Rabu, 10 Desember 2014

Assalamualaikum, Jodohku


“Maafkan aku, Dek. Aku harus pergi!” Suara telepon tersebut membuyarkan segala impianku bersamanya.
“Bang … apa harus secepat ini?” jawabku sambil terisak, bening hangat tidak mampu terbendung di kelopak mata.
“Sekali lagi, ini bukan kuasa Abang. Tetapi ini panggilan jiwa, ada yang lebih penting dari pada kesenangan Abang sendiri.”
“Baiklah, Bang. Adek mengerti sekarang. Jaga diri Abang baik-baik …,” ucapku terbata.
“Adek, ingatlah jika kita memang berjodoh, di mana pun kita berada pasti akan bersatu juga.”
“Ya, sudah Bang. Assalamualaikum.”

Sebelum Bang Arif menjawab salam, telepon langsung kumatikan. Aku tidak sanggup menahan diri untuk tidak menangis. Bang Arif adalah pria yang aku kenal saat koas di rumah sakit Ganesa. Dia adalah dokter muda, ganteng dan pasti saleh. Pertama mengenalnya entah mengapa hatiku selalu bergetar dan jantung berdebar kencang. Pesonanya sebagai dokter muda bukan hanya memikat hatiku tetapi juga teman-teman perempuan satu kelompok koas.

Ternyata, Bang Arif adalah sepupu dari sahabatku Mila. Aku sangat terkejut tatkala dia datang ke acara tasyakuran pernikahan Mila dengan Mas Fajar. Dan semenjak pertemuan di acara sahabatku itu, tidak jarang Mila berkali-kali menjodohkanku dengan Bang Arif.

“Sudahlah, Dian. Jujur saja, kamu sukakan sama Bang Arif?” tanya Mila saat aku berkunjung ke rumahnya untuk meminjam buku.
“Maksudmu?” jawabku kaget. Pertanyaan Mila ibarat meteor yang jatuh pas di hulu hatiku.
“Benarkan, Dian! Kamu itu tidak akan bisa bohong sama aku. Lihatlah wajah kamu sudah kayak udang rebus.”

Aku memang tidak bisa bohong sama sahabatku yang satu itu. Akhirnya, ku ceritakan bahwa aku memang mencintai Bang Arif. Semenjak peristiwa itu, Mila bersama suaminya mengatur perjodohanku dengan Bang Arif. Ternyata, tidak butuh waktu lama. Bang Arif juga mencintaiku.

Dunia seakan penuh bunga yang bermekaran. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang istri dan calon ibu bagi anak-anakku kelak. Tetapi, kebahagian itu hanya sesaat. Seminggu setelah ta’aruf, Bang Arif membatalkannya. Dia mendapat tugas menjadi relawan untuk korban perang di Gaza. Hanya air mata keikhlasan yang mampu mengantarkan dia ke bumi jihad tersebut.

Sebulan, dua bulan hingga satu tahun lebih, Bang Arif tidak ada kabar. Setiap ku tanya kepada Mila, dia hanya menjawab “Sudah lupakan Bang Arif, Dian. Jangan menunggu sesuatu yang belum pasti.” Perkataan Mila tersebut, membuatku membulatkan tekad untuk melupakan Bang Arif. Kucoba berkenalan dengan beberapa pria tetapi tidak satu pun yang mengenah di hati.

Pada lebaran haji, ada seorang ikhwan bernama Yusuf mengkhitbah lewat Pamanku. Dia adalah guru SMP, lulusan IAIN Sunan Ampel dan umurnya kira-kira dua tahun di atasku. Aku tidak mungkin langsung menerimanya. Shalat istikharah dan juga meminta saran sahabat setiaku: Mila, untuk memutuskan semuanya.

Mila sangat mendukungku, asal pria itu saleh dan bertanggung jawab sudah cukup untuk di terima. Aku sangat beruntung memiliki sahabat seperti dia, wanita berhijab panjang dan sedang hamil anak pertamanya tersebut. Setelah shalat istikharah selama seminggu, ada kemantapan hati untuk menerima Yusuf. Mendengar penjelaskanku, seluruh keluarga tersenyum bahagia.

Dua minggu kemudian adalah hari pernikahanku. Entah mengapa ada perasaan takut dan was-was. Mungkin ini adalah godaan setan kepada manusia yang ingin melangsungkan sunah rasul dan menyempurnakan separuh agama. Ternyata, perasaan itu benar. Setelah shalat isya’ ada telepon dari salah satu keluarga Yusuf yang mengabarkan bahwa Yusuf kecelakaan saat mau membeli baju baru untuk tasyakuran pernikahan nanti.

