek satu sekolah pada naksir gue. Eh, lo yang beruntung bisa dekat sama gue, malah cuek.” Mata Niko menyiratkan kejujuran yang teramat dalam. Membuat gue sedikit mau terbang.
“Makasih pujiannya. Tapi gue nggak punya recehan!”
“Tapi, jujur gue paling nggak suka sama cowok yang keganjenan sama cewek-cewek,” lanjut gue tegas tanpa mengindahkan wajah Niko.
“Maksud lo itu, gue?” tanyanya ragu. Gue pun menghentikan jari-jari yang lentik untuk mengetik. Dan beralih memandang cowok paling playboy dan nggak lebih ganteng dari Vino G Bastian itu.
“Terutama lo!” jelas gue dengan mimik wajah yang serius.
Semenjak itu, jarak antara gue dan Niko tak lagi dekat. Entahlah! Mungkin kita memang tak ditakdirkan bersama. Dan yang tak pernah berubah dari Niko adalah senyum yang berhias lesung pipinya serta playboy akutnya tersebut. Gue bersyukur, walau hanya sebentar dekat dengannya. Namun, gue pernah dipuji cewek langkah.

Menginjak kelas dua belas, gue pun berkenalan dengan cowok yang menjadi tutor di tempat les. Namanya, Faris Dwi Purnomo. Biasa kami memanggilnya Kak Faris. Cowok ganteng dengan hidung mancung, mata yang kecoklatan serta memiliki otak yang encer khususnya dalam bidang matematika. Hingga, kalau gue perhatikan wajahnya sudah mirip integral bahkan jenggot tipisnya meyerupai Phytagoras. Namun, gue … Ah! Gue jatuh hati sama nih cowok yang berstatus mahasiswa di universitas negeri di kota Surabaya tersebut.

“Nisa …!” Teriakkan tersebut membuyarkan lamunan gue. Dengan masih kaget, gue mendongakkan kepala. Dan … ternyata pangeran gue yang berteriak tadi.
“Kamu melamun!” lanjutnya tegas menyiratkan dia adalah pemuda yang berkarakter.
“Nggak kok, Kak! Tapi, gue sedang membayangkan wajah Phytagoras waktu masih muda,” jelas gue sedikit gugup serta diikuti tawa membahana seisi kelas les yang berjumlah sepuluh orang tersebut.
“Ada-ada saja kamu ini! Sudah cuci muka sana,” ucap Kak Faris yang volume suaranya sedikit melemah dari yang tadi. Gue pun segera bergegas menuju kamar mandi, sebelum Phytagoras tersebut berubah menjadi Hulk.

Hari-hari gue saat itu bagai taman bunga di dalam hati. Semua tentang Kak Faris menjadi hal terindah yang harus gue ketahui. Begitupun ketika selesai ujian nasional, Kak Faris semakin dekat dengan kami yang merupakan anak didiknya. Kami pun diundang ke acara ulang tahunnya yang ke-23. Dalam kesempatan ini gue harus memberikan sesuatu yang spesial untuk dia yang spesial dalam hidup gue.

Mendekati hari H, akhirnya gue mendapatkan kado yang pas buat Kak Faris. Kemeja warna hitam menjadi pilihan gue. Semoga, kado tersebut cocok untuknya. Bersama teman satu les, gue berangkat ke lokasi acara. Gue mengenakan baju yang simple berwarna biru tua dan tak ketinggalan jilbab yang senada dengan warna baju. Setelah tiga jam di depan cermin, gue pun siap untuk menemui sang pangeran gue.

“Selamat ulang tahun … ini kado buat kakak!” ucap gue sambil menyodorkan kotak yang bebalut kertas warna biru kepada Kak Faris. Dia pun menerimanya sambil tersenyum ramah ke arah gue. Berasa gue nggak nginjak tanah melihat senyum tersebut.

Konsep pesta ulang tahun Kak Faris bergaya minimalis. Undangan pun tak banyak, mungkin hanya teman-teman dekatnya saja yang diundang. Menginjak acara inti, yaitu pemotongan kue. Semua undangan disuruh berkumpul di satu titik di mana kue tersebut diletakkan.
“Ini potongan kue pertama buat yang paling spesial dalam hidup saya saat ini,” ucap Kak Faris sambil membawa potongan kue pertamanya. Entah mengapa jantung gue berdetak lebih kencang. Bagai tanjidor yang dipukul keliling komplek saat takbiran. Ya, Tuhan … semoga kue tersebut untuk gue. Sebaris doa gue lantunkan dalam hati. Namun, bak makan durian sama kulitnya. Ternyata kue tersebut bukan untuk gue. Melainkan untuk seorang cewek berambut sebahu dan berbadan ramping serta bebalut gaun hitam yang bernama Sintia.
“Ini buat pacar baru saya, Sintia!” Terlihat Sintia begitu bahagia menerima potongan kue pertama dari Kak Faris. Membuat darah gue mendidih. Cemburu! Mungkin saja. Tapi ada hal yang paling membuat gue menyesal. Menyesal karena gue harus merogoh tabungan untuk membeli kado buat Kak Faris. Kalau tahu gini, gue nggak perlu bersusah payah memilih kado. Patungan dengan teman satu les kan bisa dan lebih irit lagi.

