Sang Pemimpi..dengan Mimpi, dengan Aksi
7 Juli 2010 pukul 11:41
Sang Pemimpi..dengan Mimpi, dengan Aksi
Aku
sang Pemimpi. Dari dulu hingga kini bahkan nanti, aku tetap seorang
pemimpi. Mimpi-mimpi selalu membuatku bersemangat menjalankan
hari-hariku. Mimpi itu tak hanya sekedar di otak lalu berlalu begitu
saja. Tapi aku memiliki sebuah buku mimpi. Ya, dreambook yang aku tulis
sejak aku duduk di kelas 6 SD hingga kini. Bahkan tumpukan buku yang
sudah berjumlah sebelas ini masih tersampul dan tersimpan rapi dalam
keranjangku.
Semula diawali dengan betapa menyenangkannya
merancang masa depan dengan mimpi-mimpi yang dahsyat yang bisa kukarang
sesuka hati. Kususun mimpi itu dengan membaginya secara garis besar:
jangka panjang dan jangka pendek. Untuk mimpi jangka pendek kutulis ia
dengan lebih rasional dengan melihat kondisiku pada saat itu. Sementara
untuk mimpi jangka panjang kutulis apa saja mimpi-mimpiku.
Sebanyak-banyaknya. Panjang. Berderet-deret. Berbaris-baris. Sambil
menulis mimpiku, seringkali aku tersenyum sendiri-sendiri karena kubuat
film di otakku tentang masa depanku itu.
Tak cukup sampai disitu.
Kegemaranku dalam bermimpi membuatku lebih kreatif menulisnya dalam
dreambook-ku. Kubagi lagi mimpi-mimpi itu dalam beberapa aspek. Agama,
pendidikan, pekerjaan, keluarga, masyarakat dan hiburan. Tak hanya
mimpi, tapi di lembar berikutnya kutulis, “How to get it”. Bukan mimpi
tanpa menifestasi. Tapi mimpi yang butuh action agar bisa terealisasi.
Kutulis langkah-langkah apa saja yang harus kulakukan untuk mencapainya.
Hal-hal apa saja yang wajib kupelajari untuk bisa menuju ke sana. Tak
lupa kutulis waktunya. Tahun segini harus begini, tahun berikutnya harus
begitu. Begitu seterusnya.
“Barangsiapa pada hari ini (amalnya)
lebih baik dari hari kemarin, maka berarti ia beruntung. Barangsiapa
pada hari ini keadaannya sama dengan hari kemarin, maka berarti ia
merugi. Dan barangsiapa pada hari ini keadaannya lebih buruk dari hari
kemarin, maka sesungguhnya ia termasuk orang yang terkutuk atau
tersesat.” (HR Al-Hakim)”
Aku tak berpikir untuk menjadi yang
terbaik,tapi aku selalu ingin berusaha melakukan yang terbaik dalam
segala kesempatan untuk mewujudkan mimpi-mimpiku..karena musuh terbesar
bukan orang lain tapi diri sendiri. Musuh melawan rasa malas dan tentu
saja hawa nasfu yang mendarah daging dalam fitrah sebagai manusia. Tentu
saja berusaha agar dari waktu ke waktu ada peningkatan dan perbaikan.
Ternyata
apa yang kulakukan sejak hampir 9 tahun itu begitu populer kini.
Seminar-seminar motivasi begitu pula berbagai macam buku-buku ternyata
mewajibkan kita untuk bermimpi. Namanya macam-macam. Mulai dari menyusun
proposal hidup (bukan hanya menikah saja yang butuh proposal, tapi
hidup membutuhkan itu, walau pernikahan termasuk di dalamnya hehe ),
rencana hidup, jalan menjadi orang sukses dll.Memang benar. Hidup harus
seperti itu. Hidup harus punya mimpi dan punya aksi. Itu menjadikan
hidup kita memiliki tujuan dan tak terbuang sia-sia. Bagiku hidup bukan
seperti air yang mengalir kemanapun arus membawanya. Ia bukan Let it
flow yang kebanyakan anak muda katakan. Kehidupan yang tak memiliki
mimpi dan tak dirancang membuat kita santai menjalani waktu.Waktu yang
sejatinya digunakan untuk bisa berkarya dan berproduktif berlalu begitu
saja. Mereka tak menyadari bahwa karyalah yang membuat kita ada dan
bahwa di luaran sana orang tengah berlomba-lomba menuju kesuksesannya.
Bukankah gagal mempersiapkan berarti tengah bersiap-siap untuk gagal?
Maka memang, keberhasilan itu dibangun dari sekarang. Dengan mimpi
dengan aksi. Maka merugilah orang-orang yang tak punya mimpi…
Setiap
mimpi yang berhasil terwujud kuceklis dengan rasa syukur yang tak
henti-hentinya. Terwujud lagi, kuceklis lagi, terus seperti itu.
Dreambook-ku penuh dengan tanda ceklis sebagai bukti bahwa aku bekerja
keras untuk mewujudkannya. Sementara ada bagian lain yang tak diberi
tanda. Itu adalah mimpi yang tak terwujud.. Memang, tak semua mimpi bisa
menjadi nyata. Pernah mendengar istilah keberhasilan yang tertunda kan?
Tak ada kata gagal ketika mimpi itu tidak terwujud tapi keberhasilan
yang tertunda. Bisa saja di waktu yang tepat kita bisa meraihnya dan
bisa pula kegagalan itu yang membuat kita belajar banyak dan batu
loncatan untuk mendapatkan keberhasilan di tempat lain. Maka buatlah
plan B dan mimpi-mimpi baru. Jangan pernah menjadi orang yang pasrah.
Karena pasrah berarti menyerah pada keadaan lantas tak mau lagi untuk
bangkit. Tapi berlapangdadalah. Karena lapang dada berarti membuka hati
seluas-luasnya menerima dengan ikhlas apapun yang diperoleh. Tak lupa
pula ikhtiar itu seiring dengan tawakal. Berusaha sekeras mungkin tapi
juga siap dengan segala kemungkinan yang terjadi..
Bermimpilah!
Mimpi membantu kita menyiapkan keberhasilan. Ikrarkan saja, “Saya pasti
menjadi orang yang berhasil!” Itu bukan ungkapan sombong tapi ungkapan
positif yang penuh dengan keoptimisan
Maka teman, bermimpilah!
Jadilah seorang pemimpi dengan aksi agar tak menjadi tong kosong nyaring
dalam berbunyi atau NATO? Not action talk only? Hehe..susunlah masa
depan dari sekarang, bermimpi sebanyak-banyaknya, gali potensi, belajar
tak pernah henti dan terus cetak prestasi! Tentu saja doa sebagai
senjata yang ampuh untuk semuanya. Biarkan Allah yang menentukan SETELAH
kita BERUSAHA KERAS sampai titik darah penghabisan.
Untuk
menjadi seorang yang luar biasa kita harus melakukan hal-hal yang luar
biasa…dimulai dari 3M sebuah ungkapan populer dari Aa Gym: Mulai dari
diri sendiri, mulai dari sekarang dan mulai dari hal kecil. Atau ingin
menjadi orang biasa? Mudah. Bermalas-malaslah, biarkan waktu berlalu
begitu saja.. tanpa mimpi tanpa aksi..
Pilihan!
by: OSD
25 Desember 09