Tangisku pun meledak, ibu memeluk dan menenangkanku bahwa Yusuf tidak akan apa-apa. Ternyata semua berakhir, kulihat seorang pria terbujur kaku dalam balutan kain putih. Kejadian tersebut mengantarkanku menginap di rumah sakit. Mila selalu setia menemaniku dalam keadaan yang terpuruk ini. berkali-kali dia bilang “Dian, kamu harus sabar dan tegar. Ingat semua telah tercatat di lauh mahfuz-Nya.”

Mendung berganti musim semi yang selalu menumbuhkan harapan baru. Termasuk hamba-Nya yang selalu merindukan cinta dari sesama makhluk-Nya.

Assalamualaikum, jodohku,” godanya sambil memegang telapak tanganku. Aku hanya tersenyum malu.
“Kok, senyum-senyum! Malunya bidadariku?” Imamku satu ini selalu saja bisa membuatku tersipu malu akan sifat romantisnya.

Allah mentakdirkan lain, bukan Yusuf tetapi Bang Arif. Dia datang di waktu yang tepat. Di mana ketika hati tandus akan cinta, dia mampu menjadi hujan untuk menyemaikannya. Bang Arif, kembali ke tanah air setelah satu bulan kepergian Yusuf. Dan dia mengulurkan tangan dan pundaknya untuk menjadi sandaran sebagai imamku. Bagaimana pun berlikunya, jika Bang Arif jodohku pasti bertemu juga.

Assalamualaikum, jodohku.” Kalimat itu lagi-lagi terdengar manis di gendang telingaku, menumbuhkan benih cinta yang baru kami jalani sebagai pasangan suami-istri.


Selesai

Rabu, 03 Desember 2014

Membakar Hujan #Bagian2

Tetaplah di sana: meski terhapus yang merah, terobek yang putih

oleh : Billal_HB



Aku tidak membakar Arfan. Tidak. Itu tidak benar. Ya. Tapi aku menyalakan api itu ke tubuhnya. Aku ini apa?
***
Kami duduk di ruangan, hanya berdua. Sementara yang lain sedang sibuk di ruangan lain. Kami tadinya tertawa. Menertawakan bagian yang tidak lucu sebenarnya, tapi begitulah cara kami melawan serbuan rasa jenuh dan gerah yang membungkus tubuh di siang hari. Namun mendadak, kabar yang berhembus masuk melalui pintu, menghentikan pertumbuhan kebahagiaan yang akhir-akhir ini rajin kuukur dengan penggaris perasaanku untuk membasmi duka yang memang sudah tumbuh seperti gulma.

Perempuan itu tiba-tiba berkata begini, “Ini seperti sebuah epilog, Bill. Bagian terakhir. Tetapi tahukah kamu, ini mengawali sesuatu yang baru dan kita tak pernah berjauhan.”

Aku jadi lebih sering terkejut sekarang. Gemetaran dan lututku terasa lemas untuk digerakkan, seakan aku mulai kehilangan kemampuan untuk mengendalikan tiap anggota tubuh. Memilih diam, tak menatap perempuan berkerudung yang tengah berkata padaku itu dari balik mejanya.

“Tidak ada yang menginginkan bagian seperti ini, Bill. Teruslah lakukan dengan ikhlas, meski aku tak pernah lagi ada di tempat aku duduk sekarang.”

Aku mengangguk dan berusaha membalas ucapannya dengan suara berat dan berjeda-jeda.

“Tapi….. Aku sendiri tak yakin, Bunda,” kataku. “ seperti kata ‘PUISI’ yang kehilangan huruf I dan digantikan huruf A, maka aku akan PUASA panjang seharian meski saat senja nanti pada akhirnya aku memakan harapanku sendiri. Itu akan menjadi syair penuh dugaan dan membakar perasaan.”
Perempuan itu tersenyum padaku dan mengangguk yakin. Sama seperti Arfan ketika ia memintaku untuk membakarnya.

“Apa aku harus membakarmu juga, Bunda?” tanyaku memberanikan diri sebelum ia memintaku melakukan hal-hal aneh yang persis dilakukan Arfan. “Karena sebentar lagi hujan penghujung November akan terjatuh tepat di atas kita dan kau benar-benar nyata hilang di bawahnya.”