Setelah acara ulang tahun yang berakhir drama tersebut. Gue pun tak lagi berhubungan dengan Kak Faris. Bukan karena dia sudah punya pacar, tapi gue sudah lulus SMA dan tak lagi ikut les. Kini, gue mengajar Paud atau Pendidikan Usia Dini sekaligus kuliah dengan jurusan yang sama. Jadi, gue lebih sering bersua bersama anak-anak yang masih polos dan lucu. Terus bagaimana dengan urusan asmara? Jangan ditanya lagi, gue nggak pernah mengenal istilah kapok. Mati satu tumbuh sejuta. Itulah prinsip gue yang selalu membuka diri untuk berkenalan dengan namanya kaum adam.

Gue pun mulai aktif dalam kegiatan halaqah atau pengajian. Di mana ada tempat menimbah ilmu agama, di situ gue datangi. Walaupun harus berkumpul dengan ibu-ibu majelis taklim. Bagi gue tak masalah, karena dengan begitu gue bisa belajar menjadi ibu rumah tangga yang baik kelak. Bukan sekedar istri yang hanya bisa masak dan mencuci. Tetapi, harus menjadi istri yang memiliki wawasan yang luas. Dan masalahnya kini, siapa yang mau jadi imam gue.
Karena kesendirian gue yang sudah menginjak usia dua puluh tiga. Rani, sahabat gue sekaligus guru Paud juga, selalu membantu gue untuk menemukan jodoh yang dikirim Tuhan buat gue. Pernah, suatu hari dia mengenalkan gue dengan seorang cowok yang begitu dewasa dan berkarakter. Dari perkenalan pertama, kesan gue kepadanya sangat baik. Dan merupakan tipe gue sekali. Wajah ganteng, kebapakan, dewasa dan sudah mapan. Benih-benih berwarna merah jambu pun mulai tumbuh.

Semua itu hanya berlangsung selama seminggu. Karena, Andre nama cowok tersebut, ternyata sudah punya istri. Hal itu kami ketahui setelah proses investigasi ke rumah saudaranya. Jujur, mulai saat itu gue harus lebih berhati-hati dengan namanya kucing garong. Rani pun masih tak putus asa untuk menjodohkan gue. Kebahagian dia saat ini hanya bisa melihat gue bisa duduk di pelaminan. Bukan foto di kondangan pernikahan orang, tapi pernikahan gue sendiri.

Dari pada pusing kepala gue, mending mulai saat ini gue perbanyak belajar agama. Bukankah memperbaiki diri, berarti juga memperbaiki jodoh kita. Gue pun harus bangkit dan bergerak menjadi cewek yang jauh lebih baik. Dan buat semua cewek yang sedang dilanda galau karena jodoh tak kunjung datang. Jangan takut atau nangis sambil nempelin kepala di kaca jendela melihat hujan turun serta diiringi lagu galau. Sudah itu bukan zamannya lagi. Jodoh memang urusan-Nya. Bukan berarti kita tak menyiapkannya.

Gue selalu ingat dalam ayat Al-qur’an bahwa laki-laki yang baik hanya untuk perempuan yang baik. Begitu pun sebaliknya laki-laki yang tidak baik hanya untuk perempuan yang tidak baik pula. Jadi, untuk para single jangan pernah bersedih. Ingat hidup itu bukan hanya masalah kapan menikah, tapi jauh ada yang lebih berharga lagi. Yaitu, jadilah orang yang paling baik dengan menjadi orang yang paling banyak manfaatnya. Tetap sabar dalam penantian, tetap belajar memperbaiki diri dan buka diri untuk bersilaturahmi seluas-luasnya. Semoga, sebentar lagi jodoh impian datang menjemput kita. Bukan karena cintanya, namun semua karena cinta-Nya. Percayalah pasti akan ada pangeran berkuda putih yang siap melamar kita. Dalam waktu, tempat dan skenario yang telah ditetapkan-Nya.

Selesai
_Based True Story From My Friend_