Perempuan itu mengerutkan dahinya. Barangkali tidak mengerti maksudku, atau aku memang tampak bodoh dengan bertanya seperti itu. Entahlah. Lantas ia menggeleng pelan seraya berkata,

“Hujan kali ini memang seperti asam yang menghantam tubuh, tapi aku tidak akan menghindarinya, Nak. Kamu tahu Bill, kamu harus mensyukuri apa-apa yang dijatuhkan Tuhan dari langitNya meski itu adalah hal-hal yang menghancurkan. Tuhan tahu kita sangat kuat, sampai ia begitu cinta untuk mengetahui bagaimana kita dapat bertahan.”

Aku tersenyum samar menguatkan hati memandangnya yang juga membalas dengan senyuman hangat. Lalu mengalihkan pandangan ke arah luar. Melihat pohon-pohon yang berayun dihembus angin musim akhir tahun dan hujan yang mulai menetes satu-satu. Dadaku lagi-lagi sakit. Dihantui perpisahan itu rasanya seperti berada di atas bukit karang berangin di tepi laut lagi. Aku bisa terjatuh dan tenggelam kapan saja karena aku tidak pandai berenang.

Selagi aku begitu larut dalam pandangan ke luar dan hujan mulai turun lebih renyai, aku melihat sebuah konfigurasi asing yang dibentuk dari kumpulan tetes air hujan di tengah lapangan. Membentuk sesosok yang rasanya tak asing meski berwujud bening. Aku melompat dari kursi dan bergegas menuju pintu. Kulihat sosok itu menjadi lebih padat. Sampai ia sedikit menoleh padaku sesaat, lalu hancur menjadi air kembali ketika angin berhembus lebih deras dan kurasakan perih di sekitar tangan, membuatku meng-aduh karena menahan sakit yang tiba-tiba mendera.

“Kenapa, Bill?” tanya perempuan yang kupanggil Bunda itu.

Telapak tanganku merah bara lagi dan berdenyut-denyut. Mataku sampai berair menahannya. Apa yang sedang terjadi? Apa aku harus melakukannya lagi?

Kutengadah memandang awan-awan berat yang sedang riang mencurahkan kebahagiaannya. Semakin lekat kupandang, semakin pula aku kesakitan dan membara.

“Jangan,” bisikku sendiri menenangkan perasaan yang mulai tak hirau pada keadaan. “Jangan lagi membakar hujan. Bunda sudah berkata hujan itu cinta Tuhan, Bill.”

Aku melawan keinginan. Aku ingin kembali ke masa lalu. Aku ingin membunuh diriku sendiri, agar tak ada yang pergi dariku. Aku…………………………………………….

Tanganku tiba-tiba mengobarkan api besar dan mulai menyambar hujan.

“Apa yang terjadi, Bill?”

Aku berteriak keras. “Jangan mendekat padaku, Bunda! Bergegaslah pergi, cepat!”

Aku tak dapat melihat wajahnya, karena api di tanganku semakin besar berkobar menyambar-nyambar.

Lirik, 28 November 2014 08.45 WIB

Rabu, 26 November 2014

Membakar Hujan #Bagian 1

Ketika aku merasa lebih mati dari biasanya

Oleh: Billal_HB

        


Kami duduk dalam diam berdampingan menghadap laut lepas. Awan mendung bergegas berarak menuju ke arah kami, membuat permukaan laut yang berkilauan menjadi biru beku. Hingga pada akhirnya Arfan, sahabatku memecah bisu yang telah puluhan menit membatu.

“Aku cuma sebesar dan seluas gelas, Bill,” katanya serak. “Aku telah penuh dan tumpah.”

Aku menoleh sesaat padanya ketika angin dingin menghempas wajahku lalu kembali memandang ombak yang bergulung.

“Bukankah kau pernah bilang, jika gelas telah penuh sebaiknya bergegaslah mencari mangkuk, dengan begitu kau bisa membuat muatan yang banyak? Apa kau lupa?” balasku seraya menghela napas.

Kami diam lagi. Kulirik wajah Arfan yang tersenyum pucat dan caranya menarik udara yang semakin dingin ke dalam paru-parunya. Jantungku berdebar tak seperti biasanya. Sekitar mataku menjadi hangat oleh sesuatu yang terbendung.

“Bill.” Arfan memanggilku pelan lalu menatapku dan tersenyum, sementara Aku hanya mengangguk padanya. “Maukah kau berjanji padaku?”

“Berjanji apa?” tanyaku penasaran. Kutatap wajah temanku itu dengan lekat, seakan ia tengah menaruh harapan besar padaku.
“Bilamana aku basah karena hujan, maka segera bakarlah aku,” katanya seraya memberikan aku bola api besar merah yang ia pegang. “Itu cara terbaik untuk hilang.”
Aku tersentak dan tersedak oleh udara yang tengah kuhirup. Membuat apa yang terbendung di mataku jatuh dan mengalir. Sangat tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Arfan, aku hanya merasakan jantungku berdetak lebih cepat.

“Aku tidak mengerti apa maksudmu, kawan,” jawabku ragu. “Api apa itu?”

Arfan tersenyum padaku dan mengangguk yakin. Melihatku menjadi cengeng. Air mata yang terjatuh bebas di daguku. Aku lantas membungkuk dan memaku pandangan ke bawah, pada dedaun yang berserakan di kakiku. Terasa sakit di dada tapi tidak mengerti apa yang menyakiti. Arfan membelai punggungku samar, seperti menyentuh tapi tidak mengenai. Hingga saat aku bangkit dan menyadari keadaan yang berbeda ketika hujan rebas membasahi wajahku.

Aku sendirian. Dibawah hujan yang deras. Tidak duduk di tepi laut, tidak pula bersama Arfan yang tadi ada di sisiku. Melainkan di tepi jalan yang tidak ada siapa-siapa di sana. Dalam ketidakpahamanku, aku merasakan perih yang menjalar dari kedua tanganku yang entah kenapa bisa melepuh merah bara. Dan secara bergantian memandang kedua tanganku yang terbakar dan jalan yang basah tergenang hujan.

“Aku tidak membakarnya,” lirihku. “Tidak benar. Arfan, kau dimana?”

Aku percaya, Aku membakar hujan agar tak membasahinya. Mungkin atau entahlah. Aku tahu dia tidak pergi. Tidak meninggalkanku seperti yang lain. Arfan, akan kutemukan kau meski aku tahu perihnya membakar hujan.



Lirik, 25 November 2014 08.05























































Selasa, 18 November 2014

Pelangi Ikhtiar

Aku gagal dan terjatuh. Semua mata mengarah kepadaku. Mengapa ini harus terjadi? Sungguh tidak mungkin seorang Ilham yang selalu juara kelas di SMP harus terperosok ke urutan duapuluh besar dengan rata-rata tujuh untuk nilai Ujian Nasional.

Airmata tak bisa terbendung lagi, nilai hancur dan masuk SMA favorit pun pupus. Kecewa dan tidak bisa terima mengapa Allah memberikan ujian ini kepadaku. Apa salah dan dosaku, belajar pun tak pernah lalai, justru teman yang malas nilai UNnya jauh lebih bagus. Ini tidak adil.

Di dalam kamar, kuluapkan segala emosi dengan menangis sejadi-jadinya. Merenung apa yang terjadi kemarin sebelum hal ini terjadi. Aku mulai duduk di bangku Sekolah Dasar sampai kelas tiga SMP semester satu selalu juara kelas. Semua orang memuji kepandaianku tetapi sepandai-pandai tupai melompat pasti jatuh juga. Benar kata pepatah, akhirnya kejatuhan dan kegagalan  itu pun nyata dalam rangkaian episode hidupku.

“Aku gagal, Bu!” ucapku kepada ibu.
“Sabar, Nak. Ini ujian dari-Nya untuk menaikan kwalitasmu,” jawab ibu sambil mengusap rambutku.
Aku tak kuasa menahan airmata, mengalirlah membasahi pipi.
“Allah tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Mungkin menurut kita itu jelek belum tentu jelek di mata-Nya, atau sebaliknya menurut kita itu baik belum tentu baik di mata-Nya,” lanjut ibu berusaha menenangkanku.
Entah seperti mantra yang mujarab, kalimat yang terucap dari bibirnya mampu menenangkan hati yang sedang gundah. Aku yakin skenario Allah pasti jauh lebih baik dari apa yang di rencanakan hamba-Nya. Terima kasih, Bu. Ku kecup keningnya tulus.
***
Gelap berganti terangnya matahari, pagi menyambut insan yang senantiasa bertasbih kepada Sang Pencipta. Seperti mendapat energi baru, aku lebih siap untuk menerima kegagalan ini walau begitu berat belajar ikhlas. Kulihat saat wisuda SMP bukan lagi namaku yang di panggil sebagai juara. Tidak apalah masih ada hari esok dan aku akan berprestasi lagi. Entah mengapa, api semangat berkobar begitu besar di dada.

Akhirnya keputusan melanjutkan ke SMA favorit harus terganti dengan SMA biasa. Ternyata rasa kecewa itu masih tersimpan di hati, apalagi melihat teman yang bisa melanjutkan ke SMA favorit, harusnya aku juga bersaing bersama mereka.

“Ilham, ada apa kok melamun?” tanya sahabatku Azis sambil menepuk pundakku.
“Tidak apa-apa, hanya aku masih belum percaya bisa sekolah di sini,” jawabku gugup.
“Aku mengerti kamu pasti kecewa, sang juara kelas harus sekolah di SMA biasa, ya kan!”
Aku mengangguk lalu menunduk, lagi-lagi airmata menetes.
“Ilham, mungkin inilah jodohmu,” seru Azis.
“Maksudnya.”
“ini sudah skenario Allah untukmu jadi terimalah dengan ikhlas. Mungkin sulit bagimu, tetapi percayalah akan ada pelangi di balik besarnya badai. Kamu tunjukan kepada mereka di mana pun berada selalu berprestasi.”
Entah mengapa nasehat Azis begitu menusuk ke dalam hatiku. Sepercik harapan baru mulai tumbuh dan semangat untuk bangkit semakin besar. Mungkin kemarin aku gagal, tetapi kali ini aku harus melangkah jauh lebih baik dari kemarin.

Percaya atau tidak di SMA ini, aku bukan hanya belajar ilmu umum saja tetapi juga ilmu agama, mulai dari shalat dhuha hingga shalat dzuhur berjamaah. Sungguh pemandangan aneh tetapi di sinilah aku bangkit dan menjadi Ilham yang berkarakter islami dan berprestasi.

Gelar ketua osis melekat di balik diriku sebagai seorang siswa. Tidak pernah menyangka, dulu untuk menjadi ketua osis mungkin hanya mimpi sekarang gelar ini pun aku raih. Aku masih belum puas aku ingin membanggakan sekolah ini. Banyak orang yang merendahkan murid dari SMA di mana aku sekolah.

“Untung anakku tidak sekolah di SMA itu, muridnya bodoh dan nakal.”

Cibiran orang di luar sana mengenai SMA di mana aku bersekolah, begitu membuat gendang telinga ini panas. Aku akan membuktikan bahwa murid di sini tidak sebodoh dan senakal yang mereka kira, tetapi mereka mampu bersaing dan berprestasi.

Sebagai ketua osis, aku menebar semangat bagi teman-teman agar bangkit dan tidak malas untuk belajar lebih giat lagi serta tidak lupa berdoa kepada-Nya. Banyak sekali hambatan mulai dari rasa malas dan bosan yang kadang datang begitu saja hingga minimnya sarana untuk belajar. Tidak jarang aku harus fotocopy bahan untuk belajar. Alhasil, nilai kita lumayan walau belum mencapai titik luar biasa.

Menginjak kelas tiga SMA, kegiatan kami hanya belajar untuk persiapan Unas. Aku yang pernah gagal sebelumnya, tidak ingin terulang kembali. Tetapi bukan hanya bagiku. Aku ingin kesuksesan nanti juga untuk teman-teman satu SMA.
Sebagai murid yang nilainya paling tinggi, aku harus berbagi membantu teman lainnya untuk bisa. Aku merasa sifat egois dan ingin menang sendiri terkikis oleh ukhuwah yang begitu besar antara aku, teman-teman dan juga guru-guru. Berkali-kali rasa syukur terucap di dalam hati ini, karena bersekolah di SMA biasa ini. Ternyata aku bisa lebih berarti di sini.

Inilah langkah perjuangan kami setelah tiga tahun akan dipertaruhkan dalam tiga hari. Dalam hati kecil, aku berdoa semoga melancarkan unas kali ini bukan hanya untukku tetapi juga teman-teman seperjuangan.
***
“Di balik kesulitan pasti ada kemudahan.” (QS Al-Insyirah(94):5)

Setelah menunggu beberapa bulan, akhirnya pengumuman hasil unas akan kami ketahui. Dalam harap-harap cemas kami yang berada di aula SMA berdoa semoga hasilnya baik.
Dengan kekuasaan-Nya, SMA kami dinyatakan lulus seratus persen. Rasa haru dan bahagia bercampur di aula dan tak lupa sujud syukur kepada-Nya.
Satu persatu dari kami mengecek nama dan urutan nilai. Aku tak melihat namaku sama sekali di urutan atas. Aku panik dan takut jika kegagalan itu harus terulang kembali.
“Ilham, selamatnya,” ucap Azis sambil memelukku.
“Iya sama-sama. Alhamdulilah kita bisa lulus.”
“Bukan itu!”
“Maksudnya?”
“Selamat kamu juara umum sekabupaten Pasuruan tingkat SMA.”
Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Azis, seperti tak percaya. Kemudian Azis menunjukan pengumuman yang  tertulis “Ilham Firmansyah sebagai juara umum sekabupaten Pasuruan.”

Ya … Allah inikah skenario yang Engkau tulisan untuk hamba. Aku bersyukur pernah terjatuh karena dengan begitu, aku mengerti makna bangkit dan berhasil. Tiba-tiba aku teringat nasehat Azis, “Ingatlah pasti ada pelangi di balik badai.”

Selesai

Rabu, 05 November 2014

Gadis Hujan

Aku masih terdiam dan duduk di bangku taman kota. Hujan yang begitu deras mengguyur tubuhku, tetapi tidak membuatku beranjak. Aku masih asyik dengan segala lamunan indah saat bersamanya. Ada percikan rindu teramat dalam di hati.
Hujan seakan menjadi saksi antara dua insan yang saling menyayangi. Dalam hujan kami bertemu dan dalam hujan pula kami harus berpisah. Pertemuan singkat yang mampu membuat hidupku berubah 180 derajat.

“Mengapa kamu hujan-hujanan?” tanyaku pada gadis berhijab putih yang sedang duduk di bangku taman kota itu. Memang saat itu hujan deras, aku kebetulan lagi jalan-jalan tidak disangka hujan turun dengan deras.
Gadis itu menatapku tajam, entah apa yang dipikirkannya. Lalu dia menundukkan wajahnya lagi. Wajah yang begitu teduh dan bermata bening.
“Apa aku boleh duduk di sini?” tanyaku lagi, dia hanya mengangguk.
Aku tidak berani berbicara lebih banyak, aku takut dia marah. Hujan masih deras, aku mau beranjak dari tempat duduk, tubuh ini sudah tidak kuat menahan dingin. Gadis itu masih saja tidak bergeming dari tempat duduknya. Siapa dia, ada apa dia di sini, pikirku.

Gadis misterius itu membuatku penasaran. Mata beningnya seolah menari di dalam otakku. Siapa dia sebenarnya. Berkali-kali aku mencoba untuk meredam rasa ini, tetapi rasa ini terlalu kuat menancap di hatiku.

“Boleh kenalan!” ucapku, dengan badan yang sudah menggigil karena hujan. Setiap hujan, kulihat gadis itu selalu duduk di bangku taman kota.
Dia menatapku tajam, aku sempat tersihir oleh binar matanya yang bening itu.
“Sarah,” ucapnya pelan.
“Firman.”
“Apa kamu tidak kedinginan?” tanyaku, melihat wajahnya yang pucat, ku mengerti kalau dia kedinginan. Tetapi dia hanya menggeleng dan berkata,
“Aku suka hujan, karena hujan mampu menggugurkan setiap kesedihan di hati ini.”
Aku masih belum paham apa yang dia maksud. Dia hanya menengadahkan telapak tangannya untuk menimbun setiap tetesan air hujan. Aku masih tidak berani terlalu lama bicara kepadanya. Sepertinya dia menyimpan kepedihan terlalu dalam.
Setiap hujan ku siapkan tubuh untuk berbasah ria menemani gadis itu. Gadis yang ku panggil gadis hujan itu, seolah tidak membuatku jenuh berada di dekatnya, walau tubuh menggigil kedinginan. Ini pertama kalinya ada wanita yang mampu membuatku luluh dan nyaman bersamanya. Apakah ini cinta, aku tidak mengerti. Gadis hujan itu telah berhasil mencuri sebagian ruang di hatiku.

Ku beli bunga di dekat taman kota sebagai hadiah kejutan untuknya. Hari masih mendung, gadis hujan itu tidak terlihat. Apakah karena belum hujan, dia belum datang atau apa aku yang terlalu berharap dia datang setiap hari.
Detik berganti menit, adzan ashar pun telah berlalu, gadis hujan pujaan hatiku tidak kunjung datang. Apa aku harus menunggu hujan, tetapi jika tidak hujan bagaimana. Hari sudah mulai gelap, kuputuskan untuk pergi dari taman kota. Bunga yang terlanjur ku beli terpaksa ku bawa pulang.
Gadis hujan … aku merindu dan menantimu, sehari terasa lama. Aku ingin memandang wajah dan binar mata yang teduh itu. Aku merana di dalam kamar. Inikah cinta, mengapa begitu menyakitkan. Cinta ini membuatku menjadi sosok pria melankolis.

Hujan, sebentar lagi aku akan bertemu dia. Gadis hujan tunggulah, aku akan menemani dan menghapus setiap luka yang pernah engkau rasakan. Aku berlari menuju taman kota, hujan deras pun ku terobos, aku tidak peduli. Rasa rindu ini harus segera diobati.
Dengan nafas yang masih memburu, kulihat sekitar taman, tidak ada gadis hujan yang ku rindukan. Kemanakah dia sekarang, apa dia sakit. Galau dan kalut, semua berkumpul di dalam pikiranku.

Aku melangkah menuju toko bunga di samping taman kota. Kulihat seorang Bapak tua yang menunggu toko.
“Permisi, Pak. Apa bapak melihat gadis yang biasa duduk di bangku itu?” tanyaku kepada Bapak penjual bunga itu.
“Gadis yang mana ya.”
“Gadis yang biasa pakai hijab putih dan suka hujan-hujanan itu,” terangku.
“Oh … gadis itu.”
“Bapak kenal dia!” potongku.
Bapak tua itu mengangguk dan menghela nafas panjang lalu berkata,
“Dia gadis gila, Nak.”
“Maksud Bapak?”
“Selly, dia adalah anaknya Pak Burhan. Menjadi gila karena suaminya kecelakaan di dekat taman kota ini. saat kejadian tersebut hujan turun deras, oleh sebab itu dia suka hujan-hujanan,” terang Bapak itu.
“Sekarang dia kemana,Pak?” tanyaku semakin penasaran.
“Dia telah meninggal, tertabrak mobil saat hendak di bawa pulang oleh orang tuanya.”
Kaki dan tubuhku lemas, keterangan dari Bapak tua itu seakan mempupuskan harapanku bersama gadis hujan itu. Ternyata gadis itu gila, aku masih tidak percaya.

Hujan pun turun begitu deras, aku tidak bergeming masih tetap duduk di bangku taman kota. Ada perih yang menyayat hati menerima kenyataan ini. hujan basuh luka ini dan gugurkanlah setiap kesedihan di hati bersama tetesanmu.

Selesai

Senin, 27 Oktober 2014

Penulis ya Menulis

Penulis ya Menulis
Oleh : Yanuari Purnawan
Kata-kata kita menjelma boneka lilin
saat kita mati untuk memperjuangkannya
kala itulah ruh kan merambahnya
dan kalimat-kalimat itupun hidup selamanya
-Sayyid Quthb-
            Siapa sih penulis itu? Ya, orang yang menulis. Jadi jika ingin menjadi penulis, maka suka tidak suka dan terpaksa harus menulis. Tidak ada ampun untuk tidak menulis, bagi dia yang benar-benar ingin mendedikasikan diri di dunia literasi.
            Sekarang pertanyaanya, apakah hanya sekedar menulis lalu bisa disebut penulis. Ternyata, tak sesederhana itu banyak hal yang harus disiapkan. Ibarat pena harus di tajamkan agar tidak tumpul hingga indah saat menggoreskan kata dalam setiap tulisan. Lalu apa saja yang harus dipersiapkan untuk menjadi penulis, terutama bagi penulis pemula.
Yuk … kita simak beberapa hal yang perlu disiapkan untuk menjadi penulis.
1.      Niat
Sekarang apa niat kalian menjadi penulis. Ingin terkenal, punya uang banyak atau bermanfaat bagi sesama. Terserah! Karena itu menyangkut hati nurani masing-masing individu. Tetapi, alangkah indahnya jika setiap goresan pena kita bisa member manfaat bagi sesama. Ibarat lebah yang selalu memberi manfaat. Jangan sampai tulisan kita seperti air susu yang jatuh ke tanah, walau bagus tetapi tak ada guna.
2.      Membaca
Sebuah motivasi indah dari penulis tuna netra Ramaditya Adikara, yang menulis buku “Mata Kedua” yaitu “Jika ingin menjadi penulis, harus sering membaca.” Jujur waktu dapat kalimat motivasi tersebut saya bingung, apa hubungannya menulis dengan membaca. Tetapi setelah ditelaa, ternyata dengan membaca bisa menambah referensi kita dalam menulis, sehingga tidak monoton. Jadi selain menulis, luangkan waktu untuk membaca.
3.      Berani
“Lho, kok harus berani sih. Memang mau perang.” Memang perang saja yang harus berani, jadi penulis juga harus berani. Berani di sini beda dengan yang mau ikut perang, karena ini perangnya masalah dunia literasi. Kadang rasa minder, takut dan tidak percaya diri menghantui penulis, terutama penulis pemula. Tetapi jika, tidak punya mental pemberani, maka saran saya berhenti saja jadi penulis. Karena dunia literasi itu kejam. Kok kejam sih! Memang iya, jika kita menulis hanya ala kadarnya, jangan harap di baca, di toleh saja orang akan ogah. Kadang yang lebih ekstrim, tulisan kita di baling sampah atau cakar ayam. Jika tidak ada mental kuat dan berani, mungkin tulisan kita hanya bertengker di buku harian saja.
4.      Coba
Kalau sudah berani, tak ada alasan lagi untuk mencoba. Salah satunya ikut event-event, kan banyak event kepenulisan secara online, misalnya saja di http://www.rasibook.com/p/tentang-kami.html
5.   Pantang menyerah
Terus coba lagi, jangan menyerah. Jika gagal, evalusi dan belajar lagi. Saya sendiri tak luput dari kegagalan demi kegagalan. Ikut event online di sini gagal, coba lagi ke event selanjutnya. Terus berkarya, jangan berhenti walau kegagalan kerap menghampiri.

Sekarang tunggu apalagi, yuk mulai menulis. Jangan takut, apalagi minder. Terus pertajam pena untuk menjadi penulis yang bermanfaat bagi sesama. Dengan membaca kita mengenal dunia, dengan menulis kita di kenal dunia. Salam literasi^^.

Rabu, 08 Oktober 2014

Sarang Laba-Laba

Merasa diri ini tertampar, ternyata banyak tugas lain hingga melalaikan lapak blog. Aku seperti tidak tahu diri. Ingat tidak, berjam-jam menghabiskan waktu dan uang cuma buat blog ini, bolak-balik ke rumah teman dan kadang tanpa malu juga pinjam laptop tetangga. Tetapi dimana semua, blog yang aku buat dengan perjuangan seperti mati suri dan ibarat rumah telah banyak sarang laba-labanya.

Semua bermula dari 'Aku ingin Menjadi Penulis' entah mengapa kalimat itu mudah terlontar dari mulut. Tidak ada persiapan sama sekali, pokoknya menulis saja. Aku mulai tertarik dengan blog. Dengan adanya blog, hobi menulisku akan sedikit terbantu. Perjalanan tiga kilometer menuju warnet bukan masalah bagiku. Senang dan optimis mimpiku akan tercapai. Jika ingin menjadi penulis, ya menulislah. Begitu kata para senior dalam bidang litersi memberi motivasi.

Tanpa punya laptop, aku sudah berani mengikuti banyaak event dan menulis di blog ini. Tidak lupa dengan berat hati aku juga harus menyusahkan tetanggaku hanya sekedar pinjam laptop untuk menuliskan naskah yang telah kutulis. Perjuangan dan pengorbanan selalu menumbuhkan hasil, usaha yang kau beri itulah usaha yang akan kau dapat. Lelah, letih dan gagal sudah menjadi warna dalam hariku. Aku tidak menyesal memilih jalan ini, aku gagal dan aku bangkit lagi. Aku senang akan semua ini.

Seiring waktu berjalan, dengan segenap tenaga dan doa, akhirnya tabunganku cukup untuk membeli laptop. Aku bahagia, mimpi menjadi penulis akan segera terwujud. Tidak disangka justru ini awal dari semua. Semangatku kandas, aku lebih bersuka ria dengan FB dan twitter hingga lupa apa tujuan awal aku membeli laptop. Aku lupa dengan blog yang selama ini menemani hariku, aku lupa event-event yang ingin aku ikuti. Punya laptop bukan menambah semangat dalam menulis, melainkan rasa malas yang terus mendera dalam hidup. Aku masih ingin menulis dan mimpi menjadi penulis harus aku wujudkan.

Mana janjiku dulu, aku punya laptop, aku menulis sebanyaknya di blog. Tetapi hari ini, merasa tertampar. Blogku tidak ubahnya rumah yang banyak sarang laba-labanya. Bisa-bisa blogku menjadi angker karena tidak pernah ada postingan baru. Cerbungku masih berhenti, aku ibarat menggantungkan harapan sahabat yang setia membacanya. Walau tulisan atau cerpen masih terbilang sampah ini. Aku harus berubah, sesibuk apapun, blog ini harus terisi dengan postingan baru yang bermanfaat.

Bye ... bye sarang laba-laba, aku bersihkan sedikit demi sedikit hingga apa yang aku janjikan bisa terwujud.
Ya Allah ... Berkahilah setiap langkah hamba dalam kebaikan dan kebermanfaatan.
Aamiin